Syahadat Cinta Sang Mafia

Syahadat Cinta Sang Mafia
Bab 43 : Umi Rindu!.


__ADS_3

Sedari tadi Alham tidak berhenti memperhatikan percakapan antara Louis, Roy dan pekerja tempat Aurona. Dari percakapan itu dapat Alham simpulkan jika pasukan Ead hanya diisi dengan kebodohan dari para anggotanya.


"Pasukan yang bodoh"


Ketus Alham langsung didengar oleh telinga Roy dan juga Louis. Tentu hal itu membuat Roy tidak terima, terlebih hinaan itu dari pria yang sudah menjadi musuhnya lama.


"Heii pasukan bodoh seperti ini juga masih mampu merobek mulutmu, mau coba?"


"Tidak usah banyak omong. Panggilkan saja Adikku Subha jika mereka berdua memang sudah kembali"


"Dih nyuruh" Roy terkekeh dengan ejekannya, "Memangnya kau itu siapa berani menyuruh diriku? Tuan kami, kelompok kami, atau pacarku?"


Alham menggelengkan kepalanya jijik mendapati respon tidak terduga itu. Sumpah jika bukan karena Subha, pasti ia sudah tidak Sudi untuk datang dan bertemu Roy.


"Tuan Dominic belum pulang"


Sela Louis setelah lama bergelut dengan pikirannya. Sedari tadi Louis tidak menanggapi Alham karena sibuk menganalisa keadaan.


Lantas kedua pria yang tadi mendengar merasa terkejut. Mereka terlihat menyipitkan kedua matanya seperti merasa kebingungan.


"Mereka belum pulang?" Tanya Alham sekali lagi.


Namun Louis memutuskan untuk tidak menjawab. Dengan sigap, pria ini langsung masuk kedalam mobil yang sudah lama terparkir di depan Mansion.


"Roy masuklah... Kita cari Tuan Dominic dan Nyonya Zolanda"


"Tapi kenapa?"


"Sepertinya mereka dalam masalah" tutur Louis menyalakan mesin mobil hingga memakai sabuk pengaman.


Sementara Roy terpaksa harus menuruti kemauan Louis, dan Alham yang tidak mereka pikirkan ini memilih untuk mengikuti Louis dan Roy pergi. Siapa tahu ia menemukan jawaban.


"Coba kau telpon Tuan Dominic"


Perintah Louis membawa mobilnya keluar dari gerbang. Roy segera mengambil telpon didalam saku namun ia tidak menemukannya.


"Louis, ponselku nggak ada"


"Shitt"


Geram Louis langsung mengumpat ke wajah Roy karena kecerobohannya yang lupa membawa ponsel. Kebiasaan yang tidak bisa diterima. Namun Louis tetap mau memberikan ponsel yang ada didalam saku celana untuk Roy.


"Bodoh" Louis mengumpat. Namun hal itu tidak menjadi masalah, lagipula Roy terlihat menyengir menerima.

__ADS_1


Segeralah Roy mengetik nama bertuliskan Dominic, namun ia tidak kunjung menemukannya. Roy mencoba menulis nama Tuan Dominic, Tuan Eadwarl, Ead, Eadwarl namun semua itu tidak ada hasil.


"Kau beri nama siapa sampai aku tidak menemukan kontak nya dimana-mana"


Tanya Roy masih mencoba mencari dengan menuliskan berbagai nama, sementara Louis langsung ingat jika ia mengganti nama Ead didalam ponselnya.


Louis enggan memberitahu, "Sini biar aku saja"


Namun Roy langsung menjauhkan ponselnya sesaat sebelum Louis ingin meraihnya, "Kau hanya perlu berucap dan aku yang menulis"


"Tuan..."


"Tuan siapa? Ead?" Roy mencoba menebak. Ia menunggu diberi tahu oleh Louis yang terlihat membagi kefokusannya dari jalan lalu dirinya.


Roy berinisiatif menuliskan kata Tuan, pikirnya jika nama yang terkait akan keluar semua. Memang keluar, bahkan Roy melihat ada satu nama yang terlihat aneh dan mencurigakan.


"Tuan b*jingan"


Mata Louis langsung membelalak mendengar nama yang telah Roy ucapkan. Wajahnya langsung menoleh kearah Roy, dan Roy terlihat tertawa dengan dugaannya.


"Tuan b*jingan? Ead, kan"


Wajah Louis kembali fokus kejalan, membenarkan dugaan Roy. Ia sudah malu ketahuan memberi nama buruk untuk Ead. "Tinggal telpon... Susah" acuh Louis fokus ke jalan, padahal sebenarnya ia takut jika Roy membocorkan.


Louis mengganti nama Ead karena ia geram dengan Ead yang tega menyiksa Mia, bahkan tidak memberikan nutrisi yang cukup untuk Mia. Hal itu berlangsung lama dan lupa mengganti nama Ead di ponselnya.


"Coba buka aplikasi pelacak yang sudah ku pasang di mobil Tuan Dominic"


"Kau melacaknya?" Roy terkejut dan Louis mengangguk, "Kenapa kau berani melacak mobil Ead. Dia berpesan untuk tidak memasang alat pelacak di mobilnya. Dia tidak mau urusan pribadinya di ketahui orang"


"Dan lihatlah... Berguna, kan. Lebih baik melacak diam-diam untuk membuat Tuan tetap aman" bantah Louis membela keputusannya.


Roy menghela nafasnya kesal, namun perkataan Louis memang benar. Ia pun membiarkan. Roy mencoba melihat aplikasi pelacak yang sudah tersambung ke mobil Ead.


"Dimana keberadaan Tuan Dominic?"


"Perbukitan Aromania, mobilnya berhenti disana" tutur Roy menjawab. Dan Louis langsung menancap gas, menaikan kecepatan hingga diatas rata-rata.


Sementara satu pria yang sedari lama mengikuti Louis dan Roy, kini juga tidak mau ketinggalan dengan senantiasa menginjak gas saat melihat mobil yang ia ikuti melaju semakin kencang meninggalkan dirinya.


Sampai ditempat kejadian.


Dari kejauhan terlihat samar-samar dua mobil yang sudah berada di jalan perbukitan Aromania. Mobil sedan hitam yang tidak terparkir rapi itu nampak rungsek dibagian depan dan rungsek bagian belakang di mobil milik pria yang mereka kenal.

__ADS_1


Mereka memarkirkan kendaraan secara berurutan, dimana mobil Louis berada di tengah antara mobil Ead dan Alham. Tidak lama mereka keluar.


"Ead"


"Subha"


Pekik Roy dan juga Alham saat kedua pria itu membuka pintu mobil, takut jika sesuatu terjadi dengan mereka.


Namun zonk. Tidak ada siapa-siapa di dalam mobil itu, bahkan saat Louis mengecek mobil satunya, tidak ada tanda-tanda kehidupan.


"Apa mereka mengalami kecelakaan ditempat ini?" Gumam Louis berkacak pinggang.


"Ya Allah semoga engkau menjaga Adikku dimanapun dia berada" Alham mencoba berdoa dalam hatinya.


Roy tidak memberi respon banyak. Ia hanya mengamati jurang-jurang dengan pikiran jika mungkin Ead dan Subha terjun kebawah. Mata Roy menyipit, memfokuskan pandangannya kearah jauh saat melihat dua orang yang ia kenal berjalan dibawah perbukitan yang agak curam.


"Itu mereka" pekik Roy didengar Alham dan Louis. Mereka segera bergegas memastikan.


Dan benar, terdapat dua orang yang terlihat berjalan dibawah perbukitan seraya bergandengan tangan.


"Subha"


Alham pun dapat mengenali cara berpakaian Subha dan bagaimana wanita ini dalam berjalan. Tanpa basa-basi ia segera turun kebawah untuk menemui adik yang sudah lama ia rindukan.


Tanpa memikirkan kondisi jalanan yang curam, Alham berlari menemui Subha. Dan Subha yang melihat hal itu merasa terkejut namun tidak dipungkiri ia bahagia.


"Kak Alham"


Subha juga berlari menemui kakaknya, membuat Ead sadar jika Subha telah melepas genggaman tangannya.


"Subha-----" panggil Ead sesaat sebelum akhirnya ia sadar jika panggilannya tidak akan dia dengar.


Dengan antusias Subha berlari hingga mendekap tubuh kakaknya erat-erat. Mereka terlihat intim untuk seorang kakak dan Adik, menimbulkan kecemburuan untuk Ead yang melihat.


Alham mengusap kepala wanita pemakai cadar itu, "Bagaimana kau bisa berada ditempat ini? Kau baik-baik saja, Subha?"


Subha tersenyum dibalik cadarnya, "Alhamdulillah Subha baik, kak".


Alham berbinar mengetahui adiknya baik-baik saja, lantas ia mencoba untuk mengutarakan alasan ia mencari Subha. "Subha, kakak coba katakan sekali lagi. Entah kau menerima atau tidak, tapi ini untuk Umi"


"Umi? Umi kenapa kak, apa Umi sakit? Beliau baik-baik saja kan" ucap Subha penuh dengan ketakutan. Takutnya setelah berminggu-minggu tidak ada kabar, hal itu malah membuat Uminya sakit.


"Umi rindu denganmu... Pulanglah"

__ADS_1


...To be continued...


...Aku juga rindu dengan mu Subha...😘...


__ADS_2