
Syila mulai merapikan buku-buku itu, dia juga nembuka buku lainnya dan membacanya sekilas karena penasaran. Lalu mengembalikannya. Dia tak menyadari kedatangan seseorang yang lalu berdiri memperhatikannya hingga sebuah buku tiba-tiba terjatuh dari atas, dengan cepat Mikha melindungi kepala Syila dengan tubuhnya. Suara debukan itu sontak membuat gadis itu reflek membalikkan tubuhnya. Betapa tertegun dirinya menghadapi Mikha yang begitu dekat dengannya dan melindunginya. "Mikha?" Mikha melepas kungkungan itu, dia menurunkan tubuhnya mengamabil. dua buku yang terjatuh tadi dan mengembalikkannya kembali. Syila masih mematung di tempatnya dia berusaha keras agar tidak terhimpit lelaki itu. "Elo, ga apa-apa? "
"Ngak. " Tanpa bicara lagi Mikha meninggalkannya mengambil tasnya dan berjalan menuju lawang pintu menoleh pada gadis itu. "Ayo pulang! " Lalu dia keluar, dengan cepat Syila menyusulnya. Disepanjang perjalanan didalam. mobil tak ada percakapan yang terjadi. Syila terus memandang jalan lewat jendela disampingnya sedangkan Mikha hanya fokus dengan menyetir hingga di tengah perjalanan. "Eh, iya gue belum kasih tau alamat rumah gue! Gue tinggal di-"
"Gue udah tau, bentar lagi sampai. " Syila mengerutkan dahinya, dia melihat ke jalan dan benar saja ini memang jalan ke rumahnya. Tidak lebih darinsepuluh menit mereka akhirnya sampai di depan rumah Syila. Gadis itu penasaran bagaimana lelaki itu tau alamat rumahnya tetapi dia malas memulai percakapan pada lemari kutub itu. "Thanks." Syila turun dan akan menutup pintu mobil putih itu. "Hm. " Syila menutup pintunya dan mobil. itu pun langsung melaju.
***
Malam telah datang, Syila merasa segar setelah ritual mandinya. Tiba-tiba ponsel Syila berdering, dia segera mengangkat telepon dari Alvin yang ia lihat telah melakukan panggilan sebanyak sebelas kali. "Halo."
(sayang, tadi kamu pulang sama siapa? Aku tunggu gak muncul darimanapun, kamu kemana?) Kuping Syila panas mendengar banyaknya pertanyaan yang terlontar dari mulut lelaki posesif itu. "Sama temen."
(siapa, cewe atau cowo. Ah, apa jangan-jangan kamu pulang sama Yudha?! )
"Sama Martha temen sekelas." Terdengar helaan nafas dari seberang sana. (Yaudah, sampai ketemu besok sayang! Mmmu-" Klik. Syila. memutuskan panggilan itu.
Malam berganti pagi, namun gadis itu masih terlelap dalam mimpinya. "Syila, bangun! Udah subuh ini! " Aliya menggoyangkan tubuh putrinya yang masih terlelap dibalik selimut. "Iyq bu.. "
"Iyw.. Iya.. bangun kagak! Ayo bangun kalau ga ibu seret ke bak mandi! "
"Emang muat? " sahut Syila yang masih setengah tertidur. Aliya mendengus kesal. "Cepet mandi, shalat subuh terus siap siap, terus turun makan... lbalabalwba" Aliya berbicara seperti kereta api. Syila pun terbangun dan langsung memasuki kamar mandi tanpa menghiraukan sang ibu yang masih menggerakan mulutnya dengan kekuatan angin, walau sudah keluar dari kamar Syila suaranya masih terdengar. Waktu telah menunjukan jam enam tepat. "Syila! Syila! " Syila bergegas turun ke lantai bawah keluar dari kamarnya karena sang ibu sudah berteriak terus menerus memanggilnya. Dia menuruni anak tangga itu. "Iya bu, ini udah tu-"
"Pagi, Sayang! " Mata Syila membulat sempurna ketika melihat sosok didepannya. "A-Alvin?" Syila melirik Alvin lalu kedua orang tua dan juga kakaknya secara bergantian. "Nga-pain elo kesini? "
"Jemput kamulah sayang! " Rasanya mual dan mau muntah, itu yang Syila rasakan saat ini ketika lelaki itu memanggilnya 'sayang' didepan keluarganya. Ingin dia memaki namun apa daya karena baru menyolot ringan pun sang ibu sudah memarahinya. "Syila, kamu ini gak sopan! Nak Alvin, mari kita sarapan bersama. " Senyum di wajah Aliya pun terbit . Begitupun Alvin. "Jadi repot ya bu, yah?" Ibu? Ayah? Apa maksud orang ini sih?! kenapa manggil bonyo gue kaya gitu?! Batin Syila mencuat. "Ngak kok, mari.. Syila ayo! "
__ADS_1
Syila memanyunkan bibirnya. "Sama Alvin lembut, sama Syila ketus! " Protes gadis itu membuat ibunya melirik sinis, Alvin mengulum senyumnya menahan tawa sedangkan sang ayah yang terkekeh mendengar protesan putrinya dan sang kakak yang mengacak-acak rambutnya. lDiam, kak Lian! Rambutku jadi berantakan! "
"Iya, maaf. jangan ngambek dong.. Sayang! " Lian langsung berlari ke arah istrinya berlindung dibalik tubuh istrinya saat Syila akan mencubitinya. "Syila!"
"Iya bu.. " Akhirnya mereka pun sarapan bersama. Setelah selesai, Alvin dan Syila pun pamit untuk berangkat. "Alvin, pamit ya bu, ayah, kak.. " Semua mengangguki setelah Alvin dan Syila mencium tangan. "Ingat ya alvin, elo harus pulang kesini lagi!" Mendrngar ucapan sang kakak membuat gadis itu menaikkan alisnya. "Kamu juga dek, jangan main langsung pulang! "
"Emang kenapa? "
"Pokoknya turuti saja kata kami, nak! Nak Alvin, Nyonya Maria juga akan datang kan siang nanti? " Tanya Aliya.
"Iya bu, beliau bilang seperti itu. "
"Mau ada acara apa sih?! " Tanya Syila dengan ketus. Semua memandanginya secara bersama membuat gadis itu jadi bingung. "Nanti juga kamu akan tahu, sudah cepet berangkat nanti kesiangan! " Suruh Aliya.
"Iya, Assalamualaikum. "
Dua puluh menit pun berlalu dan mereka telah berada di area parkir siswa di sekolah mereka. "Nih. " Syila menyodorkan helm yang ia pakai dan di terima oleh lelaki itu yang langsung dia kaitkan di motornya bersama helmnya. "Gue duluan."
"hm. Nanti gue tunggu disini waktu pulang. " Syila mengangguk dan langsung pergi. Tak ada komentar atau kata apapun yang diutarakan oleh Alvin yang membuat gadia itu mulai bertanya-tanya. Namun, dia kembali menepik rasa penasarannya. Dan segera ke kelas, disana terlihat Martha absen kembali. "Mungkin ada pemotretan lagi. " Gumamnya. Syila menduduki kursinya dan jam pelajaran pun dimulai. Hingga waktu pulang pun tiba..
"Ikut gue! " Tiba-tiba Yudha menarik tangan Syila yang mengejutkannya saat dia baru saja keluar dari lawang pintu. "Lepasin! gue mau pulang! "
"Ikut! "
"Kemana? "
__ADS_1
"Ke markas. " Yudha menyunggingkan sisi bibirnya. "Sorry, tapi gue harus pu-" Seseorang melepas genggaman Alvin dan mendekap tubuh syila dari belakang sehingga punggungnya bersentuhan dengan perut atas dada bawah lelaki itu. "Dia harus pulang sama gue. " Suara berat yang tegas itu mendapatkan tatapan tajam dari Yudha. Syila sedikit menengadahkan wajahnya. "Alvin?"
"Ayo pulang. " syila mengangguk, mereka hendak meninggalkan Yudha dan telah memunggunginya. "Apa kalian pacaran?! " Langkah mereka pun terhenti. Alvin menggenggam Syila dengan keras membuat gadis itu langsung mendongak menatapnya. Alvin menolehkan wajahnya ke belakang. "Bukan urusanmu. " Dia menarik Syila ke tempat parkir dan memakaikan helm ke kepala gadis itu. Syila hanya menurut karena dia masih larut dalam fikirannya. "Ayo naik. "
***
"Akhirnya kalian sudah datang. " Maria menyambut kedatangan kedua cucunya di dalam rumah Gian dan Aliya. "Nenek? " Maria memeluk Syila lembut, gadis itu pun membalas pelukan itu. "Oh, nenek sudah dateng. "
"Iya, ayo masuk! Kedua orang tuamu ada didalam. " Ajak Maria. "Lagi apa mereka? "
"Sibuk di dapur."
"Kak Gian mana? "
"Baru masuk mengantar istrinya ke kamar untuk beristirahat, dia muntah terus. Tadi baru pulang dari dokter kandungan. " Syila hanya manggut manggut. "Wahh, sudah siap ya! Pasti kami merepotkan sekali ya? "
"tidak, nyonya. Maaf, kami hanya bisa menghidangkan ini saja. "
"Terimakaeih aku tersanjung, ah nak Gian kok sudah turun? "
"Iya, nenek."
"Mana istrimu? " Tanya Gian. "Dia tertidur karena kelelahan. "
"Biarkan dia beristirahat. " Mereka pun melaksanakan makan siang bersama. Setelah itu..
__ADS_1
"Ehhm, Syila jadi kami.. " Aliya menyela sang suami. "Biar aku saja, mas. " Gian mengannguk. Syila semakin bingung namun mulutnya tetap rapat. "Syila, dengarkan ibumu. Walau kau telah mengetahuinya, ketahuilah ayah akan selalu jadi ayahmu dan juga Lian tetap kakakmu. " Gian pun mempersilahkan istrinya dan menguatkannya. Aliya menarik nafasnya, lalu mulai menceritakan semua kisahnya dan juga Syila yang membuat gadis itu termangu.