Sweet Heart Boys

Sweet Heart Boys
50. Putus! (18+)


__ADS_3

Takh!


Tepukan pelan yang menampar meja itu memperlihatkan beberla lembar foto dan kertas-kertas yang menjadi berserakan diatas meja.


"Apa ini, mik? "


"Kenapa ngak elo liat pake mata sendiri." Kaina mengerutkan dahinya. Dia melihat satu persatu berkas-berkas itu dan betapa dia terkejut setelahnya.


Mikha memiringkan sebelah lengkung bibirnya. "Penemuan yang bagus bukan?"


"Mi-mikha.. ini bisa aku jelasin kok. "


"Jelasin di depan semua orang! Berani? "Gadis itu meneguk salivanya. Mikha tersenyum sinis. "Sudah gue duga elo ga akan berani. " Mikha meninggalkannya yang masih gelisah tak karuan.


"Aku harus melakukan seseuatu. "


***


Pagi baru telah menyambut hari baru bersama rintikan hujan yang mulai mengguyur bumi. "Jangan lupa bawa payung!"


"Iua bu, Syila udah bawa! Berangkat dulu ya, Assalamualaikum!"


"Waalaikummussalam. "


Gadis bersuarai hitam dengan panjang hingga mencapai bawah pundaknya bergelombang itu telah keluar dari pelataran rumahnya, setelah menutup pagar rumahnya dia berjalan bersama payung kelabu yang menemani langkahnya ke sebuah pemberhentian bus.


Syila memang datang lebih awal dari biasanya karena hari ini adalah jadwal piket kelasnya, alhasil dia memang harus lebih awal datang.


Belum banyak orang datang ke bangunan itu. Hanya ada guru-guru yang mengajar hari ini yang masih sibuk bergelemut di dalam meja masinh-masing di kantor guru, satpam dan beberapa murid yang memang memiliki kegiatan yang lebih pagi juga.


Setelah menuruni bus dan berjalan sekitar 300 meter ke sekolah, akhirnya Syila telah tiba di gedung itu. Dia langsung berjalan mengarah ke kelasnya, namun langkahnya terhenti karena melihat satu sosok yang sekilas tidak ingin dia temui namun disisi lain hatinya dia ingin bertemu dan memeluknya.


"Syila. "


***


POV Syila


Hari ini aku datang lebih pagi ke sekolah walau hari sedang hujan, karena hari ini adalah jadwal piketku. Aku tiba disekolah pukul 05.45 ,ya sepagi itu. Karena aku juga berencana untuk ke perpustakaan sebentar setelah piket.


Aku berjalan ke kelasku dan langkahku terhenti ketika melihat sesosok yang terlihat jelas sudah dan sedang menungguku.


Awalnya dia memunggungiku, namun entah ada frekuensi apa, dia dengan cepat berbalik ke arahku. Melihatku dengan menggiring payung berwarna abu-abu yang telah basah oleh hujan. Dia menatapku, kami saling bertatapan hingga dia melirihkan namaku.


"Syila. " Sosok itu menegakkan tubuhnya lalu berjalan menghampiriku, dan entah mengapa tubuhku terasa beku tak dapat bergerak dan hanya bisa menunggunya ditempatku berpijak.


Tanpa berkata, dia mengambil payungku yang basah menggeprak-georaknya hingga buliran air jatuh, lalu menyimpannya di sebuah temoat khusu payung yang memang sudah ada disetiap penjuru ruangan. Dia mengangkat dan menggenggam tanganku dengan lembut membuatku dengan berani menengadah dan menatapnya.


"Ikut gue. "


"Kemana? "


Dia tidak menjawab pertanyaanku dan aku pun hanya mengikutinya. Dia memabawaku ke atap sekolah, melepas genggamannya dan memunggungiku sejenak lalu menatapku kembali.


Aku? Aku seperti patung yang patuh tanpa berkata maupun bergerak, hanya bernafas mengatur ritme agar detak jantung yang tak karuan ini tidak terdengar hingga ke telinganya.


"Gue denger, mami datengin elo kemarin. "


"Ya. " Jawabku singkat. Lelaki itu tersenyum gentir sekilas.


"Syil. " Dia kembali mengenggam tanganku kali ini keduanya. Kami saling adu tatap. "Sorry. " Dia menundukkan wajahnya seraya menyembunyikan matanya yang berkaca. Deru nafasnya mulai tak teratur. Itu membuatku bersuara. "Kalau gitu, kita putus." Pintaku lirih. Dia kembali menatapku dengan mata merahnya. "Gue tahu. Tapi.. " Lelaki itu membuang nafasnya. "Bisa kita pelukan untuk terakhir kalinya? " Aku mengiyakannya.


Dia memelukku, aku membalas pelukannya. Rasanya kami tidak ingin melepas ini. Aku merasakan isakannya yang dia tahan karena sedikit air matanya telah jatuh ke cerukku. Hingga dia melepas pelukan ini. Dia menyeka matanya. "Ini bukti betapa gue sayang banget sama elo, Syil. Tapi gue mengakui kalau gue lemah dan bodoh hingga tidak bisa memeperjuangkan hubungan kita ini! Gue pengecut!"


Sedih dan teriris memang, namun entah mengapa aku tidak bisa mengeluarkan emosi sedikitpun. Aku menggenggam kedua tangannya. "Elo bukan pengecut, Yudha!" Dia berbalik menatapki dengan sendu. Aku tersenyum. "Mungkin kita bukan jodoh, tapi kita masih bisa menjadi teman." Aku masih bisa menguatkan diriku pada saat itu.

__ADS_1


"Gue tau betapa elo menyayangi gue, begitu pun sebaliknya. Tapi, kita memang bukan ditakdirkan bersama sebagai pasangan. Mungkin kita hanya bisa bersinggungan saja. Thank you udah terus terang sama gue, thank you udah meminta maaf. Thank you udah hadir dalam hidup gue. Gue juga mau minta maaf jika gue selama ini selalu bersikap buruk. "


Yudha tidak membenarkan sebagiannya, dia merengkuh wajahku mengelus kedua pipiku. "Elo ga salah, gue yang salah. "


"Ini bukan salah kita. "


"Bisa gue minta satu hal lagi? "


"Apa? "


Cup.


Dia mengecup dahiku. "Ini. " Dan inilah akhir kisah kami.


~POV berakhir


"Kenapa Yudha berangkat cepat, kamu ngak adik ipar? "


"Ya karena gue ngak piket wahai kakak ioar belum jadi! "


Lisa memutar bola mata jengah. "Bukanya kamu ketua OSIS sekarang? "


"Tidak salah lagi. "


"Terus kenapa? ".


"Kenapa apanya? "


"Yaaa, kenapa ga berangkat pagi sebagai ketua OSIS?!"


"Ini juga pagi, siapa yang bilang malem. "


Ah sudahlah! Lisa sudah keburu geram dengan lelako remaja yang satu ini. Tingkahnya berbanding terbalik dengan yudha yang kalem.


"Santai juga pinter dong, mi! " Sekali lagi, wanita itu juga dibuat jengaj olehnya.


"Udah ah mau berangkat, kalian ajak obrol terus nanti telay lagi! abye! "


***


Setelah selesai piket dan mencari buku di perpustakaan, Syila pun berencana kembali ke kelas karena lima menit lagi akan dimulai pelajaran pertama. Namun, lagi-lagi seseorang menariknya.


"Sial! Banyak banget yang narik gue dari kemarin! " Gerutu Syila. "Berarti kalian udah? "


"Hmm! "


"Sorry. "


"Buat? "


"Semuanya. "


"Gak usah minta maaf. Terus mau apa? Keliatannya bukan urusan itu aja!"


"Elo memang cenayang!"


"Jangan aneh-aneh! "


"Gue mau minta bantuan sama elo!"


"Bantuan? " Rama menagaguk. "Apa? "


"Lusa adalah hari ulang tahun Syria! "


Syila melebarkan bola matanya. "Masa? " Rama mengannguk. "Kok elo tahu? "

__ADS_1


"Uhmm, itu.. itu dia kan belum lama ini gabung OSiS. " Memang benar, tapi mencurigakan! Syila memicingkan matanya menatap curiga Rama, namun dia dibuat terkesiap. "Dan ulang tahun gue. "Lirih lelalki itu. "Hah? Apa? "


"Gue juga ulang tahun! " Berarti dia juga. "Hei, kok malah ngelamun? Pasti mikirin.. "


"Kenapa sama Syria? Mau rayain bareng? "


"Kurang lebih sih gitu. " Syila mengerutkan dahinya. "Kurang lebih? "


"Sebenarnya gue.. Mau nembak dia!"


DUARR!


Bagai bom atom yang meledak di hiroshima dan nagasaki. Syila mengerjapkan kedua matanya. "Ne-nembak? "


"Iya. Kenapa? Salah? ngak kok, kan cinta tidak memandang segalanya. " Lelaki itu bertanya dan menjawabnya sendiri. "Jadi, bantuin gue agar ultah kita bisa dirayain barengan soalnya Yudha punya acara lain yang gue malas ngikutinnya. Ya, please! "


Masih mencerna, tapi Syila terlanjur menganggukinya. "Ok, thank you. Gue tunggu nanti sepulang sekolah di klub! "


"Eh? "


****


"Loh, Syila kamu sedang nunggu Rere ya?"


"Uhmm, iya. "


"Yaahh, dia udah duluan tadi sama Dzestha. "


"Oh gitu ya. "


"Kenapa? "


"Ini Dzith, dia nyari Rere tapi kan abangmu udah bawa dia! "


Bukannya terfokus ke mereka, Dzith lebih terfokus pada Syila. "Elo kenapa? "


"Eh? "


"Hmm? "


"Mata elo sembap. "


"Ah, bener! Iya, kamu kenapa? "


"Masih keliatan ya? "Syila pun bercerita pada mereka.


"Putus? "


"Iya. "


"Ya ampun."


"Tapi yang bikin gue pusing sih.. itu uhmm.. "


"Apa? "


"Gue dapet tugas buat bikin ide konsep buat ultah si kembar lusa! "


"Baru putus, udah disuruh begituan! "


"Itubsih gara-gara Mikha yang sok tembak ke gue. " Mikha sorry ya elo gue fitnah dulu sebentar.


"Hatchi! "


"Elo bersin? " Tanya Rama. "Bukan, pingsan. " Rama pun terkekeh.

__ADS_1


__ADS_2