
hai readers sudah baca novel pertamaku?
LAIR : THE BEGINNING
Para Esper baru telah muncul di berbagai belahan dunia. Hitzuziaki Kaoh pemilik sekolah khusus bagi para Esper telah menyuruh para muridnya untuk mencari para Esper yang masih berada di luaran sana untuk dibawa ke tempat rahasia mereka, di bantu oleh sang adik Nabari
Kalau belum yuk buka aplikasi noveltoon kamu, cari author violi vie dengan judul Lair : the beginning yaa..
Sekarang kita lanjut episode/bab baru Sweet heart boys. Selamat Membaca!!
-
-
****
"Satu minggu. " Maria yang sudah ditinggal Syila pulang karena dia besok masih harus bersekolah itu terkesiap dengan ucapan cucu laki-lakinya yang secara tiba-tiba. Waktu menunjukkan pukul sembilan malam, wanita tua itu sudah terbiasa terjaga hingga tengah malam sehingga dapat terus mengontrol keadaan sang cucu.
"Maksud kamu? " Maria yang sedang asyik menyenderkan punggungnya kemuka sofa yang berada disisi ruangan itu menegakkan tubuhnya.
"Alvin mau coba di kemo selama satu minggu. "
"satu minggu? Kamu serius?" Alvin menganngukan kepalanya. "Iya, satu minggu." Dia kini bagai anak berusia tujuh tahun dan terkadang kembali menjadi remaja berusia 17 tahun. "Bukannya kamu maunya dioperasi saja supaya cepat sembuh? " Bukan mendukung ketidakmauan sang cucu, namun satu minggu adalah waktu yang sangat singkat untuk kemo menurutnya belum tentu itu berhasil bukan..
"Emang bisa?! " Wajah Alvin begitu sumringah ketika mendengar kata operasi. "Belum tentu."
"Hah! kemo juga kan? Kalau kalian masih memaksa, Alvin hanya mau coba satu minggu. Alvin inginnya sih kita langsung ke Toronto!" Maria dibuat geleng-geleng oleh cucu yang satu ini. "Bukannya Selena juga sudah menungguku disana?"
Sudah satu minggu berlalu dan sudah satu minggu pula Alvin dirawat dan keluarganya menjaga secara bergantian ditambah dua hari lalu Selena datang dari Kanada bersama sang kakek dan kini berada di Indonesia.
"Itu apa lagi?!" Dengan mata berbinar Selena yang menjadi ketagihan jajanan pinggir jalan yang awalnya dia anggap jorok dan tidak higienis itu malah membuatnya mau dan mau lagi. "Apa itu lolok dan bata goreng seperti kemarin?" Tanyanya penuh penasaran.
"Lolok? Cilok kali bukan lolok! Dan bukan bata goreng, tapi bakso tahu goreng disingkat batagor." Syila yang menyulut menjelaskan disisinya Renita terkekeh renyah. Ya, Renita sudah tiga hari menemani Syila menunggui Alvin karena gadis itu baru memiliki waktunya sendiri dikarenakan padatnya tugas yang diberikan oleh guru. Walau tidak dianggap Alvin tapi dia memaklum karena sedang berhadapan dengan orang sakit, bahkan dia sempat terisak bisu kala melihat keadaan Alvin yang seperti itu.
"Ini Kue pukis rasanya manis, ini kue pancong gurih pakai kelapa. Ini bakso malang, Ini telur gulung, ini cireng, Ini es jeruk dan ini rujak buah." Dengan telaten Renita menjeladkan nama makanan itu satu per satu.
"banyak sekali kamu bawa!" Mulutnya teebuka lebar menganga melihat makanan-makanan asing yang tentunya tidak ada di Toronto, Kanada.
"Kan kemarim elo bilang bawa banyak, macem-macem jangan dua macem."
"La, elo sewot banget deh sama dia? "
Selena mulai mengambil satu tusuk telur gulung yang masih mengebul itu dari dalam plastik. "Dia jealous sama aku karena sekarang kak Alvin lebih manja dan perhatian padaku. " Jawab Selena dengan santai. Renita melirik Syila yang melukiskan wajah datarnya. "Waahh, aku tidak menyangka telur bisa dimasak seperti ini." Gadis blasteran itu mulai melahap makanan mengebul dengan ujung tusukan yang dia pegang dengan begitu anggun.
"Tuan putri mah beda ya pegang tusukan aja kayak macam vangsawan pegang gagang cangkir. " Bisik Renita pada Syila.
__ADS_1
"Ou GOd, so hot! " Teriakan itu membuat kedua gadis itu terkesiap. "Ya ampun tiup dulu dong itu kan masih panas! Jangan samain sama di Kanada yang dingin ekstrem dong! " Syila mengeluarkan selembar tisu mengelap bibir merah Selena. "Uhm, panas tapi enak makan lagi ya? "
"Tiup dulu dodol! "
"Apa itu dodol? "
"Allahuakbar! "
"Hihihihihi. "
"Re, jangan ketawa mulu! "
Keributan mereka membuat seisi koridor rumah sakit itu menontoni mereka sesekali, dan sesekali juga terkekeh sendiri hingga geleng-geleng. Didalam ruangan Alvin terlihat keki dengan keributan ketiga gadia itu. "Berisik banget, mereka lagi pada ngapain sih sebenarnya? " Maher tertawa pelan. "Mereka sedang mengajari dan mengenalkan jajanan pinggir jalan pada Selena. "
"Selena? " Maher mengangguk. "Ahh, kok wangi rujak ya."
"Rujak ini aneh membuat rasa buah-buahan segar dan enak ini menjadi buruk! Aku gak suka!" Gadis bule itu mengembalikan dengan keras makanan ditangannya pada Syila. "Yaudah buat gue a.."
"Nak Syila, apa ada rujak? " Tanya Maher yang keluar tanoa mereka sadari. Dia sudah berdiri disamping mereka. "Iya, grandpa. Ini ru.. " Dengan gegas Maher mengambil dengan lembut. "Ahh, boleh grandpa minta? " Syila mengangguk. "Silahkan. "
"Grandpa suka makanan aneh itu? " Maher menautkan kedua alisnya mengerutkan dahi berkerutnya. "Aneh? Ini enak, auwm! " Maher menusuk seiris buah yang sudah tercampur saus rujak itu dan menyuapnya dengan sekali lahap. "Iih grandpa! " Maher tergelak melihat ekspresi sang cucu. "Hahahhaha. sudah, sudah, kamu makan yang kamu enak saja. Ini buat kakakmu. "
"Loh bukan buat Grandpa?" Tanya syila. "Bukan, Alvin yang meminta. " Maher pun kembali kedalam ruangan dan menyodorkan memberikan rujak itu kepada Alvin. "Grandpa ga habisin kan? "
"Hanya mencoba satu gigitan saja, Alvin. "
***
Keesokan harinya, Syila berangkat sendiri kerumah sakit karena Yuda maupun Renita tak bisa menemaninya. Maria juga sedang sibuk bersama Maher di kantor Maria karena sebuah proyek. Lian sedang dinas kembali ke Makassar selama sembilan hari. Dikarenakan kandungan Letha dan juga kesehatan Gian yang sedang menurun karena memang sedang musim hujan, Aliya pun tak dapat turut membantu.
"Ah Syila, masuk! " Suruh Selena yang sedang menyimuti Alvin. Syila masuk kedalam. "Dia baru tertidur setelah minum obat. " Kata Selena. "Ok. "
"Lima menit lagi pak Agus akan menjemput, aku harus kerjain tugas sekolah lagi. Gapapakan sendiri? "
"Beres." Lima menit pun tiba dan Selena pun pamit pulang.
***
"Selen? "
"Udah bangun? Selen, udah pulang dari tadi. "
"Syila?"
"Kenapa? "
__ADS_1
"Minum. " Eyila menyuapi Alvin minum. Alvin meneguk tetes demi ttes air melalui pipa kertas itu. "Udah? " Alvin menganguk. "Makasih. "
"Ya. "
"La. "
"Hm? "
"Ada yang mau gue omongin." Syila menoleh dan menatap Alvin lekat begitupun sebaliknya. "Gue bakalan dibawa ke Toronto dan menjalani pengobatan disana."
"Jadi bakal dioperasi?"
"Mungkin. " Syila mengerutkan dahinya. "Karena gue bakalan kemo dulu untuk mengecilkan tumornya sebelum diambil dan juga terapi lainnya, tapi kami memutuskan untuk dilakukan semua disana."
"Gue bakal bilang ke ibu sama ayah, nanti gue ikut."
"Gak!"
"Eh? "
"Elo tunggu disini aja, kan ada sekolah juga. Bukannya bentar lagi bakalan UTS?"
"Itu sih masih satu bulan lagi, jadi gue bisa ikut kok.. "
"Syila, gak usah! "
"Tapi.. "
"Sayang, please! Elo gausah bikin ribet deh!"
"Iya, gausah marah-marah! "
"Sorry. Maaf kalau selama kakak sakit jadi nyusahin kamu."
Dua hari berlalu, Ini adalah hari kepergian Alvin ke Toronto dan perpisahan diantara mereka. "Semoga kami dipulihkan disana ya, nak. "
"Terimakasih bu, ayah. "
"Hmm, jaga dirimu baik-baik!"
"Syila. Kakak berangkat ya. "
"Iya, Hati-hati."
"Tenang, aku bakalan jagain dia." Selena memeluk Syila sebagai tanda perpisahan begitu juga Maria. Saat mereka akan memasuki mobil mereka ,tiba-tiba Alvin memaksa berdiri dan berlari tergopoh-gopoh mengejutkan semua orang dia berlari kedalam pelukan sang adik Syila. Binar netra itu membuat hati Syila sesak. "Setelah menatap adiknya cukup lama dia kembali memeluk Syila dan mengecup pucuk kepala gadis itu.
__ADS_1
***
Sudah satu minggu Alvin berada di Kanada dan Syila masih tetap di Indonesia. Namun beberapa hari ini dia dibuat penasaran dengan tingkah aneh Yuda yang menjadi lebih cuek dari biasanya, bahkan sudah tiga hari mereka tak bertemu karena alasan Yuda yang sibuk ditambah tingkah Rama pun menjadi aneh seakan menghindar apabila Syila menanyakan perihal Yudha. Ditambah lelaki itu juga sibuk setelah dua hari diangkat menjadi wakil ketua OSIS karena Roni telah menaiki posisi ketua OISIs menggantikan Alvin. Klub membaca juga jarang berkumpul karena kesibukan masing-masing. Martha pun semakin jarang masuk sekolah, dan Syila lebih sering menyendiri.