
Bismillah. teman-teman mohon doa nya agar jadwal. operasi cepat didapat dan dilancarkan aamiin.
Hi readers, Novel SHB belum tamat ya!! Dikarenakan keadaanku yang masih belum stabil jadi ga bisa tiap hari up tp mau aku ushain jadi aku tamatin dulu biar ga dpt notif peringatan. Terimakasih masih setia membaca
Terimakasih dan selamat membaca.
Jangan lupa juga baca novel pertama aku
LAIR : THE BEGINNING
Para Esper baru telah muncul di berbagai belahan dunia. Hitzuziaki Kaoh pemilik sekolah khusus bagi para Esper telah menyuruh para muridnya untuk mencari para Esper yang masih berada di luaran sana untuk dibawa ke tempat rahasia mereka, di bantu oleh sang adik Nabari.
Namun telah terjadi banyak peristiwa aneh , tidak hanya dari para Esper baru yang membuat kegaduhan di antara masyarakat hingga bermunculannya para Musuh Lama dan juga Musuh Baru.
Bahkan kemunculan Orang-orang Lama yang membuat sebuah kegemparan. Munculnya Tsubomi yang telah lama dinyatakan meninggal dunia. Organisasi Aoi yang mencurigakan, pergerakan Tora yang misterius, dan Kelompok ******* yang belum diketahui menyerang secara terang terangan.
Membuat kericuhan dan ketakutan di antara masyarakat, membuat sekolah milik Kaoh itu terpublikasikan. Banyak musuh dari kalangan Esper dan pemerintah yang menyerang membuat semua semakin runyam. Hingga ketahuanya Orang Terdekat mereka. Bagaimanakah akhir kisah mereka?
****
"Kemana sih Syila?!" keluh Martha. "Sorry telat, guys! "
__ADS_1
"Noh, panjang umur dia! " Syila menoleh ke Renita sambil. menautkan alisnya. "Tuh Martha dari tadi ngeluh kangen sama elu! " Seru Renita. "Ish, siapa yang kangen?!" Martha menepuk tangan Renita pelan. "Aduduh tayangkuuh! " Syila berhambur memeluk Martha dari samping dan menguyel nguyel wajah mereka yang saling menempel, menggesekkan wajahnya pelan ke wajah tirus gadis itu. "Uhmm, Syila! " Protes Martja.
"Hihihi, kaliam so sweetucu banget! " Seru gadia bertubuh gempal nan manis itu. Sosok polos sepolos nasi putih tanpa garam dan lauk. Syila pun melepas dekapannya dan duduk diantara mereka.
Krueuwuk!
Tiba-tiba wajah seseorang yang membisu itu memerah karena perutnya mendahului dirinya untuk berbicara. Semua mengangkat kedua alis mereka saat mendengar suara rintihan perut Dzith. "Bwahahah." Mereka tertawa.
"Berisik! Ini gara-gara elo lama, gue udah laper gausah banyak ngomong ayo makan buruan! " Bagai shinkansen yang melaju, gadia itu membuka suaranya. Setelah mendapat protesan dari gadia berkacamata itu, satu *** satu gadia itu membuka makanan mereka dan menyuapinya. "Auhmm, cwkukyup kbwebeanyakean! "
"Sstt! kunyah dam telan entar keselek! " Titah Syria yang dituruti gadis itu.
****
Gadis itu berjalan tergopoh-gopoh dengan cepat mengejar sesuatu yang sedari tadi bergelut didalam fikirannya yang mengejutkan dia. Syila memasuki sebuah ruangan dengan aksen putih itu. Terlihat beberapa orang mengelilingi kasur brankar itu. "Kak! " Seruannya membuat orang-orang itu menoleh ke belakang. Nampak Wanita dewasa bernama Mia disana, ada Reza wakil OSIS dan juga David. "Syila. " Sapa mereka yang hanya diangguki gadis itu. Syila menghampiri brankar yang ditiduri lelaki itu. "Kak. " Lelaki itu tersenyum lembut menatap sayu sang adik, terbaring lemah dengan wajah pucat pasi dan kantung mata yang menghitam. "Hai, sayang. " Sapanya dengan nada lemas. Gadia itu menarik kursi disebelahnya dan mendudukinya. Dia menagmabil tangan lelaki itu dan mengenggamnya. "Gue kan udah bilang-"
"Sebaiknya kita keluar. " Bisik Mia yang di setujui kedua lelaki itu. Mereka pun keluar mwnyisakan kakak beradik itu.
"Hah hah, hah! " Yudha datang dengan tersengal-sengal. "Kabur dari mane? " Celetus Reza. "Dari hongkong! Ya, kelaslah! Mana Syila? Gimanq Alvin? "
"Kalau nanya itu ya satu-satu. " Sahut Mia. "Eh Miss. "
__ADS_1
"Syila ada didalam bersama Alvin, leboh baik kita berikan waktu mereka berdua saja dulu. Alvin sepertinya akan menyampaikan sesuatu. Kalau begitu saya permisi. " Sepeninggal. wanita itu Yudha pun langsung bertanya pada David. "Dia beneran.. " David mengangguki. "Gue juga ga nyangka. " Reza menepuk pundak Yudha. "Gue balik ke ruangam dulu. "
"Ya, nanti gue kabari. "Sahut David.
Di dalam UkS..
"Kak. Elo kenapa sih maksain diri? Kan sampai pingsan. Gue udah bilang jangan telat makan jangan bergadang terus, gue tau kakak mau ujian tapi-" Syila dihentikan oleh panggilan Alvin. "Syila. " Gadis otu menelisik netra hitam itu. Nampak raut khawatir dari gadis itu membuat lidah lelaki itu kembali peluh dan ingin mengurungkan niat sebelumnya. "Maaf. " Satu kata yang menusuk relung hati Syila. Lelaki itu melepas genggaman sang adik mengangkat tangannya lalu mengelus wajah samg adik, menatapnya dengan haru. "Maafin kakak ya udah bikin kamu khawatir." Syila menggelng. "Ga seharusnya kakak minta maaf. Harusnya Syila yang.. " Telunjuk itu membungkam bibir kecil itu. "Bukan salah kamu juga, jadi gausah minta maaf. " Sahut lelaki iti seakan tahu isi fikiran sang adik. Lelaki itu tersenyum, namun senyuman itu entah mengapa membuat hati Syila sakit. "Sebenernya, ada yang kakak mau sampein tapi ga disini dan ga sekarang." Syila menautkan alisnya. Belum sempat dia bwrkata, dia dikejutkan dengan kedatangan Maria. "Alvin! " Wanita tua itu menatap sendu samg cucu laki-lakinya dan juga cucu perempuanya. "Mari kami bantu bawa pasien. " beberala tenaga medis menggotong brankar itu dan memasuki tubuh lelaki itu kedalam sebuah ambulan di belakamg sekolah yang semgaja tidak dibunyikan agar tidak ada keributan. Tanpa berkata sejak Maria mengajaknya pulang dan dia pun baru tau bahwa sang nenek telah meminta izin menjemput mereka pulang pun hanya sekedar menngikuto arah tujuan yang lain. "Kamu Yudha kan? "
"Iya, oma. "
"Saya pinjam Syila ya. "
"Tidak usah izin oma, dia kan cucu oma. Harusnya saya yang meminta izin." Maria terkekeh lali menepuk pundak lelaki itu. "Kami pamit."
"Hati-hati. "
***
Pasien boleh dijenguk oleh satu orang saja, jadi sebaiknya bergantian. " Jelas Dokter sebelum dia meninggalkan mereka setelah menjelaskan keadaan pasien darinya. Gadia itu hanya melamun dengan tatapan kosong. Maria meraup tubuh cucunya merangkulnya lembut. "Kamu juga dengarkan?" Syila mengangguk. "Itu yang mau Alvin sampaikan tadi, kakakmu itu nampaknya sudah lelah bersembunyi. " Tak ada jawaban dari gadis itu. "Hah. " Maria menghela nafas. "Kamu mau duluan atau nenek dulu?"
"Nenek dulu saja. " Jawabnya singkat. Sebenarnya dia masih belum bisa menghadapi sang kakak, dia merasa seperti orang bodoh yang tidak tahu apapun. Memang ada bukti bahwa dia mengenal dan bertemu Alvin setahun belakangan ini setelah kehilangan ingatannya. Mereka memang pernah mengenal sebelum itu, namun takdir berkata lain dan sekarang takdir menjawab lain untuk mereka setelah pertemuan kedua ini.
__ADS_1
"Baiklah, kamu duduklah dulu disini tunggu nenek ya.. " Maria merapikan rambut panjang hitam gadia itu dan mengaitkannya kebelakang telinganya. Maria beranjak masuk ke ruangan dimana Alvin dirawat meninggalkan gadis yang duduk te rmenung itu sendiri. Keluarga mereka masih didalam perjalanan menuju rumah sakit, sedangkan Yudha masih berada dikelasnya karena ini belum waktunya untuk pulang.
Gadis itu menyeka mata dan wajahnya yang mulai membasah. Dia sudah tak sanggup lahi untuk menahannya. Mengapa pertemuan ini serasa akan berakhir? Dalam batinnya Syila memberontak tak ingin ini segera usai. Walau mereka sering bersilisih paham dan berrtengkar kecil tapi kejahilan lelaki itu bisa membuat dirinya cepat nyaman. Dia adalah kakak posesif dan menyebalkan, itu harus diakui. Tetapi, itu juga adalah hal baik.