
"Syila? " Syila mengernyitkam dahinya. "Nenek kenal saya? " Maria tersenyum, lalu mengelus Punggung gadis yang telah membantunya itu.
"Tentu, saya mengenal orangtuamu juga. Ternyata kamu sudah besar. Kamu oasti bingung. Putraku adalah teman ibumu. " Syila memanggut manggut. "Begitu. "
Sebuah mobil berhenti di depan mereka, pria itu keluar dari dalamnya. "Itu cucuku sudah datang. " Maria menunjuknke arah drpan membuat Syila menoleh ke arah yang sama. Dia tercenngang dengan orang yang dia lihat. "Alvin? /Syila? "
"Ah, jadi kaliam sudah saling mengenal ya baguslah! "
"Dia adik kelas Alvin. " Jawabnya dengan singkat. "Lalu darimana kamu mengenal cuxuku?"
"Ah, Al.. maksudnya kak Alvin itu kan ketua OSIS kami jadi semua orang pasti mengenalnya. " Mendengar sebutan "Kak" itu menggelitik hati Alvin yang membuatnya mengulum senyum.
"Kenapa kaliam bisa barengan? "
"Tadi nenek sedikit pusing dan akan terjatuh, nak Syila yang membantu nenek. Sekali lagi terimakaysih nak Syila."
"Tidak masalah, nek. "
"Kalau begitu kami pamit, ayo Alvin! " Alvin memanggut. Setelah Maria dan Syila berpamitan, Alvin memapah neneknya masuk ke dalam mobil disusul dirinya tanpa banyak bicara. "Duluan ya, thanks sekali lagi. " Ucapnya yang diangguki gadis itu. Mobil hitam itu pun melesat pergi.
***
Di kediaman Gian..
Syila yang baru datang disambut oleh sang ayah. "Sudah pulang, dek? "
"Iya, ayah. Oya, tadi Syila ketemu nenek Maria katanya temen ayah dan ibu. " Gian seketika menghentikan acara minum kopinya. "Begitu ya. Apa beliau sehat? "
"Tadi dia sempat aku jatuh karena pusing, Syila bantu papah dan temenin sampe cucunya datang. "
"Kamu bertemu Alvin? " Syila mengangguk. "Bertemu siapa?" Tanya Aliya yang membawa sepiring gorengan dan menjajakannya di meja itu.
"Syila bertemu ibu Maria dan Alvin. " Sahut Gian, sontak Aliya terkesiap menatap suaminya lalu bergeser ke putrinya. "Benarkah itu? "
"Iya bu, tadi Syila bantu neneknya kak Alvin yang hampir jatuh terus nemenin dulu sampe cucunya itu datang jemput. "
"Kak.. Alvin? " Serempak orangtua itu. "Hmm, i-iya, dia kan kakak kelas Syila dan ketua OIS di sekolah! Syila juga gak nyangka yang Syila bantu adalah neneknya. " Kedua orang tua itu manggut manggut sambil saling melirik.
__ADS_1
Syila yang menyuap gigitan terakhir dari bakwan yang ia makan langsung berdiri cepat. "Syila mau ganti baju ke kamar! "
"Iya. " Sepeninggal Syila dari hadapan mereka, Aliya dan Gian masih membisu sampai Gian membuka suara. "Sayang, kapan kita akan memberitahukannya? "
"Aku masih bingung, aku takut dia belum siap."
"akeputusanmu adalah keputisanku, untuk yang satu itu. " Gian terkekeh menggoda istrinya. "Apaan sih mas, geli deh! "
Di dalam kamarnya setelah Syila mengganti baju dia menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur di ranjangnya. "Kenapa dia dingin gitu ya?" Gumam gadis itu. "Ahh, kenapa juga harus difikirin! " Syila membungkam wajahnya dengan bantal.
***
Di Kediaman keluarga Alvero
"Nek, belanjaannya Alvin simpan di dapur ya! " Maria mengiyakan dan dia pun duduk di sofa berwarna abu muda itu dengan gaya scandinavian yang cozy. Saat cucu laki-lakinya itu kembali dan akan menaiki tangga. "Alvin, duduklah! " Alvin menurutinya. "Ada apa, nek? Nenek pusing lagi? "
"Kamu masih menjaga jarak dengan Syila? " Langkah Alvin melambat, dia duduk perlahan disamping Maria. "Tidak, nek. "
"Tatap mata nenek kalau sedang bicara! " Alvin menoleh, dia melihat sorot tajam dari sepasang netra di depannya itu. "Ngak nenekku sayang.. Alvin ga ada masalah apa-apa sama si sayangku! " Alvin menggeliat manja ke dalam ceruk wanita tua itu. "Aw! Sakit, kok digeplak? "
"Ehhkm. " Maria mendeham. "Kenapa, nenek sakit tenggorokan? Mau dibeliin obat batuknya si pak haji? "
"Diam kau, jangan terus menggodaku! "
"Jangan marah terus cantik, nanti darah tinggi. "
"Darah tinggiku kau yang buat! "
"Eleuh eleuh pundung nie yeh, cemburu Alvin punya sayang baru ya? "
"Nah itu.. "
"Itu apa? "
"Kenapa kau memanghilnya sayang? Kalian.. "
"Memangnya kenapa? Kan dia adik kesayangan Alvin! Ya, meski dia gak tau.. " Suara Alvin pelan-pelan melirih. Maria membuang nafas kasar. "Terus kenapa tadi cuekin dia, dingin bagai kutub utara! Macam pasangan backstreet saja! Ah, awas kalau.. "
__ADS_1
"Ya, masa Alvin suka sama ade sendiri! Eh, tapi kayaknya dia anggep Alvin naksir dia deh nek, Adoh! " Maria memukul kepala cucunya memakai kipas yang dia genggam. "Kau itu tidak aku, tidal adikmu kau goda terus! "
"Abis Syila sama nenek sama sih.. Sama sama judes! " Alvin treekekeh sambil melonjat, berlari ke kamarnya di lantai dua. "Ngak kena! "
"Dasar cucu bangsat! " Maria membuang nafas kasar. "Hah, sampai kapan kami harus menyembunyikannya terus? "
***
Hari sekolah berjalan seperti biasanya. Di hari persentasi pun Martha tidak datang karena kesibukannya sebagai model. Syila mengerjakan semuanya sendiri dan berpresentasi sendiri. Semua orang bertepuk tangan setelah dia selesai. Dia kembali duduk ke kursinya. "Elo hebat. " Bisikan datang dari belakang. "Thanks Rob, elo sama Lea juga bagus hasilnya. "Ehkm. " Lea mendeham. "Tuh cemburu. " Sindir Syila bercanda.
Syila melempar senyum yang dibalas delikan oleh Lea.
Waktu istirahat Syila kembali sendiri, dia memilih untuk pergi ke perpustakaan karena Renita dan yang lainnya sedang berkeliling ke klub-klub sekolah untuk memilih ekstrakulikuler yang mereka mau. Syila mengambil satu buku dsri ranjang itu. Saat dia baru saja duduk dan akan membuka buku itu, seseorang membuat bulu kuduknya merinding. "Sayang. " Bisik lelaki itu. Sontak Syila kangsung berdiri untuk menghindar. "Elo, bisa ga sih ga gangg gue! " Bisik Syila. "Ngak. " Alvin menyengir.
"ish!" Syila pindah ke tempat lain diikuti Alvin.Bisa ga ga ngikutin gue? "
"Kamu ga kangen aku, sayang? "
"Kagak sudi!"
lEkhhm. " Petugas perpustakaan mendeham. Syila pun memelankan suaranya. "Pergi ngak! "
"Ngak! " Alvin mendekatkan wajahnya ke depan wajah gadis itu menatapnya dan tanpa sadar matanya mulai berkaca-kaca. "E-elo.. " Alvin tersadar. "Jangan deket-deket! " Syila. mendoromg pelan dada Alvin. "Kenapa naksir ya? Oya sih gue kan ganteng. "
"Idih geer! disuruh jadi pacar elo juga kagak sudi! " Syila mulai membaca bukunya mendiami lelaki yang duduk disampingnya walau dia merasa risih dengan tatapan itu. Syila menup bukunya. "Sampai kapan mau terus liatin gue? "
"Sampai bosen, tapi ngak akan bosen bosen sih. " Alvin terkekh kecil. "Ck. "
"Jangan ngedumel dalam hati, keluatin aja. Kalau mukul gue nanti diluar aja.. Ah, kok tahu? ya jelas tahu! " Syila yang menganga kembali mengatupkan kedua bibirnya. "Hah. "Syila membuamg nafas kasar.
Bel masuk berbunyi. "Nanti gue anterin pulangnya ya! "
"Ngak usah! "
"Judes amat sih neng, padahal kemarin, kemarin, nungguin. Iyakan? "
"Ka-kata siapa? Ngak! " Alvin menertawai Syila yang gagu. "Yaudah, sana ke kelas cepet nanti gue tungguin pulangnya! Dadah, sayang! " Alvin emncubit gemas kedua pipi gadis itu yang ditebas oleh Syila. "Lepas!"
__ADS_1