Syahadat Cinta Sang Mafia

Syahadat Cinta Sang Mafia
Bab 72 : Seekor Hewan!


__ADS_3

Ditempat lain...


Sebuah bangunan kuno berlantai 3 berdinding kayu tebal berukiran naga disetiap papannya itu Nampak mewah namun terkesan klasik. Bangunan kuno tersebut terlihat sepi bagai Gedung tak berpenghuni, hanya pengawal berdiri digerbang putih didepan bangunan. Halaman luas dengan pohon ringin besar dan tanaman tanpa bunga menambah kesepian tempat tersebut.


Suasana disana sangatlah mencekam, tanpa manusia berlalu Lalang maupun hewan berjalan. Apalagi awan hitam dengan kesetiannya itu tetap disana, menemani bangunan itu dan enggan untuk mendua.


Walaupun sepi tidak berarti tanpa manusia. Disebelah kanan bangunan tersebut merupakan halaman yang sangat luas namun kotor. Banyak bercak berwarna darah berceceran disetiap pohon dan kuda juga terikat di pohon sana.


“CEPATTT”


Pria bertubuh kekar memakai topeng itu terlihat mengerikan dengan urat-urat yang menyala. Memperlihatkan ketegasan serta kegagahan yang tampak nyata.


Hari ini Zlander begitu sangat murka. Ia baru saja membantai puluhan anak buahnya sebagai bentuk rasa kecewanya terhadap hilangnya Leiska. Penjaga depan kamar, depan gerbang semuanya telah digantikan dengan wajah yang baru.


Para manusia disana tampak sibuk sekaligus ketakutan dengan suara menggelegar dari pria tersebut, membuat mereka semakin cepat untuk membersihkan bercak noda darah dari para rekannya.


“Aku sangat lelah”


“Shuttt, diamlah. Jangan keras-keras”


Pria bertubuh kecil itu menasihati salah satu wanita yang sedang bebersih disebelahnya. Membuat mulut si wanita langsung bungkan tanpa mau bicara. Ia merasa sangat takut namun perutnya serasa ingin mual.


"Sa-sangat bauu hoekk”


“shutttt”


“HEII”


Seketika tubuh mereka langsung gemetar ketakutan saat suara barinton besar itu menggema di telinga keduanya, apalagi pria tanpa pakaian itu merasa terganggu dengan suara berisik dari si wanita sana.


Cetas


“AARKK”


Tubuh si wanita itu langsung tengkurap dengan luka cambukan dipunggung membuat para manusia lain disana semakin histeris menyaksikan hukuman tersebut.


“A-ampun…”


Lirih si wanita dengan memeluk kaki pria kekar itu erat-erat. Meminta ampun untuk dibebaskan, namun Zlander hanya memiringkan kepalanya nampak tertarik dengan wanita bermata biru ini.


Srett


Kepala wanita itu langsung mengadah menghadap topeng mengerikan yang pria itu pakai saat rambut bersanggul itu ditarik kuat kebelakang.


“Kau ingin muntah?”

__ADS_1


“T-tidak”


“Muntah di hadapanku, ayo”


“T-tidak, Tuan”


Wanita itu semakin ketakutan saat rasa dingin menjalar disekujur wajahnya. Pria itu tengah menyusuri wajah si wanita dengan pisau tajam membuat wajahnya penuh dengan keringat dingin, ketakutan.


“Kau ternyata cantik”


“AMPUN TUAN” wanita itu berlutut di kedua kaki Zlander, memohon untuk diampuni. Ia tahu jika sesuatu yang buruk akan segera tiba. Memang sudah menjadi kesialan untuk seorang wanita yang dipuji cantik oleh seorang Zlander.


“Woman in sex”


Zlander menoyor kepala wanita itu hingga terjungkal ke belakang membentur beberapa pengawal yang bersiap menangkap untuk ia bawa pergi dari tempat itu.


"TUAN… AMPUNNNNNN KASIHANI SAYAA”


Wanita itu semakin histeris sambil memberontak kepada para pengawal yang hampir membawa tubuh wanita itu pergi dari sana. sementara manusia yang lain dibuat membeku dan tak mau berurusan saat salah satu rekannya mendapat hukuman.


Mata mereka semua menunduk dengan ketakutan yang teramat besar, kedua tangan wanita yang membersihkan dibawah pohon itu gemetaran dan ada juga yang menangis disebelah selokan penuh darah, namun inilah hidupnya.


"Inilah hukuman kalian karena berani melepaskan wanita milikku" ucap Zlander memutar-mutarkan belati tajam itu seperti mencari targetnya lagi.


Srett


"Kau dari mana saja sampai tidak tahu jika Leiska kabur?" Zlander mendekat pelan kearah Widia yang baru saja datang membawa ketakutan. Ia tidak pernah menduga akan disambut hal mengerikan seperti ini.


"Aku rasa Alham sudah mulai curiga dengan diriku. Jadi sekarang aku tidak bisa keluar masuk sembarang"


"Itu karena kecerobohan mu Widia. Kau sendiri yang tidak hati-hati dan aku tidak membutuhkan alasanmu. Widia, kau bekerja denganku dan kau mengabdi kepadaku, segala hidupmu dan segalanya. Aku yang memegangnya" ucap Zlander dengan amarah yang semakin memuncak.


"Enak sekali kau berbicara seperti itu? Ingat kita ini bekerja sama, Zlan----"


Zlander lebih dulu mencekik leher Widia membuat tangannya memukul keras pergelangan tangan pria itu saat ia merasakan oksigen hampir habis.


"Zlan----"


"Dengar aku Widia. Kau hanya kacung belaka saja dan tidak ada sedikit niat untuk bekerja sama denganmu. Kau terus sibuk dengan studimu hingga lupa akan kewajibanmu. Jadi berhenti menjadi sok penting"


Bugh


"Uhuk uhuk" Widia terbatuk saat tubuhnya membentur dinding dibelakang kala Zlander melepas dengan sedikit dorongan.


"CEPAT CARI LEISKAAA"

__ADS_1


Para pasukan yang tersisa segera mempersiapkan diri untuk mencari keberadaan wanita pencipta amarah tuannya. Sementara Zlander sudah berada di barisan paling depan dan mata benci Widia melihatnya.


"Aku bersumpah akan membunuhmu Zlander. Beraninya kau berkhianat denganku. Ck... sayang aku tidak tahu seperti apa wajahnya"


_______


Kembali ke butik.


Mata Ead terfokus dengan wajah tertutup wanita bercadar yang merupakan ibu mertuanya. Ia begitu amat terkejut saat mendengar jika Umi mengenal wajah adiknya.


"U-umi melihatnya? Dimana lokasi Umi melihat Adikku?" tanya Ead benar-benar tidak percaya. Matanya yang memerah namun tidak mengeluarkan air mata.


"Didekat jalan Am----" jawab Umi terpotong saat melihat menantunya berlari keluar butik melewati jalanan beraspal yang panas dan penuh dengan kendaraan. Hampir saja kendaraan itu menabrak Ead.


Melihat menantunya berlari seperti itu bahkan tanpa mau pamit terlebih dahulu, membuat Umi merasa penasaran dengan kehidupan pribadi Ead.


"Ead tunggu..."


"Subha" pekik Umi ingin meraih tangan putrinya namun wanita yang dimaksud sudah pergi menyusul menantunya. Mereka membiarkan Umi bersama dengan keluarga Renanta, namun yakin jika doa nya akan menjadi perisai untuk kedua anaknya.


.


.


Saat ini pria yang mereka bicarakan sudah sampai di lokasi yang Umi maksudkan. Dadanya naik turun seiring dengan rasa linu dikedua lututnya. Matanya liar kekanan dan kekiri serta tubuh tegapnya yang memutar mencari wanita yang disebut dengan adiknya.


Begitu banyak orang yang Ead lihat namun tidak satupun wajah mereka sesuai dengan foto Leiska. Apa dia sudah berlalu pergi dari tempat ini? pikirnya.


Ead tidak tahu jika adiknya akan sedekat ini. Namun sayangnya itu sudah berlalu hingga saat ia sudah sampai, begitu pula Leiska yang sudah menghilang.


Tangan mengurat nampak kokoh itu merogoh foto yang ada di dompetnya saat ia mencoba bertanya kepada seseorang.


"Permisi! Apa kau melihat wanita ini berjalan disini? Mungkin tingginya sekitar sini" Ead memperlihatkan foto Leiska serta mendekatkan ujung jarinya ke telinga supaya pria tersebut tahu seberapa tinggi wanita yang dimaksud Ead.


Namun pria itu hanya menaikan kedua bahunya, tidak lihat. Nafas Ead semakin membara dengan kepalan tangan yang menguat.


Ead mencoba bertanya lagi, "Permisi, Tuan. Kau melihat wanita ini? Dia memiliki tinggi sekitar ini" Ead kembali mendekatkan ujung jarinya ke telinga. Namun respon pria itu sungguh tidak terduga.


"Memangnya aku polisi yang tahu jika kau bertanya kepadaku? Tanya saja sana kepada orang lain!!! Buang-buang waktu saja"


Wajah Ead seketika berubah menyeramkan, bahkan sorot matanya saja terlihat kelam. Saat ini perasaan Ead sedang tidak bersahabat namun pria ini malah memancing emosinya. Sungguh manusia yang pas dijadikan pelampiasan.


"Sana pergi!!!"


"Apa kau seekor hewan?"

__ADS_1


To be continued


__ADS_2