Sweet Heart Boys

Sweet Heart Boys
45.Jeremian stevano ² (21+)


__ADS_3

Readers Novel ini belum tamat ya.. Ditunggu kelanjutannya.. Mungkin dr tanggal 10 Febuari hingga beberala hari ke depan saya akan hiatus kembali karena akan melaksanakan operasi. Mohon doanya dan selamat membaca. Terimakasih.


******


POV Jeremy


"Masuk rumah sakit?" Tampak semua terkejut kecuali Mikha dan David juga Yudha yang tadi menemani Syila. Ini adalah kisah dimana kejadian Alvin dibawa kerumah sakit dan hanya segelintir orang yang tahu. "Ya, jadi sore ini kita akan menjenguknya. " Sahut David. "Sorry, gue gak bisa." Aku menyela.


"Kenapa? " Tanya mereka. Aku pun menjawab. "Gue ada urusan dulu, mungkin nanti nyusul sendiri. "


"Kalau gue mau duluan sepulang sekolah langsung kesana. " Ucap Yudha dengan semangat, aku berani tebakanku benar dan aku mulai menggodanya. "Udah kangen aja lu sama ayang! " Kekehku. "Kasian dia ga ada yang nemenin. "


"Kan ada oma Maria lah. "


"Beda lah! " Jawaban yang membuat semua geleng-geleng menahan tawa kecuali aku yang memang suka tertawa maupun menertaewai orang, tapi bukan maksud mengejek tetapi aku mudah dibuat lucu oleh mereka. "Gue ikut kalau gitu!" Seru Rama yang berada disebelah Yudha. Benar-benar, si kembar ini memang bagai pinang dibelah dua atau mungkin mereka adalah coklat kacang bila di dalam martabak. "Ngak. Elo ikut mereka aja!"


"Ish, kok gitu?! "


"Kayaknya elo suka gangguin dia ama doi kali?! " Aku menyenggol Rama dengan sikutku untuk menggodanya. "Exactly! " Yida yang menyahuti. Aku pun dibuat tertawa lagi. Aku menepuk pundak Eama dan merangkulnya. "Sabar bro, gue dukung elo!"


"Ada-ada aja kalian. " Haris si paling kalem namun tidak sekalem Mikha mulai bersuara. "Tapi, serius elo ada urusan apa? " Tamyanya padaku. "Nanti gue cerita pada waktunya. "


"Alaah paling juga hal cewe kan bang?! " Tembak Rama. Aku tersenyum kaku. Bel masuk berbunyi. "Udah ah, gue ke kelas dulu. Salam buat Alvin ya nanti, bye! " Aku meninggalkan mereka yang mulai bubar juga. Aku masuk ke kelasku menyapa beberapa teman-teman disana, lalu mengikuti pelajaran seperti biasanya. Namun, hal yang paling membuatku serasa runtuh adalah saat ini dimana aku sudah memutuskan hal tersebut.


Yah, semangat diriku!


Aku mulai berangkat ke tempat yang aku janjikan, disana ternyata sudah ada kedua orang tuaku yang telah setia menungguku. Aku membuat acara makan siang bersama kedua orang tuaku sebagai sebuah rencana bagi kami, awalnya dia menolak namun aku berusaha memaksa. Bahkan aku merasa sangat pengecut ditambah tidak ada seorang ibu menangisi putrinya ataupun si ayah yang memukuli lelaki sepertiku dikarenakan dia yang sudah sebatang kara. Mungkin memiliki saudara, namun aku tidak tahu pasti apakah mereka tidak dekat, atau tidak peduli ataukah dia menjauhi diri?


"Hai mom, dad. " Sapaku pada kedua orangtuaku. "Nak, kamu sudah datang? " Senhum. ibu memang terbaik. "Ini tempat yang bagus. " Aku memilih sebuah restoran yang dapat memesan ruangan Vip disebuah resto baru ternama dengan interior yang unik ini. "Kita tunggu satu orang lagi, tidak apakan?" Kedua orangtuaku mengernyitkan dahinya. "Satu orang lagi? " Aku membenarkan pertanyaan ibuku. "Siapa dia? Apa kekasihmu? " Tanya ayahku. Aku hanya menjawab dengan senyuman. Ayahku tertawa renyah. "Hahahha, lihat sayang dia sekarang sudah dewasa dan akan mengenalkan kekasihnya pada kita!" Dengan bangga ayahku berkata, namun bagaimana jadinya jika dia tahu kenyataannya?


Tak lama Jessica yang sudah tampil rapi pun datang, membuat mata kedua orang tua itu berbinar. "Apa dia kekasihmu itu, nak? " Tanya Ibuku. Aku sedikit menyimpulkan sunggingan bibirku. "Cantik sekali! Duduk, duduk, nak! " Ajak Ibuku dengan senang. Aku melihat wajah Jessica yang sedikit pucat dari biasanya dengan lingkar hitam yang tidak sepenuhnya tertutup oleh make up. Dia melirikku datar dengan binar yang bertanya-tanya, sambil menyimpulkan senyum ramah pada kedua orang tuaku. "Halo, tante. om. "


"Silahkan duduk. "


"terimakasih."


Setelah Jessica duduk, aku mulai mengajak mereka untuk memesan makanan karena waktu makan siang sudah di penghujung waktu. "Kita pesan makan siang dulu ya, udah mau jam tiga. Pasti sudah pada lapar kan? " Ajakku. "Bukannya lebih baik kami berkenalan dulu? " Ayahku menunjuk Jessixa dengan tatapannya. Aku menuruti saja. "Siapa namamu, nak?"


"Jessica, om. "


"Maaf, mau pesan apa?" Pelayan telah datang karwna memang sebelumnya aku memanggil. "Kita pesen dulu ya biar ngobrolnya sambil nunggu pesenan. Mau pada pesan apa? "


"Uhm, bagaimana kalau paket nasi liwet ini saja? Jessica, kamu suka bukan?" Usul ibuku. "Uhm, anu kalau boleh jessica ingin makan sayur asem saja sama perkedel kentang. " Kedua orang tuaku sedikit heran, namun tidak ada kecurigaan yang terlihat dari eajah mereka. Ibuku tersenyum kecil. Pelayan itu sedikit menyela. "Untuj itu, di paket komplit sunda ada."


"auhm, satu paket tersedia apa saja mas kalau boleh tahu? " Tanya Ibuku. " Nasi putih biasa, ikan gurame goreng/bakar,ayam serundeng , tahu, tempe, kangkung oseng, perkedel, lalapan, sayur asem, lalapan dan 3 jenis sambal plus teh panas. "


"Ya sudah itu saja. "


"Baik, saya ulangi pesanannya. paket komplit sunda, apa ada tambahan?"


"Ada es jeruk ga mas? " Tanya Jessica. "Ada. " Wanita itu melirikku dan kedua oeang tuaku. Ibuku yang peka pun menambah pesananya. "Es jeruk 2 ya mas, mami juga mau soalnya. " Ibuku terkekeh. " Baik, paket komplit sunda 1 dan es jeruk 2. Tidak ada tambahan lainnya? " Semua menggeleng. "Baik, silakan ditunggu."


Setelah pelayan itu pergi. Orang tuaku mulai berubah kembali menjadi sepasang detektif ternama. "Jessica, kamu sekolah dimana? Kelas berapa? "


"Saya sudah kuliah, di Universitas X. " Semua tetergun dengan jawaban Jessica yang membuat wanita itu menjadi sedikit tertekan. "Kita ketemu di cafe kopi yang biasa jeremi menyendiri dan dia lagi mendengar musik yang Jeremi suka juga saat itu. " Cerita itu benar adanya, kami memang bertemu saat aku sedang menyendiri ditempat biasa. Ketika itu Jessica tak sengaja menjatuhkan hamdphonenya didepanku dan saat aku memungut ponselnya aku sekilas melihat bagian menarik untukku yang membuatku refleks untuk bertanya. "Kamu suka coldplay? " Dan dari situlah kami menjadi dekat, hingga hal tak terduga itu menjadi kenyataan.

__ADS_1


"Ohh, begitu.. " Aku melirik kembali jessica yang sedang menatapku. "Lalu, dimana orang tuamu? "


"Mereka sudah meninggal waktu saya kelas 6 SD karena kecelakaan pesawat. Lalu saya besar bersama nenek yang sudah meninggal empat tahun lalu, dan sekarang saya tinggal sendiri di kontrakan."


"Maaf telah menyakan itu. Kami turur berduka cita. "


"Tidak apa-apa. "


"Kemana kuarganya atau saudara yang lain?" Jessica menggeleng. "Paman saya, pergi dan tidak tahu tinggal dimana sekarang bersa keluarganya. "


Makanan kami telah disajikan dan saatnya untuk disantap. "Nak, kok tidak makan pakai nasi?" Jessica tersenyum kecil sambil melirikku, seakan mengerti dia menjawab. "Lagi pengen nge gado begini, tan. "


"Oh, yasudah tambah lagi sana."


Setelah kami selesai makan aku mulai memberanikan diri, namun sebelum itu ibuku menawarkan kami terutama Jessica untuk dessert time tetapi dia menolak dan aku maupun ayahku pun sudah kenyang. "Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan? " Tanya Ayah yang berubah menjadi seriua ketika melihat wajahku yang mulai berkeringat. Aku berdiri dan pindah ke kursi disamping Jessica, tadinya kami duduk saling bersebrangan. Kami saling mengenggam erat satu sama lain dan menegakkan wajah. "Mi, dad. " Aku menghela nafas. "Sebelumnya, Jeremy mau minta maaf.. " mereka mengernyitkan dahi.


"Jeremy..Jere.. " Aku sudah tak dapat menahan air mataku dan aku mulai menangis membuat mereka saling pandang, disampingku Jessica tetap menggenggamku dan sesekali mengusap punggung tangabku dengan ibu jarinya. "Tolong izinkan kami menikah. " Peluhku.


"Menikah?! " Serentak orang tuaku terkesiap. "Tapi kan kalian masih pelajar? Kenapa cepat-cepat? " Ibuku gelagapan, sepertinya ibu sudah mulai merasa namun tetap tidak mau percaya. Ayahku membisu dengan wajah datarnya menatapku dengan tajam. "Jessica sedang mengandung anak Jere. Jere minta ma.."


BUKK! PLAK!


Ayahku mengangkat, menamparku lalu memukul wajahku hingga aku tersungkur.


"Argh!! " Ibu dan Jessica sontak berdiri terkesiap dan berteriak. "Jer? " Jessica mengikutiku duduk ke lantai meraih punggungku. "Anak kurang ajar! " Gertak ayahku. Ibuku yang sudah lemas terlihat menguatkan diri dan bwrusaha menenangkan ayahku. "Sayang, tenanglah sabar.."


"Bagaimana aku bisa begitu?!"


"Aku tahu! Aku juga marah! Tapi saat ini kita hatus tetap tenang dam dengarkan mereka! Aku bukan membela mereka! Aku pun kecewa, mas! Kecewa! Tapi, ini bukan dirumah!" Ayah duduk kembali mengatur ritme nafasnya tanpa mau melihat kami. Awalnya mereka masih berdebat, namun setelah mendengar tangis Jessica yang terlepas dan permintaan maafnya yang hingga bersingkuh dilantaia yang membuatku pun terkejut. Kedua orang tua ku kembali diam tanoa berkata hingga ibuku mulai bertanya. "Saya kecewa sama kalian! Apa yang sebenarnya terjadi, huh?! " Aku menceritakan semua kejadian itu, dan yang pada awalnya niatku yang akan menyuruh Jessica untuk mengugurkan saja tapi setelah aku berfikir dua kali akhirnya ku memutuskan ini karena wanita disampingku tetap ingin melahirkan dan memintaku bertanggung jawab. "Berengsek! " Ayah kembali memakiku. Ibuku mulai menangis. "Huh! Jessica. " Dengan gemetar wanita itu mengangkat wajahnya menatap ibuku. "Saya, kami mau meminta maaf atas perbuatan putra kami."


"Huh! Nak Jessica, apa benar kamu menerima ini? " Sambung ayahku. Jessica menangguk. "Asal dia bertanggung jawab, karena saya sudah tidak punya siapapun. Maaf. "


"Tidak apa-apa, itu yang saya inginkan. Jessica tidak usah ada pesta pernikahan yang penting sah. " Percakapan kami pun selesai dihari itu. Orang tuaku pulang lebih dulu meninggalkan kami. Aku mengantar Jessica pulang bersamaku. "Elo, dengerkan besok elo harus izin ngampus. gue ud izin ada acara keluarga ke sekolah. " Ya, besok adalah hari pernikahan kami secara sembunyi-sembunyi.


***


Hari ini aku mulai masuk ke sekolah lagi dan mulai berkumpul dengan para sahabatku saat istirahat. "Hai, guys!" Sapaku pada mereka. "Kenapa kemarin ga dateng?" Tanya Haris. "Gak enak badan."


"Lo ga nyembunyiin sesuatu kan? " Aku tak menjawab dan langsung merangkul Haris. "Nyembunyiin apa ya? Hahaha. "


"Yang bener aja! "


"Bener kok! "


Tiba-tiba, David berdeham dan menatapku tajam. menelisik netraku. "Apa yang sebenarnya terjadi? "


Aku tersenyum kecut. "Koko satu ini memang ga bisa diboongin. Sorry, tapi gue belum bisa cerita untuk sekarang. "


"Kalau gitu, jika kapan saja saat itu tiba gue siap dengerin. Kita semua, iya ga? " Haris balik merangkulku. "Benar. " Sahut David.


"Hari ini agak sorean gue mau jemput Alvin, dia dirawat di rumah sakit mana dan ada diruang berapa?"


***


"Janin sudah terbentuk dengan usia kandungan delapan minggu. perkembangannya baik, tetapi sang ibu juga harus tetap berhati-hati karena ini masa kandungan yang masih rentan. Perbanyak asupan vitamin, konsumsi buah dan sayur juga protein yang baik dan jangan stress juga kelelahan. Ini saya resepkan vitamin untuk ibunya. "

__ADS_1


"Baik, Terimakasih dok. "


Setelah aku menemani Jessica untuk memeriksa kandungannya, karena ini rumah sakit yang sama dengan tempat Alvin dirawat maka aku ingin sekalian menjenguknya. "Gue tunggu disini aja. " Jessica duduk 100 meter dari ruangan Alvin yang masih tertutup disebuah kursi oanjang berwarna putih. "Ok, tunggu. " Aku pun berjalan dan mengetuk pintu itu.


"Siapa? "


"Gue Jeremy. "


"Masuk, Kak! " Aku pun masuk dan sudah terlihat Syila yang sedang menyuapi Alvin. "Wah, wah, ada yang lagi manja-manjaan nih ama adeknya. " Candaku.


"Ck! Gue udah bilang ga usah dateng, apa David ma Haris ga bilang atau elu yang budek! " Keluh Alvin. "Ishh, kak jangan gitu! " Syila membelaku dan membuatku menahan tawa. "Ade elu lebih pinter. " Sindirku.


"Sialan! "


"Nih gue bawa pudding mangga, bukannya elo suka? " Aku menyodorkan sekantung bingkisan kepadanya dan langsung Alvin tarik seperti anak kecil, lalu memberikannya pada Syila. "Mqu makan ini aja! "


"Abisin dulu buburnya, satu suap lagi ya? "


"Gakmau! "


"Kakak.. "


"Gak! " Aku terkejut dengan bentakan Alvin pada adiknya, itu membuat kami terkejut dan aku bingung. "Vin, kasian dia kok diventak? Gue tau elo lagi sakit, ta.. " Namun, tiba-tiba dia berteriak dan mengamuk sehingga bingkisan yang Syila pegang terjatuh bahkan nakas makan khusus itupun ikut terjatuh.


"Keluar! Keluar! "


"Alv-" Gadus iti menahan amarahku dan memohon dengan binar matanya yang baru aku sadari telah menghitam dengan tatapan lelah, dan menahan tangis. Dia perlahan menenangkan sang kakak. "Alvin, sayang, ini Syila, kak. Tenang ya, tenang.. "


Alvin berhenti berteriak dan melirik sang adik. "Syila, gue laper! lenglet banget sih elo! Kenapa ruangan ini berantakan? Elu ngamuk?! " Aku mengernyitkan dahi. Namun, tiba-tiba..


"Alvin! " Lelaki itu sesak nafas dan kejang-kejang. Aku langsung memencet saklar dan memanggil dokter dan para pemakai seragam putih pun bermunculan. "Bisa kalian mundur sebentar? " Aku menarik syila mundur ,mengelus punggungnya juga kepalanya seraya menenangkannya. "Sejak kapan?" Tanyaku lirih. "Hari kedua, katanya itu akibat rasa sakit ditambah efek obat yang dosisnya tinggi, itu karena dia nolak terus untuk di kemo. "


"Kamu adiknya kan? " Syila mengiyakan. "Dan..? "


"Ah, saya temen sekolahnya, dok. Sedang menjenguk, tadinya. " Pria itu menagangguk. "Pasien sudah kami suntikan obat penenang, sekarang dia akan tertidur untuk beberapa lama. Jika sudah siuman, silahkan panggil saya lagi, dan apakah itu perbuatan pasien? " Kami menangguk. "Suster Ana nanti akan bantu bersih-bersih, saya pergi dulu. " Dokter itu menepuk lembut pundak Syila. "Terimakasih, dok. " Jawab Syila.


"Saya izin. "


"Terimakasih, dok. "


"Syila, saya akan bantu bereskan. "


"Baik, Sus. "


"Syila, gapapa gue tinggal sendiri? Gue harus pulang.. "


"Gak apa-apa, maaf ya kak dan makasih. "


"It's ok. Kalau gitu gue pamit ya. " Aku pun meninggalkan gadis itu dan kembali pada Jessica yang sudah menungguku dengan seksama dan masih terduduk ditempatnya. "Je. "


"Tadi ada apa? "


"Alvin sesak dan kejang-kejang jadi gue bantu panggil dokter dulu, kasian adeknya cuma sendiri katanya keluarganya pada sibuk dan kurang sehat. "


"Adeknya itu adik kelas elu kan? "

__ADS_1


"Iya, pacarnya Yudha. "


"Ohh. "


__ADS_2