Syahadat Cinta Sang Mafia

Syahadat Cinta Sang Mafia
Bab 42 : Bodoh!.


__ADS_3

Kedua kaki Ead dan Subha masih berlari memasuki kawasan ilalang kering, mengobrak-abrik tatanan sang pencipta alam yang begitu menawan. Tangan Subha masih digenggam, tidak membiarkan ia terlepas.


Nafas keduanya memburu disertai jantungnya yang berdetak semakin cepat. Mereka baru sadar jika sudah berlari jauh menghindari para penjahat yang ingin menyakiti mereka. Ead memilih untuk berhenti berlari, beristirahat dibawah pohon.


"Ayo kita lari..."


"Tunggu... Aku... Masih lelah"


Subha memegangi kedua lututnya yang terasa linu karena banyak berlari. Tidak pernah ia merasakan olahraga se ekstrim ini, pikirnya.


Ead juga kelelahan namun tidak sebanding dengan lelah yang Subha rasakan. Ia sering olahraga dan sudah terbiasa, sementara Subha saja tidak pernah sekalipun dianjurkan untuk lari oleh keluarganya. Harus menjadi wanita Sholehah serta anggun.


Kedua mata Ead tajam mengamati setiap tempat jika kemungkinan para penjahat masih mengejar, namun sepertinya keadaan sudah aman. Ia tidak melihat mereka lagi.


"Baiklah istirahat terlebih dahulu"


Tubuh Ead langsung terbaring diatas jerami yang tertumpuk dibawah pohon itu, dan diikuti Subha yang melihat. Keduanya terbaring dengan pandangan kearah ranting-ranting di pohon seraya mengatur pernafasannya.


Tiba-tiba Subha teringat dengan para penjahat, "Apa penjahat itu tidak akan mengejar kita lagi?"


"Kau ingin dia mengejar mu?"


Subha menoleh melihat Ead yang berada disebelahnya, "Bukan begitu... Tapi berjaga saja, takutnya kau lupa jika kita ini sedang dikejar penjahat"


"Sepertinya tempat ini aman" Ead mengarahkan kedua tangannya sebagai penyangga kepala.


Subha menerima, namun ia ingin bertanya. "Mereka itu siapa? Apa mereka sering melakukan hal seperti ini?"


"Kejadian seperti ini sudah biasa aku jalani, bahkan jika dipikir-pikir, itu sudah seperti makanan sehari-hari"


"Benarkah?" tubuh Subha menyerong kearah Ead. Telapak tangan sebagai alas wajahnya dari tumpukkan jerami kering.


Ead yang melihat itu merasa tertarik hingga tubuhnya ikut menyerong menghadap Subha. Kini keduanya saling berhadapan, melupakan kejadian menakutkan yang baru mereka alami.


"Waktu aku pertama kali sampai di Kazakhstan... Apa kau dengar jika pesawat Arinaya meledak secara tiba-tiba? Bahkan saat sudah mendarat di bandara"


Subha mengangguk, merasa antusias mendengar cerita suaminya.


"Mereka menargetkan diriku, namun sayangnya... Mereka menjadi daging panggang di api yang mereka buat sendiri"


"Ooohh jadi kasus terbakarnya pesawat itu karena ada seseorang yang ingin mencelakai dirimu?" Ucap Subha memperjelas dan Ead mengangguk. "Kenapa mereka mencelakai dirimu?"


"Salah satu pemimpin mereka menjadikan keberadaan ku sebagai rintangan untuknya. Mereka akan membuat hidupku tidak tenang dan mencelakai setiap orang yang dekat dengan diriku"

__ADS_1


Kata Ead dengan tatapan mata yang menajam. Hal itu membuat Subha tahu maksud dari perkataan yang suaminya ucapkan.


"Oh begitu"


"Tidak hanya begitu. Hal itu tidak bisa dianggap enteng, karena kau akan selalu dalam bahaya jika berada bersamaku!"


Wajah yang tadinya berpaling kini kembali menghadap Ead. Matanya yang teduh terlihat memberikan respon positif, dan menenangkan. "Inilah arti dari suami dan istri... Seorang istri harus selalu mendampingi suami, bagaimanapun itu. Aku akan selalu berjalan disampingmu, selagi jalan yang kau lewati saat membawaku itu jalan yang lurus"


Tutur Subha membuat Ead begitu amat bahagia hingga mulutnya tidak mampu untuk berkata-kata. Ia merasa sangat bersyukur dapat bertemu dengan wanita seperti Subha.


Ead mendekatkan bibirnya tepat di kening Subha, menciumnya lama dan penuh dengan kelembutan serta kasih sayang yang tinggi. Bersamaan dengan itu cadar yang Subha pakai telah lepas kala tangan Ead bergerak melepas.


Subha terlihat was-was, takut jika ada orang yang melihat mereka. "Apa tempat ini benar-benar aman? Coba tah---"


Tutur Subha terpotong oleh ciuman tiba-tiba dari bibir Ead. Kedua benda kenyal tanpa tulang itu menghisap lembut bibir Subha, memberikan pelan setiap rasa yang Ead timbulkan.


Subha segera mendorong tubuh Ead lalu ia bangkit. Ia takut jika ada orang yang melihat perbuatan mereka. "Kau... Ini di hutan... Nggak baik"


"Nggak baiknya dari mana? Kita kan sudah sah menjadi suami istri" bantah Ead juga ikut bangkit.


"Iya tapi ini di hutan"


"Tidak ada orang... Kecuali jika ada orang, baru hal itu bisa dikatakan tidak baik"


Ead mendengus kesal atas penolakan dari Subha. Subha tidak mau mengambil resiko jika timbul buah dari hasil perbuatannya di tempat seperti ini. Hal berkah juga harus didapat dengan usaha yang berkah pula.


______


Angin sepoy-sepoy menggerakan tanaman sebagai penghias kediaman Zolanda. Tepat di kolam renang dua orang pria itu masih terlihat bersantai menikmati suguhan dari para pelayan.


Namun sayangnya, salah satu bodyguard datang dengan tergesa-gesa. “Tuan, ada keributan diluar”


Kedua pria tadi langsung terpelanjat, bahkan tubuhnya langsung menegap. Mereka sigap dengan persiapan fisik yang matang.


“Keributan apa, apa ada sebuah penyerangan?” tanya Louis.


“Dia menerobos ingin masuk, namun kami menghalanginya. Tuan, kami sudah mencoba untuk mengusirnya tapi pria itu masih kekeh ingin disana”


“Siapa dia?”


“Namanya Alham”


Jawab bodyguard itu, membuat Louis dan Roy saling pandang lalu bergegas keluar dari wilayah kolam renang. Namun keduanya seperti tidak membuka hati atas kedatangan Alham, nampak dari raut wajah mereka yang menakutkan.

__ADS_1


Sesampainya mereka di depan gerbang. Mereka dapat melihat kericuhan yang sudah Alham timbulkan, bahkan beberapa bodyguard tumbang dengan beberapa pukulan di wajah.


“Darimana dia tahu tempat ini?” tanya Roy berbisik di telinga Louis.


“Entah” Louis terlihat acuh menanggapi pertanyaan Roy, karena kefokusan utama kepada pria yang menghabisi pasukannya.


“ALHAM”


Sentak Roy kepada pria yang masih berkelahi dengan para penjaganya. Alham yang mendengar itu langsung melepas cengkeraman tangannya terhadap kerah penjaga. Ia pun merapikan penampilan sembari menghampiri Louis dan Roy.


“Dimana adikku?” tanya Alham dengan wajah yang murka, seakan tidak memiliki rasa takut sama sekali.


“Sepertinya kau kurang diajarkan sopan santun, Alham” ucap Roy terlihat meremehkan.


“Tidak penting menggunakan itu dengan kalian. Dimana Subha?”


Louis merasa kasian. Dia seorang kakak, pasti tahu bagaimana rasa yang Alham rasakan. “Dia pergi dengan suaminya!”


“Kemana mereka pergi?”


Tin


Tin


Suara klakson mobil memotong pembicaraan mereka. Tiba-tiba mobil itu melintasi tengah-tengah antara Alham dan kedua pria itu. Hal itu membuat Alham heran namun Louis terlihat senang dengan kedatangan bayi Mia.


“Lurus saja tuan… langsung lurus… lalu belok kanan sampai ke peternakan” ucap Louis mengarahkan jalan dengan antusias. Tiba-tiba ia teringat dengan atasannya. “Oh iya… dimana pria dan wanita yang memesan kuda ini?”


“Mereka sudah pulang 1 jam yang lalu” jawab supir itu.


“Pulang? Berarti mereka sudah sampai?”


Pekik Roy dengan sorot mata bingung kearah Louis lalu berganti kearah pria yang baru saja membuat keributan. Roy dan Louis menjadi cemas karena 1 jam yang lalu mereka tidak melihat kedatangan atasannya dan juga isterinya.


“Dia sudah pulang? Kenapa aku tidak lihat ya. Padahal dari tadi kita ini dirumah terus ya Louis, menunggu Ead pulang, tapi kenapa kita tidak lihat? ” gumam Roy dalam kelalaiannya. “Apa dia mengendap-endap masuk kedalam rumah dan kita tidak melihatnya? Aneh” tambahnya.


Namun Louis hanya diam memikirkan keberadaan atasannya. Sementara Alham yang mendengar penuturan Roy, terlihat sangat amat jengkel.


“Pasukan yang bodoh”


...To be continued...


...Terus dukung dengan like dan vote 🙏 Yakin sesuatu sedang menunggu kalian hehehhe...

__ADS_1


__ADS_2