
"Sana pergi!!!" usir pria itu mendorong tubuh Ead hingga sedikit terdorong ke belakang saat perilaku berani pria itu membuat Ead semakin muak.
"Apa kau seekor hewan?" hina Ead membalikan tubuhnya melihat pria bertubuh berisi serta tato menghias di kedua lengannya itu berbalik menghadapnya.
Sangat menyeramkan, namun Ead tidak takut dan memilih melawan hingga mengundang masyarakat membuat bundaran, dimana keduanya menjadi pusat perhatian.
"Kau menghinaku?"
"Tidak ada akibat tanpa sebab" Ead menyeringai memperlihatkan gigi-gigi rapi di dalam mulutnya membuat pria itu kepanasan ingin merontokkan gigi putih tersebut.
"Kau mengganggu diriku dengan pertanyaan tidak penting darimu"
"Jika tidak tahu kau hanya perlu menjawab 'Tidak tahu', apa perlu kau mengatakan itu. Aku bersikap halus dengan pria seperti dirimu? Cih... menjijikan. Sepertinya kau tidak pernah merasakan kehilangan seseorang dalam hidupmu"
"Iya, aku tidak punya siapa-siapa. Kau mau apa?" tantang pria itu mengangkat dagunya tinggi-tinggi hingga ia hanya akan melirik Ead yang tertawa disana.
"Ahhh sudah lama aku tidak meregangkan ototku ini. Kau pria yang cocok"
Dengan gesit kaki kanan Ead maju menjadi tumpuan saat kaki kirinya mengikuti tubuhnya yang memutar ke belakang melihat dagu sombong pria itu menjadi sasaran.
Bugh
Pria berisi itu terpental saat dagunya ditendang membubarkan orang-orang yang melihat dari sisi sana. Masyarakat hanya menjadikan pria itu tontonan dan bersorak ria kala melihatnya bangkit ingin menyerang.
"Hanya segitu kemapuan yang kau miliki? Payah... Cuih" hina pria itu kembali dengan meludah tepat didepan wajah Ead. Tidak punya rasa takut sama sekali.
Srett
Kepalan tangan pria bertato itu memukul wajah Ead yang memundur santai. Lalu pria itu mencoba memukulkan kepalan tangannya lewat atas namun Ead mencekal pergelangan tangannya ringan lalu membanting tubuh berisi di jalanan.
Brukk
"Aarkk"
Tulang punggung berisi tersebut hampir remuk mendapati Ead yang memiliki kekuatan dan bela diri yang tinggi hingga mampu membanting tubuhnya. Bahkan sekalipun dia tidak melihat wajah kewalahan dari lawannya.
Semua orang merasa kagum namun tidak untuk seorang wanita bercadar yang melihat perkelahian itu dari balik rerumunan.
"EADDD" teriak Subha berlari menarik lengan kanannya menghentikan Ead yang hendak menginjak kepala pria yang sudah kesakitan disana.
"Ead jangan..."
"Dia menghina ku, Subha" bantah Ead tidak bisa mengontrol emosinya sedikitpun. Hampir membuat Subha kewalahan.
"Kau harus sabar, Ead" ucap Subha sekuat tenaga menahan tubuh suaminya yang bagai kesetanan harus melawan. Sesekali Subha terseret maju namun ia harus tetap menahan amarah suaminya.
__ADS_1
"Lepasss"
"Aarkk"
Pekik Subha saat Ead tanpa sengaja mendorong Subha dibagian perutnya membuat Ead berhenti melawan dan fokus dengan kondisi isterinya.
"Subha kau baik-baik saja?" tanya Ead merasa cemas melihat tubuh Subha yang ingin meringkuk namun tertahan oleh tangan Ead yang langsung sigap menangkapnya.
"Jang--jangan seperti itu lagi..."
"Iya" kepala Ead langsung mengangguk menyanggupi permintaan Subha yang terdengar lemas mengiringi kram diperut Isterinya. Ia tidak peduli apapun selagi Subha baik-baik saja.
.
.
.
Setelah perkelahian yang mengakibatkan Subha merasakan nyeri kehamilan, Ead membawanya ke rumah sakit karena secara kebetulan Subha juga belum periksa ke dokter terkait kehamilannya.
Tidak membutuhkan waktu lama Subha keluar dari ruang periksa, membuatnya melihat punggung kokoh suaminya yang sedang berbicara dengan seseorang di telpon.
"Iya, kau telusuri jalanan Amirza dekat perusahaan Meilbe. Kalau perlu telusuri seluruh kota Almaty. Aku tidak mau ada yang tertinggal" ucap Ead seraya mengusap dagunya dengan kasar.
"Ead" Subha menyentuh bahu kekar Ead dengan halus. Ia hanya ingin memberitahu saja jika dirinya sudah keluar dari ruang pemeriksaan.
"Begitu saja. Laksanakan" kepala Ead menoleh kebelakang hingga melihat wajah Subha yang tertutup oleh kain niqab. Segera ia memasukan kembali ponselnya kedalam saku celana.
"Apa kau menunggu lama?"
"Sama sekali tidak" Ead tersenyum merangkul bahu rendah Subha, mengiringi perjalanan mereka keluar melewati koridor rumah sakit. "Tadi Dokter bilang apa?"
"Dokter bilang kalau anak kita tidak mau Abi nya berkelahi, dia lebih suka Abi nya bersikap halus dan jauh dari kekerasan"
Kening Ead berkerut heran dengan perkataan isterinya sampai wajahnya menoleh ke arah Subha yang menepuk pipinya pelan. Ia sangat tidak percaya jika Dokter mengatakan demikian.
Subha tertawa riang, "Aku berbohong! Dokter bilang bayinya sehat dan pertumbuhannya juga baik. Hanya sedikit kram di fase kehamilan itu sudah biasa"
"Syukurlah kalau begitu"
"Tapi kau tetap tidak boleh berkelahi. Semuanya kan bisa menggunakan cara yang halus, tidak perlu menggunakan kekerasan"
"Tidak akan kasar jika dia bersikap halus. Kau paham?"
Subha menghela nafas halus seraya tangannya menggenggam tangan Ead menuju parkiran. Sudahlah sepertinya Ead akan susah untuk diingatkan, pikirnya.
__ADS_1
1 jam berlalu
Keduanya sudah sampai di rumah. Ead nampak diam tanpa sedikitpun membantu Subha yang kesusahan melepas sabuk pengaman.
"Ead bantu aku" pinta Subha dan Ead segera membantunya.
"Subha, malam ini aku tidak akan tidur di rumah. Entah sampai kapan" Ead berhasil melepas sabuk pengaman itu saat Subha tiba-tiba diam setelah ia melontarkan kalimat ijin.
"Jika aku tidak mengizinkan?" lirih Subha membuat Ead terkejut. Pasalnya Subha tidak pernah melarang apapun kemauan Ead.
"Aku tetap akan pergi"
"Kalau begitu untuk apa kau bilang padaku?" Subha berkata agak menyentak kearah Ead yang menyipitkan kedua matanya merasa semakin bingung.
"Subha ini untuk Adikku. Umi baru saja melihat Leiska, bukankah hal itu merupakan sebuah peningkatan usahaku selama beberapa tahun silam?"
"Ead. Beberapa hari lagi kita akan menikah dan takutnya---" Subha menundukkan kepalanya tidak berani meneruskan apa yang ada dalam bayangannya. Ia mengingat amanah Abinya untuk menjaga tutur kata dalam berbicara.
"Takut apa? Takut aku mati?"
"Ead"
Subha menutup mulut Ead dengan telapak tangannya yang mungil dan halus, merasa enggan jika kata 'mati' itu ada didalam pembicaraan mereka. Subha sangat takut.
"Aku tidak tahu musuh seperti apa yang akan menyerang mu, aku juga tidak tahu pasti sekuat apa pasukan mu dalam menghadapi lawan... aku hanya... hanya takut... ke-kehilangan-mu..."
Dada Ead sesak mendengar kalimat tulus penuh rasa cinta dari isterinya yang gemetar menahan sedih. Begitu sangat bermakna dalam menambah kekuatan didalam dirinya.
Subha menangis dari balik kain niqab nya, merasa tidak rela jika harus pisah dengan suaminya. Air matanya membasahi kain dan Subha memilih untuk melepas, mencoba merayu Ead lewat wajah melasnya. Siapa tahu Ead kasian, pikirnya.
"Subha, kau tahu diriku. Seperti apa musuhku nanti, memang itulah orang akan aku hadapi. Namun sebelum itu kami sudah mempersiapkannya matang-matang. Jadi kau jangan khawatir!"
Subha menatap wajah datar Ead dalam-dalam. Hatinya merasa kesal bercampur sedih sebab ia tidak memikirkan hati isterinya, bahkan ia sudah menangis sampai matanya sembab tapi pria ini tetap begitu tega.
"Kembalilah" lirih Subha tidak berani melihat wajah suaminya. "Aku akan berdoa kepada Allah setiap malam untuk menjaga dirimu dan para pasukanmu. Aku juga akan berdoa untuk kau menemukan Adikmu, dan membawanya untuk menyaksikan pernikahan kakaknya"
Senyum Ead mengembang mendapatkan doa dari Subha, dengan ini ia akan lebih percaya diri dalam menghadapi musuhnya nanti. Sepertinya!. Karena Ead tidak seratus persen percaya.
'Benar tuhan yang kau sebut Allah itu akan mengabulkannya? Atau ini adalah waktunya penjahat seperti kami tiada?'
...To be continued...
...Tiba-tiba aku pengen ke puncak!!!...
...Ayo ke puncak bebssss keknya seruuu🤗😘...
__ADS_1