Sweet Heart Boys

Sweet Heart Boys
6. Mengingat kembali


__ADS_3

Di atas motor yang mereka naiki mereka hanya termangu dalam diam. Alvin sesekali melirik ke belakangnya, dia terfikir ide yang gila karena Syila yang terus memegang ke setir belakang ke ekor motor. Dia menaikkan kecepatan laju motornya membuat Syila yang terhentak mendekap pria didepanya. Syila memeluk erat Alvin dengan nafas tertekannya, dia merasa takut hingga berteriak hingga memukul kecil Alvin. Namun lelaki itu tak menghiraukan semua itu dan tetap mengebut. Hingga mereka sampai di depan rumah Syila. Nafas gadis itu masih terputus-putus. Dia menagngakat wajahnya dengan kesal dia berteriak menarik baju Alvin dari belakang.


"Lo gila ya! Gimana kalau ditilang? " Alvin hanya terkekeh. "Malah ketawa! " Syila memukul Punggungnya. "Kalau mau mati jangan ajak ajak orang! " Syila yang semakin kesal dengan tingkah Alvin turun dengan tergesa-gesa, melepad helmnya dan menepukkannya ke bahu Alvin. "Aduh, sakit! "


"Syukurin! " Alvin mengambil helm itu. "Jangan marah-marah terus dong sayang.. "


"Sayang, sayang, pala lo peyang! " Syila langsung melesat masuk ke dalam pagar yang dia buka itu meninggalkan Alvin. Alvin menggeleng gelengkan kepalanya. "Imut banget sih. " Dia bermonolog sendiri, senyumnya merekah di wajahnya.


***


Tak terasa sudah awal pekan, ini adalah libur pertama setelah SMA. Syila berencana keluar untuk pergi ke toko buku bersama Renita, mereka akan bertemu di tempay yang biasa mereka datangi karena sahabatmya itu membawa teman-temannya dan ingin mengenalkan pada Syila.


"Syil!" Renita yang sudah bersama gadis gempal. Syila mendatangi mereka. "Hei, aku Syria! " Sapa gadis gempal disebelah Renita.


"Syila. " Aku mengelurkan tangannya membalas jabatan tangan itu. "Oya, kita bakal nunggu dua orang lagi jadi kita berlima! " jelad Renita.


"Bukannya sama gue jadi enam? "


"Kebetulan ada satu orang yang ga bisa datang. " Jawab Syiria. Syila menganggukan kepalanya. Hanya berselang tiga menit, dua orang, satu gadis berkacamata dan satu remaja lelaki yang stylenya mirip Mikha, namun dengan wajah yang lebih lembut datang menyusul kami.


"Maaf telat. " Sahut sang lelaki dengan nada lembut dan singkat. "Gapapa, kalau gitu ayo kita ma.. Eh, sorry gue Syila. "


"Adzitha. " Jawab gadis berkacamata membungkukkan sedikit tubuhnya. "Adzhesta." Jawab lelaki itu dengan senyuman yang begitu lembut dengan tatapannya yang berbinar membuatnya menjadi ditelisik oleh Adzhita dan Syria.


Adzestha mengerutkan dahinya. "kalian berdua kenapa liatin gue kayak gitu? " Kata yang panjang yang dia ucapkan hari ini.


"Iya, kok gitu banget? " Sambung Renita. "Dzes, elo kerasukan jin tomang?! " Seru Syiria yang diiyakan oleh Adzhita membuat Renita menepuk pundak keduanya. "Hush! "


"Kalau gitu elo harus ruqyah gue, Syila. " Loh kok jadi ke gue? Syila menaikkan sebelah alisnya. Dia hanya dapat menganga melihat senyuman itu. Maksudnya? Syila kemudian memiringkan wajahnya.

__ADS_1


"Tuh kan! " Seru Syiria lagi.


"Jangan-jangan.. " Semua sontak menoleh ke arah Adzhita yang termangu, kecuali lelaki yang dimaksud. Dia terus memandangi gadis didepannya. "Elo suka Syila? " Adzhita mendongakkan kepalanya.


"HA?! " Semua berteriak termasuk aku. Apa yang gadis itu katakan? Aku melirik ke arah lelaki itu, dia tersenyum lembut ke arahku membuatku langsung membuang wajah.


"Elo suka Syila?! "


"Kamu..?"


Adzestha terkekeh ketika mendapatkan banyak pertanyaan yang terus mendesaknya. "Sstt! Lihat kita dilihatin tuh! " Lelaki itu menunjuk ke arah orang-orang yang memerhatikan mereka dari kejauhan. "Gue masuk duluan. " Bisik Adzestha dengan senyum senangnya. Kedua gadis yang mengapitku menoleh dan memandangiku termasuk Renita yang membalikkan tubuhnya didepanku. "Kok jadi liatin gue? " Syila berjalan cepat. "Lebih baik kita cepet masuk! "


Mereka asyik memilih buku setelah menemukan buku pelajaran yang mereka cari. Tiba-tiba saja sebuah bisikan yang membuat tubuhnya meremang. "Sayang. "


POV Alvin


Aku pamit dengan nenekku ke sebuah toko buku di pusat kota. Aku menaiki motorku dan melaju sedang. Sampailah di toko buku itu, aku memarkirkan motorku. Berjalan masuk! Mataku yang tertunduk menelisik rak-rak di depanku terganggu dengan suara bising dari luar. "Ada apa? " Gumamku. Aku yang penasaran mengintip dari balik jendela. Aku melihat sosok yang sangat aku kenal. Terbesit sebuah ide gila lagi dibenakku.


"Uhmm.." Wanita itu melirik ke atasannya. "Silahkan. "


Disisi lain Syila, Renita dan yang lainnya memasuki toko itu menelisik setiap tingkat dalam rak dan akhirmya menemukan buku yang mereka cari.


"Aku pengen beli majalah oppa juga ah! kalian mau apa? " Syiria dengan semangatnya.


"Gue mau komik. " Adzhita membenarkan kacamatanya. "Gue nemenin aja. " Adzestha dengam senyuman lembutnya.


"Gue kayaknya mau cari buku resep masak. "


"Wah, kamu suka masak, Reni? " Tanya Syiria. "Itu hobinya dan dia sangat jago dalam hal itu." Jawab Syila. Syria membentuk bibirnya membulat seperti huruf O.

__ADS_1


"Gue nemenin dulu Dzith ya. " Sela Adzestha. "Ikut!" Syiria mengekori si kembar. "ok, kita ketemuan dikasir ya! " Mereka pun terpisah. "Elo mau beli apa? "


"Kali ini gue temenin elo aja, Ren! " Renita menagnagguk. Syila dan Renita yang sedang memilih buku resep tiba-tiba dikejutkan oleh bisikan tak terduga di belakang telinga Syila yang membuatnya meremanag.


POV Alvin kedua


Aku memutuskan untuk keluar, yang tadinya hanya berpura-pura sialnya menjadi kenyataan! Saatnya aku benar-benar harus keluar. Aku tidak ingin kehilangan momen ini. Alvin tersenyum smirk.


Aku mencari keberadaan dirinya di setiap sudut dan akhirnya aku menemukannya. Aku sengaja berjalan dibelakangnya. Aku memandangi wajah datar dan senyumnya yang seketika merekah walau hanya sebentar. Dari semua sisi pun dia begitu sempurna. Aku berjalan pelan ke arahnya, pasti mereka berdua takkan menyadari akan kedatanganku ini. Tak menunggu waktu lama aku langsung memeluk tubuh ramping mungil itu dari belakang. Mendekatkan wajahku ke dalam tekuknya.


POV berakhir


"Sayang. " Alvin membisikkan kata mengerikan ke telinga Syila membuat gadia itu dan renita tercengang dengan kedatangannya.


"Tuan julid! " Syila yang ingin memberontak dibuat sulit karena dekapan Alvin yang begitu lekat. "EH? " Renita tercengang dan mendongakkan wajahnya.


"K-kak Alvin? "


"Hei, Reni. " Sontak Syila menelisik keduanya secara bergantian. "Kaliam saling kenal? Ahh, kan elo bapa ketos!" Alvin hanya tersenyum kecil. "Aku gak nyangka kalau bakal ketemu kamu sayang, jodoh ga kemana. "


"Ck. " Syila memutar bola matanya malas.


Renita hanya terkekeh mendengar itu. "Kakak nih ga berubah ya! " Syila mengerutkan dahinya. Renita yang melihat itu langsung buka suara. "Jangan bilang elo udah lupa sama kak Alvin? "


"Mana gue lupa, dia kan bapa ketos kita! " Renita menggeleng. "Bukan soal itu.. "


"Terus? " Terdengar Alvin menghela nafas pelan, meregangkan pelukannya. "Gapapa, Reni. Nanti juga.. "


"Dia itu kak Alvin temen masa kecil kita, kakak kelas kita di SD! " Alvin memejamnkan matanya membuang nafas gusar. Syila yang mendengar itu sontak termangu. "Dan dia itu.."

__ADS_1


"Renita! "


__ADS_2