
Hi readers, Novel SHB belum tamat ya!! Dikarenakan keadaanku yang masih belum stabil jadi ga bisa tiap hari up tp mau aku ushain jadi aku tamatin dulu biar ga dpt notif peringatan. Terimakasih masih setia membaca. Selamat membaca!
............
*******
Hari esok telah tiba...
Sepulang sekolah, Syila agak jengah karena dia tidak bisa langsung pulang padahal hari ini jadwalnya dia menonton anime favoritnya, seharusnya! Tetapi ,kini dia harus menjadi anggota klub. Mereka telah berkumpul di paviliun biasa yang dipakai mereka untuk berkumpul. Kini paviliun itu menjadi tempat klub membaca dan minum teh itu.
"Hari ini saya David sebagai ketua akan memperkenalkan dua anggota baru kita. Silahkan kalian memperkenalalkan diri Kalian!" Kedua sejoli itu, dua-duanya perempuan. Mereka bangun dari temoat duduknya dan berdiri di depan semua anggota dan memperkenalalkan diri mereka satu per satu. "Saya Arasha dari kelas MIPA 1-3. Dan Saya, Kaina dari kelas yang sama dengan Mikha, saya baru pindah hari ini. " Gadis bernama Kaina itu terus melirik ke arah Mikha tersenyum lembut dan cerah, namun berbeda dengan lelaki itu. "Baik, seperti yang sudaj saya jelaskan. Itu adalah beberapa peraturan yang harus turuti. Sebenarnya ada satu orang lagi, tapi hari ini dia tidak bisa datang. Mungkin Dipertemuan selanjutnya dia akan memperkenalkan diri. " Setelah acara perkenalan singkat itu, aktivitaa berjalan sendiri. masing-masing asing dengan acaranya sendiri. bergelut dengan buku, game dan alat memasaknya. Tak terasa hari pun sudah semakin menyore, semua anggota bersiap untuk pulang.
"Mikha. " Suara lembut dan tangan lembut itu mengait diantara lengan lelaki jangkung itu. "Ayo pulang bersama, kamu udah janji kan. " Mikha tak menggubrisnya dan hanya mengikuti kemauan gadia itu. "Kenapa dia bisa muncul lagi? " Lirihan Martha terdengar oleh Syila, namun saat dia ingin mengutarakan rasa penasarannya Martha sudah diboyong oleh sang kakak untuk pulang. "Ayo! " David mengegengam pelan tangan sang adik. "Syil, gue duluan ya! "
"Ya. " Syila pun menyusuk kepergian mereka, namun ditahan okeh seseorang. "Syila! "
Syila menoleh ke belakang. "Yudha?"
"Gue anter pulang. "
"Ga usah, gue bisa pulang sendiri!" Yudha menahan tangan Syila, lalu menarik gadis itu ke dalam dekapannya. "Yudha! Lepas! "
"Ngak akan, kalau elo ga mau gue anter."
"Ok, elo bisa anter gue jadi lepas! " Syila mendorong Yudha yang meregangkan pelukannya dan tersenyum lebar. "Ayo! " Tanpa mereka ketahui seseorang telah menatap mereka dengan tatapan yang nanar.
"Yudha. "
Setelah kepergian saudara kembarnya, Rama pun bergegas pulang dan pamit pada Haris dan jeremy yang masih berada ditempat itu. "Gue pulang duluan, kak. " Diangguki oleh kedua kakak tingkatnya, lelaki itu pun pergi meninggalkan tempat itu. Dia diam-diam mengikuti sang kakak yang mengantar gadis yang disukainya dan mengawasi mereka dari jauh. "Yudha. " Dia terus mekirihkan nama itu dalam ketidaksadarannya.
***
"Kalian sudah datang? " Kaina menagannguk dan tersenyum. "Ya, tante. "
"Masuk, ayo! Orang tuamu sudah menunggu didalam. " Orang tua Kaina telah duduk nyaman di sofa kebesaran rumah itu, menyambut kedatangan putrinya dan juga putra pemilik rumah. "Apa kabar, Mikha? "
"Baik, om dan tante. "
"Jadi, begini.. Kan, sekarang Kania sudah kembali jadi kami memutuskan untuk kembali menjodohkan kalian. Bagaimana menurutmu, nak Mikha? Maukah kamu menerima Kania? " Bagai disambar petir siang bolong. Tak lelaki itu sangka bahwa dia akan mendengar kata-kata itu lagi sejak dua tahun lalu dimana ketika itu Kania lah yang menolak lamaran keluarga Mikha.
"Saya ingin fokus pada studi saya. " Jawab Mikha dengan singkat. Para orang tua menghela nafas mereka. "Kami tahu, kami tidak akan mengahalangi studi kalian. Kami juga tidak akan menyuruh kalian secepatnya menikah, hanya bertunangan saja untuk mengikat keluarga kita." Jelas pak tua itu. Ayah Kania dan juga ayahnya kembali menekankan. "Ini untuk kebaikan kalian."
"Kebaikan kalian, bukan untuk kebaikan saya!" Kania terperangah mendengar jawaban Mikha, begitupun para orang tua. "Maaf, tapi ini bukan lagi zaman perjodohan."
"Mikha! " Arya meninggikan suaranya. "Jaga sopan santun kamu! "
__ADS_1
"Mas, sudah mas. Mikha, coba turuti saja apa kata ayahmu. " Sahut Ariana.
Mikha mendengus kesal. "Kaina, apa ini juga kemauan elo? " Kaina terksiap karena tiba-tiba saja dia ditandai pertanyaan itu. "Ini kemauan kami sebagai orang tua dan Kaina juga setuju, toh kaliam memang sudah dekat kan sejak dulu. " Dina ibu dari Kaina menimpali. Sekilas lelaki iti melirik Kaina yang masih tertunduk diam.
"Maaf, meski kami saling mengenal sejak kecil tapi saya hanya menganggap Kaina sebagai adik saya. " Gadis disebelahnya itu mengangkat wajahnya dengan tatapan nanar. "Tapi, bukannya dulu kamu-" Belum selesai Ariana bicara, lutranya telah menimpali. "Sekarang tidak. "
Kaina merebut lengan kiri Mikha dan memeluknya. "Kamu masih marah karena dulu aku lebih memilih pergi meninggalkan kamu yang lagi sakit?" Memang dua tahun yang lalu Mikha pernah terkena gangguan kecemasan dan orang yang seharusnya ada disampingnya saat itu lebih memilih untuk pergi bersekolah ke luar negeri dan dia adalah Kaina. Tapi, yang membuat lelaki itu marah bukanlah perihal itu. Mikha telah mengetahui kebohongan Kaina yang selama ini gadia itu sembunyikan. Kebohongan besar bagi seorang Mikha yang menderita gangguan mental sejak kecil. Tapi, lelaki itu enggan menguaknya didepan keluarganya. Dia tidak takut menyinggung gadia itu, namun dia takut menyinggung kedua orangtua gadis itu yang mana banyak membantu dia dan keluarganya selama ini.
Dina dan Ariana tersenyum kecil, sementara Arya berceloteh kesal. "Fikiran kamu itu kekanakan sekali! Cuma hal sepele begitu kalian marahan selama itu? " Seperti menyepelekan memang, tapi mau bagaimaba lagi mereka tidak tahu yang Sebenarnya terjadi. Bahkan gadis itu pun, Kaina dia tidak pernah merasa bersalah dan tidak pernah sadar meski Mikha telah menyinggungnya beberapa kali melalui pesan balasan yang ia kirim kepada gadis itu. Dan, setelah bertemu, apa dia mengajaknya bertunangan? Mikha yakin ada yang Kaina sembunyikan darinya.
"Saya ga marah soal itu! Kami masih SMA, perjalanan kami masih panjang dan saya belum menginginkan pertunanagan apalagi pernikahan! Kenapa kalian mempermasalahkan itu sekarang? Bahkan kalian tidak mau menjelaskannya pada saya dan hanya mendesak saya terus!" Semua orang termangu dengan benak mereka sendiri. "Maaf saya harus ke kamar saya, karena banyak tugas. " Kaina menahan Mikha pergi. "Kita kerjain tugas bareng dikamar kamu. " Mikha menautkan kedua alisnya. "Elo serius? Elo tuh cewek! "
"Emang kenapa? Dulu juga kita sering main dikamar kamu! " Mikha menggaruk alisnya. "Kaina, dulu sama sekarang beda! Kita bukan anak kecil lagi! "
"Hufh! Emang siapa yang bilang kita anak-anak! "
"Sudah,sudah,kok Kalian malah berantem sih! Mikha, ayolah bareng-bareng aja kerjain tugasnya! Emang dikamar kamu ngapain? Kamu ga akan macem-macem kan? " Ariana menekankan. Mikha membuang nafas kasar. "Tunggu di gazebo, gue ganti baju dulu! " Akhirmya lelaki itu mengalah.
***
"Ini, nak Yudha. " Aliya dan Gian sudah pulang sejak dua hari lalu dan Syila juga Letha kembali kerumah orangtua mereka, namun Lian belum kembali dari dinas luar negerinya. "Makasih, tante. " Yudha meneguk teh yang telah disuguhkan Aliya untuknya. "Kalau gitu tante ke belakang dulu ya, mau buat kopi buat ayahnya Syila. "
"Silahkan tante, maaf merepotkan. "
"Gausah sungkan, yang nyaman ya.. "
Melihat interaksi Yudha dan sang ibu membuat Syila bertambah kesal. "Kenapa sih cemverut terus? "
Flashback on
Mobil yang dibawa Yudha memasuki oekarangan rumah yang ternyata gerbangnya telah terbuka. "Ayo turun! " Yudha melepas sabuk pengamannya. "Mau kemana lo? " Tanya Syila ketus. "Ya, mau anter kamu kerumah! "
"Ya gausah turun juga gapapa. "
"Aku mau ketemu ibu kamu! ".
"HAH? "
Tanoa sadar lelaki itu telah turun dari mobiknya membukakan pintu bagian Syila. "Mau terus dimobil? " Syila pun beringaut keluar dari mobil hitam itu. "Gausah masuk! Mau apa masuk? "
"Ya, mau bertamu lah! Masa mau minta makan.. Eh, tapi gapapa sih kalau ditawarin sama camer mah! " Yudha membariskan dua gigi berserinya. "Hehe. "
"Gak! Gausah! Sana pulang, makasih udah nganter!"..
"La. "
__ADS_1
"Sana! "
"Syila? " Suara wanita menengahi percakapan mereka. "Kok diusir temennya, bukannya suruh masuk?!" Syila memejamkan matanya menghela nafas pelan, sementara Yudha tersenyum menang, langsung menoleh dan memberi salam. Yudha mencium punggung tangan Aliya yang membuat wanita itu terperangah. "Eh? "
"Assalamualaikum, tante. "
"Wa-waalikumussalam. "
"Kenalin saya Yudha, kakak kelas Syila sekaligus pacar Syila!" Seketika ibu dan anak itu terbelalak secara bersamaan. "Pacar?! "
Yudha terkekeh. "Heheh, kompak banget." Syila dengan sigap menarik Yudha dan menepuk lengannya. "Kenapa elo bilang gitu!"
"Syila,kok main pukul pukul orang?! " Aliya kembali menengahi. "Iya nih tante, Syila mah suka gitu ringan tangan. " Ucap lelaki itu sambil melirik usil, dia melihat dari ekor matanya wajah menyeramkan gadia itu. Tapi mwnurutnya itu menggemaskan.
"Maafin Syila ya nak Yudha, dia mah anaknya manja sama emosian." Sahut Aliya dengan lembut. "Gapapa tante, gemesin kok. " Aliya yang mendengar itu melebarkan matanya menahan tawa. "Yaudah, ayo masuk dulu! "
"Siap, tante! " Aliya membawa Yudha masuk kedalam rumahnya, dan Syila sudah pasti tidak dapat menghalaunya. "Kenapa jadi gini?!" Lirih Syila. Dia menggaruk pucuk kepalanya. "syila! " Aliya membuyarkan lamunanya. "Kamu ga akan masuk?"
"Masuk. " Dia pun mengikuti sang ibu yang menggandeng mesra Yudha. Di dalam sudah ada Gian yang asik membaca koran. Pria itu menyimpan kertas bacaan itu setelah melihat ada seorang anak lelaki memasuki rumahnya dan langsung menciumi punggung tangannya. "Halo, om saya Yudha pacar Syila." Seketila Gian membelalak lalu melirik sang putri yang membuang muka ke samping. "Ehhm, oh gitu." Jawabnya singkat membuat Yudha jadi salah tingkah. "Kamu ga salam sama ayah? " Gian yang mengalihkan pembcaraan, menghadap sang putri. Syila pun langsung mencium tangan ayahnya.
"Ya sudah, duduk dulu. Tante buatin minum."
"Gausah tante, ngerepotin! Yudha ga lama kok. "
"Gapapa lama juga, ga ngerepotin. " Aliya begitu sumringah dengan kwdatangan lelaki itu , disisi lain Gian terus menelisik kedua remaja didepannya yang membuat mereka tegang.
"Ayah, jangan bikin mereka takut atuh! " Bisik Aliya membuat Gian berdeham. "Ehhm."
"Tante buat minum dulu ya. "
"Makasih banyak tante. " Aliya menangguk. "Ayah, mau dibuatin juga? " Tanya aliya. "Kopi biasa, uhm tapi ayah mau ke taman belakang kasih makan si beno. Ayah tinggal dulu."
"Iya om. "
Sepeninggal Gian dan Aliya, Syila pun langsung mengeluarkan jurus protes miliknya. "Aw!" Syila menamoar paha Yudha. "Kenapa malah pacar, sialan!"
"Sstt! " Syila terkesiap karena lelaki itu -tiba-tiba saja menempelkan telunjuknya dibibir Syila. "Jaga bibir cantikmu, sayang." Syila langsung menepis jari itu membuang dari wajah dan bibirnya. Yudha masih dengan wajah datarnya menatap dalam gadis itu. "Sayang pala lu peyang!" Syila mendelik. "Sejak kapan? Jangan owmaksaan! Elo gatau tentang Hak asasi manusia ya! " Blablablaa..
Yudha masih menatap dalam gadia yang masih terua berceloteh itu, dan sesekali tersenyum kecil. Menyadari bahwa tidak ada respon dari lelaki itu, Syila mebghentikan misuh-misuhnya dan menoleh kearahnya. Baru saja akan berkata, Aliya telah datang dengan nampan nya membawa dua cangkir teh dan juga sepiring tahu isi goreng yang masih hangat diletakan dimeja itu. "Silahkan dicicipi."
"Makasih banyak, tante."
"Tante, tinggal dulu ya mau anter kopi ke ayahnya Syila. "
"Siap, tante! "
__ADS_1
Flashback of