Sweet Heart Boys

Sweet Heart Boys
54. Gagal atau tidak?


__ADS_3

"Biar gue yang bikin ide tapi.. " Syila terperangah kala Mikha menariknya ke dalam dekapannya. Mikha merangkul gafis itu dengan erat. Disisi lain, seseorang tengah melihat mereka dengan sinis. "Gue pengen ditemenin sama dia! "


David mengangkat sebelah alisnya. Ada rasa yang mengganjal dalam hati Yudha saat melihat pemandangan itu, dimana mantan kekasihnya yang masih dia cintai sedang dirangkul mesra oleh pria lain.


Namun, kenyataannya Syila berusaha melepas dekapan itu tapi Mikha terus menang. Alhasil Syila pun menyerah dan membiarkan Mikha semaunya. Lelaki yang sinis dan menyebalkan ini memang selalu membuat gadis itu kesal sendiri.


"Kenapa harus dibantu? Syila aja bikin kejutan kemarin sendiri! " Celetuk Rama.


"Dia dibantu temen gemennya, gue tahu itu! Dan pastinya juga elo, iya kan! " Rama menggaruk ceruknya. "Jadi gue juga ingin dibantu, cukup dengan orang ini! " Tunjuknya pada Syila.


"Baik, tapi kalau ada apa-apa bisa minta bantuan gue. " Sahut David. "Aku juga, kita semua akan membantu iyakan? " Sambung Kaina. Semua mengiyakan.


Setelah rapat darurat yang tadi dilakukan, semua berpisah ke kelasnya masing-masing hingga waktu pulang Syila dan Mikha kembali ke home club di sisi lain sekolah untuk mengatur tempat, dekorasi dan juga tema dam skema yang akan dibuat untuk pesta kejutan besok.


"Karena waktunya sangat mepet, gimana kalau dekornya sama seperti ini aja? " Tanya Syila.


"Maksudnya gausah di dekor gitu? " Syila mengannguk. "Biar apa adanya.. "


"Ada apanya! "


"Sama aja."


"Beda. "


"Sama. "


"Beda. "


"Sa-Ah.. udah stop! "


"Yang mulai siapa? " Syila memutar bola mata malas, membuat Mikha menahan senyumnya. "Jadinya mau gimana? " Sementara Syila mulai berfikir kembali, disisi lain Mikha memandanginya dan mulai berbicara.


"Syila."


"Uhm? "


"Elo masih inget pohon beringin di belakang TK Adora dekat sebuah danau dimana kita suka bermain dulu? " Syila menengadah dan menatap Mikha ke maniknya langsung secara dalam dengan penuh tanya. "Elo anak Adora?" Mikha menggekeng sembari tersenyum kecil. Syila mengerutkan keningnya. "Apa elo ingat seorang bocah yang bersembunyi dibalik pohon itu sedang memegang burung yang terluka dan sekarat, lalu seorang gadis kecil yang tomboy mendatanginya?"


"Sekarang gue ingat! " Mikha tersenyum. "Jadi itu elo? " Mikha mengakuinya dengan anggukan kepala. "Jadi anak yang membiarkan burung mati, lali setelahnya nangis dengan tatapan kosong dan mengajak untuk mengubur burung bersama itu elo? "


"Ya. "


"Ternyata dia lebih tua dan itu elo! " Syila melirik sinis. "Emang kenapa? " Tanya Mikha. "Dasar cengeng. Seorang Mikha cengeng! " Mikha dengan cepat menutup mulut Syila dan membuatnya bungkam. "Ssst! "


"Kenapa? Malu ketahuan CengengnMikha ce-mmh! "


"Ssst! Bukan, tapi gimana kalau ada yg denger terus masuk? Gimana kalau Haris yang masuk, ancur udah rencana kita!" Syila melebarkan kedua manik matanya. "Iya juga. Sorry. " Bisik Syila, dan Mikha hanya bisa geleng-geleng.


"Syila."


"Apa? "


"Gue itu menyukai elo saat itu hingga sekarang, dan ingin kita bersama. " Syila mengangkat kedua alisnya. "Maukan elo berdampingan dengan gue?" Syila sontak terdiam. "Ga perlu jawab sekarang kok. Uhm, jadi mau buat kejutan seperti apa buat Haris?"


"Gimana kalau kita memasak? "


"Masak? "


"Iya. Kita bikin kue sekarang terus masukin kulkas, terus masakan lainnya besok pagi. Semacam apresiasi dan balas budi karena selama ini dia yang selalu masakin kita. Gimana? "


"hmm boleh juga idenya. Jadi, kuenya mau bikin kue apa? "


"Gue tadi liat bahan adanya beberapa balok keju, beberapa bungkus susu kental manis, biscuit, mentega, slai stawberry dan buah-buahan. Gimana kalau cheesecake strawberry aja? Makanannya disinikan cuma ada pasta, besok gue ke pasar deh. Gue masak makanan nusantara rumahan aja! "


"Ok. "


"Tapi, gimana kalau kita beresin dulu perpustakaan? Kan hati ini jadwal kita piket! "


"Hayu aja. "


Mereka pun pergi ke perpustakaan dan ruang baca yang menyatu yang berada disebelah dapur cantik nan luas itu. Merapikan buku-buku sesuai genrenya dan juga abjad judul. Lalu menyapu dan mengepel, namun tiba-tiba lampu padam dan gelap. "Mati lampu, Mik!"


"Gue keluar dulu cek saklar lampu, elo tunggu disini! " Styila memegang erat tangan Mikha seakan menahannya pergi. Sebenarnya Mikha begitu senang, tapi dia menyembunyikan lerasaan itu. "Kenapa? "


"Gue ikut! "


"Dasar penakut! " Goda Mikha. "Ck. biatin daripada cengeng! "


Syila pun mengekori Mikha sambil megenggam baju belakang lelaki itu. "Argh! " Mereka dikejutkan dengan setitik cahaya yang memperlihatkan wajah seorang pria yang serius. Ketiganya sama-sama terkejut, tapi yang lebih terkejut adalah Syila dan Mikha.

__ADS_1


"Syila? Mikha? " Mereka mengenali suara itu. "Haris? "


"Kalian berdua lagi ngapain berduaan ditemoat gelap? " Tanyanya dengan santai membuat Mikha kesal. "Gue yang harus nanya, mau apa elo kesini?! "


"Suka suka gue lah! "


"Ishh! "


"Sstt, udah jangan berdebat kalian! Nih lampu benerin dulu, biar cepet beres kita! "


"Iya juga. "


"Beres ngapain nih? "


"Euh, i-itu kak, kita kan hari ini piket bersihin perpus sama ruang baca. Lagi ngepel sama beres-beres eh mati lampu! "


"Oh gitu, yaudah kalian tunggu disini biar gue yang cek saklar lampu di luar."


"Tunggu, elo mau apa kesini? belum elo jawab! "


"Gue mau bawa pasta ke rumah, pasta gue kan ketinggalan di dapur sini. Udah diem, gue nyalaim dulu saklar takutnya cuma ngejepret aja. Gue cek dulu! "


Keduanya pun menuruti perintah Haris. "Gimana kalai dia lama disini? " Tanya Syila. "Gak akan, dia mah kalau cuma ambil barang ya ambil terus pergi lagi." Haris pun berhasil menyalakan lampu karena hanya ngejepret bukan aliran dari pusat, untungnya. Syila dan Mikha pun kembali untuk menyrsaikan masa piket mereka hari ini.


Setelah selesai. "Kalian udah selesai? "


"Kak Haris belum pulang? "


"Gue berinisiatif bikin pasta disini aja, sekalian bikinin buat kalian yang udah bekerja keras beres-beres hari ini. Gih cuci tangan! Spageti marinara bentar lagi siap! " Syila dan Mikha saling melirik, sedangkan Haris kembali memasak.


"Gimana? " Bisik mikha. "Untuk besok sabtu, subuh elo harus siap sekalian ke pasar! "


"Maksudnya gue juga harus ikut ke lasar?"


"Yap! "


"Kenapa masih berdiro disitu? Nih udaj siap kita makan, gih cuci tangan! "


"Iya! "


Keesokan hari, setelah Mikha yang kelimpungan karena perdana ke pasar tradisional. Namun, akhirnya mereka berhasil membuat semua menu yang mereka inginkan. Mulai dari Cheesecake strawberry, lalu es teler, nasi liwet dengan lauk pauk seperti oseng kangkung, balado terong, tempe mendoan, tahu isi, telor dadar ala ala jepang, ayam bakar bumbu rujak, sambal dan lalapan.


Satu persatu pun datang, kecuali Haris, jeremy dan David yang belum terlihat batang hidungnya. "Wahh, kalian yang bikin ini? " Tanya Clarisa.


"Hebat! Aku sepertinya harus belajar masak dari kamu, Syila. " Sambung Lisa yang memang selalu mengekori Yudha.


"Apa tadi? Mikha ngupas bawang Hahahahhaha-Aw! Kok digeplak?" Mikha menoyor punggung Rama dari belakang.


"Udah! Udah! Mending kita siap-siap sebelum mereka datang! Nih perlataan, sada dan cemilan sudah kami beli. " Sela Kaina yang sesekali melirik Mikha yang masih mendekati Syila.


Di luar..


"Ayo masuk! " Ajak David. "Wahh ga sabar nih mau liat si Rama baca puisi hahaha! "


"Dia kan mau promoin novelnya, bukan baca puisi Maemunah! " Sindir Haris pada Jeremy.


"Tapi gue bakal suruh dia baca puisi, ferguso."


"Serah lu! "


David masuk lebih dulu disusul yang lain. "Kok sepi? " Tanya jeremy. "Di ruang baca kali!" Karena akses keruang baca yang tak terlali besar karena disatukan dengan rak-rak buku yang hanya dapat diakses lewat dapur, ini bisa dibuktikan kalau mereka memang lebih sering berkumpul dipelataran depan atau di ruang paviliun untuk berkumpul yang menyatu dengan ruang tv dan game.


Mereka memasuki dapur dan "Surprise!!" Semua terkesiap. "Happy birthday Haris! "


David mendorong Haris ke depannya. "Tiup dulu biar ga merusak kuenya. " Bisik Syila dan dia pun meniup lilin itu.


"Thank you semua! "


"Sama-sama! "


"Ayo makan! "


"Wahh, semua ini Syila yang masak?! " Gadis itu mengangguk. "Istri idaman. "


"Eh? " Wajah Syila memerah dengan ekspresi bingung yang mengundang tawa semua orang. Mereka pun menyantap bersama, namun sisi lain Haris mengatakan apakah ini berhasil atau gagal? Dia tidak akan memberitahu teman-temannya tapi akan menceritakam pada pembaca.


***


PoV Haris

__ADS_1


"Oya pasta gue masih disana! " Sepulang sekolah Haris menuju ke home club untuk mengambil barang miliknya, namun saat disana dia dikejutkan dengan adanya Syila dan Mikha yang tidak sengaja terdengar olehnya.


"Syila, elo masih inget pohon beringin di belakang TK Adora dekat sebuah danau dimana kita suka bermain dulu? " Syila menengadah dan menatap Mikha ke maniknya langsung secara dalam dengan penuh tanya. "Elo anak Adora?" Mikha menggekeng sembari tersenyum kecil. Syila mengerutkan keningnya. "Apa elo ingat seorang bocah yang bersembunyi dibalik pohon itu sedang memegang burung yang terluka dan sekarat, lalu seorang gadis kecil yang tomboy mendatanginya?"


"Sekarang gue ingat! " Mikha tersenyum. "Jadi itu elo? " Mikha mengakuinya dengan anggukan kepala. "Jadi anak yang membiarkan burung mati, lali setelahnya nangis dengan tatapan kosong dan mengajak untuk mengubur burung bersama itu elo? "


"Ya. "


"Ternyata dia lebih tua dan itu elo! " Syila melirik sinis. "Emang kenapa? " Tanya Mikha. "Dasar cengeng. Seorang Mikha cengeng! " Mikha dengan cepat menutup mulut Syila dan membuatnya bungkam. "Ssst! "


"Kenapa? Malu ketahuan CengengnMikha ce-mmh! "


"Ssst! Bukan, tapi gimana kalau ada yg denger terus masuk? Gimana kalau Haris yang masuk, ancur udah rencana kita!" Syila melebarkan kedua manik matanya. "Iya juga. Sorry. " Bisik Syila, dan Mikha hanya bisa geleng-geleng. Aku menahan tawa mendengar ocehan mereka dan entah mengapa ingin terus bersembunyi sambil menguping.


"Gue itu menyukai elo saat itu hingga sekarang, dan ingin kita bersama. " Syila mengangkat kedua alisnya. "Maukan elo berdampingan dengan gue?" Syila sontak terdiam. "Ga perlu jawab sekarang kok." Aku tertegun.


"Uhm, jadi mau buat kejutan seperti apa buat Haris?" Eh??


"Gimana kalau kita memasak? "


"Masak? "


"Iya. Kita bikin kue sekarang terus masukin kulkas, terus masakan lainnya besok pagi. Semacam apresiasi dan balas budi karena selama ini dia yang selalu masakin kita. Gimana? "


"hmm boleh juga idenya. Jadi, kuenya mau bikin kue apa? "


"Gue tadi liat bahan adanya beberapa balok keju, beberapa bungkus susu kental manis, biscuit, mentega, slai stawberry dan buah-buahan. Gimana kalau cheesecake strawberry aja? Makanannya disinikan cuma ada pasta, besok gue ke pasar deh. Gue masak makanan nusantara rumahan aja! "


"Ok. "


Apakah aku salah berada disini?


"Tapi, gimana kalau kita beresin dulu perpustakaan? Kan hati ini jadwal kita piket! "


"Hayu aja. "


Aha! Aku terfikirkan sesuatu. Mereka sangat fokus dan serius memgerjakan tugas mereka, ketika mereka sedang mengepel aku ingin sedikit menggelitiki mereka berdua dengan menjahili keduanya.


"Mati lampu, Mik!"


"Gue keluar dulu cek saklar lampu, elo tunggu disini! " Styila memegang erat tangan Mikha seakan menahannya pergi. Sebenarnya Mikha begitu senang, tapi dia menyembunyikan lerasaan itu. "Kenapa? "


"Gue ikut! "


"Dasar penakut! " Goda Mikha. "Ck. biatin daripada cengeng! "


Aku pun menampakan diriku berjalan menyusul mereka sembarinmenyalakan sentee ponsel. "Argh! " Mereka terkejut dan aku pun pura-pura ikut terkejut .


"Syila? Mikha? " Mereka mengenali suara itu. "Haris? "


"Kalian berdua lagi ngapain berduaan ditemoat gelap? "


"Gue yang harus nanya, mau apa elo kesini?!"


"Suka suka gue lah! "


"Ishh! "


"Sstt, udah jangan berdebat kalian! Nih lampu benerin dulu, biar cepet beres kita! "


"Iya juga. "


"Beres ngapain nih? "


"Euh, i-itu kak, kita kan hari ini piket bersihin perpus sama ruang baca. Lagi ngepel sama beres-beres eh mati lampu! "


"Oh gitu, yaudah kalian tunggu disini biar gue yang cek saklar lampu di luar."


"Tunggu, elo mau apa kesini? belum elo jawab! "


"Gue mau bawa pasta ke rumah, pasta gue kan ketinggalan di dapur sini. Udah diem, gue nyalaim dulu saklar takutnya cuma ngejepret aja. Gue cek dulu! "


Aku pun meninggalkan mereka dan menyalakannya kembali. Mereka pun kembali piket dan aku menuju ke dapur untuk memasak pasta marinara untuk kami bertiga.


Keesokan harinya, aku mengikuti Jeremy dan David. Dan akhirnya menerima kejutan itu. Aku memang sudah mengetahuinya, namun jujur aku masih sedikit terkejut juga dengan Syila yang banyak memasak dan penasaran dengan masakan Syila dan Mikha.


POV berakhir.


"Gimana, kak?"

__ADS_1


"Enak, gue boleh minta resep? Jujur kalau masakan western atau asia gue jagonya, tapi nusantara ngak hehe. "


"Boleh! "


__ADS_2