Sweet Heart Boys

Sweet Heart Boys
57. Kejutan lagi


__ADS_3

Mereka telah berada dirumah sakit dan segala pemeriksaan telah dijalankan. Tidak ada luka yang fatal, hanya memsr dan terkilir.


"Hanya perlu dikompres dengan es lalu kami juga sudah menggips sementara luka yang terkilir. Ada salep untuk luka memar dan obat merah untuk luka luar. Saya juga meresepkan mereka obat anti nyeri dan antibiotik yang harus dihabiskan. bila obat telah habis dan keadaan masih belum pulih, kalian bisa kembali periksakan ke dokter. " Jelas sang dokter. Semua pun bernafas lega. "Terimakasih, dok. "


"Kalau begitu saya permisi. "


Keluarga keduanya pun telah tiba, mereka berangkat dengan sigap dan cepat setelah mendapat pesan telefon dari David.


"Alhamdulillah.. "


"Saya tidak menyangka kalau gadis ini cucu anda. "


"Dan kamu punya putra bocah yang mengagumkan. "


Semua terkejut dan terheran-heran kecuali David. Syila, Mikha dan Kaina yang masih ada disana mengerjapkan kedua matanya tak percaya bahwa nenek Syila dan orang tua Mikha saling mengenal. "Saya tak menyangka bahwa gadis kecil yang selalu putra saya ceritakan adalah cucu anda. " Wanita tua itu berkerut dahi. "Mikha pernah bertemu gadis kecil di taman kanak-kanak yang katanya tomboy. " Ucap ayah Mikha sambil terkekeh.


"Uhmm, nampaknya anak-anak itu kebingungan hahaha. Kami adalah rekan bisnis."


Lalu, Kaina maju dua langkah dan berkata. "Tante, om, bagaimana pertunangan Kaina dan Mikha? "


"Pertunangan? " Tanya wanota tua itu.


"ah iya, mereka sudah dijodohkan. " Eanita tua itu bungkam. lTen-"


"Saya ingin memutuskannya, saya hanya menyukai Syila! " Seru Mikha yang membuat semua terkesiap, kecuali wanita tua yang menahan senyumnya.


"Mikha, ini tidak semudah yang kamu kira! Maaf ya kaina. " Kaina berusaha menahan air matanya. Dan itu terdengar oleh kedua orangtuanya yang baru datang. "Ada apa ini?!" Tanya ayah Kaina.


"Itu, dad dia-"


"Nampaknya putra Pak Januar ini menyykai cucu saya, kekekeke." Maria menyela. Dasar nene tua!


"Akh, nyonya Maria! Apa kabar? " Kaina terkejut dengan kedua orangtuanya yang sangat hormat dan memberi salam pada wsnita tua itu.


"Kalian saling mengenal? " Ingin menghilangkan rssa penasarannya, Kaina pun dengan berani bertanya.


"Dia adalah nyonya Maria, pemilik real estate dan perusahaan kecantikan juga memiliki banyak usaha lain salah satunya restoran padang yang semuanya dia buka di Kanada, asia, amerika dan Belanda. Fia adalah oenyokong dan donatur terbesar perusahaan kita! " Kaina terkesiap begitu juga Syila sang cucu.


"Dengan kata lain perusahaan daddy dan om Januar adalah perusahaan anak dari perusahaan nyonya Maria. Tapi, maaf nyonya putri kami dan putra Januar sudah bertunangan. "


"Kenapa tidak tanya mereka saja? " Semua kebingungan. "Nak Kaina kenapa mau bertunangan dengan Nak Mikha? " Pertamyaan yang membuatnya termangu.


"Euh, itu karena Kaina sudah menyukai Mikha sejak dulu. "


"Lalu, mengapa Nak Mikha menolak Kaina dan malah menyukai Syila? "


"Karena Kaina pembohong dia bilang dia adalah gadis di TK itu, dia bilang itu dia saat kita bertemu di usia 12 tahun tapi nyatanya bukan. Obat saya, gadis yang saya cari, gadis penenang saya adalah Syila! Jadi saya hanya ingin bersamanya! "


"Kamu berbohong? " *Penenangl! "

__ADS_1


Pertanyaan yang bersamaman itu ditepis oleh Maria. "Ekhm, bisa kita kesampingkan itu. Karena kalian mungkin orangtua lebih mengerti. Dan, Syila bagaimana denganmu? "


"Syila lagi pengen sendiri fokus belajar. " Maria sesikit menyunggingkan sisi bibirnya satu detik.


"Syila." Cicit Mikha.


"Kalian sudah melihat dan mendemgarkan? Kalian pasti tahu sebagai orangtua. Mereka itu masih sangat muda, emosi mereka masih labil. Jadi, bukankah itu terlalu cepat? Bisakah dibiarkan mengalir begitu saja? Jangan lakukan kesalahan yang sama seperti eanita tua ini, kalian jelas tahu bukan? "


Para remaja itu tidak mengerti, kecuali syila. Tapi kata-kata itu dapat membuat keempat orang setengah baya itu merenung. "Maaf nak Mikha, karena cucu saya tidak langsung menolak kamu. Grandma ini tidak bisa bantu. Kalau begitu kami pamit pulang. Ayo Syila, orang-orang rumah sudah menunggu!"


"Iya, nek. "


Syila pun dibawa Maria pulang bersama sang supir.


Sesampainya di kota kami..


"Loh kerumah nenek? Ngak kerumah ayah Gian? "


"Mereka semua tidak ada dirumah dan menitipkanmu kepada nenek. "


"Emang pada kemana? " Maria tahu tidak bisa menyembunyikam apapun dari cucunya yang satu ini.


"Letha, melahirkan lebih cepat karena mengalami pendarahan. Dia akan melahirkan di usia kandungan tujuh bulan, akan dioperasi cesar."


"Eh? Terus ngak apa-apa kan? "


"Nek, ayo nek kita harus ke rumah sakit! "


"No! "


"Why?! "


"Kami aja pasien masa mau kesana, emang bisa jalam sendiri, hmm?! Udah nurut aja! " Dengan kesal Syila pun menurut.


Akhirnya mereka pun sampai dirumah Maria. Pak Bude selaku sopir Maria, membantu menggendong Syila karena gadis itu menolak memakai kursi roda, alhasil Maria yang gemas menyuruh Pak Bude untuk menggendong gadis itu. "Aahh! Pak bude oade! Kok Syila digendong! "


"Sstt! " Tatapam tajam Maria mampu membuat gadia itu terdiam. Didalam rumah Bi Piyem, ART Maria sudah menyambutnya dan Syila pun dibaringkan di kamar Alvin karena pemiliknya tidak ada. Dulu saat alvin ada, Syila tidur bersama Maria dikamar wanita itu.


Tapi, ada satu pemandangan yang membuat gadis itu penasaran. Seorang gadia cilik berusia tiga tahunan yang terus mengekori bi Piyem.


Karena sang Nenek sudah oamit berangkat kembali karena ada rapat diperusahaan dan akan melihat Letha, dia pun pamit.


"Neng, ini makannya kata nyonya makan sing sekarang, minum obat lalu istirahat dan tidur dulu. "


"Makasih bi. "


"Sama-sama. Mwu bibi suapi? "


"Ngausah, sendiri aja. Oiya itu anak bibi, ponakan atau cu-cu? " Dengan ragu Syila bertanya. wanita yang terlihat seumuran ibunya itu tersenyum simpul. "bukan. "

__ADS_1


"Lalu, anwk siapa? Oh anak Pade ya? "


"Bukan juga. "


"Terus? "


"Sebaiknya neng makan dulu, nanti tanya sama nyonya saja. Sqya mau siram bunga didepan. "


"Ah iya."


***


"Nyonya. " Cicit Aliya. "Sudah kubikang berhenti panggil aku dengan sebutan itu, panggil saja ibu!" Titah Maria.


"Ibu, bagaimana Syila?"


"Dia sudah lebih baik, tadi bi Piyem bilang dia sudah tidur setelah makan dan minum ibat. Lalu, bagaimana dengan Letha? "


"Mereka masih didalam. "


"Gian kemana? "


"Saya disini. " Gian datang dsri belakang Maria.


"Kamu mengagetkan saja! Darimana kamu?"


"Maaf. Tadi saya ke toilet. Apa belum ada hasil? "


"Belum. "Jawab Aliya.


Mereka masih menunggu hingga sudah tiga puluh menit berlalu, Salah satu dokter keluar dari ruang operasi. "Selamat, bayi laki-laki telah lahir! " Setelah memberitahu itu dia pun kembali masuk keruangan.


"Alhamdulillah! " Tujuh menit kemudian. "Selamat bayi perempuan telah lahir! " Semua terkesiap. "Cucu kita kembar, mas! "


"Iya, ma!"


"Wahahaha aku punya buyut kembar! "


Dirumah setelaj dua jam terlelap akhirnya Syila bangun, namun dia dikejutkan dengan keberadaan anak perempuan berusia tiga tahunan yang dia lihat sejak dia datang tadi tengah terlelap memeluknya.


"Neng, sudah bangun? " Bi Piyem sedikit mengetuk sambil mengintio lewat celah pintu bertanya dengan nada lirih. Syila menganngukan keoalanya tanpa menggerakan tubuhnya takit takut membangunkan anak itu. Dengan isyarat mata dia menanyakan perihal itu pada bi piyem.


Wanita setengah baya itu lantas masuk kedalam kamar. "Maaf neng, tadi Neng lily teh pengen tidur disini. Katanya mau temenin kaka cantik yang lagi sakit. " Syila pun tersenyum. "gapapa bi. "


"Eh, bibi lupa kalau lagi rebus soto, bibi ke dapur dulu ya! " Syila mengiyakan. Lima menit belum berlalu, mata gadis kecil itu bergerak dengan perlahan terbuka. Syila dan gadia kecil bernama lili itu saling memandang.


Syila yang gemas kantas mencubit pipi cabi itu dengan lembut. "Ishh gemesin deh, kamu tuh anak siapa sih cantik? "


"Liliana anaknya papa Liam."

__ADS_1


__ADS_2