
Liburan sekolah telah tiba. Memang hanya sati minggu karena ini adalah libur semester baru. Walau begitu si kembar telah terbang ke Seoul bersama kedua orang tuanya untuk tiga hari, sedangkan Kenzi dia pergi ke Bali bersama sang kakak dan kakak iparnya.
Di tempat lain, Syria mengunjungi sang nenek di Solo, Jawa tengah. Sedangkan Renita, dia membantu sang ibu berjualan di pasar malam.
Lalu bagaimana dengan para cowok ganteng yang terkenal itu? David, dan si kembar menghabiskan waktu bersama keluarga mereka. Mikha bekerja paruh waktu di sebuah cafe, sedangkan haris dan juga jeremy pulang kekediaman keluarga besar mereka di Shanghai dan Amerika.
***
Di Rumah Keluarga Syila
"Sayang, i'm coming!" Syila yang sedang khusyuk menonton drama kesukaannya mendengus mendengar seruan yang melengking itu. "Aw! " Maria menepuk kepala cucu laki-lakinya itu. "Bisa tidak, ga berisik?"
"Kalau ga begitu, nanti nenek yang lebih dulu mengajak Syila ke Toronto. Alvin malas kesana, Alvin mau kami hanya liburan berdu-Arggh!! " Maria menjewer keras telinga Alvin. "Kau fikir hanya kamu yang mau bersama adikmu! "
"Arghh, am-ampunnn neeekkk! " Maria melepadnya, lelaki itu mengusapi telinganya yang memerah. "Nene nih barbar sekali lah!"
"Apa kamu bilang?! "
"Alvin bilang, nenek cantik. " Alvin berbisik hingga terkekeh mencolek dagu sang nenek yang ditepis oleh Maria.
Mendengar keributan yang ada di bawah sesegaera mungkin Syila turun dsri kamarnya. Setelah terkihat batang hidungnya, Maria langsung menghampirinya dan mereka pun saling berpelukan. "Kamu sendirian dirumah? Kemana yang lain? "
"Ayah sama ibu lagi anter kak Lian cek kak Lesha. "
"Dia sudah masuk tujuh bulan ya? " Syila mengangguk.
Syila tiba-tiba merasa geli disekitar pundalk dan belakang tengkuknya. "Sayang. " Dia bergdik ngeri. "Ahrg! " Maria menyentil kening Alvin. "Nenek ini siksa Alvin terus! " Alvin memajukan bibirnya. "Lihatlah adikmu tidak nyaman! " Alvin tersenyum smirk, dia mengalungkan kedua tangannya ke pinggang Syila. "Benarkah itu sayang? " Maria di buat geleng-geleng kepala.
PuK!
Syila menampar wajah sang kakak. "Awas! " Membuat lelaki itu melepasnya dan mendengus kesal. "Nenek ama cucu sama sama bar bar! " Gumamnya pelan.
__ADS_1
"APA?! "
"Kalian cantik! " Kedua perempuan itu mencebik memutar bola mata malas. "Oya, nenek lupa. " Syila mengerutkan dahinya. "Begini nenek akan bawa kamu ke Kanada. "
"KANADA?! "
***
Di Rumah Sakit
"Ibu Alesha Pratanaya!" Lian membantu istrinya yang perutnya tengah membesar untuk berdiri dan masuk ke dalam satu ruangan. Disusul Sang ayah dan ibu Lian. "Apa ini keluarga Ibu Alesha? "
"Iya dok, saya ibunya." Sahut Aliya. "Kami orang tuanya. " Sambung Gian. Mereka memang telah menganggap Lesha sebagai putrinya. Karena dia telah menjadi yatim semenjak usianya sembilan tahun dan telah kehilangan sosok ibu dibeberapa tahun belakang ini. "Silahkan masuk. " Semua masuk mengantar wanita itu. Mereka duduk di samping Lesha dibelakang Lian. Dokter Mita mulai membuka baju Lesha dan mendorongnya sedikit sehingga tampak perut yang tengah membesar itu. Di balurkannya gel bening do atas perut Lesha, lalu alat kecil itu memutar di atasnya yang kangsung menampilkan sebuah gerskan yang terpampang di layar didepan mereka. Nampak bayi kecil yang telah terbentuk itu. "Alhamdulillah bayi sehat, detak jantung normal. Mari kita lihat jenis kelaminnya. " Semua menatap haru tanpa suara ke layar itu. Dokter Mita menggerakan kembali alat yang masih menempel di atas perut Lesha. "Sepertinya baby nya masih malu-malu.. " okter Mita tersenyum lembut. "Belum terlihat, dok? " Tanya Aliya. "Iya, sepertinya dia masih ingin main rahasia. " Mita terkekh kecil disusul Lian dam Gian. disampingnya Lesha tersenyum kecil. "Yahh, kamu mau buat eyang penasaran ya hehe. "
Dokter melepas alat itu dan menurunkan kembali pakaian Lesha menutupi bagian perutnya. "Cukup untuk hari ini. Karena usia tujuh bulan juga bisa beresiko, maka tetap harus dijaga dan diperhatikan asupan vitaminnya, jangan terlalu lelah dan juga jangan stress. Jadi, untuk suami dan juga keluarga diharapkan menjadi kondisi ibu hamil ini. Saya akan memberikan resep vitamin, tetap perbanyak makan makanan yang bergizi ya seperti buah dan syur, juga ikan ikanan. Vitamin bisa di ambil di apotek di depan ya bu, pa. "
***
PLAK!
Tanpa sadar gadis itu menggampar wajah sang kakak hingga hidungnya memerah. lPft." Maria menahan tawa. "Ketawa aja!" Maria tak dapat lagi menahan tawanya. "Bwahahaha, kena gampar kau! "
"Eh?! " Syila melonjakkan tubuhnya. "Baru sadar? " Syila menyengir bagai ondel-ondel. "Sorry! Lagian sih elo suka kelasak kelusuk, main nyosor! " Alvin masih menampangkan wajah ketusnya yang lalu dicuekin Syila. "Nenek ga cape? " Tanya Syila. Matia mengusap air matanya. "Hadeuh, cucu-cucuku emang sableng ya! "
"Ya gimana aja neneknya. " Alvin nyerocos dengan wajah yang masih muram.
Syila membuang nafas kasar. "Nenek, serius kita bakalan ke Kanada?"
"Tentu, nenek ga bercanda. Kita bertiga akan pergi, maka dari itu aku mau menemui orang tuamu tetapi mereka malah pergi. " Maria yang belum dipersilakam duduk pun menduduki sofa dibelakangnya. "Aku pegal. "
"Eh iya, lupa disuruh duduk hehe. Mau minum apa biar Syila vuatin?" Matia geleng-geleng. "Kopi panas aja. "
__ADS_1
"Kopi item atau kopi susu, kopi gula aren, cappucino-"
"Kopi item.. "
"Ok. Elo mau apa. ka? Ka! " Syila menepuk punggunh Alvin. "Terud aja tabok ampe babak belur!" Alvin merengek. "Idih manja! " Syila bergidik. "Biarin!"
"Kalian ini mau terus jadi bahan totntonanku hah?!" Syila dan Alvin pun berhenti saling adu bacot. Syila pergi meninggalkan mereka ke dapur sedangkan Alvin duduk disebelah sang nenek. "Sakit? " Maria melihat wajah Alvin yang masih memerah. "Masih ditanya pula?" Maria terkekeh. "Kau ini, tahu adikmu itu ringan tangan, terud aja kamu usili. Tau rasakan? "
Alvin menghela nafas pendek. "Kasian gue ga ada yang bela. " Dia bergumam bermonolog. Syila telah kembali dengan secangkir kopi hitam dan secangkir kopi susu panas yang dia tatakan di meja itu. "Assalamualaikum!" Waktu yang berbarengan dengan kepulangan mereka dari rumah sakit. "Waalaikummussalam!"
"Oalah, ada Ibu Maria. " Aliya dan Maria saling cipika cipiki, dan yang lainnya bersalaman. "Sudah lama? "
"Baru sebentar. Ah, bagaimana hasilnya? " Tanya Maria. "Bagaimana kalau kita duduk dulu? " Ajak Gian. "Kamu benar, nak Gian. " Maria terkekeh. Mereka telah berkumpul di ruamg tamu. "Mau Syila bikinin minum sekalian? "
"ayah biasa. "
"Kakak juga. "
"Ibu air putih anget aja, Lesha kamu mau apa?"
"Tolong ambilin sisa jus tadi pagi di kulkas. " Syila mengannguk dan kembali dengan minuman pesanan mereka, lalu kemudoan dia pun ikut duduk. "Bagaimana, bayinya sudah terlihat? "
"Alhamdulliah bayinya sehat, nek. Tapi dia masih malu memperlihatkan jati dirinya. " Lian memamerkan barisan gigi putihnya membuat Maria terkekeh. "Alhamdulillah, mungkin mau kasih kejutan untuk kita semua."
"Iya."
"Jadi begini, saya dan Alvin mau ajak Syila berlibur ke kediaman Keuarga besar kami jadi saya meminta izon untuk membawanya. "
"Begitu ya, kalau saya sih gimana Syila. Memangnya kemana? " Sahut Aliya.
"Ke Toronto, Kanadan. "
__ADS_1
"KANADAAAA?!?!"