
Kediaman Akthakarta
Setelah menghukum para bawahan yang sempat membuat dirinya jengkel, Ead memilih untuk kembali ke kediaman Akthakarta melalui pintu depan. Walaupun ia tahu saat ini sudah sangat malam dan pasti pintu rumah sudah tertutup dengan rapat.
Dari semua orang yang sudah tertidur di kediaman itu hanya satpam penjaga yang masih membuka mata. Ead nampak melihat kearah pria berseragam itu kala tatapan tajamnya mengganggu perjalanannya.
Sejenak Ead menyembulkan asap rokoknya ke udara lalu mendatangi pria itu, secara bersamaan kepala satpam menunduk serta memundurkan tubuhnya.
Tubuh Ead bersandar di tembok, “Tidakkah kau sadar jika tatapanmu mengganggu diriku? Sepertinya kau tidak pernah melihat pria berpenampilan sepertiku ya?”
Satpam itu nampak takut namun tidak dipungkiri ia melirik penampilan yang saat ini tengah Ead pakai. Memang, penampilan Ead mirip brandal, sangat sesuai dengan gosip para pelayan. Namun tidak dipungkiri wajah Ead memang sangat tampan.
“Kenapa kau melihatku seperti itu? Heii aku bukan seorang penjahat. Aku menantu rumah ini. Kenapa, kau tidak merasa nyaman ya?”
Tanya Ead memperlihatkan senyum miring kepada satpam tersebut. Ead tidak suka cara satpam itu dalam melihat dirinya. Menatapnya sebelah mata.
Sejauh ini satpam keluarga Akthakarta tidak pernah melihat anggota atasannya berpenampilan seperti itu, jadi melihat penampilan Ead yang seperti berandal, membuat dirinya kurang nyaman.
Ead menunjuk pintu rumah mertuanya, “Bagaimana cara membuka pintu itu? Apa aku harus mendobraknya saja? Sepertinya mudah bagiku untuk mendobrak pintu itu, dan orang-orang akan terbangun”
Ead mencoba menakut-nakuti satpam dan hal itu sukses.
“Sa-saya akan mencoba membuka pintu tersebut, Tuan. Saya akan mencari kuncinya sebentar”
Satpam itu gelagapan mencari kunci yang tergantung di sabuknya. Hal itu membuat Ead tertawa dalam diam.
“Yang ada di sabukmu itu apa jika bukan kunci” ucap Ead menyadarkan kelalaian satpam.
“Oh iya”
Lantas satpam itu segera mengantarkan sang Tuan baru untuk memasuki rumah lewat pintu rumah, walaupun saat ini ketakutan tengah melanda dirinya.
Dengan gemetaran satpam itu berhasil membuka pintu tersebut. Sangat dipenuhi dengan usaha dan hasil yang tidak sia-sia.
“Silahkan, Tuan”
“Hm” Ead hendak merampas kunci yang dipegang satpam namun segera ia menjatuhkannya. “Sepertinya aku akan selalu kembali larut malam. Aku tidak mau mencari mu terus”
“Didalam sudah ada kunci cadangan, Tuan”
“Oh”
Tanpa menjawab lebih Ead menutup pintunya dari dalam. Menutup kesempatan satpam untuk melihat kegiatannya.
Satpam itupun bernafas lega seraya mengusap-usap dadanya, “Sungguh menakutkan”
Kembali ke Ead. Akhirnya ia berhasil masuk di kediaman mertuanya saat jam sudah menunjukan pukul 01:00 malam. Lampu-lampu sudah dimatikan, hanya terlihat samar-samar, bahkan tidak ada pelayan berlalu Lalang, membuat Ead bisa leluasa bersantai di sofa yang empuk dan nyaman.
Ead membaringkan tubuhnya seraya bermain ponsel. Ia mencoba untuk menghubungi isterinya, namun tidak tersambung.
Prang
Sesuatu terjatuh hingga membangunkan Ead yang terbaring diatas sofa. Ia pun dapat melihat seorang pelayan mengambil panci yang terjatuh dilantai. Ia pikir ada pencuri disana.
“An-anda suami Nona Subha?”
“Hm”
“Sedang apa anda disini?” tanya pelayan itu menyembunyikan pancinya, takut jika Ead salah paham.
“Aku tidak tahu kamarnya, jadi aku menunggu Subha untuk turun menjemput ku. Tapi aku sudah mencoba menelpon, namun telponnya mati”
Pelayan itu mengangguk, “Kalau begitu, mau saya antar ke kamar Nona Subha?”
“Hm”
Jawab Ead tanpa kata namun mampu memberikan arti jika ia menerima. Pelayan itu membawa Ead menaiki tangga menuju kamar Subha dan Ead mengikutinya.
Sampailah mereka di kamar Subha.
“Ini kamarnya, Tuan”
“Iya makasih”
__ADS_1
Ead segera masuk kedalam kamar tersebut, dan menutupnya dengan keras. Ia enggan untuk berlama-lama dengan wanita yang bukan isterinya. Hanya kesal saja yang ia terima.
Akhirnya Ead dapat bernafas dengan lega. Setelah banyaknya orang-orang aneh yang ia temu tadi, akhirnya ia dapat bertemu dengan wanita yang dapat menenangkan jiwanya. Namun begitu mudah wanita itu terbaring tertutup selimut disana?
“Subha suamimu pulang! Bangunlah dia kelaparan” Ead mencoba membangunkan Subha dengan menepuk bahunya, namun wanita ini belum juga bangun.
“Ok aku akan mandi terlebih dahulu”
Ead melepas pakaiannya seraya berjalan menuju kamar mandi. Ia akan memberikan waktu isterinya untuk segera bangun dan melayani suaminya.
15 menit berlalu
Wanita itu masih tertidur pulas diatas ranjang padahal Ead sudah selesai dengan kegiatan kamar mandinya. Dia mulai frustasi.
“Ayolah Subha aku lapar! Suamimu baru pulang dari rumah”
Ead mengganggu isterinya dengan mendusel di pelukannya, dengan maksud Subha akan merasa terganggu dan segera bangun. bukan Subha yang bangun, justru singa Ead yang terbangun.
Dress tipis menerawang yang Subha kenakan dengan cepat memanggil singa liarnya, terlebih melihat dua bongkahan kenyal itu berada tepat didepan mata. Sangat menggiurkan.
Pelan-pelan Ead menurunkan untaian tali yang ada di bahu isterinya. Dengan begitu apa yang ingin Ead lihat akan segera terekspos. Bersamaan dengan itu kecupan-kecupan manis di dua dada sintal itu tiada tertinggal.
Akibat ulah Ead membuat Subha membuka matanya pelan, dengan begitu ia melihat samar-samar pria memainkan dada sintalnya. Ia berpikir jika itu bukan EAD. Subha sesak ingin menangis dan berteriak.
“Arrkkk “
Bugh
Teriak Subha sekaligus menendang Ead hingga menggelinding turun kebawah. Memiliki kesempatan Subha segera menutupi seluruh tubuhnya. Ia sangat takut dengan pria itu.
Sementara Ead segera bangkit dari lantai walau tubuhnya hampir retak akibat tendangan Subha, apalagi tubuhnya membentur lantai.
“Kenapa kau menendang ku?” tanya Ead meringis menahan sakit.
subha nampak terdiam. Ia baru sadar jika pria yang mempermainkannya itu adalah suaminya. Jika tahu begitu tentu saja Subha tidak akan menolak. Ia merasa menyesal.
“Ke-kenapa kau melakukan itu? Jika aku tahu itu dirimu, aku tidak akan melakukan hal itu” cicit Subha merasa bersalah.
Ead hanya menghela nafasnya kesal walaupun sebenarnya ia ingin membalas tendangan itu. Lalu ia membaringkan tubuhnya diatas ranjang. Ia sangga kepalanya dengan tangan.
Kedua tangan Ead seketika memeluk Subha, menariknya untuk lebih dekat dengannya.
“Maaf ya!”
“Kau tidak bisa dimaafkan” jawab Ead tanpa ekspresi sedikitpun.
“Tapi jika aku dengar. Seseorang yang sudah mencoba untuk meminta maaf namun pihak lain tidak memaafkan, maka mereka akan dosa. Aku tidak berdosa karena aku sudah meminta maaf” ucap Subha biasa saja.
Ead ingin sekali memukul mulut pintar isterinya. Dia selalu saja mencari-cari alasan untuk tetap menang.
“Oh iya. kenapa kau tadi tiba-tiba bisa masuk kedalam kamar?”
“Tentu saja bisa. Jika aku menunggu isteriku mengangkat telpon, keburu aku dikira maling di luar sana. Kau tahu? Para pekerja itu, semuanya menatapku seakan diriku ini sedang merampok”
Subha menyergitkan keningnya, “Apa aku tidak mengangkat telpon mu?”
“Menurutmu?”
Seketika Subha menyeringai malu. Ia menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya, membiarkan Ead mengecup ujung kepalanya.
Disana Subha dapat mencium puas bau tubuh suaminya. Bau maskulin yang menggugah selera. Namun bukan Subha menyukainya, justru ia merasa mual.
“Hoekk baumu….”
Subha segera menjauhi Ead untuk berlari kedalam kamar mandi. Ead yang melihat hal itu nampak merasa bingung. Ia mencoba mengendus tubuhnya, namun hanya ada kesegaran saja.
“Parfum Italia” ucap Ead melihat Subha yang mual-mual didalam kamar mandi sana. "Norak" katanya.
Tidak lama Subha kembali dari kamar mandi. Ia merasa sangat lemas karena kebanyakan muntah sementara suaminya itu hanya melihat dirinya saja.
“Sepertinya anakmu tidak mau denganmu” sesal Subha menuju ranjang. Ia memberikan satu guling untuk Ead. “Kau tidur di sofa saja. Aku tidak kuat mencium baumu”
“Omong kosong seperti apa itu” Ead mencoba memeluk Subha lagi, dan lagi-lagi Subha kembali ke kamar mandi.
__ADS_1
Ead menunggu lagi. Tidak lama wanita hamil muda itu keluar dari kamar mandi.
“Kau baik-baik saja?”
“Stop” Subha mencegah Ead yang hendak mendatanginya. “Disitu saja. Aku tidak kuat mencium baumu” Subha menutup hidupnya kuat-kuat.
“Omong kosong seperti apa itu Subha” nada suara Ead meninggi dan itu membuat Subha nampak murung.
“Kau berpikir jika ini omong kosong? Aku benar-benar mual jika dekat denganmu dan kau malah mengatakan omong kosong! Hiks hiks” Subha menangis diatas ranjangnya.
“Iya iya jangan menangis”
Subha nampak sangat bersedih hingga menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Hanya itu… hiks hiks”
“Lalu aku harus bagaimana?” tanya Ead frustasi.
“Di peluk atau di usap kepalanya juga nggak masalah” jawab Subha masih menangis.
Ead nampak lemas mendapati perilaku membingungkan isterinya. Ia pun mencoba mendekat, namun lagi-lagi Subha merasa mual.
“Sudah-sudah tidak usah” sela Subha menolak.
Ead menerima, setidaknya isterinya ini tidak lagi mengeluarkan air mata. Namun kepalanya terasa gatal karena bingung.
“Ya sudah kalau begitu kau tidur saja! Aku akan tidur di sofa”
Ucap Ead mengambil guling dan menatanya disana. Subha merasa kasian dengan Ead namun ia juga merasa mual jika dekat dengannya.
Sebelum tidur Ead ingin pergi ke dapur. Ia pikir Subha akan menyiapkan makan untuknya, rupanya tidak.
“Kau mau kemana?”
“Aku mau ke dapur. Makan” jawab Ead.
“Kau tidak menawariku?”
Ead menelan salivanya, “Kau mau?”
“Tidak”
Jawab Subha menggeleng pelan hingga mampu membuat pria itu merasa kesal namun tertahan.
“Tunggu”
Ead berhenti saat suara itu menahan tubuhnya.
“Aku akan menemanimu makan. Tapi aku tidak mau makan di rumah”
“Ya sudah tidak usah menemani”
“Iihhhh” gemas Subha.
Ead menghela nafasnya dalam-dalam, “Kau bilang tidak mau menemani ku makan di rumah. Ya sudah aku juga tidak memaksa… kau maunya di luar? Maaf aku lelah”
“Ihhhh ayo aku akan temani kamu makan di luar”
“Tidak usah, lagian aku yang mau makan toh ini udah jam 2 malam. Nggak ada restoran yang buka di jam segini” tolak Ead dengan nada melembut.
“Ada” pekik Subha. “Restoran yang isinya minuman-minuman bersoda”
“Itu bar” jawab Ead dengan penuh kesabaran.
Subha mengangguk, “Ya sudah disitu saja tidak masalah”
Ead terlihat tertawa. Ia sudah sangat sabar menghadapi istrinya namun kali ini kesabarannya sudah hampir habis.
“Kau ingin datang kesana? Kau ingin minum apa bir, wine, soju, brandy, wiski, vodka?” tanya Ead pura-pura menyetujui.
Subha bahagia dapat merayu suaminya, “Ayo makan di rumah saja”
Wanita itu langsung keluar dari kamarnya, meninggalkan Ead disana. Ead mengambil ponsel yang ada didalam saku, mencoba mencari penyebab mood wanita yang sedang hamil.
“Trimester pertama ” Ead menggaruk-garuk kepalanya pusing
__ADS_1
...To be continued...
...Ehh Subha, lu nggak usah alay yeee😭😛 Maaf aku belum pernah hamil...