
''Jadi elo memghakwatirkam dan cemburu ke siapa?Syila atau Kaina?''
Ucapan yang dibisikkan ke telinganya saat itu terus terngiang-ngiang hingga saat ini dan membuatnya semakin kalut.
***
Tiga hari yamg lalu..
Mikha?!'' Lelaki yangbaru datang dengan tergesa-gesa itu tiba-tiba menarik kerah Bian yang membuat empunya dan mereka tersentak. Saat Nobel dan Rama maupum Haru akan memisahkan mereka, Syila menghalangi dan dia yamg maju mendatangi lelaki itu. ''Mikha lepasin dia!'' Lelaki itu melirik Syila tanpa bicara, menahan nafas dan meneguk saliva kasar. Dia pun melepas cengkeramannya. ''Ada apa sihm Kenapa datemg dateng langsung main terkam?'' Mikha tak menjawab dia hanya menatap sayu Syila. ''Kayaknya karena ini!'' Seru Alethia.
''Sejak kapan?'' Mikha terkesiap karena ponselnya sudah berada ditangan Alethia. ''Tia?! kembaliin ke orangnya!'' Titah Syila. xSebelum itu, ketua harus lihat ini!'' Alethia memampangkan dan menggeser beberapa foto dari ponsel itu dan chatnya. ''Kayaknya dia salah pah-' Aw!'' Mikha menyentil kening yang dihalangi poni itu, Alethia mengelus sakit. Mikha mengambil ponselnya kembali saat gadis itu lengah. ''Nga sopan.'' Gumam lelaki itu
Alethia menggembungkan pipinya. Syila hanya geleng-geleng bersama Rama.
''Elo ternyata disini.'' Mikha melirik Rama. ''Gue korban tipuan mereka!''
''Tipuan?''
''lebih baik elo duduk cantik dulu!'' Setelah mendengar penjelasan dari Rama Mikha mengusap wajahnya,lalu melirik tajam satu persatu. ''Kalian mau permainan kalian itu jadi kenyataan, dan membuat kami dan keluarga kalian ketar ketir, Syila?!''
''Uhmm, sorry tapi itu ide aku'' Kaina mengangkat tangannya sambil menundukkan wajahnya tak berani menatap Mikha. ''Kaina, jangan nunduk dan liat sini!'' Dengan terpaksa Kaina menurut. ''Kenapa fikiran elo selalu pendek?! Kalian juga kenapa setuju-setuju aja?!'' Hampir setengah jam Mikha mrncermahi kami ,dan ini perdana dia begitu cerewet.
''Pokoknya, jangan diulangi lagi!'' Titah Mikha. ''Betul!'' Sambung Rama.
__ADS_1
Setelah Mikha dam Rama yang sudah selesai berkhotbah no jutsu pada adik-adik mereka itu. Akhirnya mereka ikut berpatisipasi ajang beres-beres dan bersih-bersih.
''Thanks ya Ram, Mikh, udah bantu kita!'' Seru Syila. ''Hm.'' Nampaknya Mikha masih kesal pada kami. Terlihat perubahannya yang jelae itu . ''Iya, tinggal sapu-sapu aja kan?''
''Iya.Biar kita aja , kalian kalau mau pulang duluan juga gapapa.''
''Nanti ada acara tenggelem lagi gimana?'' sindr Rama.Para lelaki yang ditelisik menggaruk kening dan tekuk mereka, sedangkam para gadis mengihit bibir bawah dan meneguk kasar salivanya. ''Gue disini sampe semua bubar!''
''Kalau gue izin duluan serta bawa anak ini pulang.'' Dia menunjuk Kaina yang mendelik sebal. Sungguh pemandangan tak biasa yang terlihat diantara mereka. Sudah sejauh mana hubungan mereka? ''Ayo, Kaina kita pulang! Bokap elo udah nelponin!''
''Iya,iya!''Kaina menghela nafas kesal, lalu dia berlalu mengambil barang-barangnya dan kembali ke tempat mereka berkumpul. ''Udah siap?'' Kaina mengangguk. ''Teman-teman, gue duluan ya.''
''Ya. Hati-hati, Kaina, Mikha!''
***
Kondisi sekolah kembali beramgsur ke semula karena kembalinya Mikha dan aktifnya Rama sebagai ketua OSIS. Kekecewaan mereka sedikit terobati karena masih ada dua dari mereka para lelaki populer sekolah.
''Bolehkan gue pinjem buku catetan elo nanti? '' Syila mengiyakan Kaina. ''Kalau gitu, pulang sekolah ikut ke rumah gue aja, sekalian kerjain pr bareng. Gimana?'' Bagi seorang Kaina ajakan itu sungguh membuatnya terpelanting ke dunia isekai. Tak sadar dia mengembankan matanya. ''Kaina?'' Tersadar, gadis itu lantas mengelap matanya. ''Elo , ok?'' Kaina mengangguk. ''Kayaknya gue kelilipan.''
''Gue bawa obat tetes kalau mau.'' Kaina yang tahu kalau Syila mengerti dan tahu baik itu dibuat tak dapat menahan kekehannya. ''Hehehehe..'' Syila mengangkat sebelah alisnya. ''Tadi nangis sekarang ketawa, serem bet!'' Gumam Syila. ''Ish, emang gue mbak kun?!''
''Lah kedengaran ya?''' Kaina mendelik kesal. ''Elo kira gue budek?!''
__ADS_1
''pfyt-Ahahahaa!''
***
Sepulang sekolah Syila mengajak Kaina yang akan menyalin catatannya. Dia membawanya ke tempat dimana Renita sudah menunggunya, gadis itu ingin bermain sekaligus mengerjakan tugas bersama ke rumah Syila. Renita yang melihat kedatangan Syila bersama orang tak terduga itu ikut terperangah seperti orang-orang yang melihat mereka sepanjang jalan itu. Tidak percaya akan kedekatam mereka yang kilat. Untuk Syila itu bukan sesuatu yang mengejutkan karena memang dia orang yang netral , namun aneh bagi Kaina yang notabene terkenal sebagai impostor Syila.
''Re!'' Sapa Syila. Dia pun ikut mengangkat telapak tangan kanannya. ''Kaina ikut, dia kebanyakan bolos jadi ga punya catetan!'' Kaina yang berada dibelakang Syila yang masih gadis itu gandeng hanya mengerucutkan bibirnya. Namun anehnya dia merasa nyaman dan tidak tersinggung sekalipun. Renita yang mendengar sindiran Syila yang diterima baik oleh gadis dibelakangnya itu hanya bosa membulatkan matanya beberapa detik. ''Ayo,Re!''
''Euh, a-ayuk!'' Saat mereka akan keluar dari pelataran sekolah seorang lelaki menghadang mereka. ''Gue ikut! ''
''EH?!''
''HAH?!''
'' Gue bilang ikut!'' Tiga gadis itu saling pandang hingga Kaina memekik. '' Bilang sama papi kalau aku ke rumah temen cewe gausah suruh kamu terus jadi mata-mata aku! Sana pergin Hush!Hush!'' Kaina mengebaskan tangannya ke wajah Mikha, sedangkan Syila dan Renita saling lirik satu sama lain. ''Apa itu mereka?'' Bisik Renita yang dijawab anggukan lalu gelengan kepala Syila.
''Syila, Renita, ayu kita pergi!'' Gadis itu menarik Syila dan Renita meninggalkan lelaki yang masih berdiri ditempatnya.
Sampailah mereka di rumah Syila yang sudah disambut Aliya, Gian, Letha, Si triplet dan Lili. ''Ahh lucu sekali triplet ini! Boleh gendong salah satunya?'' Pinta Kaina. ''Emang bisa?'' Tanya Syila membuat gadis itu menggembungkan satu pipinya. ''Ajarilah!'' Aliya dan Letha terkekeh. ''Biar ibu ajari kalau mau.''
''Tentu mau!''
''Udah pada cuci tangan kan?'' Tanya Letha dan semua mengangguk. Aliya pun mengajari Kaina cara menggendong bayi, terlihat masih kaku. Saat dia masih takut-takut dia melihat kedua temannya sudah luwes menggendong dua bayi lainnya. ''Kok kalian bisa sih?! Gue masih ga bisa!'' Rengek Kaina. Bayi itu berada dalam gendongan Aliya. ''Jangan ngerengek,jangan takut, itu membuatnya bayinya ga nyaman dan bksa rewel!'' seru Syila. ''Pelan-pelan saja nak Kaina.'' Sahut Aliya. ''Iya bu.''
__ADS_1
''Bukannya kalian mau ngerjain tugas? Malah gendong bayi yang udah bobo!'' Celetuk Syila. ''Idih sendirinya juga!'' Seru Renita. ''euhehm!''
''Kakak kakak cantik jangan belantem!'' Seru Lili. Aliya dan Letha terkekeh. Setelah mereka mengembalikan ketiga bayi itu ke box masing-masing, mereka pum segera dibawa ke kamar Syila yang bertipe 36 dengan gaya space itu. Sedangkan diluar sana tanpa mereka sadari ada yang memata-matai mereka lewat teropong. ''Woy, lagi ngapain deket rumah saya?!''