
Fyiu Syu Fyiu Syu
Lelaki muda dengan tubuh tegap yang proposional itu terus bersiul disetiap langkahnya, lalu terhenti saat dia melihat sosok yang menusuk netranya hingga tak sadar jika membuatnya mematung untuk beberapa saat.
Dia berjalan ke arah lelaki itu yang nampak seperti membeku dengan heran dia mencoba membangunkan lamunanya. "Kesambet ape dia ya? Hei,, Bel,, Nobel! " Dia menepuk bahu lelaki itu hingga tersadar. "Hei, kamu kesambet? "
"Kesambet? Kagak! " Nobel lalu berjalan memapasi orang itu. "Kenapa sih tuh anak?!" Namun, setelah beberapa langkah dia kembali menoleh, dan berkata. "Inget kalo harus manggil gue apa!"
Beberapa hari yang lalu, setelah diresmikannya anggota baru klub membaca & minum teh ini, semua berkumpul untuk merancang rencana yang akan dilakukan ke depannya. Namun, mereka belum terfikirkan apapun jadilah mereka hanya bersantai ria bersama.
"Bel, elo suka ini? Bel, jangan ih!,, Bel, jangan tidur terus! Bel! Bel! Bel! "
"Arghhh! Berhenti panggil gue itu! Kalian kira gue bel berbunyi! Atau Isabella!"
"Hmm elo suka sinetron m ya. "
"gue lebih suka bella vampir. "
Urat kepala si sentimental itu menegang hampir melompat dari tempatnya. Haru dan Bian mengipasi kepala yang sudah mengebul itu. "Sudah, sudah, jangan ribut. "
"Ya, sialan! Elo berdua juga napa ngipasin gu-"
Brukk!
Suara tendangan kolong meja itu dapat membungkam mereka. Mereka menoleh dan urat leher mereka menengang dan membeku. Tatapan tajam itu mampu mengoyak mereka.
"Hah, kalian ini! " keluh Clarisa.
Semua kembali ke tempat duduk masing-masing. "Euhm, panggil gue Noir ya Noir! Gue bukan ebel, bela, isabela!" Seru Nobel dengan suara yang tertahan karena tatapan tajam itu masih mengiris-irisnya. Mereka menelan salivanya, lalu mengangguk. Kecuali Rana dan Clarisa yang super santai membaca buku dan memainkan ponselnya. Keadaan sudah semakin terkondisi, namun tatapan tajam yang terus menelisik mereka masih saja berputar.
"Asssalamualaikum, maaf telat tadi ada presentasi dulu dikelas! " Shifa yang baru datang dengan nafas yang tersengal-sengal. "Waalaikummussalam, gapapa ayo masuk. "
Senyuman apa itu?!
***
Di hari berikutnya setelah kesambetnya Nobel di tengah lorong antar kelas itu, mereka kembali berkumpul. Para siswa baru mereka berkumpul untuk minta diajarkan matematika oleh Shifa dan Haru, disana sudah ada Rana yang mengawasi mereka. Clarisa tidak datang karena ada jadwal les katanya, sedangkan si ketua Syila, dia juga tidak bisa hadir karena banyak tugas yang harus diselesaikan. Rama sesekali memeriksa mereka dari celah jendela,lalu pergi.
"Ini ada cemilan yang kemarin Syila bawa dan tadi gue bikin pudding roti nih! "
"Thanks! "
"Oya Kak Ran, saya ada satu usul yang baru aja terbesit."
__ADS_1
"Apa tuch?"
"Saya pikir kalau nama klub kita itu terlalu panjang. "
"Bener sih. "
"Gimana kalau kita bikin nama baru aja, semua kasih usul dan jika sudah terfikir kita akan usulkan ke Kak Cil biar dia yang memilih satu dari yang kita buat. Gimana? "
"Bagus tuh! " Satu senyum melengkung diwajah itu.
***
Tak terasa seminggu sudah berlalu. Karena semua dari mereka memang banyak tugas dan urusan maka kegiatan klub tidak dilaksankan selama hampir seminggu kemarin. Klub ini mrmang berbeda dari yang lainnya dimana jadwal mereka seminggu sekali atau dua kali, tapi mereka tidak, ralat! belum memiliki jadwal spesifik, hanya saja jika memang mereka ingin kesini hanya untuk sekedar bersantai atau belajar bersama selagi hal. iti positif diperbolehkan.
Hari ini Renita, Dzestha, Dzith, Syiria mengajak Syila untuk istirahat bersama dan makan di kantin, Rama pun turut ikut karena ada Syria yang mengajaknya. Awalnya mereka makan dengan damai, hingga sebuah keributan terjadi.
"Ya, elo harus ganti! " Teriak siswa itu. "Ganti? Makanan elo itu udah habis hanya tinggal kuah doang, dan gue udah minta maaf sama elo gue bilang kam gue ga sengaja! "
"Alasan! Pokoknya elo harus ganti! "
"Bebel! " Semua menatap Syria kecuali Rama yang terlihat acuh.
"Hah?! Elo bil-eh mbak?"
"Uhuk! " Syila tersedak. "Mbak?! "
"Mbak, jangan nanti dia ngelunjak! "
"Diem! " Semua terkesiap karena seorang Nobel bisa dibungkam oleh gadis bertubuh simpal itu.
Rama menepuk pundak Syria. "Gue liat tadi mangkuk elo udah dibiarin dan elo udah selesai makan. "
"Kakak. "
"Rama. "
"Kak Rama, apa maksud kakak? " Tanya gadis yang meminta ganti rugi itu. "Bukan masalah itu, tapi liat seragam aku jadinya kotor! " Keluhnya manja. "Tinggal cuci dirumah. "
"Kalau gitu aku mau dia yang cuci! " Nobel dan Rama menyunggikan bibir mereka. Belum mereka berkomentar, seseorang telah mendahului mereka. "Kalau gitu, kenapa ga buka seragam elo disini?"
"Ka-kaina?! Kenapa elo bilang kayak gitu, gue melakukan ini karena elo! "
"Karena gue atau demi diri elo sendiri? "
__ADS_1
"Kaina?! "
"Ssstt, daripada ribut disini mending ikut gue ke klub house kalian semua!" Rama menunjuk satu persatu mereka. "Yang lain bubar, kembali ke kelas masing-masing! "
"Kenapa harus gitu, kak?! " Protesnya. "Apa mau gue bawa kalian ke ruang OSIS dan membuat pak kepala tahu? " Dengan terpaksa dia pun menurut. "Syila, ga masalah kan?" Tanya Rama. Syila hanya menangguk.
Mereka pun pergi ke tempat yang dituju, kecuali Dzith, Renita dan Dzestha. "Noura!" Gadis itu terontak dengan panggilan keras Rama. "Kaina! " Kaina dengan santai maju. "Noir! Kalian selesaikan masalah kalian disini sekarang! Ria, kamu jangan ikut-ikutan!"
"Tapi, kak. "
"Biar mereka yang menyelesaikan masalahnya sendiri, karena mereka itu bukan lagi anak kecil! Mikha, elo juga! " Mikha tak menjawab dia hanya menatap lekat Rama. Syila pun hanya diam mihat, dia sedikit terperangah sebentar karena dia baru melihat Rama yang begitu serius kali ini memperlihatkan sisi tegas dan dewasanya.
"Oke, aku setuju. Noura, gue memang pernah bilang kalau gue benci sama Syila tapi bukan berarti elo sampai harus menjatuhkan klub ini karena ini adalah bagian dari Mikha. Gue tahu itu rencana elo. "
"Kai-"
"Gue tahu elo melakukan semua iru demi gue, demi elo juga ingin mendapat pujian gue. Tapi, yang gue mau elo langsung hajar dia! Bukan klub ini! " Kaina menunjuk Syila.
"Tapi, aku tau kamu maupun teman-teman kamu ga akan biarin itu. Iya kan, Mikha?! " Kaina menoleh ke belakangnya. "Tentu aja."
"Dan, aku juga tau kamu terpak-hmmpt! " Semua melebarkan mata mereka yang seharusnya mereka tutupi. Mikha mengecup bibir Kaina membuat gadis itu termangu. "Gue berubah pikiran! Ayo pulang! " Dia melepas oangutan lewatnya dan menarik lengan gadis itu, membawanya keluar. "Urusan kita udah, tinggal urusan kalian. "
"Hah! Dasar si seenaknya!" Keluh Rama. "Nah, kalian berdua, mau gimana sekarang?" dengan angkuhnya Nobel menantang. "Gimana, mau gue cuciin tuh seragam? Kalau iya, buka sekar- Arghh! " Syria menoyor kepala Nobel. "Kamu ini kalau ngomong nguawur wae! "
"Kan dia yang mau mb-Aw! " Sekarang syria menjewer telinga nobel! "Sakit mbak e ! sakit! Ampun! lepas mbak e! " Syria melepasnya dengan keras hingga telinganya itu memerah. Nobel mengusap-usap telinganya. lHei, cewe! Jadi mau gimana, tapi kalau suruh ganti tuh bakso gua gakan ganti soalnya elo udah abisin tuh baso sampe badan elo buntal!"
"apa?! elo ngatain gue gendut! "
"bukan gendut, tapi buntal! B-U-N-T-A-L! " Noura mencebik. Syria kembali menoyor sang adik. "Kamu moyoki aku?"
"Ora mbak e, mana berani aku! Mbak ndak buntal cuma berisi aja."
"Elo nyamain gue sama.. dia yang.. " Noura menelisik sinis ke Syria. "Mbak gue kenapa?!" Noura terkejut, dia kesakitan akibat tangannya dicekal Nobel secara tiba-tiba. "Nih! " Dia menyodorkan secarik kertas sambil sedikit mendorong gadis itu ke belakang. Syria inhin menghentikan sang adik namun dihalau Rama.
"Gue udah bilang sama laundry itu, kalau elo mau nyuci disitu dan gue udah bayar ceknya." Noura memastikan, dan benar saja bahwa kertas yang lekaki itu beri adalah sebuah cek. "Selesai bukqn urusan kita. Dan satu hal, tidak dua hal lagi yang elo harus inget! Jika elo masih menganggu klub dan ketua kami dan elo bully kakak gue, gue gakkan tinggal diam. " Bisikan itu membuat gadis itu merinding. Dia pun pergi tanpa pamit pada siapapun.
"Ria. " Bisik Syila. "Beneran, dia adik kamu? "
"Iya. Ngak mirip ya? " Syila menagngguk. "Elo baik, tapi dia kok nyebelin? " Syria malah terkekeh pelan. "Aku juga nga nyangka diw adikmu beb. "
"Woy, pada gibahin gue ya?!"
***
__ADS_1
maaf ya guys kalau ceritanya aga kurang nyambung. Untuk 10 terakhir ramadhan dan idul fitri bakal jarang lagi up. tetep stay tune ya..
kalian juga bisa baca novel aku yg LAIR (Psycho heroes)