
"Bagaimana, bayinya sudah terlihat? "
"Alhamdulliah bayinya sehat, nek. Tapi dia masih malu memperlihatkan jati dirinya. " Lian memamerkan barisan gigi putihnya membuat Maria terkekeh. "Alhamdulillah, mungkin mau kasih kejutan untuk kita semua."
"Iya."
"Jadi begini, saya dan Alvin mau ajak Syila berlibur ke kediaman Keuarga besar kami jadi saya meminta izon untuk membawanya. "
"Begitu ya, kalau saya sih gimana Syila. Memangnya kemana? " Sahut Aliya.
"Ke Toronto, Kanadan. "
"KANADAAAA?!?!"
Semua terperanjat mendengar ucapan yang dilontarkan Maria sebagaimana Syila sebelumnya. Maria mengannguk pelan. "Boleh kan? "
Aliya telah habis kata, sedangkan Liam dan Gian melirik ke arah gadis yang duduk sedikit menunduk di samoing mereka. "Syila, bagaimana? Kamu akan ikut bersama nenekmu;?" Tanya Gian. "Tapi, Syila kan ga punya pasport. " Dengan sigap Maria menyodok tas hitamnya, diambilnya beberapa berkas dari dalam sana dan disimpan di atas meja. "Tenang, semua sudah aku urus! Ini semua berkas kamu termasuk pasport. " Semua termangu melihatnya ,Sesekali melirik Alvin. "Jangan tanya saya."
"Kira-kira berapa hari? "
"Tidak lama. Pulang pergi dia hari disana kita aku bermalam satu hari saja. "
"Eh? "
__ADS_1
"Nenek hanya akan mengenalkanmu saja, dua hari satu malam dorasa cukup untuk mengenalkanmu dan berjalan-jalan sebentar. Jika kamu mau, kita akan berangkat malam ini. " Kejutan baru lagi telah muncul dan berhasil mencengangkan semua anggota keluarha itu. "Malam ini? Serius? " Syila menatap kedua orang di depannya secara bergantian. "Dua rius. " Jawab Maria.
Aliya yang duduk disebelahnya mengelus punggung Syila. "Bagaimana, kamu mau pergi? Ibu sih ga masalah toh biar kamu kenal dengan keluarga kamu disana. Yang penting jangan lama-lama. " Aliya menoleh ke arah Maria. wanita tua itu tersenyum kecil. "Tidak lama, seperti yang aku sebutkan tadi. Lagipula aku masih banyak urusan di indonesia. Ini karena adik laki-laki ku telah mengetahui semua jadi dia mengundang kita untuk kesana. Katanya ingin mengenal Syila." Jelas wanita tua itu. "Kalau gitu Syila siap-siap dulu. " Baru saja dia akan pergi ke lantai dua, langkahnya dibuat terhenti oleh perkataan Maria. "Kamu tidak usah terlalu vanyak bawa barang, baju dan perlengkapan lainya sudah nenek siapkan!" Sekali lagi satu Keuarga itu dibuat teecengang. "O-uhm, iya. Kalau gitu Syila ke ataw dulu. " Syila yang akan menaiki tangga sesaat melirik Alvin yang hari ini lebih banyak berdiam diri. "Apa dia masih marah? " Gumamnya bermonolog.
***
Malam tiba~
Aliya menahan aor matanya memeluk sang putri. "Maaf, ibu gak bisa anter ke bandara."
"Ngak apa-apa bu, ibu sehat sehat ya. Kak jagain ibu dan ayah ya. " Syila menatap Lian. Pria itu maju memeluk sang adik. "Inshaa allah, kamu juga sehat sehat dan hati-hati, jangan bandel! " Lian mengelus kepala Syila. "Aku bukan Lian! " Semua terkekeh. "Jaga diri ya. " Gian memeluk putri semata wayangnya. "ayah juga. "
"Tolong jaga putri kami. " Sahut Gian. "Itu tidak perlu kamu minta, dia adalah cucuku juga. " Jawab Maria. Mari, Syila dan Alvin pun pamit dan segera pergi ke bandara. Syila melirik kembali Alvin yang lebih banyak diam hari ini, namun dia tidak berani untuk bertanya apapun dan memilih untuk ikut bungkam.
***
Setelah check in, mereka pun bersiap memasuki pesawat. Syila tak menyangka bahwa dalam hiduonya akan menaiki kereta angkasa ini apalagi terbang ke negeri yang jauh. Ini pertama kali baginya. "Ayo kita duduk. kursi kita nomor 9,10 dan 11. " Jelas Maria. Maria dan Syila duduk bersebalahan sedangkan Alvin ada di sebelah mereka dengan temoat duduk yang terpisah, dia duduk bersampingan dengan seorang ibu yang menggebdonng anaknya dan nampaknya bukan orang indonesia. Alvin menyunggikan senyum kepada mereka yang dibalas, lalu duduk dikursi itu. Akhirnya mereka transit di dubai yang membuat Syila berdecak kagum dengan kemrgahan negara itu. "Jadi ini Dubai. " Gumamnya lirih bermonolog. "Ayo kita cari tempat makan dulu sebelum terbang, karena aku lapar. " Syila memanggut, namun tidak dengan Alvin yang petakilan yang kini berubah drastis. Dia trus diam bahkan tak mengusili Syila. Apa dia masih marah sama gue? Dalam hati Syila.
"Alvin! " Syila menepuk punggung lelaki itu. Alvin melirok Syila yang sudah berada disampingnya. "Elo, masih-" Belum selesai dia bertanya, Maria sudah memanggil mereka. "Ayo." Alvin menarik lembut lengan adiknya itu untuk segera menyusul Maria.
Mereka duduk di datu meja di restoran kecil itu. "kalian mau pesen apa? "
lUhmm. " Syila fokus melihat menu. "Pasta aglio aja deh. Kakak? "
__ADS_1
"Kopi aja. "
"Kamu ga akan makan? "
"Nga, nek. Alvin belum laper."
"Yasudaj. aku akan pesan beberapa dessert. Excuse me! " Pelayam mendatangi meja kami, menulis semua pesanan kami, pergi lalu kembali bersama makanan dan minuman yang telah kami pesan. Singkat cerita, kami telah selesai di restoran itu dan langsung menuju gate. Penerbangan pun diteruskan. Setelah kurang lebih 24 jam terbang di udara dengan burung mesin itu. Akhirnya kami tiba di negara maple ini, ya kami telah tiba di Kanada. Satu kata yang mungkin dapat direalisasikan adalah 'dingin'.
Sebuah mobil telah menjemput kami dan membawa kami berhenti disebuah rumah besar seperti villa villa mewah yang ada di dalam film. "Kakak! " Mereka yang baru turun telah di sambut oleh seorang kakek tua yang tidak jauh berbeda dengan Maria usianya. Pria tua itu memelik Maria, mereka saling berpelukan. "Maher! "
"Ahahah. kau tetap selalu canyik, kaka! " Maria tergelak. "Aku sudah tua sama sepertimu, dik." Mereka tergelak.
Pria tua itu melirik ke arah lain, yaitu kepada Alvin. "Alvin, cucuku!" Pria itu beringsut memeluk Alvin. "Grandpa. apa kabar? "
"Selali baik, bagaimana denganmu? Aouh, apakah si cantik ini? " Dia menoleh kebelakang, Maria mengiyakannya. Maher kembali memeluk Alvim dan menepuk pundaknya. "Aku sehat. "
"baguslah! "
"Cantik." Syila pun membalas sapaanya. "Halo grandpa, saya Syila. " Maher langsung memeluk gadia itu. "Kau sangat cantik, aku Maher grandpa mu, adik dari nenekmu. " Setelah ritual berpelukan, Maher mempersilahkan mereka masuk ke dalam rumahnya. "Mari kita masuk! "
"Grandpa, apa mereka sudah datang?! " Suara seorang perempuan yang menggema, terlihat satu sosok gadis menuruni tangga dengan terburu-buru. "Jangan lari-lari! " titah Maher. Selena mwngabaikannya dan berlari kedalam pelukan alvin. "Kakak! " Alvin yang terkejut dengan sigap menangkap Selena yang nampak akan terjatuh oleh langkahnya, dia bawa gadis itu ke dalam dekapannya. "Kakak, you're home. "
Alvin menyimpulkan senyumnya. "Hm. Apa kabar? " Selena memeluk lagi Alvin. "I miss you so much! " Alvin terkekeh mengelus kepala Selena. "Dengan Grandma, tidak? " Selena yang mendengarnya langsung terbangun dan berhambur kefalam pelukan sang nenek. "Of course, sama grandma juga." Maria membalas pelukan itu. "Kamu semakin cantik. " Selena tersenyum manis. "Oiya, kenalkan yamg di sebrlah kami ini adalah adik Alvin, sepupumu juga namanya Syila. " Selena berdiri tegak menoleh ke arah gadis yang ada di depannya memperknalkan dirinya kepadanya. "Syila. " Syila membungkukkan sesikit badannya. "Ahh, Selena. " Selena menyodotkam tangan kanannya yang dibalas Syila.
__ADS_1