
POV Syila
Akhirnya aku sudah menjadi kelas dua belas, jujur aku menyesal tidak mengikuti acara perpisahan sebelum liburan kenaikan sekolah sebelum acara bagi rapor karena aku bersama Alvin. Padahal aku ingin melihat dramanya Syria! Huft!
Sekarang aku kelas sebelas dan sudah memiliki banyak adik kelas dan mulai sibuk dengan kegiatan klub karena aku mendapat kabar tak terduga.
beberpa hari setelah kepergian Alvin.
"Ehh, gue jadi ketua?! Kenapa bukan Mikh-"
Tuttt Tuttt
"Sialan! Malah diputus! "
"Kamu kenapa, sayang? " Pria dengan kursi roda menghamprinya. "Syila, terpilih jadi ketua klub di klub nya Syila. "
"Klub apa? "
"Klub membaca dan minum teh. Hah, padahal kan Syila anak baru! " Keluhnya.
"Gapapa dong belajar, berarti anak papa hebat kan!"
"Tapi, Syila masuk klub karena terpaksa. "
"Terpaksa?" Gadia itu pun bercerita tentang alasan mengapa dia tidak ingin masuk klub apapun karena memang ingin bebas ditambah dia memang gampang bosan. sejak SMP dia selalu berganti klub ekstrakulikuler disekolahnya membuatnya tidak ingin mengikuti kegiatan ekskul apapun di SMA. Tetapi, karena peetemuannya dengan Alvin dan Sweet heart boys. Adanya duo menyebalkan Mikha si kulkas dan Yudha si mantan yang membuat dia terseret ke dalam kehidupan mereka plus Martha si model yamg ternyata adalah adik dari si ketua geng David. Ahh, semuanya mengubah kehidupan damai Syila.
"Bwahaha.. "
"Lho kok malah diketawain? "
"Abisnya kamu memang anakku! "
"Hah? "
"Kamu mirip denganku saat disekolah. "
"Oh. "
"Nah, kan. "
"Masa? "
"Iya. "
__ADS_1
satu sosok yang diam-diam memperhatikan mereka, sedikit tergurat senyum sebelum sendu.
***
Kelas sebelas aku masih sekelas dengan beberapa teman-teman kelas sepuluh hanya saja ditambah dzith. "Ini gak adil! "
"Gak adil kenapa sih, dzith? "
"Kenapa cuma gue yang terjebak sama elo? "
"Ok, kita ga ken-" Dzith menahan Syila pergi, menarik lengan bajunya. "Wahai dewi surgawi! "
"Ck, lebay! Elo mah kebanyakan baca komik sama nonton anime!"
Dzitj menegakan tubuhnya membenarkan kacamata bulatnya. "Itu adalah aset. "
"Aset? "
Tiba-tiba seseorang memanggil namanya. "Syila! " Rama selaku ketua OSIS baru dan wakil. ketua klub membaca dan minum teh memanggilnya. Para mata tertuju pada gadis itu. Masih banyak yang tidak suka tapi banyak juga yang terbiasa. Kini hanya Rama yang aktif dimata mereka. David, Jeremy dam Haris sudah lulus. Haris melanjutkan studinya ke sebuah universitas yang berada di Kota Y, sedangkan Jeremy akan segera menikah bersama sang kekasih dan mungkin setelahnya akan mengikuti kelas karyawan sembari mewarisi bisnis sang ayah. David dikabarkan akan pindah ke negara Pamansam untuk berkuliah karena dia akan segera mewarisi bisnis kekuarganya dinegara itu dan juga negara Panda. Yudha telah pindah bersama tunangannya ke negara yang sama, sedangkan Mikha maupun Kaina setelah kecelakaan mereka itu belum ada kabar apapun lagi dari mereka.
"Ada apa? "
"Sorry gue ada acara OSiS jadi gakkan datang ke club ya, gapapakan sendirian? "
lLah gitu doang? "
Hari sudah meunjukan pukul dua, aku pun beringsit ke tempat klub dsri kelas berpisah dengan Dzith yang juga akan ke klubnya. Masing-masing klub sedang sibuk untuk berlomba-lomba mrnambahkam anggota mereka ter. asuk klub ku.
"Kaliam udah dateng? " Clarisa dan Rana mengangguk. "Kalian sekelas lagi? " Syila menyimpan ranselnya disofa itu. "Uhhm, sama temen elo juga siapa ya namanya.. " Ucap Rana.
"Renita. " Sambung Clarisa.
"Oh. " Sahut Syila. "Udah sampai mana persiapan nya? "
"80%"
Ksmi memang sedang merancang poster klub kami, dan yang ditugaskan adalah clarisa yang memang pandai menggambar dan membuat kaligrafi. "Kaya gini. " Dia menunnukkan hasil mentahan sementaranya. "Gimana? "
"Lumayan. Tapi, menurut gue sih apa warnanya ga terlalu gelap. Lebih bagus kalau cerah tapi kalem. "
"Uhmm, ok nanti gue coba ulang dan edit. "
"Ok. Oya Rana, dana kita ada berapa? "
__ADS_1
Tak terasa hati sudah semakin menyore, krdua gadis otu sudah pulang leb oi h dulu dari aku karena aku masih harus menunggu Rama yang katanya ingin bertemu dulu.
""Syil! "
"Ram. "
"Hai, Syila. "
"Kak David? " Ada sosok laki-laki putih datang bersama Rama. "Ada apa kaka kemari? " Dia tak menjawabku dan hanya tersenyum simpul. "Ayo duduk! " Ajak Rama. "Sebenernya ada yang mau diomongin sama Ko David. " Syila berkerut dahi. "Kalau gitu kalian ngobrol berdua, gue mau ke toilet sebentar. "
sepeninggal Rama, belum ada pembicaraan diantara kami. David masih emlamum dan entaj mwngapa aku juga tak berani bertanya lebih dulu hingga dia angkat suara. "Syil, ini!" David menyodorkan sebuah kalung dan jepit berwarna silver dan putih dengan aksen mutiara berwarna salem. "Kata Martha, dia janji kasih ini sama kamu buat couple an. "
"Eh i-iya. Tapi, kenapa bukan Martha sendiri yang kasih malah suruh kak David?!" Dia juga baru sadar belum melihat gadis itu lagi, dia masuk kelas yang mana sekarang?!
Ekspresi David kala itu berubah entah apa tapi firasatku berkata akan ada berita buruk untukku. Apa dia sakit? Kalau begitu aku harus segera menjenguknya!
"Martha sakit. " Suaranya terjwda. "Kalau gitu ajak Syila untuk jenguk ya. " Tak ada jawban dari lekaki didepanku ini, dia hanya tersenyum getir sambil menunduk. Denga gemetar dan nafas tang tertahan dia menegakan wajahnya menatapku. "Syila. "
"Ya? "
"Sekarang dia sudah sembuh. "
"Eh? Alhamdulillah kalau gitu, tapi bolehkan Syila tetap menjenguknya. " Namun, laki itu malah menjatuhkan embun matanya, menetesi wajahnya perlahan. "K-kak Dav-? ".
"Martha sudah pergi ke syurga Syila,tepat saat Alvim juga pergi bersama penyakit yang sama. "
Deg! Bagai tersambar petir disiang bolong, nafasku pun berhenti dan tertahan tak dapat menelan ludah. Dadaku sesak rasanya seperti ingin meledak. "Me me-apa? "
"Martha sudah meninggal. " Seketika aku menunduk meremas benda pemeberian gadis itu dari David. Aku pun mulai terisak. "Hiks, hiks, ga mungkin. Kakak lagi bohongi Syila ya?!" Lelaki itu menggeleng. "Buat apa? "
"Ga mungkin. Huaaa! "
Rama yang sebenarnya bersembunyi di dapur pun berlelang keluar dsri banguan itu meninggalkan mereka berdua. David beranjak ke tempat Syila dan memeluknya. Gadis itu pun tak menolak mereka sama sama dibalut kesediham. Setelah mereka puas menangis bersama, David melepas dekapannya dan mengusap air matamya lalu mengusap air mata Syila. "Thanks sudah menangisinya itu bukti bahwa kamu adalah teman yang tulus untukmya. Kamu bilang ingin menjenguknya bukan? Ayo sekarang kita temui dia! "
"Sahabatnya bukan hanya Syila. " David menatap lekat gadis itu. "Boleh gue ajak mereka juga? "
Tiba-tiba, Rama datang lalu menyela. "Mereka udah disini! " Membuat dua sejoli yang baru terisak bersama itu menoleh. "Syilaab!! " David menyingkir sembari tersenyum menyusul ke te mpat rama, swfamgkam Renita dan Syria sudah memeluk Syila bersama Dzith dibelakang mereka.
"Gue ga nyangka dia.. Huaaa! " Syila mengusap punggung Renita.
Mereka pun diajak David pergo ke tempat peristorahan Martha. Mereka memasuki kamar bernuansa putih merah muda itu. Ada satu guci putih bertuliskan Marthalia Savenders Chen.
"Terimakasih ya sudah dtangymenemuinya. "Ucap ibunya. "Ini adalah buku yang dibuat Martha tentang kalian dan pesan didalamnya, kaliam boleh bawa pulanh dan baca bersama-sama. "
__ADS_1