
"Kalau begitu pernikahan ini tidak sah" tutur Subha membuat Ead beserta Louis menajamkan kedua matanya.
"Bagaimana bisa tidak sah?"
Tanya Ead tidak percaya dengan penuturan gadis yang baru ia nikahi, karena jelas-jelas ia sudah mengucap qabul untuk menikahi dirinya.
Subha melirik kearah pria yang menikahkan mereka, "Kau juga tahu jika pernikahan ini tidak sah, tapi tetap menikahkan kami?"
Kening Ead berkerut semakin tidak paham dengan kata demi kata yang Subha katakan, sementara Louis tidak memberi kejelasan dan tetap setia dalam diam.
"Kepercayaan yang berbeda tidak bisa disatukan, dengan kata lain... qabul yang anda ucapkan tidak dapat menyatukan hubungan kita"
"Maksudnya?"
Otak Ead semakin tidak encer dengan filosofi-filosofi Islam yang gadis ini katakan, hingga kedua tangannya terkepal di pinggang dan tatapan menajam kearah Subha.
"Aku bukan istrimu karena apa yang kita anut berbeda"
"Jadi kau bukan istriku?"
"Bukan" jawab Subha menggelengkan kepala serta menampakan seringaian dari balik niqab navy nya, membuat Ead menggaruk pelipisnya serta mendekati Subha.
"Aku tidak boleh menyentuhmu?"
"Sama sekali tidak boleh" jawab Subha semakin percaya diri dengan penolakannya.
"Ahaa, berarti kita tidak boleh seranjang?" Tanya Ead terdengar penasaran, seakan meladeni segala bentuk alasan Subha.
"Bahkan serumah saja tidak boleh"
"Kalau begitu tidak ada alasan untukku menampung mu disini. Bagaimana, mau aku kembalikan dirimu ketempat kotor itu lagi?"
Deg
Ucapan Ead seakan memutus saluran pernafasan Subha, sama sekali tidak dapat diterima hingga jantungnya berdetak cepat sesaat memikirkan segala bentuk siksaan dari wanita bermata menyeramkan waktu lalu.
Sementara Ead melempar balik ringaian yang gadis itu perlihatkan. Wajahnya nampak berseri membalas pengucapan Subha yang seakan terus menolak dirinya. Bagaimana, apa kau suka Ead mengembalikan mu ketempat itu?
"Louis, kembalikan gadis yang tidak memiliki hubungan dengan diriku ke tempat Ayel Lesi" ujar Ead menakut-nakuti gadis ini lalu menyalakan cerutu yang baru ia ambil dari saku celana.
"Baik, Tuan"
Seketika kedua kaki Subha berjalan mundur saat pria yang bernama Louis tersebut hendak menarik tangannya keluar.
"Aku tidak mau kembali ke tempat kotor itu, kembalikan saja aku ke rumahku"
Ead menoleh melihat gadis yang baru saja berbicara, "Ke rumahmu? Dengan cara apa jika kita berdua tidak ada hubungan dan tidak boleh saling berdekatan"
__ADS_1
"Jika tujuanmu baik, hal tersebut tidak menjadi masalah"
"Tujuanku baik dengan menikahimu, menjadikanmu istriku, menjadikanmu wanita yang pantas berjalan bersamaku men--"
"Tapi itu semua tidak berlaku jika kita tidak sama"
Ucapan lantang Ead tertahan saat gadis ini memotong pembicaraannya. Ia baru menyadari jika banyak sekali perbedaan diantara keduanya, seperti kepercayaan, jalan hidup dll. Tapi entah mengapa Ead menginginkan Subha berada disisinya.
Ead terdiam, memikirkan segala cara supaya gadis ini mau berjalan bersamanya, namun sekeras apapun itu ia tidak menemukan jalannya. "Bagaimana caranya supaya kau bisa berjalan bersamaku?"
Mata Louis melotot tanda sebuah rasa terkejut kepada pria yang memiliki ego tinggi ini. Pertama kali ia menurunkan egonya hanya untuk seorang wanita, atau mungkin sebenarnya Ead memang memiliki ego rendah saat bersama wanita namun karena Louis tidak pernah melihat interaksi keduanya, maka dari itu ia tidak tahu.
Subha menundukkan kepalanya, memikirkan kembali sesuatu yang baru saja terlintas dalam benaknya. Ia pun mengangkat wajahnya.
"Cukup ucapkan syahadat kepadaku, maka aku akan berjalan disampingmu"
"Are you sure"
Mata Ead menyipit, antara percaya dan tidak percaya dengan ucapan yang Subha lontarkan.
"Datangi orang tuaku, minta diriku kepadanya"
Sorot mata mengerikan dari Ead kembali menyala saat permintaan Subha semakin merajalela. Ia pun menginjak cerutunya lalu mendekati Subha.
"Sepertinya kau semakin diatas angin ya. Aku menuruti permintaan mu bukan berarti kau menjadi penguasa"
Tiba-tiba Ead tertawa dengan keras, menepis kesunyian yang mereka ciptakan, bahkan juga menepis keberanian yang Subha perlihatkan.
"Aku bukan pria penyabar serta menuruti permintaan orang semudah itu, jadi jika aku memenuhi permintaan mu maka bersyukurlah. Jangan memintaku untuk melakukan lebih atau kau akan menanggung resikonya" ucap Ead begitu membekas didalam benak Subha, begitu mengerikan bagai suara pisau menyayat.
Tubuh Subha merinding serta kepala menunduk kebawah, menatap tajam lantai putih yang memiliki pantulan pria mengerikan tersebut.
"Kita akan menikah besok, tanpa orang tuamu atau orang tuaku. Jangan memaksaku untuk berbuat diluar batas, Subha"
Setelah mengucapkan itu Ead ingin menyentuh kepala Subha namun gadis ini menghindar, membuat amarah Ead semakin meningkat. Iapun segera menaiki tangga menuju ruang kerjanya bersama Louis, meninggalkan Subha bersama dengan para pelayan.
________
Sesampainya di ruangan. Ead segera menjatuhkan tubuhnya duduk di kursi kerja, bergelut dengan otak dan juga bisnisnya. Louis yang melihat hal itu juga tidak bisa diam saja, iapun segera membantu sang tuan dengan menyalakan labtop untuk menuju ke file kerja.
"Aku sudah menyusuri setiap mucikari di negara ini, namun keberadaannya tidak kunjung ku temui"
Gerutu Ead membuat Louis melirik keberadaan dirinya yang ada didepannya. Mata Louis liar ke kanan dan ke kiri untuk dapat membalas.
"Mungkinkah jika seseorang sudah memindahkan keberadaannya? Mereka tahu jika kita akan datang, dan mereka langsung membawanya pergi"
"Jadi maksudmu ada mata-mata di tempat ini?"
__ADS_1
"Tidak pasti 100%, mungkin 60%"
Jawab Louis seketika membuat mata Ead kembali menyipit memikirkan seseorang yang berani menjadi mata-mata dikediamannya. Sejauh ini tidak ada orang yang mencurigakan ditempat ini, lalu siapa?
Cklekk
Seketika mata mereka langsung tertuju kearah pria kurus dengan rambut keriting yang baru saja membuka pintu. Mata pria itupun menajam melihat kedua pria yang menatapnya, menambah kecurigaan kedua pria yang ada disana.
"Kenapa kalian melihatku seperti itu?" Tanya pria itu saat pandangan mereka tidak lepas terhadap dirinya, membuat Roy risih dilihatin terus.
Ead dan Louis menghela nafas secara bersamaan lalu kembali sibuk dengan labtop nya. Pasti Louis hanya diam, namun tidak dengan Ead.
"Darimana saja kau, bermain dengan wanitamu lagi?"
"Ayolahhh Ead, apa yang ada dalam pikiranmu hanya wanita?" Tanya Roy membawa-bawa kata wanita membuat dirinya mengingat sesuatu. "Sebentar. Ead, ku dengar jika kau menikahi wanita yang ada di Ayel Lesi. Apa itu benar, kau menikahi wanita bekas?"
Brak
Louis menendang kaki Roy dengan sangat keras, memberikan kode supaya pria yang baru datang ini segera diam. Ia takut jika kemarahan Ead semakin meningkat, apalagi Ead baru beradu argumen dengan gadis yang ia nikahi.
Namun Roy tentu saja tidak bisa terima dengan perilaku Louis hingga iapun membalas tendangan itu, "Jangan menendang kakiku jika kau tidak ingin mati"
"Bisa tidak kau tidak usah membicarakan hal itu didepan Dominic? Beliau sedang pusing"
"Aku kan hanya tanya, kenapa kau sewot?"
"Pertanyaanmu tidak mutu"
"Rambutmu banyak kutu"
"Di---"
Brakk
Kedua pria tersebut langsung diam saat Ead menggebrak meja kerjanya, menjatuhkan beberapa barang yang tidak mampu bertahan oleh gebrakan kuat sang dominan.
"Apa aku meminta kalian untuk bertengkar?" Sorot mata Ead semakin menajam ditambah urat-urat di rahangnya yang tampak nyata, membuat keduanya merinding ngeri.
"Roy, kau bilang sedang ada urusan dan pastinya sesuatu yang menguntungkan. Apa yang kau dapat?"
"Hanya lelah"
...To be continued...
...Tidak bermaksud menghina atau menjelekan pihak manapun, dimohon kerjasamanya....
...Jangan lupa vote......
__ADS_1