
Pada hari terkahir minggu ini, persembahan klub teater dan tari sangat apik. Kemudian diumumkan pemenang lomba kelas terbersih dan kreatif, dimenangkan oleh kelas X-1 IPS sebagai juara 1, kelas Xi-3 IPA sebagai juara 2, dan Kelasnya Rama, XII-1 IPS sebagai juara 3. Dilanjutkan dengan pengumuman klub terkreatif yang dimenangkan oleh Klub Sejarah sebagai juara pertama dan Klub Kerajinan sebagai juara kedua. Semua perwakilan pemenang kompetisi sekolah dipanggil untuk naik ke panggung dan memberikan sambutan singkat serta ucapan terima kasih dan rasa syukur mereka satu persatu. Lalu, mereka menerima penghargaan masing-masing. Acara diakhiri dengan dipentaskannya sebuah drama pendek yang dipersembahkan oleh klub drama.
"Ahh, akhirnya selesai juga!" seru Alethia yang meregangkan tubuhnya, mengangkat kedua tangannya ke atas. "Untuk sekarang." sambung Nobel. "Jangan lemes gitu dong, kan kita asisten elo!" Nobel hanya memalingkan matanya sinis.
Syila yang datang menyusul bersama rekannya, Haru, ikut bergabung duduk bersama mereka. Mereka menggerakan bola mata mereka dan menelisik satu persatu kawan-kawan mereka. "Kalian kenapa?" tanya Tamya Syila. "Sepertinya Nobel sedang down." sahut Syifa. "Down? Kenapa?" tanya Syila. "Sepertinya dia lagi kehabisan akal." "Uh-ekhm, tuh palanya ngebul otaknya melebur." "Husst, kalian malah bikin gue tambah pusing bukannya membantu!" Stila dan Haru hanya geleng-geleng. Clarisa dan Rana pun datang membawa makan siang yang terlambat karena sudah hampir jam setengah tiga sore. "Makanan datang, guys!" dengan membawa sekantung plastik di tangan kanan dan kiri mereka, mereka masuk mendatangi anggota lain. "Kalau gitu, ayo kita makan siang dulu!" suruh Syila. "Btw, mana Bian?" "Baru sadar?!" ejek Nobel sambil menatap delikan tajam dari gadis itu. "Dia pergi ke adenya!" jawab Bona. "Katanya sih gak akan lama, katanya ketua klub drama memanggil dia." "Ya sudah, kita makan duluan aja, jatah dia simpen dulu aja!" Mereka membuka bungkusan itu, mengambil satu persatu dan langsung melahapnya bersama yang lainnya. Lima menit kemudian, Bian datang menyusul mereka makan.
Setelah makan siang selesai, mereka pun membereskan bekasnya dan melanjutkan untuk evaluasi sekaligus membicarakan kegiatan minggu kedua Adiwiyata di minggu depan. "Bian, apakah klub drama akan membuat drama kedua mereka?" tanya Syila. "Ngak, katanya drama itu untuk nanti pensi kenaikan kelas saja, tapi ya mereka mempersiapkan dari sekarang sih. Katanya bakal disiarkan di channel mereka." "Oh, mereka akan bikin channel di YouTube?" Bian mengangguk. "Iya, sama TikTok juga katanya." Syila mengangguk. "Sekarang kita akan membahas tentang Eco Brick yang nantinya akan disimpan di perpustakaan kita. Jadi..."
"Bagaimana hari pertama kamu di kelas?" tanya Mikha yang menemuinya di depan kelas pada saat istirahat, membuat para gadis lainnya sangat penasaran. Tidak banyak yang menyadari kalau mereka adalah saudara kandung, kakak beradik. "Biasa aja," jawab Kaina dengan dingin. Entah karena dia sudah merindukan Negara dan teman-temannya yang tadinya dia benci dan hanya dijadikan alat untuk dimanfaatkan tetapi menjadi berharga baginya, ataukah karena dimanapun Mikha selalu menjadi idola walaupun dia sudah mulai terbiasa. Perasaannya kalang-kabut, ditambah dia pun belum punya teman di sini.
__ADS_1
Setelah mereka makan siang, Mikha menarik dirinya. "Ayo!" "Kemana?" tanya Kaina. "Ikut saja!" Mikha menarik Kaina dengan satu tangan mereka yang memegang nampan berisi makanan. Dia membawa gadis itu ke sebuah tempat yang cukup sepi, dan mengajak duduk di bawah yang masih bersih. Tempat itu terletak di tap sekolah, di ruang paling ujung yang berada di bangunan yang terpisah dari gedung utama. "Duduk sini, kita makan di sini!" suruhnya, dan Kaina hanya menurutinya tanpa bicara dan kemudian makan makanannya.
"Kenapa lihat-lihat?" tanyanya sinis. "Kamu cantik pake jepit itu." Kaina tersedak setelah mendengar itu. Dengan sigap, Mikha menyodorkan sebotol air mineral yang langsung diambil Kaina dan diminumnya. "Pelan-pelan makan nyanya." Kaina tak menggubris pernyataan Mikha dan melanjutkan makan begitu pun Mikha. Sesekali Kaina curi-curi pandang, melirik sekilas lelaki yang sibuk dengan makan siangnya itu. She teringat wajah lelaki itu saat lelaki itu mengatakan pujian kepadanya untuk pertama kalinya. Kaina mengulum senyum dan menahannya.
Waktu makan siang sudah habis dan mereka sudah mengembalikan wadah ke kantin dan kembali ke kelas masing-masing hingga waktu pulang tiba. Mikha menahan pintu Kaina yang akan gadis itu tutup. "Na!" seru lelaki itu. Kaina hanya membalas dengan tatapannya yang menantang. Lama mereka saling pandang. "Ada apa? Aku mau istirahat!" sergah Kaina. "Uhm, nggak, apa-apa. Silakan istirahat saja!" Kaina mendelik tajam. "Ya sudah." Dia menutup pintu apartemennya di depan lelaki itu dan Mikha terpaku sejenak berdiri di depan sana hingga akhirnya dia meninggalkan pintu yang bukan untuk kemana-mana itu. Dia memasuki unit apartemennya sendiri yang menghadap ke arah apartemen Kaina. Dia menutup pintu itu dan menyandarkan punggungnya menatap ke langit-langit ruangan. Entah mengapa dia begitu tidak mengerti akan perasaannya yang sebenarnya.
a, Rama?” tanya temannya yang bingung.
“Tenang aja, bro. Ntar kita belajar bareng-bareng lagi buat tes ulangnya.”
__ADS_1
“Tapi gw nggak punya waktu banyak lagi. Kan gw harus kerja juga buat ngumpulin dana kuliah. Gimana caranya gw bisa siap buat tes ulang?”
“Mungkin bisa cari kelas belajar privat, atau les online. Atau kamu bisa minta bantuan dosen atau temen yang bisa ngajar materi yang susah buat kamu.”
Rama mengangguk-angguk, masih merenungkan pilihan terbaik untuk dirinya.
“Tapi jangan terlalu stress juga, ya. Nanti kesehatan kamu jadi terganggu, nggak bisa fokus belajar lagi.”
“Bener juga, aku harus tenang aja. Terimakasih udah dengerin curhatan aku, bro.”
__ADS_1
“Sama-sama, kita harus saling dukung dan bantuannya di saat-saat kayak gini.”
Keduanya tersenyum, merasa lebih lega setelah bisa berbagi permasalahan dan solusi bersama.