
"Ini gara-gara elo yang boong soal Syila pacar elo! "
Mikha terkekeh kecut. "Bukannya itu karena elo yang sembarangan cium anak orang! " Disisi lain Rama sudah pusing karena tak dapat menghentikan mereka berdua. Saat Yudha akan memukul Mikha gerakannya ditahan oleh seseorang. Satu kelas itu menjadi ricuh. "E-elo? " Alvin menarik dan memutar tubuh kedua lelaki itu lalu merangkul mereka. "Daripada kalian berantem disini, mending ikut gue." Dengan suara dinginnya, Alvin memiting dengan embel-embel rangkulan membawa keduanya.
"Tu-tunggu! " Rama mengikuti mereka dari belakang. Sedikit sesak, mereka harus menahan sesak dari rangkulan itu. Alvin membawa mereka ke atap sekolah.
BUKK! BuKK!
Sesampainya disana Alvin langsung memukul kedua wajah kedua lelaki itu hingga tersungkur ke tanah membuat Rama yang baru datang terkesiap.
"Kalian berdua anggep adik gue apa hah?!! " Teriak Alvin.
"Alvin? " Mereka lalu membeku setelah mendengar sebuah suara yang mereka kenal. Alvin menoleh ke belakang diikuti yang lain. "Syila, ngapain kamu disini?! " Tanyanya ketus membuat gadia itu terbelalak lalu menatap sang kakak. Gue gak salah dengerkan? Dia manggil nama gue? Sekali lagi Syila menatap sang kakak yang beraut wajah tak terartikan. Dia marah.
"Kakak tanya, kenapa kamu disini?! Ini masih jam pelajaran! " Semua merasakan hawa dingin disekitar mereka. "Bu Ani lagi rapat jadi istirahatnya dicepetin, dituker! Lagian emang gue suka makan disini kok, kenapa masalah?!" Syila yang gemetaran memberanikan diri dengan sang kakak yang masih berkspresi sama. "Gue serius suka sama adik elo! Gue bukan Mikha yang cuma main-main! " Yudha bangkit, dan rencananya itu berhasil membuat Alvin memutar badan kembali. Disisi lain, Mikha juga berusaha bangkit tersenyum kecut sembari memegang sudut bibirnya yang terluka. "Tapi adik gue gak suka sama elo, iyakan? " Syila tersadar bahwa sang kakak menoleh padanya. Rama mendekati gadis itu menyikunya.
"Iya. "
"See! "
"Tapi. " Semua menoleh pada gadis itu. "Ngak seharusnya pake kekerasan. " Syila mendekati Alvin dan merebut tangannya yang lebab akibat memukul kedua lelaki itu.
"Bahkan elo nga lagi manggil gue sayang. " Suara Syila merendah, dan menyadarkan Alvin bahwa betapa gemetaran mnya tubuh sang adik. "Syi-la. "
"Syil! " Yudha menyela. "Gue serius, gue suka sama elo! Elo maukan jadi pacar gue?" Hah! Rama membuang nafas kasar.
Syila melirik kedua lelaki didepannya itu. "Gue ga masalah. "Mikha yang menyadari tatapan itu. "Gue bilang itu, cuma agar elo ga malu karena gue bopong kemarin. "
"Jadi, elo mainin adik gu-"
"
Alvin! " Syila menahan Alvin. "Gue ngerti. Elo cuma mau nolong gue kan? " Mikha melirik Syila. "Tapi caranya salah! Dan itu nyebelin!" Mikha memejamkan matanya. "Dan buat elo, gue gak akan nerima elo sebelum elo membuat gue sendiri yang jatuh cinta sama elo!" Semua terpaku setelah mendengar perkataan dari bibir gadis itu termasuk Alvin yang terus menatapnya.
Syila merangkul tangan Alvin. "Kakak, masih OSIS kan? Lebih baik kalian bal-Kak? " Syila mengerutkan dahinya ketika merasakan keringat dingin Alvin. "Elo kenapa? " Tanya Yudha. Wajah Alvin tiba-tiba menjadi pucat. Dia memegang dada bawahnya seperti menahan sakit.
"Kakak?! " Tanpa Alvin sadari rasa sakit itu membuatnya kehilangan kesadaran.
Bruk!
Tubuh Alvin tersungkur bersama Syila yang menindih tubuhnya yang sudah tak sadarkan diri.
"Alvin! "
"Gu-gue akan panggil bantuan! " Ucap Rama.
"Ngak ada waktu! Kita yang harus bawa dia sekarang! " Cegat Mikha. Lelaki itu dengan sigap mendorong lembut tubuh Syila untuk menjauh dan segera mengambil tubuh Alvin. "Cepet bantu gue angkat dia! " Dengan sigap Rama dan Yudha pun ikut menngkat tubuh Alvin. "Kita bawa ke UKS!"
UKS..
__ADS_1
"Ya ampun! "
"Miss, jangan tanya dulu! Dia pingsan tiba-tiba!" tegas Yudha. "Ok, cepet baringkan dia! " Syila yang berhasil mmenyusul langsung masuk kedalam dan melihat wanita itu sedang memeriksa Alvin.
keadaan di luar masih aman, hanya beberapa siswa yang memang sedang berada diluar ingin mencari tahu kenapa sang ketua OSIS mereka.
"Lebih baik, kalian kembali ke kelas. Kamu juga, Syila! Nanti jika dia sudah bangun saya akan panggil kamu. " Syila pun menuruti. Begitupun yang lain.
Makanan yang seharusnya dimakan pun tak dia makan, tetapi dia berusaha fokus pada pelajarannya. Hingga jam pulang tiba.
"Syil! "
"Sorry Re, gue duluan!" Renita mengernyitkan dahinya. Syila cepat-cepat masuk ke ruang UKS namun dia tidak mendapati Alvin disana.
"Cari Alvin? "
"Miss. "
"Dia udah kembali ke kelasnya. " Sherlita menjeda bicaranya. "Dia yang suruh saya ga kasih tau kamu ketika sadar, katanya ga mau ganggu jam pelajaranmu. Dia hanya kelelahan dan asam lambungnya naik. Kakakmu itu mungkin telat makan belakangan ini karena kesibukannya sebagai kelas 12 dan ketua OSIS. " Jelas Sherlita.
"Terimakasih, miss. Kalau gitu saya pamit. " Setelah kepergian Syila, wanita itu menutup pintu UKS dan duduk di kursinya. "Hah! " Dia membuang nafas pendek.
Syila buru-buru ke kelas Alvin untuk mecari keberadaannya. "Elo adik Alvin kan? " Seorang gadis yang lebih tua menanyainya. Syila mengannguk. "Cari alvjn? " Syila kembali mengangguk. "Tapi, dia udah keluar. "
"Kemana? ".
"Ngak tau, coba cari ke ruang OSIS aja. "
Dengan cepat dia menuju keriangan itu, namun pecariannya nihil. Dia pun memutuskan untuk pulang ke rumah Alvin dengan ojek online.
***
"Assalamualaikum! "
"Waalaikummussalam. Ada apa, nak? "
"Nenek udah pulang? Kaoan? "
"Tadi oagi. Cari Alvin? "
"dimana dia? "
"Dikamarnya, katanya tadi kepalanya pusing waktu pulang sekolah. Jadi, nenek suruh dia istirahat. " Syila pun segera menyusul dan mendobrak kamar Alvin. "Nek, kan Alcin bilang jangan ganggu! "
"Ini gue. "
"Sayang?"
"Kenapa? Nga seneng gue datang!" Alvin menelan ludahnya. Habis gue kalau dia udah ngambek.
__ADS_1
"Bu-bukan gitu sayang, tapi nenek suka maksa aku makan obat. jadi.. "
"Emang harus kan! " Syila merebut obat itu tanpa tau itu obat apa. dari atas meja.
"Tapikan aku belum makan. " Syila menatap nyalang sang kakak. "Udah tahu punya maag, susah makan! " Alvin mengerjapkan kedua matanya, lalu terkekeh. "Malah ketawa! "
Alvin mencubit gemas pipi syila. "Aduduh sayangku so sweet banget sih ngekhawatirin akunya! "
"Ish diem! " Syila menepis tangan Alvin. "Aku mau makan tapi disuapin. "
"Manja! "
"Biarin! Manja juga sama adik sendiri! " Syila bangkit dan keluar kamar Alvin. "Kemana? "
"Katanya mau disuapin! Ya, mau ngambilin makannya lah! " Ketus Syila. Alvin menyengir rapi. "Thank u, honey! " Syila bergidik geli membuat Alvin terkekeh. Syila pun keluar dan menuruni anak tangga.
"Maaf. " Lirih Alvin dikala kesendiriannya.
"Syila? "
"Nenek, katanya Alvin pengen makan. Adakan makannya. " Maria tersenyum kecil. "Pasti minta disuapi? " Syila menangguk ketus. "Ini, nenek udah bikinin bubur labu. Tolong suapi ya! "
"Nenek ngegodain Syila ya?".
"Ngak, kata siapa? " Syila menghela nafas. "Yaudah, Syila ke kamar kak alvin lagi mau nyuapin bayi gede nyebelin! " Setelah kepergian cucunya, Maria melepaskan kekehan yang dia tahan sejak tadi. "Heheheh, ada-ada saja anak-anak itu." Namun tawa itu menjadi lamunan nanarnya. "Semoga kalian selalu bersama, nak. "
Syila kembali ke kamr itu, dia melihat Alvin yang sedang terbaring sembari melamun. "Alvin." Alvin menoleh kesampingnya. "Wih udah siap nyuapin aku ya sayang? " Alvin bangkit dan menye derkan punggungnya ke bantal yang telah terduduk ke tembok.
"Aaa! " Alvin membuka mulutnya lebar dan Syila menyuapinya hingga bubur itu habis. "Kalau disuapin kamu makananya jadi enak! "
"Alesan!"
"Beneran! Tuh buktinya aku makan ampe habis tanpa paksaan. "
"Nih obatnya. " Setelah meminum obat Alvin menatap kembali wajah sang adik. "Makasih."
"Ya. "
"Kayanya aku ngantuk."
"Yaudah, tidur aja. Gue bakalan keluar kok. "
"Boleh peluk dulu g-"
"Ngak! "
"Judes banget! Plisss mau ya! " Dengan malas gadia itu menuruti krmauan sang kakak. Alvin memeluk dirinya hangat sedekali mengecup ujung kepalanya. Ada apa ya? kok gue ngerasa ada yang nga beres. batin Syila.
"Selamat istirahat. " Alvin menganggukinya, Syila pun turun dan menemui sang nenek. "Sini, biar nenek yang cuci piring." Syila menyodorkan wadah yang dia bawa. "Gimana Alvin? "
__ADS_1
"Dia tidur."