
"Sial! Banyak banget yang narik gue dari kemarin! " Gerutu Syila. "Berarti kalian udah? "
"Hmm! "
"Sorry. "
"Buat? "
"Semuanya. "
"Gak usah minta maaf. Terus mau apa? Keliatannya bukan urusan itu aja!"
"Elo memang cenayang!"
"Jangan aneh-aneh! "
"Gue mau minta bantuan sama elo!"
"Bantuan? " Rama menagaguk. "Apa? "
"Lusa adalah hari ulang tahun Syria! "
Syila melebarkan bola matanya. "Masa? " Rama mengannguk. "Kok elo tahu? "
"Uhmm, itu.. itu dia kan belum lama ini gabung OSiS. " Memang benar, tapi mencurigakan! Syila memicingkan matanya menatap curiga Rama, namun dia dibuat terkesiap. "Dan ulang tahun gue. "Lirih lelalki itu. "Hah? Apa? "
"Gue juga ulang tahun! " Berarti dia juga. "Hei, kok malah ngelamun? Pasti mikirin.. "
"Kenapa sama Syria? Mau rayain bareng? "
"Kurang lebih sih gitu. " Syila mengerutkan dahinya. "Kurang lebih? "
"Sebenarnya gue.. Mau nembak dia!"
DUARR!
Bagai bom atom yang meledak di hiroshima dan nagasaki. Syila mengerjapkan kedua matanya. "Ne-nembak? "
"Iya. Kenapa? Salah? ngak kok, kan cinta tidak memandang segalanya. " Lelaki itu bertanya dan menjawabnya sendiri. "Jadi, bantuin gue agar ultah kita bisa dirayain barengan soalnya Yudha punya acara lain yang gue malas ngikutinnya. Ya, please! "
Masih mencerna, tapi Syila terlanjur menganggukinya. "Ok, thank you. Gue tunggu nanti sepulang sekolah di klub! "
"Eh? "
****
__ADS_1
"Loh, Syila kamu sedang nunggu Rere ya?"
"Uhmm, iya. "
"Yaahh, dia udah duluan tadi sama Dzestha. "
"Oh gitu ya. "
"Kenapa? "
Aku pun menceritakan tentang kisahku yang berakhir dengan Yudha.
"PUTUS?!"
"Iya. "
"Ya ampun."
"Tapi yang bikin gue pusing sih.. itu uhmm.. "
"Apa? "
"Gue dapet tugas buat bikin ide konsep buat ultah si kembar lusa! "
"Eh? Kok bisa? "
Geplak!
Syria menampar keras punggung dzith yang lebih kecil darinya. "Kamu tuh kalau omong suka seenaknya. " Tapi mereka lebih dibingungkan oleh Syila yang tiba-tiba terkikik renyah.
"Hahahhahaha. "
"Lah malah ketawa. "
"Bahagia bener diputus-Uhnw?! " Syria membungkam mulut Dzith dengan tangannya yang gempal hampir menutupi setengah wajah gadis berkacamata bulat itu.
"Kalian punya ide ga? Bakal dirayain di home club kita sih!" Syila melirik melirik kedua teman dari sahabatnya itu yang juga menjadi temannya.
"Gimana kalau aku bantu?" Tawar Syria. Yes! dalam benak Syila. Pemeran utama panggung sudah masuk mode modus Syila. Bukankah ini bisa menjadi ramcangan rencana yang bagus dengan memasukan sang pemeran dalam rencananya tanpa menguak rahasia dari sisi manapun? Ya, semoga berhasil!
"Emang elo banyak waktu senggang? gak banyak tugas? Gak akan cape? " Pertanyaan beruntun Syika membuat Dzith memicingkan matanya. "mencurigakan. "
"EH? " Sontak aku dan Syria yang langsung menolah kearah gadis berkacamata itu.
"Mencurigakan. " Dia mengulang katanya kembali. "Mencurigakan. " Dan terus mengulang. "Men-embwh! "
__ADS_1
Syria membungkam mulit si kecil itu kembali dengan tangannya. "Berisik kamu, ayo pulanh! Syila, nanti aku bantu ya! Dadah! " Gadis semok itu menarik diri sembari menarik si kecil dalam dekapannya dan masih dia bungkam bibir ke setangahbwajah bawahnya.
"Eh? O-oke!"
***
" Gimana kalau Syila yang buat konsepnya aja? " Bisik Jeremy. Ini bagai dejavu ataukah karma? Memang kata itu adalah do'a ya.
Semua mengarah melirikku. Mikha menegakkan tubuhnya bersedekap melipat kedua tangannya didada bersamaan dengan ujung bibir yang melengkung tipis dengan tatapan meledek ke arahku. Mau apa lagi iblis ini?
"Bagus! Syila yang akan membuat rancangan pesta kenjutan dan akan mempersiapkan semuanya! Bagaimana? " Dengan nada meledek dia menunjukku.
"Itu itu bagus, tapi kita juga harus tetap membantunya. " Malaikat! "Gimana? Kamu mau?" Demi melancarkan rencanaku tentu aku menerimanya, walau aku merasa mendapatkan karma. Aku mengannguk dan menyetujuinya. "Kalau gitu, aku juga akan membantu! " Sintak semua menoleh ke arah suara itu.
***
"Jadi elo pura-pura bilang jadi yang ditunjuk untuk buat kejutan ultah kita, dan dia bilang akan membantu?! " Syila mengiyakan. "Alamak! " Rama menepuk dan mengusap wajahnya sendiri. "Ya gapapakan, jadi itu akan menjadi kejutan untuknya pas tahu ternyata itu kejutan buat dia dan elo yang harus mengatur semuanya. Elo harus bantuin gue!"
"Iya, iya! "
"Deal!"
Sampailah di hari dimana semua akan berawal. Semua orang sudah ada ditempatnya masing-masing.
"Mau kemana sih? "
"Kan aku udah bilang mau kamu anter aku ke tempat klub kamu itu. Aku mau mencari buku yang menarik disana! Dan aku dengar Haris pandai memasak makanan yang enak, jadi aku mau coba! " Lisa berusaha meyakinkan Yudha untuk pergi ke tempat kami sudah berada. "Oya, ajak juga Rama! "
"Dia udah keluar sejak tadi. " Lisa mengerutkan dahi sebentar dan Akhirny mengacuhkannya karena Yudha melanjutkan lernyataannya. "Kayaknya dia ada rapat osis."
"Yaudah, nanti kita ajak dia kalau ketemu disana ya! " Yudha tidak mengiyakan gadia itu, dia hanya mengikuti jalan dan kemauannya karena tidak ingin mendengar ocehan u hari 7 malam dari sang ibu yang diadukan oleh sang gadis.
Mereka pun berangkat menggunakan mobik Yudha, dan hari ini Lisa ingin lelaki itu yang menyupiri. Sementara itu, di home club semua orang sedang berbenah dan bersiap dan satu hal yang perlu diingatkan kembali, yaitu Rama yang sedang mempersiapkan sesuatu yang menurutnya hebat.
***
Sesampainya mereka yang memang tidak menemukan Rama sehingga Lisa mengajaknya lebih dulu setelah menyuruh yudha mengirim pesan pada saudaranya ke tempT yang dituju. Sebentar, Yudha menautkan dahinya merasa mengapa keadaan begitu sepi.
"Kayaknya dikunci. " Lisa menoleh kebelakangnya. Yudha mencoba dan perkataan gadis itu benar. Dia mencoba mengetuk ,namun tak ada balasan. Sekali lahi, dia mengetuk lalu mengintip ke jendela tetapi tidak merasakan hawa keberadaan siapapun. Yudha fikir mungkin hari minggu ini mereka tidak datang karena memiliki kesibukan masing-masing. Mungkin Jeremy sedang mempersiapkan pernikahannya dengan Jessica. Mikha yang mungkin sedang berkencan dengan Kaina atas suruhan kedua orang tua mereka. Rama yang tadi terlihat dari sela-sela jendela ruang Osis yang masih rapat. Haris mungkin sedang mengunjungi neneknya, dan David yang mungkin bersama keluarganya.
Yudha menyaku kantung celana kanannya, menyodol dan mengeluarkan sebilah kunci lalu memasukkannya ke lubang kunci dipintu dengan arsitektur vintage minimalis berwarna putih yang senada dengan warna dasar dinding bangunan itu. Di memutar knop pintu itu, memang tidak ada siapapun di ruang santai. Dia pun mengajak Lisa menuju ruangan membaca yang bersekat dinding rotan yang di dampingi oleh dinding sekat putih yang menyimpan banyak pot tanaman kecil dengan paling atas adalah tanaman berjalar yang menjalar kebawah menambahkan kesan aestetich yang menyambungkan ke arah dapur yang juga sama luasnya.
1,2,3..
"Surprise!!" Yudha tercengang dengan tamparan confetti ke wajahnya dan juga pelukan Lisa dari belakang. Dia melirik ke arah teman-temannya dan juga ke belakangnya.
__ADS_1
"Ayo masuk." Bisik Lisa, menarik Yudha untuk masuk.
"SURPRISE! " Confetti bertebangan diantara mereka. "Lah, Rama mana? "