
Brem
Mobil mewah Lamborghini baru saja memasuki halaman Mansion yang begitu luas nan hitam menyeramkan. Kesunyian dari tempat itu menimbulkan bunyi telapak kaki seorang pria yang baru saja turun dari mobilnya.
Pria itu masih memakai pakaian yang sama, rambutnya masih terlihat sama berantakannya. Namun semua itu justru menampilkan kegagahan yang tampak semakin nyata. Pria itu menikmati cerututnya sambil memasuki Mansion.
Sejenak ia menengadahkan kepalanya keatas, melihat sekumpulan burung gagak yang masih setia dalam perburuan. Pria itu menyeringai kelam, lalu kembali melanjutkan perjalanan.
Krettt
Pintu besi berkarat itu kembali terbuka, memperlihatkan ribuan pasukan dengan wajah yang sama.
“Selamat malam!”
“Selamat malam, Tuan Dominic” jawab mereka serentak.
Dominic terlihat bahagia, “Waw… beberapa jam yang lalu aku masih melihat perlawan dari salah satu anggota pasukan kalian. Namun begitu cepat kalian berubah?”
“Kami akan patuh dan tunduk kepada orang yang mampu memenuhi kebutuhan kami. Anda memang sangat dermawan” ucap salah satu dari pasukan Morque yang membuat Ead bingung.
Kening Ead menyergit, “Dermawan? Memenuhi kebutuhan, Maksudnya?”
Louis dan Roy langsung siap dengan segala jawabannya. Keduanya tahu Ead akan memarahi mereka.
“Maksud dari kata dermawan dan memenuhi kebutuhan itu apa? memenuhi kebutuhan siapa?” tanya Ead dengan sorot mata yang tajam.
“Sini-sini”
Roy dan Louis menarik lengan Ead keluar dari tempat itu.
Brak
Ead langsung memukul dinding dengan kemarahan yang memuncak. Ia tidak habis pikir dengan kelakuan para bawahannya.
Mata Ead memejam menahan rasa kesal, “$500,000 untuk setiap anggota mereka? Kau memberikan iming-iming senilai $500,000 untuk mereka?”
“Aku sudah bilang Tuan Dominic akan murka” bisik Louis ditelinga Roy.
“Lalu kita harus memberi berapa, jika bukan segitu… lagian mereka itu kuat, sesuai dengan bayarannya” bantah Roy juga berbisik ditelinga Louis.
Ead bertambah murka melihat dua bawahannya itu malah asik mengobrol saja. Ead menggaruk kepalanya frustasi. Ingin rasanya Ead menghajar mereka berdua.
“$500,000/orang, ditambah bonus kerja, ditaambah uang makan, ditambah penginapan, ditambah kiriman untuk keluarga mereka” mata Ead tajam melihat kearah mereka, “DAPAT DARI MANA?”
Hampir saja mereka terlonjak mendengar bentakan dari Ead. Untung saja mereka sudah terbiasa mendengar nada suara Ead yang meninggi. Jadi tidak terlalu terkejut.
__ADS_1
“Siapa yang mengusulkan ini?”
“Dia” jawab Roy dan Louis saling menunjuk.
“Aku tanya sekali lagi, siapa yang mengusulkan ini?” nada suara Ead penuh dengan tekanan, mencoba memancing ketakutan para bawahannya.
“Begini Ead…” Roy maju menjelaskan dan Ead mendengarkan, “Ead, para pasukan itu hendak melakukan penyerangan secara serentak jika kita tidak memberi mereka bayaran yang sesuai. Mereka menganggap Morque sebagai mata pencarian mereka, dan uang yang mereka dapat lebih besar dari bayaranku”
“Ohh kau membandingkan bayaran yang ku berikan untukmu dengan uang yang mereka dapat begitu? Kalau begitu gabung saja dengan mereka” ucap Ead merasa kesal.
“Bukan begitu… dengarkan dululah. Dengan begitu mereka berat untuk meninggalkan pekerjaannya yang sebelumnya. Jadi kami memberikan bayaran lebih tinggi dari bayaran mereka sebelumnya”
Ead mengehela nafas lelah, lalu mengangguk,“Ok, kalau begitu kau perluas lagi pemasaran kita, kau gali lagi usaha-usaha di dunia bawah, kau majukan juga jadwal kerja, kau lemburkan semua pekerja, namun jangan naikan bayaran mereka. Kau paham?”
Roy dan Louis membelalakkan matanya. Sangat syok dengan kalimat-perkalimat yang pria itu tuturkan.
“Bagaimana bisa begitu”
“Bisa saja…” bantah Ead tidak kalah tinggi dari nada Roy. “Kumpulkan semua pasukan. Kita harus membicarakan mengenai Zlander”
“Baik”
_________
Lorong gelap dan sunyi dihiasi obor-obor bambu di setiap sisi. Miniature manusia tanpa wajah yang terletak di samping obor itu nampak misterius namun menyeramkan. Mata elang seseorang memperhatikan setiap ruang dan memastikan keadaan tetap aman. Terkadang pria itu melakukan persembunyian saat ia melihat ada orang yang datang.
Pria itu menghentikan Langkah lalu menoleh kebelakang, “Dari sini Widia masuk lalu belok ke kanan”
Alham, pria pemilik dagu tanpa bulu itu mengikuti kemana Widia pergi. Waktu itu Alham merasa curiga dengan tunangannya yang selalu keluar dengan terburu-buru. Dari itu ia mengikuti.
Alham berjalan mengiringi sepanjang ruang bagai labirin ini. Tetap dengan kehati-hatian yang tinggi. Dalam pikiran Alham, ia harus mendapatkan informasi ditempat ini.
Bruk
Prang
Kaki Alham mengikuti asal suara itu ia dengar. Ia membuka lebar-lebar telinga serta mata untuk melihat keadaan. Kepala Alham mengintip serta kedua mata memfokuskan.
Alham melihat banyak sekali orang yang terluka. Mereka ditahan didalam jeruji besi selayaknya tahanan kota. Di luar tahanan ada dua orang pria tidak ia kenal sedang duduk-duduk berjaga serta mengobrol santai.
“Selama kau menjadi anak buahnya, apa kau pernah melihat wajahnya?” tanya pria berwajah kazaakhtan itu.
“Kenapa kau tanya? Sepertinya kau terlalu penasaran. Ku ingatkan, jangan penasaran terhadap sesuatu yang kau tidak tahu”
“Memangnya kenapa? Jika aku penasaran sudah seharusnya aku bertanya kan!”
__ADS_1
“Topeng yang selalu dipakai Zlander… jika tiba-tiba dia melepasnya, kemungkinan detik itu adalah waktu terakhirmu. Jadi bersyukurlah kau tidak tahu wajah Zlander. Kau hanya perlu bekerja untuknya, karena kontrakmu hanya 1 bulan sebelum dia menilai pekerjaanmu” ucap pria Italia itu, kembali mengingatkan.
“Ahhh si*l”
Umpat pria kazakhtan itu didengar oleh telinga Alham yang masih setia menguping dibalik persembunyian.
“Siapa Zlander? Kenapa Widia datang kesini? Apa mereka memiliki hubungan?”
Alham mencoba menggabungkan informasi mengenai dua orang itu namun dia tidak mendapatkan apa-apa. Informasi masih terlalu dini untuk menyimpulkan jawaban.
Alham beranjak dari tempatnya berdiri, dan…
Prang
Dia menjatuhkan miniature manusia yang ada disebelahnya. Itulah yang selama ini ia takutkan. Miniature itu pecah berhamburan seperti tubuh Alham jika ia ketahuan.
“Siapa disana”
Para penjaga itu langsung sigap dengan segala bentuk persiapan, mulai dari menodongkan senjatanya, mengendap-endap mendatangi asal suara itu, hingga keduanya melihat miniature yang sudah pecah itu tanpa Alham disana.
Mereka saling tatap, lalu dari telinga pria itu ada sebuah alat pendengar yang sudah dinyalakan. Ia dapat mudah berkomunikasi dengan rekannya lewat benda itu.
“Segera tutup pintu utama. Ada penyusup masuk ke tempat kita”
Setelah memberi mereka kabar, kedua pria itu langsung bergegas berlari mengejar. Entah dimana penyusup itu berada, mereka harus terus bersiaga.
Sementara para pasukan yang telah diberi kabar, mereka berbondong-bondong melaksanakan perintah. Gerbang utama, gerbang belakang, pintu rahasia, semua terkunci dengan rapat supaya penyusup yang mereka maksud tidak dapat melarikan diri.
Tepat gerbang utama itu terkunci! Alham sampai disana. Alhasil ia tidak bisa melarikan diri dari tempaat itu. Ia melihat keatas, samping kanan, samping kiri, bawah, namun ia tidak menemukan celah untuknya bisa lari.
“Kemana aku harus pergi?”
Ia mencoba mendobrak-dobrak pintu besi itu walau ia tahu jika pintu itu sangat kuat dan tidak mudah untuk membukanya.
“Cepat temukan penyusup itu”
Sementara para pasukan Zlander sudah dekat. Hal itu tentu membuat jantung Alham berdetak semakin cepat. Tidak dipungkiri ia sangat takut dengan nasib dirinya sendiri.
Alham kembali menyusuri Lorong-lorong itu, melarikan diri sebelum mereka mengetahui. Namun kedua kakinya terhenti didepan sebuah ruangan dengan pintu yang sedikit terbuka.
Alham melihat seorang wanita duduk didepan cermin. Wajah wanita itu serta rambut keritingnya mengingatkan dia dengan sesosok wanita dimasa lalu. Wanita yang mampu mengambil hatinya, wanita yang membuatnya berani untuk berpaling dari tunangannya.
“Le-leiska?”
...To be continued...
__ADS_1
...Huhu akhirnya mereka dipertemukan lagi ya reader's 😭 semoga bisa bersatu dalam ikatan pernikahan ...