Sweet Heart Boys

Sweet Heart Boys
7. Masa lalu


__ADS_3

Aku mencari keberadaan dirinya di setiap sudut dan akhirnya aku menemukannya. Aku sengaja berjalan dibelakangnya. Aku memandangi wajah datar dan senyumnya yang seketika merekah walau hanya sebentar. Dari semua sisi pun dia begitu sempurna. Aku berjalan pelan ke arahnya, pasti mereka berdua takkan menyadari akan kedatanganku ini. Tak menunggu waktu lama aku langsung memeluk tubuh ramping mungil itu dari belakang. Mendekatkan wajahku ke dalam tekuknya.


"Sayang. " Alvin membisikkan kata mengerikan ke telinga Syila membuat gadia itu dan renita tercengang dengan kedatangannya.


"Tuan julid! " Syila yang ingin memberontak dibuat sulit karena dekapan Alvin yang begitu lekat. "EH? " Renita tercengang dan mendongakkan wajahnya.


"K-kak Alvin? "


"Hei, Reni. " Sontak Syila menelisik keduanya secara bergantian. "Kaliam saling kenal? Ahh, kan elo bapa ketos!" Alvin hanya tersenyum kecil. "Aku gak nyangka kalau bakal ketemu kamu sayang, jodoh ga kemana. "


"Ck. " Syila memutar bola matanya malas.


Renita hanya terkekeh mendengar itu. "Kakak nih ga berubah ya! " Syila mengerutkan dahinya. Renita yang melihat itu langsung buka suara. "Jangan bilang elo udah lupa sama kak Alvin? "


"Mana gue lupa, dia kan bapa ketos kita! " Renita menggeleng. "Bukan soal itu.. "


"Terus? " Terdengar Alvin menghela nafas pelan, meregangkan pelukannya. "Gapapa, Reni. Nanti juga.. "


"Dia itu kak Alvin temen masa kecil kita, kakak kelas kita di SD! " Alvin memejamnkan matanya membuang nafas gusar. Syila yang mendengar itu sontak termangu. "Dan dia itu.."


"Renita! Cukup! " Gadis mungil itu langsung mematung. "Kak alvin. " Lirihnya. Membuat Syila semakin bingung dibuatnya.


"Ada apa? " Syria dan kedua temannya yang mendengar keributan itu langsung mendatangi mereka. "Kak Alvin? " Tanya gadis gempal itu.


"Maaf udah buat keributan ,saya pamit dulu. Semoga hari libur kalian menyenangkan, kita ketemu lagi hari senin dan jangan datang terlambat! " Setelah Alvin menemukan buku yang ia cari dia langsung pergi meninggalkan tempat itu membuat Syila bingung karena tidak seperti biasanya. Syila pun membalikkan tubuhnya menghadap sahabatnya yang masih termenung akibat bentakan dari Alvin.


"Ren, apa yamg terjadi antara kalian? " Mendengar itu Syria, Adzhita dan Adzestha langsung menoleh ke arah mereka. Namun, Renita tetap bungkam meski ada desakan dari Syila.


"Udah, mending kita pindah ke kafe depan sambil minum. Buat Renita tenang dulu. " Ajak Adzestha dan mereka menurut.


"Sebenarnya apa yang terjadi? " Syria bermonolog dan itu terdengar oleh Adzhita. "Gue juga penasaran. "


Setelah membayar buku yang mereka beli ke kasir, Adzestha mengajak mereka membeli minuman dan kue di kafe seberang. Namun, antara Syila dan Renita mereka masih membungkam belum ada satu kata pun yang mereka keluarkan. lEhem! " Adzestha berdeham membuat lamunam yang lainnya terganggu.

__ADS_1


Syila menghela nafas panjang. "Sampai kapan elo bakal diem? " Renita pun melakukan hal yang sama. "Gue udah bilang dia temen masa kecil kita di SD, salah satu tetangga kita waktu di daerah Z sebelum keluarga kita berdua pindah. Elo ke daerah S gue ke Daerah T. " Jelas Renita. "Dan soal yang tadi... " Renita menarik nafas sejenak. "Elo bener-bener lupa? "


"kenapa elo balik nanya? " Suasana seketika menegang. "ehem! Mending kuenya dimakan dulu! " Suruh Adzestha yang menengahi. "I-iya, cheescake nya enak loh! " Sambung Syria dengan canggung.


"Elo harus cari tahu sendiri kalau Kak Alvin ga mau jawab. " Sahut Renita. "Kenapa ga elo yang cerita? "


"karena gue udah janji sama seseorang untuk tidak menceritakannya terlebih dahulu. "


"Maksud elo, Alvin? " Namun Renita tidak menjawabnya.


Suasana canggung dalam diam. Mereka hanya fokus menikmati jamuan di meja mereka saja hingga selesai. Setelahnya mereka pamit ke rumah masing-masing. Syila dan Renita pulang bersama tanpa ada kata apapun. Hingga bus yang mereka naiki sampai lebih dulu ke halte di daerah S tempat tinggal Syila. "gue duluan. "


"Ya. "


Setelah menuruni bus Syila mencengkram kedua tangannya dan mulai berjalan menuju rumahnya. Di sepanjang jalan dia terus bermonolog sendiri di dalam hatinya. "Gue harus cari tahu!" Gumamnya lirih.


Dua harin setelahnya, Alvin tidak menjemputnya bahkan semalam pum dia tidak jahil meneleponinya. Syila tidak ambil pusing, tapi dalam hati kecilnya dia sedikit kesepian karena tidak mendapatkan keusilan pria itu sejak terakhir mereka bertemu dua hari yang lalu seperti pria itu sedang menjaga jarak dengannya.


"Game memasak yang baru. " Jawab gadis tu dengan singkat. Tak ada lagi pembicaraan apapun setelah itu hingga mereka tiba di sekolah. Di lorong itu Renita pamit kepada Syila pergi ke kelasnya yang berada di lantai dua. "Gue duluan ya. "


"Hmm. " Syila tersenyum kecil.


***


Di kelas nya Alvin sedang serius dengan kamus bahasa jermannya. "Serius amat! " Sapa David seperti biasa.


"Emm, sebagaimana elo yang serius dengan bahasa mandarin. " David terkekeh. "Itu sih gue dipaksa sama Grandpa!" Alvin menyengir.


"Kenapa? Ada masalah? " Alvin menggeleng, namun David tahu bahwa temannya itu sedang berbohong dan tengah menyembunyikan sesuatu.


Bel jam pelajaran pertama berbunyi, semua murid duduk rapi di tempatnya dan kelas mereka masing-masing telah kedatangan guru mereka. Hingga jam pelajaran itu selesai.


"jadi, mau ngerjain kapan Syila? " Tanya gadis itu. Ya, Martha sekelompok dengan Syila di pelajaran sejarah ini. Mereka harus membuat sebuah makalah dan harus dipresantasikan minggu depan.

__ADS_1


"Lebih cepat lebih baik, elo ada hari senggang kapan? Secara elo kan model, jadi.. " Martha terkekeh. "Kalau buat sekolah mah kaoan aja, yang utama soalnya! "


"Gitu ya! Kalau besok gimana? "


"Boleh. "


"Mau diman.. "


"Syila! " Belum selesai Syila bicara seseorang tengah memanggilnya menembus pertahanan kelas itu. Semua mata tertuju pada mereka, Syila dan pria itu.


"Kak Yudha! Ngapain cari Syila? " Tanya Martha dengan gamblang, namun Yudha mengacuhkannya membuat gadis itu mencebik kesal.


"Ada apa? Bicara disini saja. "


"Ikut gue sekarang! " Yudha sedikit membentak Syila. "Aw! " Syila meringis ketika Yudha menarik lengannya dengan paksa. Martha yang melihat itu tercengang. "kak, berhenti! Lepasin dia! Dia kesakitan! " Teriak Martha.


Yudha melepas pegangannya. "Syila, elo gak apa-apa? " Syila menggeleng. "Gak apa-apa." Syila terus menunduk karena banyak mata tertuju padanya. Yudha adalah sosok idola mereka dan pasti. ini akan jadi sasaran empuk setelah ini.


"Ada apa ini? " Suara berat yang dia kenal membuat Syila mendongakkan wajahnya menatap pria itu.


"Kak alvin? I-ini Kak Yudha tiba-tiba narik Syila. " Jelas Martha. "Koko? " Martha terbrlalak melihat sosok di belakang Syila, dia adalah David sang kakak.


"Kenapa begitu? " Nada dingin dan tatapan tajam itu menusuk ke mata Yudha. "Gue harus bicara sama dia. "


"Ehem! " David mendeham. "Sebaiknya kalian selesaikan dengan baik-baik. Al, lebih baik kita ke ruangan OSIS sekarang! "


David merangkul Alvin membawanya keluar dari ruangan itu. "Ikut gue! " Yudha mengajak Syila keluar, nampak kekhawatiran Martha hingga memegang tangan temannya itu.


"Gue gapapa, gue keluar sebentar. Surya, gue izin keluar sebentar. " Surya adalah ketua kelas Syila. "Atu menit! " Syila menganggukan.


Syila mengikuti Yudha hingga ke lorong sepi antar kelas mereka. "Ada apa? " Yudha menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya menatap gadis itu. "Elo pacaran sama Alvin? "


"HA? "

__ADS_1


__ADS_2