
"Bapa ga pernah muda si-Argh! Syila, kok kakak dicubit sih? " Syila melirik tajam kakaknya. "Maaf pa, kami akan segera kembali ke kelas masing-masing.Iya kan, kakakku? " Kalau udah begini, bahaya! Gue harus nurut aja deh! Alvin mengannguk. "Ekhhm, baik segeralah ke kelas sebentar lagi jam pelajaran akan dimulai kembali! " Syila mengangguk begitupun Alvin. Di tengah akan meninggalkan kedua muridnya, pria itu menepuk pundak Alvin dengan tatapan yang hanya dimengerti antar pria.
Syila pergi tanpa pamit, dan saat Alvin sadar gadis itu sudah tidak berada disisinya. Dia membuang nafas kasar. "Akh! Padahal masih pengen godain, ahh gue nginep aja kali ya dirumahnya. Tapi... " Alvin tiba-tiba bergidik ketika membayangkan sang nenek yang mengamuk dan juga tatapan Aliya dan Gian.
***
Renita terperanjat ketika mendampati sang sahabat yang telah berdiri didrpan lawang kelasnya. "Syila? Ngapain disitu sih, kaget tau!" Syila masih melipat kedua tangannya dibawah dadanya menatap Renita dengan antar dahi yang berkerut. "Kenapa liatinnya gitu banget sih? " Ketus Renita. "Elo marah sama gue? "Gue? Ngak kok. " Renita terkekeh kecil. "elo ga bisa bohongin gue. Elo ga pernah ngobrol sama gue tanpa menatap gue, elo terus membuang tatapan elo ke gue. " Renita menghela nafas kasar, lalu menatap sahabatnya. "Hmm. gue liat elo.. " Syila menyunggingkan sebelah ujung bibirnya menatap bingung gadis itu. "Elo kesurupan, Re?"
PLAK!
Syila mengelus tangan putihnya yang habis di gampar oleh Renita. "Kesurupannya garang."
"Bilang sekali lagi, gue gampar lagi! " Seketika Syila tertawa geli. "Ketawa terus, ketawa! " Renita mendengus kesal. "Lagian, disuruh natap malah melotot. Ya, gue serem dong liatnya. " Syila membuang nafas. "Elo, liat gue ditembak dia kan?" Renita langsung gelapapan. "Mm-i-itu.. Gu-gue.. "
"Gue ngerti, ya itu bukan salah elo itu salah dia nembak gue di sekolahan. " Dengan acuh Syila menjawab membuat Renita geleng-geleng dibuatnya. "Tapi.. Gimana dia setelah gue tolak? "
"Ehh? Elo nolak dia? " Syila memanggut. "Iya, kenapa?" Renita mengerjapkan kedua matanya. "Dia biasa ajakan dikelas tadi? "
"Dia cuma baca buku. "
"Dia galau ya. " Renita menyiku perut Syila hingga Syila merasa kesakitan. "Aw! pelan pelan napa! " Renita menggerakan dagunya membuat Syila untuk mengerti namun gadis itu lambat untuk mengerti hingga dia menoleh dan betapa terkejutnya namun dia berusaha tetap santai ketika melihat sosok yang sedang dibicarakan. "Ah, kalian belum pulang?" Tanya Adzestha dengan nada datar.
"Gue nunggu Renita. " Renita yang menjadi acuan sahabatnya itu bulak balik melirik kedua temannya itu satu per satu. "Oh. "
"Kenapa elo balik lagi? Tadi gue piket perasaan ga ada barang yang ketinggalan." Renita memecah suasana. "Gue mau ke ruangan club. " Dia menunjuk ke ujung koridor dibelakang Kedua gadis itu. "Oh." Sahut kedua gadis itu mengukir senyum simpul dari wajah lelaki itu. "gue duluan. " pamit Adzhesta, diangguki keduanya.
"Yuk Pulang!" Syila menngriring Renita pulang kerumahnya.
***
__ADS_1
"Assalamualaikum! "
"Waalaikummussalam! Eh ada Rere, ayo masuk! " Suruh Aliya, keduanya pun masuk. "Iya bu. " Mereka dikejutkan dengan sosok yang sudah senyam senyum diseberang mereka. "Kayaknya gue dateng diwaktu tidak tepat. " Bisik Renita. Syila mengeratkan gandengannya. Renita hanya dibuat geleng-geleng bukan kepalang. Dasar kakak beradik aneh! Gerutunya dalam hati.
"Ngapain sih nimbrung nimbrung sama cewek! " Ketus Syila. "Jutek amat sih adikku yang cantik! " Alvin mencubit hidung Syila. "Diem ga! " Tepis Syila. Renita yang duduk dihadapan mereka hanya melirik bulak balik ke temannya dan juga Alvin.
"Ek khm. " Renita berdeham. "Jadi apa rencana yang mau kita jalanin buat bikin surprise anniv bonyo elo, La?" Syila mengangkat dagunya. Ya, beberapa hari sebelumnya memang Syila meminta bantuan Renita untuk menyiapkan sebuah kejutan anniversary kedua orang tuanya. "Kalau gue sih bakal bikin kue, makanya gue minta tolong sama elo ajarin gue bikin kue. Kan masih ada waktu satu minggu lagi. Kalau kak Lian, gue gak tahu. "
"Dia masih dinas ke luar kota ya? Kapan pulang?" Tanya Renita dan Syila menggeleng. "Chat gue aja belum dibalas."
"Kak Artha gimana?"
"Katanya belum dapat kabar juga, mungkin masih sibuk sama pekerjaannya. Sekarang dia lagi ke bidan di anter ibu."
"Istri bang Lian udah ngandung berapa bulan? " Sela Alvin. "Udah mau masuk empat kalau ga salah. " Alvin manggut-manggut. "Ngak kerasa ya. Berarti kita juga udah empat bulan jadi anak SMA! " Seru Renita. "Iya juga."
"Nah, balik lagi. Elo mau diajari bikin kue apa?" Syila menggembungkan pipinya, mengangkat sebelah alisnya. "Uhmm yang gampang apa?"
"Uhmm.. gue pengen coba bikin cupcake deh biar bisa dihias hias, kayaknya lucu deh! "
"Kenapa ga minta tolong sama Hari juga? " Sela Alvin. "Maksudnya kak Hari?! " alvin mengiyakan keduanya. "Ngak usah, gue udah punya Renita." Syila bergeser ke sebelah sahabtanya dan memeluknya, Renita membalas pelukan itu. "So sweet sekali ma bestie! " Alvin hanya menggelengkan kepalanya melihat keduanya.
Singkat cerita, Alvin terus menemani syila belajar membuat cupcake dirumah Renita dan juga Alvin, karena setelah Maria mengetahuinya dari Alvin mereka disuruh sang nenek untuk memakai dapurnya agar tidak terus menerus membeli bahan karena dapur milik Maria lengkap. Itu karena Syila terus gagal dalam membuatnya. Pada Hari kelima akhirnya, mereka berhasil dengan arahan dari Maria juga.
Hari keenam, Aksha telah pulang dari dinas kantornya dan langsung menemui sang istri. "Assalamualaikum." Artha mencium tangan suaminya. "Waalaikumussalam." Begitu juga Aksha yang mencium pucuk kepala sang istri lalu mengusap perut istrinya yang masih rata. "Baby A sehat kan, ga nakal ditinggal papa?" Artha tersenyum haru menatap sang suami. "Ngak dong. " Mereka terkekeh. "Oiya mas, kamu sudah tahu kan rencana anak-anak? " Bisiknya, Aksha menagnnguk. "Udah, cuma aku belum sempat balas lala ku, eh dia belum pulang ya? "
"Kayanya belum, soalnya aku belum denger suaranya. " Aksha memanggut. Dia membuka jasnya karena kegerahan. "Mau disiapin air mandi? "
"Ngak usah, biar aku aja. Bumil harus banyak istirahat. " Aksha mengelus pipi sang istri. "Oya mas, kalau kamu merencanakan apa?" Akhsa tak menjawab setelah dia membuka kancing kemejanya, dia beranjak mendekati tas kerja miliknya membukanya dan mengambil satu amplop coklat kecil memanjang dari dalam sana. "Ini. " Dia menyodorkan amplop itu kepada sang isti. "boleh aku lihat? " Aksha mengangguk. Artha membuka dan melihat isinya, seketika matanya terbelalak. "Ini? " Aksha memanggut dengan senyum lembutnya.
__ADS_1
Hari anniversary tiba..
Hati itu terjadi sepertinya biasanya, Syila dan lainnya bersekolah, lalu Aksha yang berangkat ke kantor dan tinggalah mereka bertiga Gian, Aliya dan sang menantu dirumah itu. "Gimana udah ga begitu mual mual lagikan? " Tanya Aliya. "Iya, bu. Sudah enakan. "
"Karena kamu sudah melewati masa trimester pertama, Duh ga sabar pengen cepet gendong cucu! " Hari pun mulai menyore. Akhsa hari ini pulang lebih cepat daripada biasanya. "Tumben kamu pulang masih siang? "Tanya sang ibu. "Kan hari spesial. " Celetuk dang anak yang membuat aliya heran. "Hari spesial? " Tak menjawab, Aksha Lian hanya tersenyum sendiri. lNanti juga tahu. " Dia menggoda sang Ibu.
"Assalamualaikum!"
"Waalaikummussalam, eh kalian sudah pulang! "
"Iya bu ,Rere mau main ya sama Syila. "
"Iya, tapi mana Syilanya kok cuma kalian berdua? " Aliya menunjuk Renita dan Alvin. "Syila lagi diajak nenek keluar dulu sebentar, tadi beliau nyusul ke sekolah katanya pengen jalan-jalan sama cucu perempuan. " Alvin memajukan bibirnya yang membuat Aliya dan Renita terkekeh. "Cemburu bos?! " Goda Renita. "Kan gue juga pengen ikut! " Alvin yang seperti anak kecil. "Sudah, sudah, kalian masuk dulu aja tunggu didalam. " mereka pun masuk ke dalam dan menempati Lian dan istrinya sedang duduk diruang keluarga. "Lah, Syila mana? " Tanya Lian. "Sama nenek. " Jawab Alvin dengan singkat dan masih cemberut. Aksha hanya geleng geleng kepala melihat kelakuan saudara tirinya itu. "Selang sepuluh menit, Syila datang bersama Maria dengan sebuah susunan cupcake yang telah di hias dengan cantik sebagai sebuah kejutan.
Gian dan Aliya dibuat terkejut pasalnya mereka sama sekali tidak ingat bahwa hari ini adalah ulang tahun pernikahan mereka. "Lah, aku tidak ingat. " Celetuk Gian. "Mana kamu ingat, mas! " Aliya mendelik. "Kamu juga. " Gida Gian membuat Aliya memutar bola mata malas. "Sudah, sudah, masa anniversary berantem! " Maria menengahi, para anak-anak mengulum tawa mereka. "Syila, simoan kuenya diatas meja ya! "
"Makasih ya sayang. " Aliya memeluk sang putri kandungnya. "Terimaksih, putri ayah paling cantik. " mereka berpelukan. "Iya, selamat anniv ya ibu dan ayah! "
"Nah, nah, Lian ga akan dipeluk nih?" Artha menghela nafas melihat kelakuan sang suami yang seperti anak kecil. "Kamu anak yang membanggakan! " Seru Gian merangkul dan menepuk pundak sang anak. "Ibu, sayang Lian kok! " aliya memeluknya, pria itu membalas pelukan sang ibu sambung yang sangat dia cintai. "Lian juga. Selamat ya atas anniversary ke.. "
"Enam belas. " Sahut kedua pasutri tua itu. "Selamat ya untuk kalian berdua!" Maria memeluk keduanya. "Ini ada sedikit hadiah dariku. " Sepasang cincin couple diberikan oleh Maria. "Terimakasih nyonya, kami jadi merepotkan. "
Tentu tidak. "
"Selamat ya ibu..om. " /"Selamat ibu, ayah. " Renita dan alvin bersamaan. "Makasih ya. "
"Mereka yang bantuin aku buat kue loh bu, nenek juga! " Seru Syila. "Oya? Wah, terimakasih ya! " Diangguki oleh mereka. "Ibu, ayah, kami.. tidak mas Lian punya hadiah juga untuk kalian, sebelumnya selamat atas ulang tahun pernikahan nya. " ucap Artha.
"Terimakasih. Memangnya hadiah apa yang lebih spesial dari calon cucu kami yang masih didalam sini? " Gian mengusap lerut rata sang menantu. Diikuti oleh Aliya. "Iya nak, apa itu? " Artha melirik Aksha dan pria itu pergi ke kamarnya lalu kembali dengan amplop coklat yang dia berikan pada Kedua orangtuanya. "Ini, bukalah. "
__ADS_1
Gian dan Aliya juga Syila penasaran isi dari amplop teesebut. Aliya membuka amplop itu dan tercengang begitupun syila, Gian menatap lekat putra dan menantunya. "Nak, ini sungguhan?" Maria yang jadi penasaran pun mendekati syila dan mengintip isi amplop itu membuatnya melebarkan bola matanya. "Beneran. Alhamdulillah sekarang Lian sudah bisa mewujudkan mimpi ayah dan ibu sejak dulu, yaitu berangkat umrah!" Maria tersenyum lembut mendekati Lian dan cucu menantunya itu mengelus punggung keduanya. Syila, Renita dan Alvin masih termangu ditempat mereka berdiri. Aliya yang dipeluk Gian mulai meneteskan air matanya. "Terimakasih, sayang! " aliya berhambur memeluk putranya. "Terimakasih, nak. " Sambung Gian.