
Setelah dua puluh lima hari Lian pergi dinas ke beberapa negara Seperti malaysia, singapur dan amerika, akhirnya dia pun kembali ke tengah-tengah keluarganya.
"Gimana umrahnya? " Lian yang terus memeluk sang Ibu sambungnya. Ya, Lian bukanlah anak kandung Aliya, melainkan anak Gian bersama mendiang istri pertamanya. Ibu kandung Lian meninggal setelah melahorkan dan Gian merawatnya sendiri bersama nenek Lian (bibi Gian) yang telah meninggal saat usia Lian delapan tahun. Lian dekat dengan Aliya karena memang dia bersamanya sejak kecil dan menganggapnya sebagai ibunya sendiri. Mereka bertemu saat Aliya mengandung Syila, ketika itu wanita itu adalah pasien sang ayah dan akhirnya menjadi istri ayahnya. Gian adalah seorang dokter psikolog.
"Alhamdulillah, terimakasih hadiahnya ya nak."
"Iya, Ayah sangat senang tentu ibumu juga. "
Senyum pria itu membuncah. "Alhamdulillah." Lian lalu menatap sang istri lalu memeluknya. "Aku kangen kamu, sayang. " Lian dan Letha masih saling berpelukan. "Aku juga." Lian meregangkan pelukannya lalu menatap ke perut wanitanya yang telah membuncit dan mengelusnya. "Anak papa sehat sehatkan?"
"Sehat papa. " Lian tersenyum kecil. "Makasih udah jaga mama saat papa pergi ya, jagoan! " Letha terenyuh dan terus menyunghingkan bibirnya melihat interaksi jabang bayi diperutnya dengan suaminya itu.
"Maafin papa juga." Lirih Gian. "Hmm, kenapa minta maaf? "
"Ahh, soalnya aku sering ninggalin kalian." Lirih Gian. Aliya mengelus punggung putranya,begitupun Letha yang mengenggam lembut tangan suaminya. "Gak apa-apa, ibu sama ayah jagain aku dengan baik kok." Lian menoleh dan menatap haru kedua orangtuanya. "Terimakasih, ibu, yah, kalian selalu menjaga istriku. Dia ga punya siapa-siapa dan aku telah berjanji menjaganya tapi aku malah sering ninggalin dia sama ibu dan ayah, Lian.. " Tak sadar air mata pria itu mengalir dipipinya.
"Kami juga mengerti, dan pastinya juga istrimu pun mengerti. Bukan begitu? " Aliya melirik ke arah anak menantunya sembari mengelus lembut punggung sang putra. Disisi lain Gian memperhatikan dengan lembut. Hatinya begitu terenyuh ketika melihat anak dan istri juga menantunya akur. Dia begitu lega dan juga bahagia.
"Betul bu. Mas, kamu jangan sedih dong, aku jadi ikut melow tau! " Leta menggaet lengan suaminya lalu menyandarkan kepalanya disatu bahu Lian. Lian tersenyum sembari mengeringkan embun dimatanya. "Makasih, sayang. Makasih, bu. " Kedua wanita yang menagapitnya memanggut dan tersenyum lembut.
"Ahh, Syila belum pulang se-" Belum Lian menyelesaikan pertanyaanya, seseroang memotong dengan salamnya. "Assalamualaikum!" Alvin masuk dengan langkah gontai dan wajah datar yang terlihat amat sedang keki, bagai pria yang sedang cemburu buta dengan kekasihnya. Ralat! Dia memang sedang cemburu, tapi bukan pada sang kekasih namun pada sang adik dan lelaki lainnya.
"Waalaikummussalam! " Jawab mereka serentak. "Vin, mana ade gue?! " Tanya Lian menohok membuat Alvin menghela nafas kasar sembari memutar bola mata jengah. "Kenapa lo?" Tanya Lian lagi, sementara kedua orang tua itu dan juga Letha hanya melirik keduanya secara bergantian tanpa berkata. "Dia juga ade gue. " Alvin yang misuh-misuh, bergumam lirih bermonolog sendiri. Mungkin dia tidak merasa didengar, tapi nyatanya itu terdengar oleh para pasangan telinga yang begitu jeli disekitarnya. "Gue tanya, kenapa elo pulang sendiri mana Syila? "
"Ya, sama pacarnya. " Jawab Alvin dengan lemas dan malas. Jawaban dari remaja lelaki itu sontak membuat Lian terlepas dari apitan kedua wanita itu yang membuat kedua wanita itu terperangah dengan kelakuan Lian. Pria itu lantas maju cepat menghampiri Alvin yang masih menunduk lemas. "Pacar?! " Suara Lian memberat. Alvin mengangkat oandangannya menatap kedua netra pria itu, dan sedikit terkekeh. "Heuh, rupanya bukan gue aja." Lian merasa tersindir dengan anak itu, langsung menccekram kedua pundak alvin. "Siapa pacarnya? "
PUK!
"Mas! " Lian disadarkan oleh Letha istrinya yang menepuk tangannya yang masih mencekram kedua pundak alvin. "Kasian tuh dia kesakitan." Lian lantas melirik tajam sang istri. "Kamu belain dia? " Leta menautkan kedua alisnya ke tengah dahi. "Kamu cemburu?"
Alvin tak dapat menahan tawanya. "Hehehe, cemburuan banget sih abang gue! Makasih ya mba cantik udah bela aku. " Leta menalan ludahnya karena sekarang Lian semakin terbuai api cemburu. matanya begiru membara menatap Alvin tajam. "Anak kupret! Kemanain Syila?"
"Gue bilang dia sama pacarnya, bang kupret!"
"Kenapa ga elo larang, cunguk! "
__ADS_1
"Mas, Alvin.. " Namun suara Leta menjadi sayup tak terdengar.
"Kaya gak tau aja sama tu anak!"
"Gue lebih tau dari elo! Gue kakaknya!"
"Gue juga kakaknya! "
"El-Arghh!!" Leta dan Gian terbelalak, Aliua menarik kedua telinga kedua anak lelakinya itu. "Ibu! Ampun! " Rengek keduanya meringis sakit karena dijewer sang ibu. "AtataaW!! " Aliya memutar 360 derajat telinga keduanya dengan tenaga dalam. "Ayo baikan! " S is ra lembut dengan senyum smirk mengerikan iru membuat keduanya bergidik. "Iya, Loan bakal baikan tapi kan dia udah ga sop-Argh!! "
"Ibu? Ampun! Argh! "
Leta yang kebingungan Lantas ditarik munddur oleh Gian. "Kita harus berlindung."
"Ehh?!"
****
"Sampe sini aja! " Ketus Syila. "Tapi aku mau ketemu dulu camer, sayang. " Syila menatap nyalang Yudha membuat lelakinitu menghela nafad. "Hah! Iya, iya, aku pulang.." Senyum Syila merekah membuat lelaki itu memutar matanya malas. Dia sangat dongkol sekarang, gadis itu menyuruh merahasiakan hhubungan mereka disekolah seakan gosip itu benarlah gosip, menyuruh dirinya bersikap biasa, cuek seakan menganggap Syila musuh bebuyutan semasa kecil bagai anak lima tahun. Dan sekarang, bahkan dia diusir setelah mengantar pulang.
"Gitu aja ngambek! Kan elo yang maksa nganter gue sampe harus gue belain dari Alvin! " Cerocos gadis itu. Sekali lagi, lelaki itu memang perlu sabar mengjadapi gadis ketus nan menggemaskan itu.
"Gue yakin disekitar sini pasti ada mata-mata."
"Emang kita artis? "
"Bukan. Tapi elo terkenal. " Yudha sedikit menyunggingkan sisi bibirnya. "Kamu cemburu?"
"Idih! Ngak tuh! " Yudha menahan senyumnya."Yaudah, aku pulang ya. Langsung ganti baju, jangan lupa makan dan istirahat. "
"Emang gue anak lima tahun! Disuruh-suruh. " Syila masih keki apalagi mereka terbilang newbie dalam hubungan ini. Ralat! Mungkin gadis itulah yang newbie karena dirinya memang baru pertama kali berhubungan dengan lelaki sebagai sepasang kekasih.
"Sana pulang! cepet! " Yudha mengunci helmnya dan mulai menyalakan mesin motornya. "Iya! Assalamualaikum, sayang! "
"Waalaikummussalam! " Meski gadis itu masih ketus padanya, tapi dia begitu senang karena gadia itu sudah mau menerimanya. Dia tahu kalau gadis itu masih malu-malu. Yudha melajukan motornya pergi meninggalkan rumah gadis itu, sementara Syila langsung masuk kesana.
__ADS_1
Saat telah mencapai pintu masuk, mata gadis itu membulat sempurna ketika melihat satu sosok yang menyender ke engsel pintu melipat kedua tangannya diatas dada dan berdiri dengan kaki menyilang.
"Kak Lian! " Syila berlari kecil lalu lompat memeluk rindu sang kakak. Lian yang awalnya ingin langsung mengintrogasi dibuat kelimpungan dan terenyuh lantas membalas pelukam gadis kecilnya itu. "Kok baru pulang?" Tanya Syila dengan nada manja dibalik dekapan itu dia menempelkan wajahnya ke dada Lian. "Kasian tau kak Letha! Jangan seri g ditinggalin! " Seru gadis itu mengangkat wajahnya menatap wajah pria yang lebih tinghi itu dengan masoh memeluknya.
"Yang ditinggal letha tapi yang marah manja kamu." Lian mengelus wajah sang adik. Syila melepas pelukannya. "Kenapa telinga kak-"
"Ehhm! Aku ga dipeluk nih?! " Sela Alvin yang cemburu melihat kemesraan kakak beradik itu. "Aku juga kan kakak kamu.. " Manjanya.
"Ish! Tiap hari ketemu juga! "
Alvin menghela nafas dan sedikit kesal karena Lian menertawainya walau dia sedang menahannya. Alvin langsung menarik gadis iti kedalam dekapannya. "Alvin! " Teriak Syila. "Sebentar aja napa! Seharian kamu sama pacar kamu mulu! "Akhirnya gadia itu pun terdiam sejenak dan kemudian mendorong Alvin yang hampit terjerembap ke belakang. Untung tenaga lekaki itu kuat sehingga dapay menahannya. "Kasar amat! " Alvin yang misuh-misuh sendiri.
"Asyila! " Suara Lian memberat, ekspresinya kembali datar dan menelisik dengan tajam. "Hm? " Tapi tak membuat gadis itu takut. "Panggil pacar kamu sekarang! Kalau ngak.. "
***
"Assalamualaikum! " Yudha yang ditelepon oleh Syila langsung tancap gas menuju kekediaman sang calon mertua, angannya. Dia langsung disambut oleh nada ketus sang oenjawab salam itu. "Waalaikummussalam. Masuk! "
Dibelakang Alvin menahan tawanya melihat wajah kelimpungan Yudha, sedangkan Syila gadis itu tegang takut takut ada sesuatu yang akan terjadi yang dilakukam Lian terhadap sang kekasih.
"Elo Yudha?" Lian melipat kedua tangannya mendekati sang empu yang tingginya sangat sama dengan dirinya. Menelisik remaja lelekai itu dari atas keoala sampai ujung kaki, lalu menatapnya nyalang.
Glek. Yudha menelan ludah. "Gue Lian. "
"Senang bertemu, bang. " Dadanya begitu bergemuruh, ditambah wajah Lian yang semakin melekat ke wajahnya. "Kakak! " Panggil Syila sedikit menarik mundur Lian. Pria itu tertarik karena tidak siap. "Kakak, mukanya nyeremin. jelek! Sana duduk! " Lian langsung menatap sang adik dengan penuh pertanyaan. lElo juga! " Suruh Syila pada Yudha.
Lelaki itu oun menurut. "Permisi. " Dia meleeati Lian dan menghampiri Alvin yang tengah bersantai ria diatas sofa berwarna putih gading itu. "Kamu katain kakak jelek? Kamu buta? " Bisik Lian. Syila memukul tangan kakaknya. "Siapa yang bilang kakak jelek? "
"Tadi! "
"Kakak kayak gitu sih, emang kakak polisi soksokan galak segala! "
"Tuh kan kamu bilang kakak jelek! "
"Ihh, ngak kakakku!"
__ADS_1
"Lah, mereka malah berantem. Gara-gara elo sih! "
"Lah kok gue?!"