Sweet Heart Boys

Sweet Heart Boys
23 Masalah dz twins yang berbeda


__ADS_3

"Untuk tugas minggu depan adalah tugas perkelompok. Kalian harus membuat makanan dengan bahan ragi. Satu kelompok terdiri atas dua orang.. " Sulistya membagi kelompok siswanya yang terdiri dari dua orang disetiap kelompok, dia membagikan semuanya hingga tak bersisa. "Yah, kita berpisah! " Keluh Syria. "Enak banget Dzes, elo sekelompok sama Renita! " Kenzi menyiku sahabatnya itu. "Emang kenapa?" Kenzi yang mendengar itu langsung berdecak. "Ck, dasar gak peka! " Adzestha mengerutkan dahinya, dia berkemulat dalam otaknya dan akhirnya matanya membulat. "Elo.. " Bisiknya membuat Kenzi bergidik. "Apa sih, geli! "


"Elo suka sama Renita?" Kenzi mengerjapkan kedua matanya dengan mulut yang menganga. Kenzi membuang nafas pendek dan tersenyum simpul. "Maunya sih gitu, tapi.." Lelaki itu melirik ke sampingnya. "Mau ditolak apa enggak, lakuin aja bro! " Bisik Adzestha menepuk bahu sahabatnya. "Cih yang udah pengalaman. " Goda Kenzi. "Sst! "


"Sampai bertemu minggu deoan! " Sulistya keluar bersamaan dengan brbunyinya bel istirahat. "Hei, kalian malah sibuk mesra mesraan!" Seru Dzith. "Untung aja bu Tya baik! " Gadis itu melipat kedua tangannya dibawah dadanya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Aku ga sekelompok sama kalian! " Keluh Syria lagi. "Gapapa, Ya, belajar! " Kenzi menepuk pundak gadis gempal itu. Gadis itu membuang nafas kasar. "Aku takut gabisa.."


"Kalau elo pesimis terus, elo gakkan bisa. Cobalah sekali kali, biar terbiasa!" Sela Dzith yang diangguki Kenzi. "Keliatan Astrid baik kok. " Celetuk Renita. Disisi lain seorang gadis bernama Astrid itu yang sedang berkumpul bersama teman-temannya terciduk melirik mereka oleh Adzestha. "Kalau ada kesulitan, kita siap bantu!" Seru Lelaki itu. "Zezes, terbaik!" Adzestha tersenyum simpul.


Hari telah menyore waktunya mereka pulang, karena Syila pergi bersama Martha dia memiliki kesempatan untuk pergibdengan Adzestha untuk mendiskusikan tugas mereka. "Ga apa-apa Dzith ditinggal? " Tanya Renita. "Dia juga bukan anak kecil lagi. " Renita membuang nafas pendek, Adzestha memang selalu datar padahal mereka sudah kenal selama satu semester, tidak seperti ke yang lainnya. Mungkin karena mereka sudah berteman sejak kecil, kecuali Renita dengan mereka. "Dia sekelompok sama Sasha kan? Apa ga masalah ya, Sasha itukan.. "


"Ngak akan! "


"Elo yakin banget! "


"Dia itu bukan tipe orang yang bisa ditindas oleh siapapun. "


***


"Ok, gue yang kerjain tapi gue udah merekam semuanya dan ini akan jadi bukti kenapa elo gak ada di daftar tugas gue! " Dzith membenarkan kacamatanya, mengangkat sebuah alat perekam dan handphone miliknya. Gadis didepannya dibuat ternganga dengan apa yang dilakukan gadis berkacamata itu. "See you. " Dzith dengan lugas pergi meninggalkan Sasha seorang diri. "Sialan! Gue harus cari cara buat merebutnya!"


Renita turun dari motor milik Adzestha di depan sebuah rumah sederhana yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. "Gue gak nyangka rumah kaliam disini. "


"Memang kenapa? " Adzestha merapikan rambutnya yang acak-acakan akibat helm. "Rumah gue di komplek sebelah. " Dengan sigap Adzestha menoleh ke Renita. "Elo tinggal di komplek C? " Renita mengangguk. "Deket banget dong?! " Renita memanggut lagi. "Gue ga nyangka. "


"Gue juga. " Renita tersenyum kecil. "Ah, ayo masuk! " Renita mengikuti lelaki itu dari belakang. "Assalamualaikum!" Ucap mereka bersamaan. "Waalaikummussalam, eh kakak pulang sama siapa? adik mana? " Tanya seorang wanita paruh baya yang sangat cantik dengan kulit yang begitu putih. "Ini Renita temen sekelas kami. Adik ada tugas kelompok sama temen juga, Kakak kebagian sama dia. " Jelas lelaki itu menunjuk ke belakangnya. Renita menyapa dengan senyuman. "Halo, tante. "


"Halo, Renita. Kamu cantik sekali. " Sahut Lidya melirik usil putranya yang dibalas delikan malas dari Adzestha. "Yasudah, masuk, masuk, anggap aja rumah sendiri!" Entah mengapa sang ibu menjadi begitu sumringah saat ini, Adzestha hanya geleng-geleng kecil melihat ibunya yang begitu excited dengan kehadiran gadis itu. Lidya mengajak Renita masuk dan menyuruhnya duduk lalu langsung membuatkan makanan dan minuman yang beragam. "Gausah repot-repot tante, ini sudah banyak. "


"Ga papa, mumpung ada! Kan kalian bakalan ngerjain tugas pasti lama dan laper! "


"Makasih banyak, tante. Maaf jadi merepotkan. " Lidya menggeleng. "Ngak kok, santai aja. Yaudah tante tinggal dulu ya. " Renita mengangguk. Lidya menghampiri putranya yang baru keluar dari kamarnya. "Biasanya juga ga pernah gitu sama kakak dan adik! " Protes Adzestha. "Namanya juga tamu, harus dijamu dengan baik! Udah sana jangan buat dia nunggu lama di ruang tamu sendirian, cepet kerjain tugasnya hush! "


"Ih ngusir!"


"Apaan sih? Udah ah, mama belum ashar, mau ke kamar dulu!" Sepeninggal sang jbu, Adzestha beringsut mendatangi Renita yang duduk diruang tamu sambil menyicipi hidangan dimeja itu. "Enak? " Mendengar suara itu, Renita langsung menghentikan acara makannya. Dia terkekeh kecil. "Hehe, iya. maaf makan duluan, laper soalnya. "


"Santai aja. " Lelaki itu duduk disofa yang berhadapan dengannya. "Jadi, kita mau masak apa? " Tanya Adzestha, Renita mengangkat bola matanya. "Gue bingung, soalnya kalau tape kayaknya ga anti mainstream deh! Pasti banyak yang bikin. "


"Terus? " Renita menggeleng. "Masih mikir. Ya elo juga mikir dong!"


"Gue cowok, ga bisa masak! "


"Chef banyak cowok. "


"Gue bukan chef yang terkenal itu! " Adzestha mengambil satu keping biskuit gabin yang ada di meja. "Emang yang bilang elo chef siapa? " Ketus Renita. Gadis itu mulai tidak nyaman karena lekaki didepannya terus menatapnya tanpa berkedip. "Kenapa?! " Tanya gadis itu ketus. "Elo udah berani ya. " Renita mengerutkan dahinya. "Berani?"


"Kak, mami telepon adik kok ga diangkat ya?!" Tiba-tiba Lidya kembali diantara mereka Adzestha membunag nafas. "Mungkin masih kerja kelompok mi, gausah khawatir dia udah gede! " Lidya mendengus. "Kok belum ngerjain tugasnya? "


Tiba-tiba tersirat ide dari gadis itu. "Tante."


"Ya? "


"Menurut tante, uhmm tugas kita kan bikin makanan dsri ragi tapi kalau tape kan udah biasa, nah menurut tante yang lebih bagus dsri tape tapi mudah membuatnya apa ya?" Lydia tersenyum simpul mendengarkan penjelasan gadis itu. Kayaknya dia gadis baik. "Tante? " Lidya bangun dari lamunannya. "Ah, iya. Gimana kalau martabak manis, atau roti kan pake ragi."


"Ide bagus tuh, gimana Re?" Sahut Adzestha. "Atau bikin tape singkong terus tapenya dibuat bolu tape, enak lhoo! " Sambung Lydia. "Uhmm, kayaknya kita bikin dua menu. " Celetus Renita. "Ehh! Dua?! Satu aja belum kelar!" protes Adzestha. "Aw, mi sakit! " Lydia mencubit lengan putranya. "Maaf ya Re, dia itu emang pemalas soal masak memasak! alasannya karena cowok ga masak, padahal kan ga bener ya! "


"Iya, tante!"


"Tuhh kan! "


"Gue dibully!" Adzestha mendegus kesal, membuat Renita dan Lydia terkekeh.

__ADS_1


"Tante bisa ajarin Renita buat bolu tape nanti? Renita bakal bikin tapenya nanti dirumah, kebetulan ada singkong kiriman dari uwa di kampung."


"Uhmm, boleh. Martabaknya juga nanti tante ajari sama roti."


"Kalau martabak sama roti udah bisa kok. Udah pernah bikin, kebetulan Bunda sama abi jualan roti goreng handmade. " Lydia dan Adseztha terbelalak. lWahh, boleh tuh tante order! "."Boleh banget, tante! " Renita tersenyum lebar.


"Malah promosi. "


"Kakak, ga boleh gitu! "


"Terus aja velain dia. "


"Berhenti tante, dia udah pundung. " Renita terkekh yang dibalas delikan malas oleh lelaki itu, Lydia pun ikut terkekeh. "Udah biasa. "


****


"Nanti gue videoin kok masak tapenya, nanti gue suruh adik gue yang tinggi itu untuk minjem tangannya. "


"Buat apa?


"Buat membuktikan kalau tangan elu ada kembarannya. Udah ah, gue balik dulu! Salam buat nyokap elu, tadi dia pergi keluar kan? "


"Iyq, jemput bokap soalnya udah ga kuat bawa mobil. " Renita mengangguk. "Sampai jumpa, lusa. "


"Kok lusa? "


"Kan besok tanggal merah." ."Oiya. Yaudah Hati-hati. " Seperginya Renita, berselang lima menit sebuah ojek berhenti didepan sebiah rumah, Dzith turun dari ojek itu membawa dua kantung belanjaan dikedua tangannya. "Assalamualaikum."


"Waalaikummussalam. Banyak banget lu belanja, de! "


"Gue mau bikin donat kentang."


"Lah itu? "


Buat gue ada? "


"Ngak. " Adzestha menghela nafas panjang.


***


Hari demi hari pun terlewati, Kelompok Renita dan Adzestha telah berhasil membuat bolu tape untuk dibawa ke sekolah. "Nah terus ini martabaknya? "


"Buat dimakan, iyakan? " Sahut Dzith. "Yup! Oiya, ini peseban nyokap lo roti goreng. "


"Jadi berapa? " Tanya Adzestha. "Kemarin tante Lydia udah bayar kok, dia pesen 50ribu buat acara arisan nanti malam katanya. "


Adzestha manggut-manggut. "Kapan makannya? " Dzith menunjuk martabak yang tengah tersaji diantara mereka. "Sekarang, sisain bonyok kalian ya! " Si kembar pun mengangguk.


Hari presentasi tiba, Syria bersama Astrid membuat cakwe dengan saus thailand dengan baik. "Kalian hebat. " bisik Renita. "Aku gak nyangka Astrid baik dan dia juga jago masak. Rumahnya chinese vibes banget, keren! "


Selanjutnya ada Kenzi dan Edo yang membuat es doger dengan membuat tape sebagai bahan utama dari ragi dan juga roti sendiri, lalu agar-agar, es sirupnya dan ketannya pun sendiri. Mereka bagaikan tukang es doger pro didepan sana. Nampak Sulistya menikmati jamuan mereka, para siswa pun kebagian es doger masing-masing satu cup. "Waah enak! " Seru Renita dan Syria.


Banyak murid juga yang membuat roti, donat, martabak, tape, tape ketan, bakwan dan lain-lain. Termasuk Renita-Adzestha yang mempresentasikan Bolu tape mereka yang kemudian dipersembahkan kepada sang guru. "Makasih ya, ibu mau bawa pulang kerumah! "


"Boleh bu. "


"Silahkan, bu. "


Hingga sampai ke kelompok terakhir. Dzith membawa donat buatanya kw depan. "Bu, saya hanya sendiri, Sasha sama sekali nga bantuin! "


"Bohong, bu! Dia emang ga mau sekelompok sama saya! "


Flashback off

__ADS_1


"Gue gak mau tahu, elo yang harus kerjain semuanya dan bilang kalau semua ide gue, dan elo cuma ngikutin aja! " Sasha melipat kedua tangannya menelisik Dzith dari atas sampai bawah. "Ok, Gue udah rekam semuanya!" Dzith mengangkat alat perekam yang mirip mp3 player itu. Sasha terbelalak dan langsung merebut benda itu lalu menghancurkannya. Dia tertawa puas. "Hahahah, sekarang udah gak ada! "


"Neng, pesen ojol kan atas nama Daneva. " Dzith membetulkan kacamatanya. Kedatangan sang ojol dan juga tempat yang menjadi ramai membuat Sasha gelagapan. "Iya. " Dzith naik ke motor itu. "Elo mau kemana? Kita harus kerjain tugas! " Dzith menoleh ke gadis itu. " Bukannya gue yang kerjain dan elo santai? " Sasha menyunggingkan bibirnya. "Good! " Begitupun Dzith. "Dan, rekaman itu salinannya di hp gue. Pak ayo jalan. " Motor melesit pergi meninggalkan Sasha yang masih termangu. "Sialan! Gue harus hilangin barang bukti itu."


Sore harinya Dzith pulang dengan belanjaannya, awalnya dia tak ingin menceritakan namun entah kembarannya itu paranormal atau esper yang dapat mengetahuinya. "auhm kau benar. " Jawab Dzith singkat. "Pasti ini bagian dari ceritamu kan? " Dzith tak menjawab.


Disisi lain..


"Iya beb, aku pengen dapetin itubdari dia. "


(ok, akan aku lakukan)


Telepon dari seberang sana telah terputus. Sasha tersrnyum smirk. Keesokan harinya Dzith yang lupa akan membawa ponselnya ketika pulang, RALAT! bukan lupa tetapi memang sengaja melupakan. Ponsel itu berada dikolong mejanya. Seseorang masuk ke dalam ruangan kosong itu dan mengambilnya. "Ini. " Dia mmberikannya pada orang itu, dan mereka pun tertawa puas. "Hahaha. kalau begini dia ga akan bisa ngaduin gue dan gue yang akan memutar balikannya! "


Flashback on


"Diztha, kenapa kamu maju sendiri dan tidak mengajak Sasha? " Tanya wanita setengah baya itu. Sasha buru-buru berdiri menyusul. "Maaf bu, Sasha tadi ngelamun. " Gadis itu cekikikan. Sulistya menghrla nafas pendek. Dzith membetulkan kacamatanya. "Bu, saya hanya sendiri di kelompok ini! " seringai itu membasahi lengkung bibirnya. lLho kenapa, Diztha? "


"Karena selama mengerjakannya, dia tidak ada sangkut pautmya. Artinya dia tidak mengerjakan bersama daya dan saya hanya mengerjakan semuanya sendirian! " Semua terlerangah akan penjelasan gadis berkacamata itu. "Ngak bu! " Sasha mengelak. "Gue kan cuma beberapa kali izin! Bu, sasha izin beberapa kali karena ada urusan dan juga sakit! " Dizth tersenyum pahit. "Dzitha, kamu demgarkan? Sudah kalian berdua ya, dan nanti saling meminta maaf. " Sasha merasa menang dan Dith hanya tersenyum gentir. Dizth pun menurut dan dia mulai mempresentasikan makanannya bersama sasha. "Kami membuat donat, ini video cara memasaknya. " Semua terbelalak saat sebuah video yang diputar bukanlah video untuk presentasi melainkan sebuah video yang memeprlihatkan semua kebusukan gadis disebelah Dizth itu. Sulistya menatap tajam Sasha yang sudah berkeringat dingin ditambah bisikan bisikan tetangga dalam kelas. Sasha menunduk lemas tak bereaksi. Kenapa bisa? kan gue.. Sasha meliril Dizth yang tanpa ekspresi. Dia baru menyadari bahwa kacamata yang dipakai gadis itu berbeda. Sialan!


Video itu telah berhenti dan semua oramg masih termangu sampai Sulistya memulai pembicaraan. "Diztha, apakah kamu mau sendiri atau masih mau menerima Sasha dikelompokmu dengan syarat dia hanya akan mendapatkan setengah nilai darimu dan hanya dia yang presentasi kamu duduk saja didepan situ. " Sulistya menunjuk ke sebuah kursi yang berada disebelahnya. "Jika itu ibu, anda akan memilih yang mana? Karena mungkin pilihan saya tidak sesuai keinginan anda. "


"Saya sih terserah kamu, tapi jika disuruh memilih saya akan memilih nomor satu." Dizth tersenyum sinis. lKalau begitu saya pilih nomor dua. " Jawaban itu membuat seisi ruangan terperangah. Sulistya terseyum kecil. "Tapi.. "


"Tapi apa, diztha? "


"Apakah hukumannya seringan itu untuknya dan temannya? Mungkin korbannya bukan saya saja!" Sasha mendengus setelah lirikan tajam itu, dia benar-benar terpojok!


"Itu urusan saya dan para guru, memang bukan ini hukumannya!" Tegas Sulistya. "Kalau begitu, Sasha.. "


"Iya bu. " Jawab Sahda lirih. "Kamu sudah mendengarnya bukan? Segera lakukan! Diztja, kamu duduk saja disini! "


Setelah semua selesai dan jam pelajaran itu berakhir. "Sasha ikut saya ke kantor guru, Distha kamu juga bawa video itu dan perlihatkanlah di ruang kepala sekolah.Ikut saya! " Mereka pun mengikuti wanita itu.


***


"Syria, elo mau kemana? " Tanya Kenzi. "Aku kebelet dadah! "


Ehh? "


Didepan pintu kelas. "Kamu mau ke toilet? " Sirya menganggukan kepalanya. "Ikut. "


"Gue mau ke kantin dulu, elo berdua ngikut kagak? " Tanya kenzi ke Renita dan Adzestha. Keduanya kompak menggeleng. "Bekel kita masih ada! " Tegas Adzestha. "Suruh siapa banyak bikin! Udahlah, byebye. " Kenzi tersenyum lebar. "Selamat berkencan. " bisik kenzi ke Adzestha yang mendapatkan balasan menohok dari tatapannya tajamnya membuat lelaki itu terbahak-bahak. "Udah ah sakiy perut! "


"Gak ada yang nyuruh ketawa! " Setelah Kenxi pergi hanya tinggalah sepasang itu dalam kelas menikmati bekal mereka. Ya, karena mereka terlalu bersemangat membuat makanan-makanan itu hasilnya ibu mereka membekalkannya pada mereka. lhah. " Keduanya menghela nafas. Tiba-tiba terngiang perkataan kenxi tado, namun lelaki itu dengan cepat mengelaknya. "Gue gak nyangka dzith sehebat itu. " Cetus Renita yang membangunkan lamunannya. "Gue sih aneh."


"Aneh? Keren tau, kayak agen di film film!" Seruan itu membuat Adzestha tergelak membuat gadis itu mengernyitkan dahinya. "Ternyata elo suka yang begituan. "


"Lah, emang elo gasuka? Biasanya kan cowok sukanya film film yang gitu! " Adzestha menggelengkan kepalanya. "Gue gak suka nonton film, gue-"


"Sukanya membaca. " Renita menyela. "Iyakan?" Renita meliriknya. Dia tersenyum simpul dan menatap gadis itu. "Benar! " Senyuman Adzestha membuat Renita terbelalak karena ini pertama kalinya lelaki itu melakukannya. "Manis. " gumam gadis itu. "Uhm, elo ngomong apa?! " Renita yang baru sadar langsung gelagapan. "Gu-gue gak bilang apa-apa! " Renita memalingkan wajahnya dan memakan kembali bekalnya.


"Re.. "


"Uhm? "


"Jutek amat!"


Renita memutar bola matanya. "Kenapa?"


"Pacaran yuk!"


"EEEEHHHH?! "

__ADS_1


__ADS_2