Sweet Heart Boys

Sweet Heart Boys
43. (18+)


__ADS_3

Hallo readers aku kembali setelah ada waktu sebel. operasi tgl. 10 bulan ini maaf ya lama dan mohon doanya. Terimakasih dan selamat membaca..


Jangan lupa juga baca novel pertama aku


LAIR : THE BEGINNING


Para Esper baru telah muncul di berbagai belahan dunia. Hitzuziaki Kaoh pemilik sekolah khusus bagi para Esper telah menyuruh para muridnya untuk mencari para Esper yang masih berada di luaran sana untuk dibawa ke tempat rahasia mereka, di bantu oleh sang adik Nabari


****


Sudah empat hari Alvin dirawat dan secara bergantian mereka menjaga. Maria maupun Aliya ditambah Syila yang setelah pulang sekolah diantar Yudha ke rumah sakit untuk menunggui pasien Alvin.


"Kqmu masih tetap tidak mau di kemoterapi? "


"Iya, Nek. Bukankah di Toronto ada dokter yang mau dan bisa mengoperasi kelenjar tumor dikepalaku ini?"


"Tapi itu hanya 50% kemungkinan berhasil. Kami tidak ingin mengambil resiko dan kehilangan kamu!"


"Bukankah kemo juga seperti itu?! Alvin tau nek, saya sudah tau kalau tumor ini sudah menjadi tumor ganas dan sudah menyebar juga. Alvin sudah masuk stadium tiga kan? Dimana itu stadium tingkat tinggi yang angka kesembuhannya sangatlah kecil! "


Maria dibuat terdiam seribu bahasa sementara dibalik pintu itu ada seseorang yang berusaha menahan tangisnya. Syila bersikeras mengulum mulut dan wajahnya hingga dibuat kaget dengan seseorang yang tiba-tiba memeluknya dan dia adalah yuda. Yuda tidak langsung pulang karena perbekalan Syila yang dia beli diminimarket tadi tertinggal . Dia berencana mengantarnya, namun setelah sampai dia melihat gadia itu sedang mencekal gagang pintu dengan keras dan berusaha untuk tidak menangis terlihat dari nafas yang tidak beraturan dan bahu yang bergetar. Dia peluk gadis itu dari belakang. "Yuda?" Dia membalikkan tubuh gadis itu dan memasukannya kedalam dekapannya. "Menangislah! " Akhirnya gadia itu pun menangis tanoa siara dalam pelukan sang kekasih. Setelah lebih tenang, Yuda membawanya duduk dibangku oanjang sebelah pintu ruangan itu mengelus punggung gadia itu. Terdengar suara pintu terbuka dan keluarlah seorang wanita tua dan pria muda berjas putih.


"Loh kalian sudah datang, kenapa tidak ma-" Maria menghbetikannya. Dia menatap Yuda yang membenarkan pertanyaan dari sorpt matanya. "Hah! Syila? "


"Ya? " Maria duduk disebelah Syila. "Kamu mau membantu nenek? "


***


Syila membuka pintu itu dan masuk dengan bingkisan yang dia bawa. Terlihat Alvin yang sedang termangu dengan dirinya. Syila duduk dikursi kecil itu. "Kak, gue bawa eskrim mau ga? " Tak ada jawaban dari lelaki yang masih melamun itu. Syila pun tak menghiraukan. "Yaudah, gue makan ya. Oya, ada pudding juga tuh kalau mau, gue simpen sini. " Gadis itu meletakkan bawaanya diatas meja putih itu. Saat Syila baru saja menyuap satu sendok eskrim choco cheesecake itu ke dalam mulutnya dia dikejutkan dengan celotehan Alvin. Sedangkan Yudha sudah pulang disuruh Syila dan neneknya.


"Elo kesini disuruh nenek ngebujuk gue kan?!" Gadis itu mengerjapkan matanya. "Uhm, ya. Tapi gue ga akan bujuj elo." Alvin menoleh menatap adiknya yang asik memakan secangkir eskrim itu. Lalu kembali menatap lurus dengan tatapan kosongnya. Sebenarnya gadis itu juga sudah bingung mau apa, srmakin hari kondisi Alvin yang terus menolak kemoterapi menjadi semakin memburuk. Dia kerap kali kesakitan, lalu menjadi berceloteh kesana kemari. Mood yang berubah. Mungkin juga efek dari obatnya. Dan menolak bertemu siapapun seperti satu hari yang lalu disaat Jeremy datang menyusul menjenguk dirinya.

__ADS_1


Flashback on


"Hai Syila cantik! "


"Hm. " Sahut Syila dingin. "Masih judes aja si eneng. " Lelaki itu terkekeh. "Boleh masuk?" Syila mengiyakan. Namun baru dua langkah masuk dia telah diusir oleh Alvin yang tiba-tiba saja moodnya memburuk membuat dirinya meraung kesakitan hingga Syila dibantu jeremy memanggil dokter dan gadis itu menelpon neneknya. Ketika sang nenek datang, beliaulah yang mau Alvin temui bahkan Syila diusir keluar dari ruangannya.


"Maaf ya kak. Alvin... "


"Ssst! Gak apa-apa, semoga dia cepat sembuh. Gue kangen keangkuhannya sebagai ketua OSIS. Sorry juga gue baru datang. "


"It's ok. "


"Kalau gitu gue pamit, titip salam buat semua."


"Ya. "


Flashback off.


"Kenapa minggu pake seragam? Mau sekolah siang? "


"Ini masih hari rabu, Sayangku.. " Alvin memutar bola mata malas. Syila merasa dia merasakan karma atas kelakuannya dahulu pada sang kakak. Kini dia yang harus membujuk sang kakak posesif nan romantis yang berubah drastis itu dengan penuh kesabaran.


Terlihat helaian-helaian rambut yang berjatuhan. Rambut Alvin mulai merontok padahal dia belum menerima kemo. Tetapi sedari malam dia mengalami demam tinggi dan baru saja menurun satu jam lalu.


"Ada apa nyariin gue? Kangen?" Alvin kembali menoleh dengan tatapan sendunya. Dia terkekeh lalu tertawa renyah. "Tahu aja! "


"Sst! gausah teriak juga kali! Ini tuh rumah sakit! "


"Kata siapa bioksop? "


"Di bioskop juga ga boleh teriak! "

__ADS_1


Cup.


Syila tersentak ketika sang kakak menyambar dan mengecup bibirnya untuk sesaat. "Manis. Eskrimnya enak. "


Plak!


Syila memukul. pelan punggumg tangan sang kakak. "Alvin! "


"Kenapa elo cium gue? " Tanya Alvin dengan raut wajah tak bersalah. "Ish yang nyoum siapa! "


"Ck! Sana ah elo ganggu mulu! Pokoknya gue gak mau di kemo! "


Syila pun berdiri dengan kesal dan segera pergi setelah diusir. "Siapa yang salah, siapa yang diusir! " Syila bermonolog. Saat setelah gadis itu membuka pintu fan akan keluar, Alvin menahannya dengan berteriak. "Syila! "


"Apa? "


"Mau kemana? Jangan tinggalin gue! "


"Kan elo yang usir gue! "


"Jangan pergi! Maaf. " Air mata itu menetes deras diwajah pucat itu. Hanya dalam empat hari saja penyakit itu sudah bisa merubah seorang Alvin. Ralat! Dia memang sudah bekerja keras untuk menahan semua sakit itu dan menjalani hidup seperti biasanya hanya untuk menemukan sang adik yang selama ini dia cari.


Syila baru mengetahuinya saat Hati pertama Alvin divawa kerumah sakit. Ternyata penyakit itu sudah menggerogotinya selama empat tahun. Dia bersemangat dengan verobat, tapi entah mengapa selama beberapa minggu ini keadaannya jadi memburuk. Bahkan gadia itu sempat berfikir apakah karena bertemu dengannya lelaki itu menjadi begini? Tapi Aliya bilang ini i semua sudah takdir tuhan yang maha esa.


"Peluk. " Pinta Alvin yang masih menangis. Syila kembali kesamping lelaki itu lalu duduk dan mereka pun saling berpelukan. "Jangan nangis. "


"Elo yang nangis, kak. "


"Masa? "


"Ish! "

__ADS_1


Dari balik pintu sosok kedua netra coklat mengawasi dengan sendu. "Yang sabar ya, nak. "


__ADS_2