Sweet Heart Boys

Sweet Heart Boys
21. Apa ada diantara Rere dan Alvin?


__ADS_3

Renita berjalan diantara lorong-lorong itu, dia bersenandung dengan riang sehabis dari toilet. "Gue suka sama elo. " Seruan itu terngiang di kedua telinganya, Renita menghentikan langkahnya lalu berjalan mundur. Dilangkah ketiga dia menyembunyikan dirinya dan sedikit mengintip. Matanya terbelalak melihat dua sosok yang ia kenal. "Ada apa? " Tanya gadis itu. "Gue suka sama elo!" Pengakuan yang mengejutkan gadis itu hingga termangu. "Eh?"


Dia mengambil kedua tangannya dan menggenggamnya lembut. "Elo mau kan jadi pacar gue? "


Disisi lain, Renita buru-buru pergi meninggalkan tempat itu. Dia berjalan cepat ke ruang kelasnya. "Rere! " Panggil Alvin ketika melihat gadis itu berjalan di korisor yang sama dengannya, namun dia dibuat bingung dengan tingkah laku gadis itu yang tidak seperti biasanya. "Rere! " Alvin menahan gadis itu, membuatnya terperenajat. "Kak Alvin? Ada apa?"


"Elo kenapa? "


"Ditanya malah balik nanya! " Renita melengos, membuang wajahnya ke sampinh. "Elo-"


"Ada apa sih kak? Nanyain keberadaan adikmu itu?! " Alvin mengerutkan dahinya. "Kenapa sewot bahas dianya? " Pertanyaan itu membuat Renita gagap. "Ya-soalnya setiap ketemu yang ditanyanya dia mulu!Tau ga sih kakak.. Syila juga perlu kebebasan tau! "


"Tapi, gue selalu ngebebasin dia kok. " Sahut Alvin dengan wajah datar. Renita menghela nafas. "Semenjak kalian bertemu disini, kak elo itu terlalu posesif sama dia! "


"Hmm.. " Alvin tersenyum smirk menggaruki dagunya. "Mesum! " Protes Renita membalikkan wajah Alvin ke lain arah. "Siapa yang mikir gitu? Kamu kali yang mesum. " Alvin terkekeh usil. "Ngak usah aku kamu! Jijay! "


"Uhmm? Padahal dulu suka! " Goda Alvin. "Ya-iya kan itu dulu! Udah ah pusing ngomong sama kakak! " Ketika gadia itu akan pergi, Alvin kembali menahannya. "Apa lagi sih?! "

__ADS_1


"Elo kalau cemburu gemesin deh, gue jadi suka lagi. " Alvin terkekeh. "Ngak usah dusta!"


"Hmm, atau elo lagi suka sama cowok tapi cowoknya suka ama yang lainnya? " Mata Renita membesar, dia berfikir kenapa lelaki itu selalu bisa membaca fikirannya. "Maksu elo?" Alvin menjetikkan jarinya. "Benerkan! " Renita pergi tanpa berkata dengan wajah malas. "Re! Tunggu! Renita! " Alvin tak dapat mengejar kecepatan gadia itu. Nafasnya terbata-bata dan berusaha mengambil oksigen. "Cepet aja dia! Ahh, lebih baik gue cari Syila!"


***


"Elo-" Syila menjeda imongannya. Dia mentap kembali kedua netra yang menatap dirinya lekat dan dalam. Tidak ada kebohongan disana, dia begitu serius. Syila menghela nafasnya. "Sorry. " Satu kata yang mampu menyadarkan ambisi Dzestha. Syila kembali mengangkat wajahnya dan menatap lelaki itu. "Sorry, gue ga bisa. "


"Apa elo benci gue? " Syila menggelengkan kepalanya. "Kenapa elo ga suka gue? Apa yang bisa gue perbuat-"


"Terus kenapa? "


Syila tersenyum kecil. "Karena gue ga tertarik sama sebuah hubungan romantis untuk saat ini. Sorry. Semoga elo bisa menemukan seseorang yang lebih baik dari gue. " Syila akan membalikkan tubuhnya untuk pergi setelah meminta maaf, namun Adzestha menahannya. "Tunggu. " Lelaki itu memegang lengan kanan Syila. "Boleh tau alasannya? "


"Daripada elo mendengar alasan klise gue, lebih baik elo lihat sekitar elo." Adzestha mengerutkan dahinya. "Maksud elo? "


"Ya, mungkin ada orang yang tulus suka sama elo dan bisa membuat elo tertarik. Bisa lepas? Gue harus segera ke kelas. " Syila kembali mengembangkan senyum lembutnya. Adzestha menatap sebentar gadis itu, lalu melepas cengkraman lembutnya. "Ternyata elo orang yang kasar juga." Adzestha menyakui kedua tangannya, wajahnya kini telah mendingin. Syila tersenyum kecil. "Maka dari itu, elo salah menyukai orang yang jahat seperti gue. Sorry." Syila menepuk lengan lelaki itu dan pergi. Rasa yang bercampur aduk itu berkecamuk dalam diri Adzestha. Tubuhnya seketika lemah memebntur tiang yang berada dibelakangnya dan tak terasa aror mata itu telah jatuh.

__ADS_1


Gadis itu mengehntikan langkahnya menundukkan pandangannya. "Sorry. " Lirihnya sembari mencengkram kedua bogemnya dengan kuku yang menacap ke kulit putihnya. "Sayang! " Panggilan itu membangunkannya. Syila membalikkan tubuhnya menatap datar sang kakak. "Ha-hah-hah." Syila mengangkat sebelah alisnya. "Habis lomba lari sama siapa?" Niat mengejek namun diartikan candaan oleh lelaki yang sedang tersenyum lebar didepannya itu membuatnya begitu jengkel. Syila memutar bola mata malas. "Kenapa?" Tanyanya dengan ketus. "jutek amat sih, adikku sayang!" Alvin memijit antar dagu dan pipi samg adik. "Lepas! Gue mau ke kelas udah sana bentar lagi masuk, sana ke kelas sendiri sana!" Alvin memajukan bibirnya. "Jahat ih, masa kakaknya diusir sih! " Syila berusaha memberontak dalam pelukan sang kakak yang juga mengelus dan mengacak-ngacak rambutnya. "Ekh-hm! " Seseoramg yang berdeham itu menghentikan kegiatan adik kakak itu. "Dilarang pacaran di sekolah! " Bentak pelan pria dengan kumis panjang nan tebal yang menutupi lubang hidungnya. "Pa, maaf sebelumnya. Tapi, masa saya pacaran sama adik saya sendiri?! " Sahut Alvin dengan santai. Syila melirik sang kakak dengan wajah tegang dan memerah karena malu. Ada rasa kesal yang terus melanda hati ini, melihat sang kakak yang begitu acuh menghadapi pria di hadapan mereka. "Lalu, apa yang sedang kalian lakukan disini? Ini sekolah tempat belajar, bukan tempat mesra mesraan antar adik kakak! "


"Bapa ga pernah muda si-Argh! Syila, kok kakak dicubit sih? " Syila melirik tajam kakaknya. "Maaf pa, kami akan segera kembali ke kelas masing-masing.Iya kan, kakakku? " Kalau udah begini, bahaya! Gue harus nurut aja deh! Alvin mengannguk. "Ekhhm, baik segeralah ke kelas sebentar lagi jam pelajaran akan dimulai kembali! " Syila mengangguk begitupun Alvin. Di tengah akan meninggalkan kedua muridnya, pria itu menepuk pundak Alvin dengan tatapan yang hanya dimengerti antar pria.


Syila pergi tanpa pamit, dan saat Alvin sadar gadis itu sudah tidak berada disisinya. Dia membuang nafas kasar. "Akh! Padahal masih pengen godain, ahh gue nginep aja kali ya dirumahnya. Tapi... " Alvin tiba-tiba bergidik ketika membayangkan sang nenek yang mengamuk dan juga tatapan Aliya dan Gian.


***


Renita terperanjat ketika mendamoati sang sahabat yang telah berdiri didrpan lawang kelasnya. "Syila? Ngapain disitu sih, kaget tau!" Syila masih melipat kedua tangannya dibawah dadanya menatap Renita dengan antar dahi yang berkerut. "Kenapa liatinnya gitu banget sih? " Ketus Renita. "Elo marah sama gue? "


"Gue? Ngak kok. " Renita terkekeh kecil. "elo ga bisa bohongin gue. Elo ga pernah ngobrol sama gue tanpa menatap gue, elo terus membuang tatapan elo ke gue. " Renita menghela nafas kasar, lalu menatap sahabatnya. "Hmm. gue liat elo.. " Syila menyunggingkan sebelah ujung bibirnya menatap bingung gadis itu. "Elo kesurupan, Re?"


PLAK!


Syila mengelus tangan putihnya yang habis di gampar oleh Renita. "Kesurupannya garang."


"Bilang sekali lagi, gue gampar lagi! " Seketika Syila tertawa geli. "Ketawa terus, ketawa! " Renita mendengus kesal. "Lagian, disuruh natap malah melotot. Ya, gue serem dong liatnya. " Syila membuang nafas. "Elo, liat gue ditembak dia kan?"

__ADS_1


__ADS_2