
POV Yudha
Drtt Drrtt Drrtt
Lagi lagi aku mengacuhkan panggilan telepon dan pesan-pesan yang berjajar dari syila. Aku masih belum bisa memberanikan diriku untuk mengahadapinya walau sekedar membaca tulisan apalagi mendengar suaranya. Ini sudah terjadi semenjak hari itu.
Flashback on
Aku terburu-buru pulang bersama adikku Rama setelah mendengar keadaan ayah kami yang masuk rumah sakit, dia mengalami serangan jantung.
"Ini gabisa dibiarkan! Yudha, kamu harus menggantikan ayahmu sampai dia siuman!" Suruh ibuku. "Tapi kan saya sibuk disekolah, kenapa tidak Rama saja?"
"Kamu ini hanya ingin bebaskan? Kamu adalah anak sulung keluarga ini jadi itu sudah menjadi tanggung jawabmu!" Ya, memang selalu seperti ini apapun masalah perusahaan selalu mereka nomor satukan dan dilimpahkan kepadaku. Aku merasa tidak memiliki kebebasan.
"Jangan terlalu memaksa putramu, cecilia!" Wajah ibuku berubah dengan tatapan yang sama. Dia dan keluarga ayahku memang tidak akur. Bukan karena mereka jahat, tetapi menurutku ibuku yang keras kepala dan tidak suka kekalahan inilah yang membuat dirinya tidak mengakurkan diri. Dia merasa di nomor duakan sebagai menantu padahal dia menantu pertama dan ibu Mikha yang lebih .mereka sayangi, ditambah ayah Mikha memang terlihat seperti menjadi anak kesayangan. Tetapi yang ku lihat adalah sama rata, ayahku maupun ayahnya Mikha mendapat keadilan dan ayahku mendapatkan imbalan paling besar.
Namun, inilah momen yang paling ditakutkan ibuku. Dimana ayahku jatuh sakit dimana saat perusahaannya pun sedang dalam masalah yaitu saham yang anjlok. Membuatku terpaksa untuk mau dijodohkan.
***
POV Syila
Aku menelepon terus dan mengirimi pesan kepada Yudha. Entah mengapa aku menjadi begitu rindu dengan sosok lelaki menyebalkan itu. Namun nihil, semua pesan dan panggilan yang aku lakukan tak satu pun ada yang direspon. "Ishh, gue kenapa sih! " Aku misuh-misuh tak jelas dan berguling-guling dikasurku.
***
Para remaja wanita maupun pria yang bergelemung berkumpul bagai lautan berombak berlomba-lomba untuk melihat, mencari tahu dan tak ingin ketinggalan. Mereka mengerumuni papan dengan kertas-kertas yang tertempel diwajahnya.
"Masa sih? "
"Iya, katanya gitu! "
"Yang benar? "
"Benerr! Sumpah gua udah liat, tuh liat sendiri! "
"Oh my god! Really? Seriously? "
"Ya ampun, ga nyangka ya! "
"Uhmm, padahal gue sukaa, kecewa!! "
__ADS_1
Begitulah dan masih banyak lagi komentar-komentar para netizen yang berdesak-desakan di antara papan yang terpamoang itu hingga suara sirene membubarkan gerombolan ribut itu.
"Maaasuuukkk!!! " Teriakan dibarengi sirine polisi dan masuknya para tentara itu cukup membuat mereka bubar tetapi bukan karena takut melainkan keheranan.
"Kok ada tentara? "
"Ihh tentara yang itu ganteng, yang itu manis, yang itu gagah, yang itu kece! Aw! kok digetok?! " Ketus gadis itu karena keoalanya dipukul sang teman. "Semua aja elo embet! "
"Bilang aja iri! "
"Ehkm, ekhm! " Pria setengah baya dengan tubuh sigap, buntal dan mungil. Merapikan dasi yang bertengger diantara lehernya menjalar ke dada. "Bubar kalian! bubar dan masuk ke kelad masing-masing kalau tidak ingin dipulangkan! "
"Saya mau pulang aja pak! " Seru salah satu murid yang disusul tawa besar murid lainnya. "Sontoloyo kamu! Ok, kalau mau pulang sekalian gausah balik lagi! Saya DO kamu, sampe kamu gabisa masuk sekolah lain! " Semua terdiam karena mereka bukanlah orang-orang kaya yang sekaya dan tersohor para bintang sekolah yang kita tahu selama ini. Ditambah lagi sang kepala sekolah merupakan anggota parlemen yang sangat berpengaruh.
"Sudah, masuk ke kelas masing-masing, diam dan jangan banyak membantah! Mengerti kalian! "
"Iya pakk! "
Disisi lain tempat itu, seorang lelaki membungkus kepalanya dengan kedua tangan saling mengait dan bercengkrama. Aura abu-abu mengelilingi emosinya. "Ini berlebihan! " Suaranya lirih dan memberat.
"Berhenti bilang berlebihan. Elo hutang penjelasan sama kita! "
"hah! " Semua menghela nafas.
***
POV Syila
Tanpa Mikha dan para gadis lainnya yang tidak datang tanpa adanya kabar,namun aku tidak memlermasalhkannya. Toh bukan urusanku!
"Elo hutang penjelasan sama kita! Apa ini yang dimaksud elo yang kemarin akan elo ceritakan sama kita saat waktunya tiba?" Jeremy memandang Haris dengan wajah datarnya, lalu menepuk pundak sahabatnya itu. "Elo gak kerasukan kan? " Haris menautkan kedua alisnya. "Elo jadi cerewet tujuh turu..Argh! " Haris menggeplak kepala Jeremy. "sialan!"
"Ekhm! " Dehaman David cukuo bisa membuat mereka tak bergeming. "Jeremy, elo harus menjelaskannya tapi sebelum itu.. "
Kata-kata David yang terhenti itu membuatku tersadar dan teringat kembali kejadian tadi.
Beberpaa jam yang lalu..
"Halo.. Salam kenal semua! " Seorang wanita jangkung, cantik, anggun dan elegan datang sembari menggandeng Yudha yang datar dan Rama yang membuang wajahnya kesamping, tidak ada yang berani menatap ke arahku. "Aku Lisa dari Los Angeles, tunangan Yudha." Gadis periang itu dengan gamplang memperkenalkan dirinya. Seluruh ruangan menjadi dingin, dan terbungkam.
"Uhm? Halo? "
__ADS_1
"Gue David ketua di klub membaca, ini Jeremy, Haris dan adik kelas kami yang anggota juga Asyila. Uhmm, anggota lain belum datang. "
"Ouh, it'sk ok. Baby, kalau gitu aku pulang ya. Aku pamit semua.. Adik ipar, semangat! "
Kembali ke masa kini.
"Yudha, apa maksudnya tadi? kenapa elo bertunangan sama orang lain sementara elo punya Syila? " Tanya David dengan tajam pada Yudha. Sebenarnya, aku sedikit heran mengapa David begitu marah?
Yudha melirikku sekilas, dan aku pun tidak merespon apapun karena aku masih butuh mencerna semuanya. Setelaah dia menceritakan semua masalah yang dia alami, walau begitu. Entah mengapa aku masih sangat sakit hingga tidak bisa bertahan ditempat ini. Untungnya bel berakhirnya istirahat telah berbunyi. Aku pun pamit untuk beralasan.
"Kak, gue izin ke kelas lagi. "
"Lah, ga mau denger cerita aku? "
GpLK!
Haris kembali menggeplak kepala Jeremy. "Ish, ringan tangan banget! " Itu sedikit menghiburku. "Jangan dengerin dia, udah ke kelas aja, bel masuk udah berbunyi. " Suruh Haris. "Iya, kembalilah ke kelas. " Sambung David. Aku pun pergi dari sana.
***
POV Yudha
"Elo mau anter? " Lisa mengannguk. "Iya, aku yang bawa mobil, lagipula lisensi kalian belum jadikan? Kok bisa bawa mobil atau motor? " Tak menggubris pernyataan dan pertanyaan gadis itu, Yudha bergegas mengais tasnya. "Gausah, kita aja sendiri! "
"Sudahlah, sekalian kan biar Lisa tau sekolah kalian! " Ibuku menyahut. Akhirnya, aku dan Rama yang sama-sama menjadi korban disini, kusebut begitu. Akhirnya kami pun diantar Lisa yang memang satu tahun lebih tua dari kami, tetapi dia adalah mahasiswi disebuah Universitas di amerika itu karena dia pernah dua kali masuk kelas Excellent alhasil dia menjadi dua tingkat diatas kami. Dan seumur dengan David.
"Ayo aku anter masuk, aku pengen tahu klub membaca kalian yang diceritakan mommy tadi, because aku suka banget baca buku! "
Aku mengetahui bahwa Lisa ini memang tidak tahu bahwa aku sudah memiliki kekasih karena ibuku yang melarang untuk bercerita dan malah menyuruhku untuk putus tetapi aku tidak rela, namun disisi lain pun aku tidak tega dengan gadis itu.
Bahkan Lisa mengenalkan dirinya dengan gamplang tidak hanya mengejutkan mereka dengan kedatangan kami tetapi juga dengan oenjelasan Lisa. Aku melirik sekilas kekasihku yang sedikitpun tidak ingin melihat ke arahku.
"Elo hutang penjelasan sama kita! " Seru Haris kepada Jeremy perihal masalah keributan disekolah yang sedang terjadi, setelah kepulangan Lisa setengah jam yang lalu.
"Ini berlebihan! Kenapa secepat itu?!" Lirih Jeremy.
"Ekhm! " David mendeham. "Sebelum itu.. Yudha, elo yang lebih dulu harus menjelaskan! " David melirikku dan syila secara bergantian. Aku pun duduk didepan mereka dan mulai menjelaskan masalahku dari ayahku hingga perusahaan keluargaku.
"Apa Mikha tahu? "
"Ya. Keluarganya sudah menawari bantuan, tapi elo tahu gimana tabiat nyokap gue kan?! Omong-omong, Mikha ga muncul? " Aku berusaha untuk terlihat tegar walau aku tahu itu juga akan melukai gadis itu. "Dia ga ada kabar. " Sahut Haris. Setelah itu bel masuk kelas berbunyi. Aku dan Rama memang izin setengah hari, hari ini karena Rama menunggui ayah kami dirumah sakit dan Aku mengurusi perusahaan bersama ayah Lisa. Syila pun pamit dan pergi tanpa mau melihatku.
__ADS_1