
"Sorry ya, Udah selalu repotin elo.. soal tugas. "
"Gak masalah kok. " Martha terenyuh melihat senyuman yang terbit di wajah itu. "Thanks. "
"Sure. "
"Oya, gue denger elo belum milih klub eksul.. Kenapa? "
"Gue males, gue xuma pengen bersantai setelah oenat belajar seperti membaca buku."
"Kalau gitu jadi penjaga perpus aja, bisakan! "
"Gue udah ngajuin, tapi.. ternyata minat itu banyak yang meminati so gue sudah terlambat untuk menjadi penjaga perpus. "
"Oh gitu.. " Tiba-tiba, Martha terfikir hal itu membuat senyumnya terbit. "Mar!"
"Eh? "
"Malah senyam senyum sendiri, nyeremin tau! "
" Gue kagak kerasukan ya! " Mereka telah menghabiskan makanan mereka. "Ya senyam senyum gitukan jadi curiga pengen.."
"Pengen apa? " Tanya Martha dengan polosnya. "Pengen ke toilet. " Martha mendengus kesal mendengar celotehan Syila. "Udah, udah, jangan ngambek cepet tua!"
"Elo emang nyebelin!"
"Emang! baru tahu? " Syila terkekeh melihat kekesalan diwajah temenya itu.
Jam istirahat berakhir. Para siswa telah memasuki jam pelajaran kembali hingga waktu habis dan mereka pulang. "Syil! " Syila menghentikan langkahnya, lalu membalikkan tubuhnya. "Ya? "
__ADS_1
Martha menghampirinya lalu berbisik padanya. "Besok saat istirahat ikut gue ke suatu tempat! " Syila mengernyitkan dahinya. "kemana? "
"Liat aja besok." Martha menepuk pundak Syila. "Sampai jumpa besok, bye! " Martha keluar bersama ketiga temannya, mereka ingin ke cafe eskrim bersama.
Syila pun segera menyusul keluar kelas dan ketika dia hampir sampai ke halaman depan sekolah, tiba-tiba ada yang membuat kangkahnya terhenti sejenak lalu dia mempercepat langkahnya.
"Sayang! " Syila menghentikan langkahnya, memejamkan matanya dan membuang nafas malas. Lalu, dia mempercepat langkahnya. "Lah, kok malah ngebut. " Gumam alvin di belakang sana. "Sayang! Sayang! Tunggu! Baby! " Kata-kata itu semakin membuat Syila panas dan semakin mempercepat langkahnya. "Berisik, sialan! " Seru Syila dengan lirih.
Alvin pun memperlebar langkahnya dan berhasil menyusul gadis itu. Dia menahan tangan Syila dan memeganginya dengan erat. "Sayang. " Syila menepis pegangan itu. "Lepas! "
lJutek banget sih sayang." Syila mendingakkan wajahnya menatap nyalang Alvin. "Bisa ga sih elo ga panggil gue kaya gitu?! "
"Kenapa? Kurang keras ya. SAY-Hmmp! " Syila menutup mulut Alvin dengan kedua tangannya. "Diem! " Bisik Syila. Alvin mengangkat tangannya tanda menyerah, tetapi bukan Alvin namanya jika dia tidak memiliki ide gila lainnya untuk menjahili sang adik tercinta.
Syila melepas bungkamannya dan mendelik malas pada lelaki di depannya. Tak disangka-sangka lelaki itu membuat Syila membeku.
Cup.
PLAK!
"ARghw! sakit sayang! "
"Rasain tuh sakit! " Syila akan meninggalkannya yang sedang meringis memegangi pipinya yang memerah, tetapi ketika dia baru saja akan membalikkan tubuhnya Alvin menahanya dengan membawa tubuh Syila masuk ke dalam dekapannya lalu mencium pipinya kembali. "Nakal. " Lalu memijit hidung gadis itu. Syila mendorong tubuh Alvin hingga sedikit oleng ke belakang. Dengan kesal gadia itu memutar tubuhnya untuk pergi namun tubuhnya terhebti melangkah.
"Mi.. ka? " Dia mematung ketika nelihat seorang lelaki yang juga mematung di depannya. dengan gelapapan lelaki itu membuang wajahnya. "Oh bro! " Syila melirik sinis Alvin yang dengan tenangnya menyapa Mikha dengan wajah sumringah. "Gue duluan." Mikha menenteng tasnya melewati keduanya. "Hm." Jawab Alvin dengan singkat.
Setelah kepergian Mikha, dia mendekati gadis yang sedang muram itu. "Sayang, ayo pul-" Syila menepis dan menggampar tangan kekar itu. "Gue pulang sendiri! " Syila pergi dengan Terburu-buru. "Yah, ngambek. Hihihi! "
***
__ADS_1
Keesokan paginya adalah hari yang dingin dan mendung, hujan jatuh beriringan, payung bening itu melindungi kepala seorang gadis yang berjalan di atas trotoar jalan.
Tiiittt!
Suara klakson menyahut dari sebuah mobil berwarna hitam. Syila pun menoleh ke arah mobil itu. Sang supir menurunkan kaca mobilnya tampaklah seorang lelaki yang berseragam putih. "Sayang, naik! "
"Alvin? "
"Naik, hujan lho sayang! "
"Gue bawa payung, nanti naik bus. "
"Naik!" Syila menghela nafas kasar dan terpaksa mengikuti kemauan Alvin karena sang empu sudah keluar dari mobilnya membuatnya menjadi basah. "Pake payung, Al! " Syila menjinjit memayungi Alvin yang membukakan pintu mobil untuknya. "Nih pegang!" Syila menyodorkan payung itu yang diterima Alvin dan dia pun beringsut masuk ke dalam mobil Alvin. Alvin yang mendapat perhatian itu pun tersenyum. Dia pun memutar membuka pintu kemudi dan masuk kedalamnya. Belum menutup pintunya dia menyuruh syila mengambil sebuah kantung plastik yang ada di dashbor mobil. "Ambil plastik item disitu satu! " Alvin menunjuk loker dashbor itu. Syila mengambil satu plastik hitam dan menyodorkannya ke lelaki itu.
Setelah Alvin memelastiki payung gadis itu yang basah dan menyimpannya disisi kursi kemudinya, dia pun dengan cepat menutup pintu dan memasang sabuk pengaman. Dia menyalakan mesin mobilnya, melirik sebentar Syila yang diam seperti patung. "Ish, diem! " Syila menepis tangan jahil lelaki iru yang mencolek hidungnya. "Ciee yang perhatian sama aku! " Syila memutar bola mata malas dan mengendikkan bahunya dengan ekspresi mengeyel. Membuat Alvin terkekeh geli. Mereka pun melaju ke sekolah.
Setelah sampai di sekolah, Alvin tak membiarkan gadis itu kluar lebih dulu. "Tunggu, aku yang kluar duluan pake payung!" Tanpa preotesan Syila menuruti kemauan lelaki itu karena dia swdang malas berdebat. Alvin keluar dengan payung yang dia keluarkan dari sang plastik. Dia memayungi dirinya menutup pintu kemudi, lalu memutar membuka pintu Syila dan memayunginya hingga masuk ke dalam sekolah. "Payungbya titip Pak Tresno aja. " Syila mengangguk. "Tunggu disini, aku ke Pak Tresno dulu. " Sekali lagi gadia itu hanya mengangguk tanpa berkata.
Tidak sampai satu menit Alvin pergi dan kini ia telah kembali. "Yuk, masuk! " Ajaknya. Sebenarnya dia sedikit heran dengan sikap Syila yang menurut hari ini tapi juga membuatnya senang, dia lalu memegang tangan gadis itu. Syila menyadarinya dan segera melepas genggaman Itu. "Kok dilepas? "
"Gak usah pegang-pegang!"
"Kenapa? Takut dikira pacaran? " Syila mendelik malas. Alvin terkekeh. "Ya udah, ngak, ngak akan pegang pegang sayang lagi.." Syila menutup telinganya malas mendengar celotehan lelaki itu. "Aku duluan ya sayang, jangan bandel belajar yang bener. " Alvin mengacak-ngacak lembut kepala Syila yang ditepis oleh gadis itu. Tanpa berkata apapun gadis itu langsung pergi meninggalkannya. "Gemes banget sih adikku. " Gumam Alvin, dia pun berjalan beberapa langkah masuk ke kelas, namun dia telah dicegat oleh beberapa teman-temannya. "Al, elo pacaran sama anak kelas satu itu?! " Berbagai pertanyaan yang sama mencekalnya.
***
Waktu istirahat tiba. Martha langsung berlari kecil dan menggandeng tangan Syila yang masih duduk dikursinya. "Ayo! " Ajaknya. "Semangat amat, mau kemana sih?"
"Rahasia. Nanti juga elo bakalan tahu! " Syila tak berkata apapun dan hanya mengikuti gadis itu berjalan disampingnya. Awalnya Syila biasa-biasa saja, tetapi setelah mereka jauh ke belakang sekokah dan ini hampir menuju ke luar sekolah barulah Syila membuka suara. "Sebenarnya kita mau kemna? Ini kok-" Sebuah jalan yang tidak pernah diketahui sebelumnya, jalan kecil ditengah labirin. Ada sebuah pintu kayu tua yang tertutup dedaunan merambat yang terkunci rapat dan hanya dapat dibuka dengan kunci yang tidak biasa, dan Martha memilikinya. Tidak ada jawaban dari gadis itu akan pertanyaannya, Syila pun terus mengikutinya hingga mereka tiba di depan sebuah paviliun kecil bagai rumah ala eropa yang kecil dipedesaan. "Ayo masuk! " Martha membukakan pintu itu membuat orang-orang yang ada didalamnya menolehkan pandangan mereka. "Hai, guys! Aku bawa anggota baru kesini!" Seru Martha.
__ADS_1
"Ehh?? "