Sweet Heart Boys

Sweet Heart Boys
48. Dia Lisa


__ADS_3

Sebelumnya..


"Yudha, apa maksudnya tadi? kenapa elo bertunangan sama orang lain sementara elo punya Syila? " Tanya David dengan tajam pada Yudha. Sebenarnya, aku sedikit heran mengapa David begitu marah?


Yudha melirikku sekilas, dan aku pun tidak merespon apapun karena aku masih butuh mencerna semuanya. Setelaah dia menceritakan semua masalah yang dia alami, walau begitu. Entah mengapa aku masih sangat sakit hingga tidak bisa bertahan ditempat ini. Untungnya bel berakhirnya istirahat telah berbunyi. Aku pun pamit untuk beralasan.


"Kak, gue izin ke kelas lagi. "


"Lah, ga mau denger cerita aku? "


GpLK!


Haris kembali menggeplak kepala Jeremy. "Ish, ringan tangan banget! " Itu sedikit menghiburku. "Jangan dengerin dia, udah ke kelas aja, bel masuk udah berbunyi. " Suruh Haris. "Iya, kembalilah ke kelas. " Sambung David. Aku pun pergi dari sana.


POV Jeremy


Aku begitu terkejut dengan gambar yang terpamoamg dipapan iru, namun ketika aku akan melepasnya itu sudah terlambat. Mereka bergerombolan mendatangiku, untungnya kepala sekolah dan apara guru mengamankanku dan memanggil david. Haris yang saat itu bersama Syila, yang katanya mereka janjian bertemu di halte karena Syila sedang meminta resep pizza gulung kepada Haris pun menyusul setelah mereka mendengar masalahku.


Namun, ada satu hal lagi yang membuat kami terkejut dari sebelum itu. Itu adalah kedatangan Lisa sang tunangan idola Yudha, namun yang lebih membuatku pusing adalah setelahnya. Mengapa kepala sekolah itu memanggil pasukan Tentara?? Karena dia bagian pemerintahan ditambah sekolah kami yang memang berdekatan dengan markas mereka.


"Ya ampun, kok jadi ribet gini?! " Aku meremas kedua sisi rambut di kepalaku, pusing tujuh keliling dunia rasanya.


"Jangan berlagak lu! Elo hutang penjelasan sama kita! " Haris mendesakku yang membuatku semakin pusing, tapi ya bagaimana lagi aku memang sudah berjanji akan menceritakan masalahku tapi tidak kusangka malah akan terciduk satu negara api seperti ini!


"Sabar kali sayang.. "


"Idih! Jijay! "


"Ekhm! " Padahal dehaman itu dehaman biasa saja tapi bagi kami itu adalah tanda bahwa David mulai marah dan berhasil membuat kami bungkam.


"Elo memang punya hutang, tapi gue mau denger penjelasan dari elo dulu." David menunjuk Yudha dengan sorot mata gajam dan ekspresi yang dingin dengan suara yang berat. Setelah lelaki didepan kami yang ditemani kembarannya yang terus membeku bagai patung liberty itu menghela nafasnya, dia pun menceritakan semua masalahnya.


Dimana ayahnya masuk rumah sakit karena serangan jantung akibat saham yang melunjak turun, ditambah keegoisan sang ibu yang gengsi mendapatkan ataupun menerima bantuan dari keluarga Mikha. Maka terpaksa Yudha mau dijodohkan untuk membantu perusahaan milik keluarganya. Memang perjodohan bisnis masih berlaku di jaman milineal ini.


Aku mendengar suara bel berbunyi dan itu membuat Syila berdiri dsri tempatnya. "Mau kemana?" Tanyaku. "Bel masuk udah bunyi kak, Syila harus ke kelas."

__ADS_1


"Apa ga sebaiknya.. " Perkataan David disela oleh Syila. "Nanti pulangnya Syila balik kesini." Seperri yang mengerti, David mengiyakan. "Kamu gakkan dengerin cerita aku? " Godaku untuk sekedar menghiburnya. "Uhm, nanti aja kakak bisa ceritain. Kalau gitu, pamit. "


Sepeninggal gadis itu, aku pun menceritakan masalahku. Semua terkesiap tanpa bisa berkata hingga Haris kembali menggeplak kepalaku. lArghh! Ringan tangan bener.. Mau ku laporin ke komnas ham kau! "


"Kagak takut gue, yang salah tuh elo! " Aku menjulurkan lidah meledek, dan kembali mendapat gamparan tepat di bibir seksiku.


"Seksi aja ngak!" Eh? Apa aku tidak salah dengar dari sang malaikat David? Dia membulky ku?


Semua memutar bola mata malas. Seketika suasana sedih berubah menjadi hari dimana aku dibully. Huhu!


****


"Lisa sayang, kami sudah kembali? "


"Iya Mom, Lisa sudah pulang."


"Bagaimana kamu nyaman bermain disekolahnya Yudha?"


"Uhmm, iya. Sekolahnya bagus, tadi Lisa juga mencoba beberapa sarapan disana, ada kue cubit, lalu bubur ayam. " Wanita tua itu tersenyum lembut. "Syukurlah. "


"Uhmm, tapi Mom. Apa di Klub mereka itu ceweknya cuma satu? "


"Uhmm, soalnya tadi adanya cuma satu yang namanya Syila. " Seketika wajah yang mulai berkeriput itu memesam. "Mom? "


"Ahh, Lisa sebaiknya kamu beristirahat ya nak. Mami mau ke rumah sakit, lalu ke kantor mungkin pulang sore. "


"Ah, ok. "


***


Sore itu spwulang sekolah Syila telah berjalan pulang, namun tiba-tiba ada yang menarik lengannya. Seorang wanita setengah baya yang glamour.


"Kamu! Syila kan?"


"ai-iya. Maaf ibu siapa ya?" Tiba-tiba dia menarik Syila dengan paksa. "Ikut saya! " Dia membawa Syila ke samping gedung itu tepat di depan sebuah mobil berwarna silver. "Kamu Syila kan? " Gadis itu mengangguk mengiyakan. Belum sempat bertanya, wanita itu sudah menodongnya lagi dengan kata-kata. "Tolong jauhi anaka saya, jauhi dan tinggalkan Yudha. Dia sudah memiliki jodoh yang cocok dengannya! " Tegas dia memberitahu. Itu mengetuk keras hati gadis itu, karena dia tahu akan itu. Syila memakasakan diri dengan senyuman palsunya. "Maaf, tapi tolong bilang ke Yudha bahwa dia harus memutuskan saya, saya sudah mau putus meski saya juga tidak tahu ini bisa dikatakan pacaran atau tidak. Ini pertama kali buat saya dan mungkin berawal dari sebuah jebakan!"

__ADS_1


Wanita itu mengerutkan dahi menautkan kedua alisnya. "Maksid kamu? "


"Yudha.. " Syila menceritakan awal dan bagaimana caranya dia dan Yudha yang bisa dianggap sebagai pasangan kekasih hingga berujung menjadi kekasih dunia nyata.


Tak ada jawaban dari wanita setengah baya yang mungkin telah memasuki usia kepala lima. "Pokoknya kamu harus menjauhi dia!" Dengan akhir jawaban itu. Ibu dari lelaki bernama Yudha itu pun pergi memasuki mobilnya dan meninggalkan gadis itu sendiri di pinggir jalan, namun..


Bruk!


"Akh! " Keduanya terpekik. "Sorry. " Dan keduanya dengan kompak berkata. "Kamu, adik kelas jeremy bukan? " Pertanyaan itu menyadarkan Syila. Dia menengadahkan wajahnya menatap gadis yang terlihat lebih tua darinya itu dan yang pasti lebih tinggi darinya, makanya Syila sesikit menaikan dagunya.


"Iya."


Gadis itu tersenyum tanpa mempertunjukkan barisan putihnya. "Sorry ya, gue lagi buru-buru."


"Gak apa-apa, sorry juga ga liat kanan kiri. "


"Ya. "


"Ngomong-omong, mba tunangan kak jeremy yang pernah datang ke rumah sakit juga kan?"


Dia mengangguk. "Ternyata kamu masih inget gue. Nama gue jessica. "


"Saya Syila. Akh, sepertinya kak jeremy masih kumpul sama yang lain, mqu saya an.. "


"Jeca!"


"Nah, orqngnya datang. " Bisik Syila ke Jessica yang diangguki gadis itu.


"Loh syila? Elo belum pulang? Tadi katanya buru-bur-Aw!" Jessica menyentil bibir lelaki itu dan langsung mendapat protesan dari Jeremy. Lelaki itu melirik keki pada gadisnya dan dibalas lirikan tajam. Jessica menunjukkan bahasa isyarat dari matanya dan mereka pun tertuju ke gadis kecil disebelah mereka.


****


Takh!


Tepukan pelan yang menampar meja itu memperlihatkan beberla lembar foto dan kertas-kertas yang menjadi berserakan diatas meja.

__ADS_1


"Apa ini, mik? "


"Kenapa ngak elo liat pake mata sendiri?


__ADS_2