Sweet Heart Boys

Sweet Heart Boys
59. Nasib Lili


__ADS_3

Letha hanya menatap lurus tanoa bicara dan berekspresi melihat suaminya yang sedang mengumandangkan adzan untuk ketiga bayinya. Hingga Aliya mengelus pucuk kepalanya yang membuatnya tersentak dan sintak menoleh ke arah wanita patuh abya itu.


"Ibu. " Aliya tersenyum lembut. "Kamu benar-benar wanita kuat. " Aliya menautkan jemarinya ke jemari Letha lalu mencium lucuk kepala yang sudah dia anggap putrinya. Dan Letha hanya tersenyum gentir bersamaan drngan bulir bening yang membasahi wajahnya.


Hari pun berganti, di keheningan yang dikelikingi banyak orang dibuat gaduh ileh satu yang baru datang. "Liam bego!!! "


Baru datang, Liam. lamgsung mendapat timpukan dari squishy raksasa versinya dari Syila. "Syila?! " Semua terperangah akan kedatangannya. Namun, gadis itu tak menggubria dan hanya tertuju pada satu titik. Dengan kaki yang dibalut dan berjalan pincang, dia mendatangi Liam menariknya lalu mencubit perutnya yang tadinya rata bak model pakaiak olahraga yang berkotak sekarang telah sedikit memuncit. Syila mecubit kecil dan memelintir kulit yang terhalang kain itu. "Argh! Awh! Dee! Ampun!" Teriak Liami hingga terjatuh, lalu kena timpuk tas ransel kecil ala ala girly. "Argh! "


Syila lalu menoleh dan menatap Letha. Letha mengerjap-ngerjap dan balik menatap tak mengerti sekaligus spechless melihat keadaan itu, otaknya yang konslet masih harus memproses. "Udah cukup belum kak, kalau belum biar Syila kasih dia pelajaran lagi?" Liam dibawah sudah memeloti adiknya, namun saat mendapatkan lirikan tajam dari sang adik dia pun memelas. "Gimana? " Tanya Syila lagi, namun tak ada jawaban dari wanita itu yang ada dia hanya bengong menatap Syila.


"Sudah, sudah, nanti biar ayah saja yang kasih dia pelajaran! Gimana kaki kamu? " Gian menyela, dan menarik Liam yang masih bersimpuh dilantai untuk bangun. "Udah mendingan. "


"Kamu ini, lagi ngapain sih samoe jatuh begitu ga oernah hati-hati deh kalau pergi-pergi?! " Bagai shinkansen, Aliya menyerocos begitu lihai dan cepat.


"Ya namanya juga kecelakaan, ga ada yang tau!"


"Ya hati-hat-"


OAAA OAA


satu bayi disusul dua bayi lainnya menangis membuat Aliya berhenti. Dengan cepat Ketiga orang tua itu dan Syila menghampiri mereka kecuali Maria yang menghampiri Letha yang masih terbaring dan hanya bisa melihat dengan khawatir ketiga bayinya. "Bagaimana keadaanmu? " Tanya Maria.


"Sudah lebih baik, nek. Cuma masih lemas. "


"Permisi. " Suster masuk ke ruangan. "Kami harus membawanya lagi ke ruangan inkubator."


"Tolong berikan layaman terbaik kalian, saya mau ketiga cicit saya ini aman dan sehat!" Pinta Maria.


"Insyaallah, bu. Dan satu lagi, maaf ini alat untuk memompa ASI nanti tolong mulai pompa ASI sang ibu, lalu panggil kami. "

__ADS_1


Sepeninggal suster, Syila pun duduk disebelah Gian. "Lucu semua mereka. Namanya siapa aja? " Celetuk Syila.


"Oh iya! " Diiyakan oleh ketiga orang tua mereka.


"Aku belum memikirkan yang pas masih bingung, tadinya.. Tapi, karena ternyata bayiku triplet jadi semua aja, tinggal keoanjangannya."Emang apa namanya? " Tanya Syila. "Ahnan, Amira dan Achita. Sebenarnya Achita, baru terfikirkan, karena aku fikir akan banyak anak laki-laki. "Papar Liam sambil tekikik.


Semua manggut-manggut. "Sayang, kamu sudah punya nama yang pas untuk mereka? " lempar Liam pada istrinya yang masih terus termenung. Wanita itu belum menjawab di lima menit pertama, lalu dia berkata. "Ahnan Talim Aksara. Amira Lethia Aksara. Dan, Achita Thalia Aksara. Perpaduan dari nama yang kamu beri, aku dan juga nama keluarga Aksara. mereka akan dipanggil Ahnan, Mira dan Chita. Bagaimana? "


"Aku setuju. " Jawab Liam.


"Nama yang bagus. " Sela Maria.


****


Selama satu secara bergantian mereka datang kerumah sakit guna menemani Letha yang belum mau pulang terlebih dahulu karena mengkhawatirkan triplet nya. Luka Syila juga Mikha sudah berangsur pulih, namun kaki mereka masih terbalut karena masih merasakan nyeri.


Sikap Mikha pun seakam berubah, ralat bukan berubah tetapi kembali seperti semula. Dingin, cuek, dan bukan masalah bagi Syila. Namun, suatu hari dia tak sengaja hampir bertabrakan dengan lelaki itu tetapi lelaki itu seperti gugup setelahnya Mikha selalu tertangkap basah oleh gadia itu menghindari Syila.


"Ish! "."Ish! " Mereka salng melirik sinis dan misuh-misuh sendiri. Ditengah peperangan itu tinggalah seorang putri yang imut dan menggemasakan sedang menghela nafasnya. "Huh! "


Dia pun menyimpan minuman yang sejak tadi dia minum. "Itu artinya Mikha masih suka sama elo, karena udah ditolak ya dia tengsin lah. "


"Nah itu! "


"Itu apa? "


"Ya maksud gue! "


"Itu jawaban Dzith bukan elo! "

__ADS_1


"Stop! " Akhirnya malaikat yang duduk dihadaoan mereka bertiga yang awalanya sangat bersabar pyn mulai gerah. "Jangan beranten terus kalian! Makan bekelnya sebentar lagi istirahat berakhir! " Mendapat seruan dari Syria yang memang belum pernah marah itu mereka langsung ketar ketir ngebut bagai mobil buntut yang sedang kentut lalu tergelincir hingga sudut karena nabrak belut.


***


Hari ini Letha dan ketiga bayinya sudah diperbolehkan pulang. Mereka sudah sampai dirumah Gian, dia dan si triplet sudah memasuki kamarnya yang sudah didekor dengan sangat cantik ditambah sekat yang memisahkan antara kamar dan ruang bekerja Liam sudah dibuka dan disulap menjadi kamr bayi dengan berjejernya tiga box bayi berukuran kecil, lemari pakaian dan aksesoris bayi lainnya. Achita yang digendong Gian, Mira yanh digendong Aliya dan Ahnan yang digendong Letha pun diletakkan dibox mereka masing-masing. Liam yang membawa barang bawaan sambil memapah Letha. "Bagaimana, kamu suka? " Letha lantas mengannguk dan menidurkan bayinya ke dalam box.


Ahnan idmasukkan kedalam box berwarna biru dengan gambar jerapah, Mira kedalam box berwarna pink bergambar landak dan Chita ke dalam box berwarna hijau mint pastel bergambar kucing. "Boxnya pilihan Syila. " Liam kembali berbisik ke telinga istirnya. Letha tersenyum kecil. "Lucu."


Setelah semia bayi, Gian mengajak mereka untuk keruangan TV untuk berbicara.


"Lalu, bagaimana dengan Lili anakmu dan Selly? Mau sampai kapan dia akan dititipkan dirumah Bu Maria dan terus merepotkan beliau? Ya, walaupun ada Syila tapi.. " Gian berhenti sejenak. "Ayah memang tidak terima pernikahan kamu dan Selly tapi anak itu tidak punya salah, ditambah dia sudah kehilangan ibunya sudah sepantasnya kamu sebagai seorang ayah bertanggung jawab, tapi Letha bagaimana denganmu? "


Letha mengumpulkan udara kedalam. keoalanya sejenak, merenung. Dia menelisik satu persatu kedua mertua dan berakhir menatap Liam. "Kenapa kamu melakukan itu?Bukan,tapi kenapa kamu sampai lari ke dunia itu? " Saat Liam akan menjawab, namun Letha kembali menyela. "Memangnya harus seperti itu merasa bersalah?" Liam pun menjadi peluh. "Maaf. " Satu kata yang dia bisa ucapkan.


Letha memejamkan matanya sejenak dan menarik nafas. "Kalian memang salah, kamu salah! Tapi anak itu tidak! Ayah, saya ikhlas kalau Lili ada disini, dia masih kecil dan butuh keluarga. Tapi, maaf jika saya belum bisa menerimanya sepenuh hati, tapi saya akan mencoba untuk menjadi ibu yang baik untuknya juga. " Gian tersenyum kecut dan Aliya menahan haru. "Makasih. " Liam tiba-tiba turun dan bersimpuh keoangkuan istrinya. "Bangun! Kamu tidak perlu begini! "


"Saya mengerti, terimakasih dan mohon maaf atas nama putra saya!" Tegas Liam. "Ibu juga, nak. "


"Kaliam tidak perlu meminta maaf, saya sudah ikhlas. "


"Kalau begitu telfon Syila untuk-"


Kring kring


Ponsel berbunyi. Syila menelfon Liam dan dia mengangkatnya. "Kenapa, dek? "


"Kak, ini Lili nangis terus pengen ketemu papa! "


"bawa dia pulang! "

__ADS_1


"Ok. "


Panggilan pun berakhir.


__ADS_2