Syahadat Cinta Sang Mafia

Syahadat Cinta Sang Mafia
Bab 52 : Merasa Mual...!


__ADS_3

“Untuk sementara waktu. Kembalilah ke keluargamu, tinggal dengan mereka… jangan kembali jika aku belum menjemputmu”


Deg


Bagai tamparan bagi seorang isteri yang mendengar kalimat itu dari mulut suaminya sendiri. Sejenak tubuh Subha membeku, matanya mengeluarkan lelehan yang lebih banyak lagi. Hancur, benar-benar hancur.


“Astagfirullah… Ead tidak sadarkah kau mengatakan hal itu? Dengan kata lain, kau telah memberikan talak satu kepadaku”


“Mungkin memang itu yang terbaik”


Subha kembali menahan tangan Ead, “Ead… kau harus mengatakan bahwa kau membutuhkanku lagi supaya kita bisa rujuk”


“Jika aku sempat”


Ead menepis pelan tangan mulus wanita yang melilit kuat di pergelangan tangannya. Hingga hal itu membuat tangis menggelegar dari mulut Subha. Entahlah, bahkan Ead tidak merasa kasian dengan meninggalkan Subha di rumah orangtuanya.


“Ead…”


Lirih Subha memanggil-manggil nama suaminya. Sementara Ead melajukan mobilnya keluar gerbang hingga membelah jalan.


Didalam mobil, Ead melihat kaca spion mobilnya, menampilkan Subha yang menangis disana. Melihat hal itu membuat Ead bertekad.


“Untuk sementara waktu tinggallah bersama kedua orangtuamu, selagi aku mencari keberadaan Leiska. Jika aku tidak kembali, berarti aku gugur dalam masa pencarian. Dengan begitu aku tidak menyesal karena sudah memberikan talak satu kepadamu”


Lantas Ead menghubungi salah satu anggotanya, “Roy… kalian ada dimana?”


“Ead, kami masih ada di tempat Morque. Kami menunggumu disini, memikirkan rencana yang akan dilakukan selanjutnya” jawab Roy dari seberang telpon.


“Aku akan datang”


Tut


Panggilan terputus saat Ead lebih dulu mengakhirinya. Ia pun kembali focus ke jalan serta menginjak gas mobilnya hingga menyalip setiap mobil yang berjalan lambat didepannya.


_______


Kamar Widia


Saat ini Widia tengah dirundung kegelisahan, sebab tunangan yang ia pikir sudah pulang ke rumah justru entah pergi kemana. Perasaan Widia berkecamuk dengan wajah memucat memikirkan hal itu.


“Dimana sebenarnya Alham. Waktu itu aku melihat sendiri jika Alham sudah sampai dirumah. Seharusnya saat ini dia sudah ada disini”


“Aku akan menelponnya” segeralah Widia meraih ponsel yang berada diatas nakas untuk menelpon Alham.


Namun sudah beberapa kali Widia mencoba menelpon sang tunangan, ponselnya tidak kunjung diangkat. Widia juga sudah mencoba menghubungi telpon kantor jika seandainya Alham kembali kesana. Namun tetap saja hasilnya nihil.


“Dimanasih Alham itu. Kenapa telpon ku tidak diangkat?” cemas Widia mencoba berpikir dengan keras. Mengingat-ingat kembali kejadian terakhir kali ia bertemu dengan Alham.


Mata Widia membelalak, “Jangan-jangan… apa Alham mengikutiku?”


Tubuh Widia sejenak mematung. Iapun segera meraih kunci mobilnya dan kembali keluar. Ia harus kembali ke persembunyian Zlander untuk memastikan, takutnya dugaan itu benar dan Alham akan mengetahui identitas aslinya.


_______

__ADS_1


Di ruangan baca Abi Rahman.


Suasana masih terasa sedihnya, dimana Subha tidak berhenti menangisi perkataan yang suaminya lontarkan kepadanya. Ia mengadu kepada Abi Rahman namun sayangnya tidak ada respon lebih dari pria yang merupakan kepala keluarga itu.


Abi Rahman hanya duduk di ujung ranjang dengan pandangan lurus kedepan, tanpa sedikitpun ekspresi kasian di perlihatkan, bahkan tanpa mau melihat wajah telanjang Subha.


Saat ini Subha terduduk dibawah, tepatnya diatas lantai dengan kedua kaki sebagai tumpuan tubuhnya. Ia menangis sejadi-jadinya, mencoba mengambil perhatian Abi Rahman. Namun pria baya itu sangat menghormati keputusan yang telah ia ambil.


“Jangan menangis. Keputusan Allah selalu baik untuk hambanya. Anggap saja keputusan Ead itu adalah teguran dari Allah supaya kau kembali menuju jalan yang benar. Mungkin Allah memang menjodohkan kau dengannya, Nak”


Subha menggeleng lemas, “Subha percaya bahwa ini adalah ujian dari Allah, bukan pertanda bahwa kami berdua tidak berjodoh. Abi selalu bilang… ‘Untuk naik kelas, kita harus melewati ujian terlebih dahulu’. Subha anggap ini adalah ujian untuk keluarga Subha menuju kehidupan yang Allah ridhoi”


“Subha sayang…” Umi memanggil dengan nada lirih hingga tubuhnya menurun menyepadani posisi Subha. “Nak… ciri Jodoh itu ada 3, ada yang karena Allah, ada yang karena setan, dan ada yang karena jin. Menurutmu, manakah salah satu diantaranya?”


“Dari Allah. Subha akui bahwa Ead tidak sebaik yang Abi dan Umi lihat. Beliau menyukai Subha saat pertama kali kami bertemu, lalu memutuskan untuk menikahi Subha. Bukankah itu dari Allah?” tutur Subha dengan percaya diri.


Lantas Umi Ryverlin melihat kearah suaminya, meminta arahan untuk keputusan putrinya. Namun pria baya itu hanya diam, karena ia sangat percaya jika Umi mampu menasehati Subha.


Umi mengusap kepala Subha lembut, “Subha sayang… ada satu hal yang tidak bisa dirubah oleh diri seseorang yaitu sifat lahiriahnya. Sifat lahiriah itu seperti perilakunya sejak lahir… sifat temperamen yang dimiliki hanya akan menyeret mu ke dalam api neraka”


Dengan mata yang seperti panda Subha kembali berkata, “Umi dan Abi. Demi Allah Subha tidak pernah membayangkan akan memiliki hubungan dengan pria seperti Ead. Dalam pikiran Subha, pria itu memiliki akhlak yang baik, agama yang baik, mampu membimbing Subha kedalam surga. Sama sekali bukan Ead”


Subha mengusap air matanya yang kembali menetes, membuat Umi merasa tidak tahan melihat putrinya ini.


“Siti Asiah juga tidak pernah membayangkan akan menikah dengan pria seburuk Fir’aun. Namun keadaan yang memaksanya untuk menikah dan hanya mencari ridho Allah dari pernikahan tersebut. Dan lihatlah… Siti Asiah dibangunkan surga atas kesabarannya” ucap Subha merangkak menemui Abinya hingga berlutut. “Maka dari itu Abi… bantu Subha untuk mendapatkan surganya Allah”


Kepala Abi Rahman akhirnya menunduk melihat wajah menyedihkan putrinya. Begitu amat disayangkan air mata itu tumpah di kedua mata Subha hingga Abi menghapusnya.


“Jangan menangis putriku… lakukan jika menurutmu itu benar. Namun tetaplah berdoa kepada Allah bahwa jalan yang kau ambil merupakan sebuah kebenaran”


“Tidak ada seorang Ayah yang ridho putrinya menikah dengan pria yang tidak baik. Setiap Ayah pasti menginginkan calon suami yang baik untuk putrinya. Hiduplah dengan suamimu, perlihatkan kebahagiaanmu dengannya, perlihatkan kepada Abi bahwa Ead itu pria yang baik untuk menjadi imammu, supaya Abi bisa rela menyerahkan dirimu kepadanya”


Setelah mengucapkan itu Abi segera beranjak dari duduknya. Ia harus segera memberi tausiah di ibu kota yaitu Astana, lagipula ia juga sudah banyak menasehati Subha.


Umi mendekati Subha serta mengusap rambutnya, lalu mengajaknya duduk ditepian ranjang. “Jangan menangis lagi. Hannah… tolong ambilkan air putih”


Beberapa menit kemudian Hannah datang dengan membawakan satu nampan berisi air putih. Hampir saja Hannah terkejut karena melihat Nona mudanya menangis tersedu-sedu.


“Ini minumnya, Umi”


Umi segera mengambilnya dan memberikannya kepada Subha, “Ini sayang diminum dulu”


Subha segera meminumnya, namun wanita ini tidak menghabiskan air tersebut. Mungkin hanya diambil satu tetes saja. Subha tidak bernafsu untuk menelan apapun.


“Nona Subha jangan menangis ya… coba lihat… wajah nona sekarang malah agak menua hahah” gurau Hannah mencoba menghibur, dan Subha hanya tertawa kecil untuk menghargai Hannah.


“Bagaimana kabarmu, Hannah?”


“Saya baik-baik saja… Nona, saya agak gendutan kan?” tanya Hannah dan Subha mengangguk membenarkan, “Saya hamil lohh, Nona”


Subha terkejut bahagia sekaligus syok juga karena ia tahunya Hannah belum menikah, “Masyallah Hannah… beneran, memangnya kamu udah menikah?”


Hannah tertawa mengejek Subha.

__ADS_1


“Hannah menikah satu bulan yang lalu” jawab Umi tersenyum bahagia karena melihat putrinya berhenti menangis.


“Masyaallah… selamat ya” Subha langsung memeluk tubuh Hannah. “Berapa usianya?”


“Baru 3 minggu”


“Owww” Subha merasa gemas hingga mengusap-usap perut datar Hannah.


“Assalamualaikum, Umi”


Ucap seorang pekerja dengan membawa informasi untuk mereka bertiga. Mereka pun langsung bergegas menata diri, bahkan Hannah harus terlihat seperti pekerja pada umumnya. Takutnya hal itu membuat para pekerja lain merasa iri.


“Walaikumsalam, iya Bibi Yuni ada apa?”


“Diluar ada seorang gadis yang mencari Nona Subha… ia mengatakan jika namanya Fa-fahima” ucap Yuni mengingat kembali nama yang hampir ia lupa.


“Fahima?” Subha mengingat jika dia memiliki seorang teman bernama Fahima. “Masyaallah Fahima”


Segeralah Subha keluar dari kamar menemui wanita yang sudah dimaksud. Ia memang tidak sabaran ingin bertemu dengan sahabat yang selalu mendampinginya di kampus.


“Fahima”


Panggil Subha mengejutkan wanita berhijab tanpa cadar itu. Dari wajah Fahima sudah terlihat jika wanita ini terlihat sangat terharu, begitu terhaaru saat melihat wanita yang ia rindu.


“Masyalallah Subha” ucap Fahima memeluk Subha, melepas rindu setelah berpisah lama.


Subha pun menangis saat mendengar suara isakan dari samping telinganya, segeralah Fahima mengusap air mata itu.


“Ya Allah… Aku pikir aku tidak akan melihatmu lagi…”


“Heh kok omongannya gitu”


“Iyalah… orang… orang kau tiba-tiba hilang… telpon juga tiba-tiba mati” tutur Fahima tersedu-sedu. “Aku bahagia mendengar kau sudah ketemu. Setidaknya aku tidak merasa bersalah”


“Kok bisa?”


“Waktu itukan kita berdua lagi telponan” bantah Fahima agak kesal. “Oh iya… aku membawa makanan kesukaanmu” tuturnya meraih satu boks diatas meja.


“Makanan kesukaanku? Zhaya maksudnya?”


Dengan antusias Fahima membuka, “Iya. Kau tahu, aku meminta penjual untuk memakai daging bagian pinggul dan kaki belakang kuda. Karena kau sangat suka... kau bilang ‘Berlemak, padat’ dasar gadis banyak makan tapi tidak pernah gendut” ejeknya kepada Subha.


Namun bukannya Subha suka, ia malah terlihat menatap jijik makanan itu. Subha juga menutup hidungnya seperti mencium bau tidak enak.


“Baunya kok amis ya?”


“Nggak amis kok” Fahima mencoba mencium, namun makanan bernama Zhaya ini anti amis. “Ayo makan, aa” Fahima menyuapi.


“Hm nggak hoekkkk"


...To be continued...


...Aku dah Up 3 Bab bebs💐...

__ADS_1


...Vote, komen, like dong🙏 Biar aku tahu siapa aja yang dukung karyaku ini❤️...


__ADS_2