Syahadat Cinta Sang Mafia

Syahadat Cinta Sang Mafia
Bab 86 : Melukai Wanita Itu


__ADS_3

“Kan aku sudah bilang ingin menyiksamu, sayang” lembut Leiska mendekati Widia, “Aku sedang berpikir apa hair dryer ini muat di milikmu atau tidak ya?”


Deg


Sumpah-sumpah Widia melongo mendengar kalimat halus namun terkesan mengerikan dengan diiringi seringaian yang mirip psikopat.


Widia ingin kabur rasanya!


“Hei Leiska! Kau jangan gila ya… kau sudah depresi sampai berniat gila seperti ini?” tubuh Widia membentur meja rias dan tangannya meraih apapun yang ada disana.


Ia harus satu Langkah lebih unggul dari Leiska.


“Kemarilah sayang… akan terasa nikmat jika kau menurut kepadaku” Leiska tersenyum manis namun mampu membuat Widia habis, “Itu adalah kalimat pria menjijikan! Aku hanya menggunakannya saat bersamamu”


Whuss


Hair dryer itu menyala saat Leiska menyalakannya, “Ayo sudah siap sayang”


Srett


Leiska menarik-narik tangan Widia namun dengan tangan yang lain Widia melempar bedak tabur ke wajah Leiska.


Bedak itu berterbangan memasuki celah wajah Leiska dan genggaman tangan itu pun akhirnya lepas. Widia berlari mencari-cari senjata.


Uhuk


Uhuk


“Sialann” maki Leiska menyeret kursi rias mendekati Widia yang ketakutan ingin keluar. Namun sayang, Leiska sudah menguncinya dari awal.


Brak


Widia menghindar hingga tersungkur saat ia mencoba meghindar dari Leiska yang ingin memukulkan kursi itu ke tubuhnya.


Kursi itupun hancur berhampuran di lantai.


Leiska langsung duduk diatas tubuh Widia dan memukuli wajahnya habis-habisa. “Rasakan kau!! Kau senang hidup bebas sementara aku terkurung berbulan-bulan”


“Aaarkrk lepas wanita gilaaaa” teriak Widia mencoba melawan.


Saking geramnya Leiska meraih staples tembak berukuran besar dan memukulkannya di wajah Widia yang sudah terpoles make up. Kini hanya ada darah di wajah cantik itu.


Plak


“Aku ingin sekali menghabisimu” desis Leiska ingin menancapkan isi dari staples itu ke wajah Widia, namun wanita itu segera menendangnya.


Bugh


Leiska tersungkur di lantai, memberikan kesempatan Widia untuk lari. Namun…


“Arrkkk” teriak Widia berdiri saat salah satu kakinya di tembak menggunakan isi benda itu. Tentu saja Leiska yang melakukannya.


“Kau pikir aku akan memberikanmu kesempatan untuk lari? No Widia sayang…” Leiska menyeringai kelam lalu menyeret kaki Widia.


Di tempat lain…


Alham semakin bingung kala ia tidak melihat wanita pujaan hatinya, padahal ia sangat ingin mengatakan perasaannya namun dimana wanita itu?.


Ia sudah mencoba mencari Leiska ke segala arah, bahkan luar gedung juga sudah ia cari. Tetap saja hasilnya nihil.


“Dimana Leiska? Astaga jantungku berdetak semakin kencang…” monolog Alham mengusap dadanya sendiri. perasaannya sungguh tidak enak.

__ADS_1


“Hem permisi… apa kau melihat wanita berambul ikal berwajah eropa di pesta ini?” Alham mencoba bertanya kepada seorang perias wajah.


“Oh sepertinya aku mengingatnya… wanita itu masuk ke dalam ruang rias dan meminta kami untuk mengosongkan ruangan itu. Spertinya dia ingin berbicara empat mata” kata perias itu.


“Selain dia, siapa lagi?”


“Aku baru saja merias wajah nona Widia… dan mungkin wanita itu sedang berbicara dengan Nona Widia” kata perias itu lagi dan sukses membuat Alham berdebar ketakutan.


Apa yang sebenarnya terjadi? Tidak usah banyak tanya, segeralah menemui kedua wanita itu di ruang rias atau Widia akan hancur.


Alham segera berlari meninggalkan aula pernikahan. Meninggalkan kedua pengantin yang berbahagia hendak melempar bunga untuk para tamu undangan.


“Baiklah!!! Kami hitung sampai tiga” seru Mc menggunakan mic dengan antusias. Semangatnya menentukan gajinya.


“Vero kau akan ikut?” Louis mendorong tubuh Vero kala pria Italia itu ingin bergabung merebut rangkaian bunga milik Ead.


“Ehem… adik Tuan Ead cantik juga! Sepertinya dia tipeku” bisik Vero di telinga Louis.


“Kau percaya diri sekali jika dia akan memberikannya kepadamu…” ejek Louis.


“Aku sudah membantunya menyelamatkan Leiska, mana mungkin Tuan Ead akan tega membiarkan keinginanku ini… hem?” Vero menata sorban di kepalanya dengan begitu sombong.


“Terserah kau sajalah!!” Louis sudah tidak mau ikut campur.


“Baiklah kita mulai lempar bunganya… 1”


Para tamu bersiap-siap memasang kuda-kuda dan pandangan focus melihat buket bunga yang ada di tangan Subha dan Ead.


“2”


Ketajaman mata mereka di uji di hitungan kedua ini. mereka harus benar-benar focus supaya mendapatkan hasil dan membawa pulangnya. Ini juga merupakan penentuan nasib masa lajang mereka.


Rata-rata tamu yang ingin merebut bunga itu kebanyakan dari anak buah Ead. Mereka semua langsung bergabung saat melihat Vero juga ikut.


Whuss


Gemuruh orang-orang bertabrakan saling rebut-rebutan bunga yang sudah mempelai lempar. Sungguh ini adalah kebahagiaan yang begitu nyata untuk Ead dan Subha yang masih bisa diberi kesempatan untuk melihat kebahagiaan ini, serta melihat Louis yang mendapatkan bunga itu walau penampilannya amburadul.


Dengan nafas yang tersengal Louis berlari menemui Fahima yang sedang minum jus dengan santainya, “Fahima… maukah kau menikah denganku”


Uhuk


Uhuk


Fahima terbatuk melihat Louis yang tiba-tiba berlutut dihadapan para tamu. Astaga, pria ini sangat memalukan sekali, pikirnya.


Ead pun terkejut. Ia tidak pernah melihat Louis melakukan hal berlebihan seperti ini. ia pikir anak buahnya itu seorang pria dingin, namun hanya dingin di luar. Melihat wanita saja langsung lembek.


“Terimaaaaa… terima… terima… terima…”


Para tamu bersorak ria memaksa Fahima untuk segera menerima pinangan pria yang terlihat acak-acakan didepannya. Wajahnya yang berkeringat membuat Fahima merasa terharu atas kegigihan-nya.


Bukan omong-omong semata, namun pria ini langsung membuktikan keseriusannya. Inilah yang diinginkan Fahima.


“Aku ma---”


Srett


Bunga itu diambil paksa oleh seorang pria baya berkopyah hitam, bersetelan tuxedo rapi dengan janggut tebal memanjang sampai dada. Dia, ayah Fahima. Sultana Mahendra.


Hening…

__ADS_1


Mereka semua langsung diam seketika. Wajah menyeramkan dan dingin Sultana mampu membisukan para tamu yang ada.


“Siapa dia, Baby?” bisik Ead di telinga Subha.


“Dia Abi Fahima… beliau merupakan pria yang tegas dan sangat ulet… sangat bijaksana juga dan mengedepankan kedisiplinan dan mematuhi norma-norma ber agama di kazakhtan ini. Anak dan menantunya bahkan bisa di hukum jika mereka menyepelekan agama” kata Subha membuat Ead merinding.


“Wah!! Semangat Louis… sepertinya dia akan memperpanjang masa lajangnya”


“Hiss! Kau ini…” Subha memukul bahu Ead.


Sementara Louis segera merapikan pakaiannya dan rambutnya yang sudah terbuka karena sorban di kepala sudah lepas begitu saja.


“Ikut denganku” Sultana melenggang pergi mengajak Louis yang melirik kilas wajah Fahima disebelahnya.


“Kau akan menjadi istriku… kau tenang saja” Louis mengedipkan satu matanya dan Fahima semakin terbatuk.


Maklum, Fahima tidak pernah di perlakukan seperti itu oleh seorang pria. Melihat Louis seperti itu tentu saja ia begitu terkejut.


Louis pun mengikuti Sultana.


Kembali ke Alham


Brak


“Leiskaaaa… Widiaaa… buka pintunya…” Alham mencoba membuka kenop pintu ruang make up ini. Namun sayangnya ruangan itu terkunci dengan sangat rapat.


Sungguh perasaan Alham semakin tidak enak.


“Leiskaaaa… buka pintunya… Widia”


Alham mencari-cari sesuatu di depan ruangan make up ini. Ia yakin akan menemukan sesuatu.


Kebetulan di samping ruang make up sedang ada perbaikan pintu masuk. Alham melihat palu dan segera mengambilnya.


Brak


Brak


Alham memukulkan palu itu ke knop pintu supaya terbuka. Mungkin membutuhkan waktu sekitar 1 menit dan beberapa pukulan saja, pintu itu akhirnya terbuka.


“Leiska… Widi---”


Alham tersentak melihat lelehan darah membasahi lantai menuju dua orang wanita yang sudah terbaring lemas dengan deru tangisan menggema di ruangan ini.


Dua wanita itu terbaring di tempat yang berbeda-beda dan luka yang berbeda pula. Pakaian Widia koyak hampir seluruh tubuhnya terbuka dan wajahnya penuh luka, tidak lupa ada darah mengalir di paha dalamnya. Ia juga melihat ujung hair dryer penuh dengan darah.


Sungguh Alham tidak tahu apa yang mereka lakukan sebelumnya.


Sementara Leiska. Wanita itu terbaring dengan meringkuk tanpa luka di seluruh tubuhnya namun darah tercetak jelas di ke sepuluh jari-jarinya.


“Wi-widia” Alham mencoba untuk mendudukan Widia namun wanita itu malah menangis sejadi-jadinya dan menjauh seperti orang gila.


“Widia aku Alham… kau lupa?” Alham mencoba mendekat namun tangisannya malah semakin kencang.


Yah, walaupun Alham kecewa dengan Widia, tetap saja ia khawatir. Hanya sebatas sesame manusia saja.


Alham mencoba membangunkan Leiska, namun wanita ini justru malah pingsan.


Karena Alham hanya pria satu-satunya yang ada di ruangan ini. ia pun memutuskan untuk mencari balah bantuan dan membawa keduanya ke rumah sakit.


To be continued

__ADS_1


Cuma bisa satu🙏😭


__ADS_2