
“Dia ingin bermain sayang" Ead mencubit dua pipi berisi wanita yang melirik kedua pria yang baru saja keluar dari mobil. Ia hanya bercanda.
Namun sorot mata mengintimidasi Subha menusuk tanpa sadar kearah dua pria yang berjalan mendekat dengan satu plastik berisikan buah-buahan.
"Haiii dua orang yang merepotkan" sapa Roy melambaikan tangan kearah dua orang yang menatap datar mereka.
"Walaikumsalam"
Mata mereka tertuju kearah Subha yang nampak angkuh memberi kode untuk mengucap salam. Ia tidak peduli akan tatapan heran mereka selagi ia benar.
"ASSALAMU'ALAIKUM"
Seketika bibir Subha menyungging senang mendapatkan salam dari dua anak buah suaminya, walaupun terkesan terpaksa dan menekan.
"Nyonya Zolanda, kami tidak membawa tangan kosong! Kami bawakan buah tangan untuk Nyonya. Silahkan diterima"
"Oh tidak usah repot-repot" tolak Subha dengan tangan mengulur menerima serta mengintip sedikit hingga menampakan buah-buah segar kesukaannya.
"Terimakasih ya"
Ead memberikan lirikan sinis namun tidak terlalu terlihat kearah wanita yang sedang hamil anak pertamanya ini. Wajahnya yang datar membiarkan Subha tersenyum bagai ditimpa rezeki nomplok.
"Ayo masuk. Jangan sungkan-sungkan! Emang kayak gini rumah orang tuaku. Memang agak kecil namun lebih nyaman dibanding Mansion hitam menyeramkan yang sering kalian temui itu"
Mata gugup Louis menampaki tatapan tajam mengintimidasi dari atasannya. Ia yakin jika perkataan itu adalah bentuk sindiran untuk dirinya.
"Na-namun! Ka-kami nyaman berada di Mansion itu. Sangat sunyi dan cocok untuk tidur" puji Louis mengusap tengkuknya ragu jika pria berwajah menyeramkan itu akan menerima.
"Baiklah! Ayo masuk"
Mereka segera memasuki kediaman Akthakarta dengan canggung. Aura suci dari ruang sholat tempat ibadah disebelah kanan itu seakan menusuk memberi petunjuk kepada mereka. Ia heran mengapa Ead bisa tetap tegap melewati tempat ibadah itu.
"Assalamu'alaikum"
"Walaikumsalam" jawab seluruh anggota keluarga Akthakarta yang ada di ruang tamu kepada rekan-rekan Ead yang memperlihatkan perilaku gugup seakan bingung ingin berbuat apa.
Tatapan lembut dari dua orang tertua keluarga ini membuat tamu mereka merasa nyaman namun berbanding terbalik dengan dua orang pria dan wanita yang memberikan tatapan mata kelam kearahnya.
__ADS_1
"Nak, siapa mereka? Silahkan duduk. Aysil tolong ambilkan minuman untuk tamu kita"
Umi menepuk bahu Aysil memintanya bergegas mengambil minuman untuk Roy dan Louis yang mendekat ingin duduk bergabung dengan mereka. Lantas Umi menyusul pergi ke dapur.
"Kalian-kalian ini rekan kerja Nak Ead ya?"
"Mereka anak buah Ead, suruhan Ead. Dalam kata lain mereka itu pembantu Ead" jawab pria pemilik plaster di dahinya yang luka lalu di timpal tepukan dari Abi nya. Ia menyela anak buah Ead yang hendak membuka mulut ingin bicara.
Roy dan Louis geram melihat kearah Ead yang memberikan anggukan pelan pertanda sabar. Mereka kembali mengatur nafas dan kembali fokus menjawab pertanyaan tuan rumah ini.
"Maafkan putra kami. Dia memang seperti itu... jangan diambil hati"
"Hahaha iya... dia memang selalu seperti itu. Kami sering melihatnya bertindak seperti itu di depan banyak orang. Itu memang kebiasaannya. Kasar dan arogan" timpal Roy penuh bahagia dapat membalas ejekan pria yang terbelalak mendengarnya.
Para pasang mata memperhatikan pria Eropa penuh berani dengan mengeluarkan gelak tawa membuat Ead malu sendiri melihat anak buahnya.
"Kedua rekanku memang seperti itu! Kami selalu menggunakan kalimat menyakitkan sebagai bentuk usaha kami dalam mempererat tali pertemanan, terlebih usia mereka hampir saja. Saya harap anda memakluminya!"
Kepala Abi Rahman mengangguk menerima penjelasan dari menantu laki-laki yang sudah menduduki kursi sofa bersama rekan mereka. Ia menghargai maksud Ead yang mencoba untuk memperbaikinya.
"Semua saya terima! Saya merasa berterimakasih dengan maksud rekan Nak Ead yang hendak bersilaturahmi untuk mempererat hubungan ini. Terimakasih anda sudah menyempatkan datang kemari"
"Maksud kedatangan mereka kemari yaitu untuk membahas masalah pernikahan. Saya lihat saudara Alham--"
"Saudara, Cihh" Alham nampak tertawa ejek kepada Ead yang tidak mempermasalahkan hal itu. Ead harus tetap santai untuk keseriusannya menikahi Subha.
"Saya akan menikahi Subha secara sah menurut agama dan negara. Sebelum hal itu terjadi, membutuhkan persetujuan dari pihak keluarga pria dan pihak keluarga wanita. Saya telah menganggap kedua rekan saya sebagai keluarga saya! Kedepannya, mereka akan ikut andil dalam kelancaran pernikahan kami"
"Baiklah, Nak Ead. Beberapa tahun yang lalu sebelum Subha dewasa, saya memiliki keinginan untuk melaksanakan pernikahan putri saya secara besar-besaran. Akan banyak sekali menteri dari luar kota hadir di pernikahan tersebut. Saya berharap tidak ada kerusuhan"
"Saya akan menjamin itu" jawab Ead menerima.
"Bagaimana kalau pernikahan ini dilaksanakan 10 hari lagi?"
"Itu terlalu cepat Abi"
Umi Riverlyn yang menguping di dapur merasa kurang terima dan memperlihatkan diri, membuat para pria di ruang tamu melihat kearah mereka.
__ADS_1
"Kalau saya setuju, mengingat jika Tuan saya akan kembali ke Italia 2 Minggu lagi" ucap Louis menerima usulan Abi Rahman.
"Mana bisa saya melepaskan putri saya dalam waktu dekat?"
"Setiap orang tua harus siap kehilangan jika ingin putrinya memiliki keluarga"
"Kau tidak mengerti karena kau belum menjadi orang tua" sentak Umi membuat Ead melirik tajam keberadaan pria yang lancang berbicara seperti itu. Dari itu Roy menggigit ujung lidahnya menyesal.
"Baiklah! Umi bisa mengusulkan waktu yang pas" ucap Ead memberikan Umi kesempatan.
"3 Minggu lagi"
"Iya"
"Ead" pekik Roy kurang setuju dengan jawaban pria berkumis tipis itu. Namun ia harus bungkam untuk tidak membuat kerusuhan.
_____
Beberapa menit berlalu, tepatnya di kamar Alham sudah ada tunangannya yang membantu untuk merebahkan dirinya diatas ranjang, beristirahat.
Sejenak Widia mengingat rencana pernikahan Subha yang akan di gelar besar-besaran, hal itu menimbulkan rasa cemburu dari Widia.
"Alham"
"Hm" Alham mencoba memposisikan tubuhnya senyaman mungkin saat tunangannya itu memberikan bantal dibawah kepala.
"Aku rasa pertunangan kita itu sudah terlalu lama dan harus segera di sah kan sebelum kadaluarsa. Hahha memang tidak ada kadaluarsa nya sih! Tapi menurutku, dari perlakuan ku kepadamu, tinggal di rumahmu, aku merasa sedikit malu. Aku ingin hubungan ini di sahkan! Ayo kita menikah"
Alham menolehkan wajahnya kaget menghadap wanita yang nampak pede jika ajakannya akan di terima. Wanita itu sudah terlihat percaya diri karena selama ini ia merasa tidak melakukan kesalahan.
"Kenapa kau tiba-tiba ingin mengajakku menikah?"
"Karena aku sudah mantap memilih mu sebagai suamiku! Dan aku merasa yakin jika kau adalah suami yang tepat untukku. Tidak salah kan aku mengatakan itu setelah lama bertunangan" ucap Widia menampakan senyum bahagianya melihat pria itu hanya menatap kearah lain saja.
"Sama sekali tidak salah! Tapi, apa aku boleh bertanya?"
"Tentu saja boleh"
__ADS_1
"Apa kau pernah bertemu dengan Leiska?"