Sweet Heart Boys

Sweet Heart Boys
49. Hormon (18+)


__ADS_3

"Kamu! Syila kan?"


"ai-iya. Maaf ibu siapa ya?" Tiba-tiba dia menarik Syila dengan paksa. "Ikut saya! " Dia membawa Syila ke samping gedung itu tepat di depan sebuah mobil berwarna silver. "Kamu Syila kan? " Gadis itu mengangguk mengiyakan. Belum sempat bertanya, wanita itu sudah menodongnya lagi dengan kata-kata. "Tolong jauhi anaka saya, jauhi dan tinggalkan Yudha. Dia sudah memiliki jodoh yang cocok dengannya! " Tegas dia memberitahu. Itu mengetuk keras hati gadis itu, karena dia tahu akan itu. Syila memakasakan diri dengan senyuman palsunya. "Maaf, tapi tolong bilang ke Yudha bahwa dia harus memutuskan saya, saya sudah mau putus meski saya juga tidak tahu ini bisa dikatakan pacaran atau tidak. Ini pertama kali buat saya dan mungkin berawal dari sebuah jebakan!"


Wanita itu mengerutkan dahi menautkan kedua alisnya. "Maksid kamu? "


"Yudha.. " Syila menceritakan awal dan bagaimana caranya dia dan Yudha yang bisa dianggap sebagai pasangan kekasih hingga berujung menjadi kekasih dunia nyata.


Tak ada jawaban dari wanita setengah baya yang mungkin telah memasuki usia kepala lima. "Pokoknya kamu harus menjauhi dia!" Dengan akhir jawaban itu. Ibu dari lelaki bernama Yudha itu pun pergi memasuki mobilnya dan meninggalkan gadis itu sendiri di pinggir jalan, namun..


Bruk!


"Akh! " Keduanya terpekik. "Sorry. " Dan keduanya dengan kompak berkata. "Kamu, adik kelas jeremy bukan? " Pertanyaan itu menyadarkan Syila. Dia menengadahkan wajahnya menatap gadis yang terlihat lebih tua darinya itu dan yang pasti lebih tinggi darinya, makanya Syila sesikit menaikan dagunya.


"Iya."


Gadis itu tersenyum tanpa mempertunjukkan barisan putihnya. "Sorry ya, gue lagi buru-buru."


"Gak apa-apa, sorry juga ga liat kanan kiri. "


"Ya. "


"Ngomong-omong, mba tunangan kak jeremy yang pernah datang ke rumah sakit juga kan?"


Dia mengangguk. "Ternyata kamu masih inget gue. Nama gue jessica. "


"Saya Syila. Akh, sepertinya kak jeremy masih kumpul sama yang lain, mqu saya an.. "


"Jeca!"


"Nah, orqngnya datang. " Bisik Syila ke Jessica yang diangguki gadis itu.


"Loh syila? Elo belum pulang? Tadi katanya buru-bur-Aw!" Jessica menyentil bibir lelaki itu dan langsung mendapat protesan dari Jeremy. Lelaki itu melirik keki pada gadisnya dan dibalas lirikan tajam. Jessica menunjukkan bahasa isyarat dari matanya dan mereka pun tertuju ke gadis kecil disebelah mereka.

__ADS_1


"Syila, mau pulang bareng kita ga? "


"Eh?? " Kompak jeremy dan Syila. "Fyuh. " Jessica menghela nafas. "udah yu, gue anter!" Tanpa bisa berkata, Syila akhirnya mengikuti tarikan Jessica ke dalam mobil milik jeremy yang dia bawa untuk menjemput lelaki itu atas suruhan sang bapak mertua tadi.


"Tu-tunggu! " Jeremy menyusul kedua gadis itu kedalam mobil. Terlihat Jessica yang sudah duduk di kursi belakang bersama Syila.


"Kok dibelakang?" Tanya Jeremy. "Ya jelas, elo yang harus bawa jeje.. Hush, udah sana cepetan! " Jessica mengibaskan tangan kanannya seakan mengusir, ralat memang mengusir lelaki petakilan itu dan menyuruhnya untuk duduk dikursi kemudi dan segera menjalankan mesin berkaki empat itu.


Dengan misuh-misuh tak jelas. Berkomat kamit ala-ala mbah dukun yang sedang kesal, Jeremy memasuki bangku kemudi itu sembari menggerutu lirih, takut takut terdengar oleh Jessica. Jika sampai ke telinga gadis itu, yang pasti akan ada serangan muatai darinya.


"Emang gue supir napa?" Gerutunya lirih.


"Kok malah ngelamun? Cepet jalan! " Suruh Jessica. Jeremy melirik lewat spion yang menggantung dikepala dashbor mobil ke arah dua gadis yang sedang asyik berbisik itu. Tak mau lama lagi karena tidak ingin wajahnya jontor, Jeremy pun menyalakan mobil itu.


"Mau anter Syila kemana? " Tanyanya ambigu membuat Jessica geram. "Yah kerumahnyalah!" Tanpa spasi, koma, jeda, bernafas, gadis yang akan meenjadi pasangan hidupnya itu menjawab dengan cerocosan yang pedas menawan.


"Ya, rumahnya alamatnya dimana? Daku kan tidak mengetahui ilham tersebut!"


"Ck, lebay! " Alhasil, lelaki itu malah mendapatkan sindiran pedas yamg nyata dari kedua gadis dibelakangnya. Jika Jessica sudah dia maklumi karena hormon kehamilannya yang membuat gadis itu menjadi sering marah-marah, tetapi dia masih berfikir atas Syila yang ikut-ikutan geram padanya. Apa jangan-jangan karena dekat dengan Jessica gadis itu jadi tertular sablengnya?


"Itu sih ke kamu sayang, ke aku ngak tuh. "


"Kamu aja yang budek! "


"Astagaa. " Entah mau apa lagi, Jeremy sudah menyerah melawan Jessica. 'Nak, belum lahir udah bikin daddy pusing.' Gerutunya dalam hati.


"Jangan nyalahin bayi kita dong! " Seketika mata kecil. Jeremy berubah menjadi monster yang dilawan oleh ultraman. Mengapa gadis itu tahu? Turunan paranormal apa?!


Tak ingin ikut pusing, Syila yang berada disisi lain dunia mereka akhirnya ikut nimbrung juga. Dia mengarahkan Jeremy ke alamat rumahnya dan sampailah mereka didepan rumah Syila.


"Jadi ini rumah elo?"


Syila mengangguk. "Mau mampir dulu? "

__ADS_1


"Gausah, ayahnya Jeremy suruh kita pulang cepat. " Jawab Jessica. "Seperti yang dia bilang. " Sambung Jeremy.


"Kalau gitu thanks ya udah anter, hati-hati dijalan. "


****


Takh!


Tepukan pelan yang menampar meja itu memperlihatkan beberla lembar foto dan kertas-kertas yang menjadi berserakan diatas meja.


"Apa ini, mik? "


"Kenapa ngak elo liat pake mata sendiri." Kaina mengerutkan dahinya. Dia melihat satu persatu berkas-berkas itu dan betapa dia terkejut setelahnya.


Mikha memiringkan sebelah lengkung bibirnya. "Penemuan yang bagus bukan?"


"Mi-mikha.. ini bisa aku jelasin kok. "


"Jelasin di depan semua orang! Berani? "Gadis itu meneguk salivanya.


***


Pagi baru telah menyambut hari baru bersama rintikan hujan yang mulai mengguyur bumi. "Jangan lupa bawa payung!"


"Iua bu, Syila udah bawa! Berangkat dulu ya, Assalamualaikum!"


"Waalaikummussalam. "


Gadis bersuarai hitam dengan panjang hingga mencapai bawah pundaknya bergelombang itu telah keluar dari pelataran rumahnya, setelah menutup pagar rumahnya dia berjalan bersama payung kelabu yang menemani langkahnya ke sebuah pemberhentian bus.


Syila memang datang lebih awal dari biasanya karena hari ini adalah jadwal piket kelasnya, alhasil dia memang harus lebih awal datang.


Belum banyak orang datang ke bangunan itu. Hanya ada guru-guru yang mengajar hari ini yang masih sibuk bergelemut di dalam meja masinh-masing di kantor guru, satpam dan beberapa murid yang memang memiliki kegiatan yang lebih pagi juga.

__ADS_1


Setelah menuruni bus dan berjalan sekitar 300 meter ke sekolah, akhirnya Syila telah tiba di gedung itu. Dia langsung berjalan mengarah ke kelasnya, namun langkahnya terhenti karena melihat satu sosok yang sekilas tidak ingin dia temui namun disisi lain hatinya dia ingin bertemu dan memeluknya. Kontradiksi hati memang, namun apalah daya.


Lalu, apa yang akan terjadi diantara mereka?


__ADS_2