
Kini kedua pria yang polisi bawa sudah berada didalam lapas sel untuk sementara waktu saja. Keduanya berada didalam tempat yang berbeda, mengingat jika keduanya saling pukul jika bersama. Namun kedua sel itu berdampingan hingga Ead masih melihat Alham begitu juga sebaliknya.
Sementara Subha berada ditengah-tengah antara sel Alham dan juga sel suaminya. Dialah wanita yang akan menjadi wali keduanya.
"Subha, kau pulanglah. Umi dan Abi pasti bahagia melihat dirimu" ucap Alham kepada adiknya, membuat Ead ingin membantah.
"Dia punya suami yang dijadikan rumah untuk kembali"
"Rumah, rumah hantu maksudnya?" Alham membantah jawaban Ead yang seharusnya Subha yang menjawab.
Ead berusaha menendang kaki Alham dari sela-sela jeruji besi namun Alham menjauh. Alhasil tendangan Ead tidak sampai. Subha yang melihat perkelahian itu kembali frustasi.
"Masyallah kalian ini. Didalam sel masih saja bertengkar ya? Tidak seharusnya kalian saling bertengkar. Saat ini adalah waktunya kita bekerja sama untuk dapat keluar dari tempat ini. Kalian coba katakan bahwa perkelahian itu hanya kesalahpahaman ya, dan kedua belah pihak sudah saling memaafkan"
"Memaafkan dia? No" pekik Ead membuang muka.
"Sa---"
"Kakak juga tidak bisa melakukan itu?" tanya Subha seketika. Berharap jika kakaknya ini mau memaafkan perbuatan Ead, supaya masalah ini tidak semakin melebar.
Jujur saja Alham kurang sudi memaafkan Ead yang selalu menuduhnya dan selalu melempar dendam. Namun dari kecil Alham selalu diajarkan untuk saling memaafkan.
"Subha, kakak memaafkan semuanya asal kau pulang ke rumah"
"Subha sudah menikah. Jadi semuanya ada ditangan suami Subha kak dan Subha tidak memiliki wewenang untuk membantah" jawab Subha atas ajakan dari Alham, membuat Ead menyengir merasa menang dari Alham.
Alham hanya diam tanpa jawaban. Sementara itu seorang polisi pria yang bertugas untuk menyelesaikan masalah ini baru saja datang dan duduk di mejanya. Subha bergegas duduk didepannya.
"Anda siapa dari kedua orang itu?"
"Aku istri dari pria berkemeja putih dan adik dari pria berkemeja hitam" jawab Subha atas pertanyaan polisi, serta menunjuk Ead dan Alham bergantian.
"Jadi kalian satu keluarga?"
"Bukan. Dia orang luar" sela pria berkemeja putih dengan menunjuk Alham. Ead.
Alham hanya menghela nafas panjang. Namun Ead terus saja membuat dirinya naik pitam. Mungkin demi Subha ia mau bersabar.
Polisi itu kembali fokus dengan laporan yang ada didepannya, "Bisa tolong jelaskan kronologi permasalahannya. Ada yang bilang jika anda adalah saksi"
"Begini. Ini adalah kesalahpahaman antar keluarga... memang tidak seharusnya masalah keluarga diumbar-umbar kan. Namun keduanya sudah saling memaafkan, jadi bisakah kau mengeluarkan mereka berdua?" lirih Subha memohon.
__ADS_1
Polisi itupun langsung berdiri, "Bebaskan saudara yang bernama Alham, dan untuk saudara Ead. Kami akan menginterogasinya lebih lanjut"
Setelah mengatakan itu sang polisi segera pergi meninggalkan mereka. Para bawahannya langsung membuka kunci sel milik Alham, sementara Subha menjadi bingung harus berbuat apa lagi untuk membebaskan suaminya.
"Tuan... Kenapa suamiku perlu di interogasi?"
"Subha" panggil Alham menahan adiknya yang hendak mengejar polisi itu, "Subha ayo kita pulang saja"
"Ya Allah kakak... Kenapa kakak masih membujuk Subha? Kak suami Subha masih ada didalam penjara. Subha tidak bisa pulang jika dia belum keluar"
"Subha, Ead bukanlah pria baik. Dia tidak sebaik yang kau pikirkan!. Kau tahu, kasus kesalahpahaman ini sudah berakhir tapi mengapa polisi itu masih menahan Ead? Karena ada beberapa kasus lain yang Ead lakukan. Dia akan selalu membuatmu dalam kesusahan"
Tutur Alham didengar oleh Ead dan juga Subha. Subha menundukkan kepalanya dengan air mata yang mengalir keluar. Dia hanya ingin menemani suaminya dimanapun dan kapanpun.
"Kak, Subha tidak bisa pulang. Subha akan mendampingi Ead" kekeh Subha membuat sang kakak geleng-geleng kepala dengan sifat keras kepalanya.
"Tidak Subha, kau pulanglah ke rumah. Minta Louis atau Roy untuk datang kemari. Mereka akan mengurus segalanya" sahut Ead saat melihat istrinya menangis meratapi dirinya. Ia tidak tahan, jadi ia menyuruh Subha pulang.
"Tapi kau akan sendirian"
"Jangan khawatir. Aku sudah biasa" lirih Ead dikalimat terakhirnya. "Beritahu Roy atau Louis. Sana pulang"
Ead kembali memberi perintah, namun Subha merasa kurang percaya jika kedua pria itu mampu mengeluarkan suaminya. Bagaimana kalau mereka malah membuat kerusuhan bersama?
Subha mengecup telapak tangan Ead. Ia juga mengecup telapak tangan Alham. Walaupun ia tidak menuruti kemauan kakaknya, tetap dia adalah kakak kandungnya yang harus disalami.
"Subha" panggil Alham mengejar adiknya keluar dari kantor polisi.
Bersamaan dengan itu pria yang hendak melamar Subha, yakni Frederick baru saja bersimpangan dengan Subha di pintu masuk. Pria itu juga melihat Alham keluar dari kantor polisi.
"Saudara Alham, anda baik-baik saja? Aku dengar dari para warga jika ada kerusuhan dan polisi membawa mereka. Karena aku tidak menemukan anda, maka aku memilih datang ke kantor polisi untuk memastikan" ucap Frederick menjelaskan.
Namun Alham tidak mendengarkan apa yang sudah Frederick coba jelaskan. Ia hanya sibuk melihat Subha masuk kedalam mobil taxi didepan kantor polisi.
"Saudara Alham?" Frederick menepuk bahu Alham, hingga pria itupun kembali sadar.
"Wanita tadi adalah adikku. Alhamdulillah dia sudah ketemu"
"Benarkah? Alhamdulillah" pekik Frederick meraup wajahnya dengan lembut. Ia bahagia namun juga bingung kenapa keduanya tidak bersama.
"Namun, kenapa Subha tidak bersama dengan anda?"
__ADS_1
Dengan ragu-ragu Alham menjawab, "Kita pulang terlebih dahulu. Aku akan menceritakan segalanya"
"Oh tentu kalau begitu. Mari"
Frederick memberi jalan untuk Alham lewat, memberikan luang untuk yang lebih tua berjalan duluan. Menghormati yang lebih tua. Keduanya pun kembali ke rumah.
Beberapa menit kemudian.
Mobil taxi yang mengangkut wanita bercadar itu berhenti didepan mansion milik sang Mafia. Para penjaga yang menyaksikan itu merasa kebingungan saat Subha kembali tanpa sang tuan.
"Assalamu'alaikum, dimana biasanya Louis dan Roy berada?"
Para penjaga agak terkejut karena Subha tiba-tiba menanyai keberadaan Roy dan Louis, "Me-mereka berada di kandang Mia, Nyonya. Dimana Tuan Dominic?"
"Ya sudah"
Tanpa mau menjawab pertanyaan si penjaga, Subha bergegas membuka gerbang Mansion dan dibantu oleh sang pengikut setia suaminya.
Subha menyincing rok nya rendah untuk memudahkan ia mempercepat pijakannya menemui kedua pria yang Ead maksud.
Sampailah Subha di kandang kuda. Keringat Subha bercucuran dari balik cadar hanya untuk membuat sang suami keluar dari penjara.
Melihat Subha dengan keadaan seperti itu tentu membuat Roy dan Louis merasa terkejut, terlebih tanpa Ead bersamanya.
"Assalamu'alaikum"
"Walaikumsalam" jawab Louis menemui Subha. "Nyonya Subha, apa yang terjadi?"
"Ead"
Langsung saja Roy dan Louis merasa terkejut bukan main. Mereka takut jika terjadi sesuatu kepada sang ketua, terlebih mengetahui Subha yang menangis dibalik cadarnya.
"Tuan Ead kenapa? Apa kalian diserang, seseorang menyandera Tuan Ead? " Tanya Louis cemas namun Subha hanya menggeleng.
"Coba tenang terlebih dahulu. Ead kenapa?"
"Ead di penjara" jawab Subha menangis.
Namun dengan santainya Roy merespon, "Oh di penjara!"
...To be continued...
__ADS_1
...Segitu dulu ya......
...Jangan lupa jempol sama vote nya......