Syahadat Cinta Sang Mafia

Syahadat Cinta Sang Mafia
Bab 90 : Makan Malam


__ADS_3

Mata Subha membola melihat seluruh pekerja yang ia duga akan berpakaian mini dan memakai pakaian sobek-sobek, ternyata mereka memakai pakaian tertutup, walau mereka tidak memakai hijab namun bagi Subha, itu sudah jauh lebih baik.


"Ead, apa maksud semua ini? Masyallah" Subha sangat terharu melihat suaminya membuat kejutan yang begitu menarik perhatian.


"Ini semua untukmu! Aku tahu kau akan kesusahan berada di Mansion yang memiliki pekerja serba berpakaian minim. Jadi aku rubah cara berpakaian mereka" kata Ead penuh percaya diri kepada istrinya.


"Terimakasih"


Subha memeluk suaminya dengan penuh kasih sayang. Di kecuplah puncak kepala Subha hingga meninggalkan bekas transparan.


"Selamat datang Tuan dan Nyonya" seru para pekerja membuat tangis bahagia Subha pecah bercampur suara mereka.


"Ada lagi, Subha"


Ead menarik pergelangan tangan Subha menaiki tangga menuju ruangan indah dengan kamar king size mewah serta hiasan-hiasan foto bayi-bayi kecil bermata biru dan memiliki pipi merah.


"Masyallah" tidak henti-hentinya Subha memuji kejutan sang suami.


Ead bersimpuh lutut didepan Subha. Kedua tangan putih mulus itu ia kecup dengan begitu lembut lalu berganti mencium perut Subha yang sudah ada perubahan membesar.


"Ini khusus untukmu anakku! Abi buatkan kamar yang innnndah untukmu. Kau suka?" tanya Ead pada perut Subha. Ia yakin melalui ini anaknya itu dapat mendengar.


"Aku suka Abi" sahut Subha meniru suara anak kecil lalu mengusap rambut suaminya.


"Aku tidak bertanya kepadamu melainkan anakku" gurau Ead mencubit hidung tertutup istrinya.


"Tapi dia dengar lewat diriku. Kau mau apa?" tantang Subha berkacak pinggang.


"Aku mau menggigit mu" gurau Ead menggigit hidung Subha yang langsung melengos kearah lain. Sungguh geli rasanya membayangkan air liur Ead menempel di hijabnya.


"Ead jangan!!!"


"Aarkkk Ead"


Tolak Subha menaboki wajah serta tubuh Ead yang ingin menggigit wajahnya. Ia merasa geli dengan semuanya bahkan disela-sela hindar an, tidak dipungkiri cadar Subha lepas begitu saja.


"Aku akan memakan mu Subha Alba" gurau Ead menakut-nakuti istrinya dengan suara yang di mirip-miripkan dengan monster.


Ead mengangkat tubuh Subha ke atas ranjang dan ia baringkan namun ia masih berusaha untuk menggigit wajah istrinya yang telah polos tanpa cadar.


"Gigit dimana enaknya ya? Gig----"


"Tuan Ead ad---"


Ricard langsung membalikkan tubuhnya kearah lain. Ia tidak tahu jika Tuannya sedang bermesraan dengan sang istri, pikirnya.


Mengetahui itu Ead segera bangkit dan meraih cadar untuk ia pasangkan lagi ke wajah istrinya.

__ADS_1


"Ini semua salahmu" timpal Ead membantu wanita hamil ini yang langsung menepuk pergelangan tangannya.


"Abi pergi dulu, sayangku" Ead mengecup kilas perut Subha lalu pergi setelah mengusap puncak kepala istrinya. "Jangan lupa untuk istirahat!! I love you"


Ead melayangkan kecupan dari bibirnya kearah Subha sebelum akhirnya menghilang, membuat Subha berada diatas awan.


"I Love you to" lirih Subha menutup tubuhnya dengan selimut.


_____


Saat ini Ead duduk di ruang tamu bersama dengan Richard yang berdiri disampingnya. Mata Ead menajam melihat undangan pertemuan dengan rekan kerjanya di Italia ini.


"Michaela Johnson tahu aku sudah kembali dari Kazakhstan?" Ead meraih hingga membuka undangan makan malam tersebut.


"Iya, Tuan. Beliau mengetahui anda akan kembali dari Kazakhstan, dari itu ia mengundang anda sekalian" kata Richard dan Ead segera mengangguk paham.


"Undangan makan malam!" Ead tersenyum miring, "Aku akan mengajak Subha"


Michaela Johnson merupakan sahabat Ead di Italia. Wanita ini sudah menikah dan membuat sebuah acara makan malam bersama dengan para pengusaha, karena tahu Ead pulang, ia pun memutuskan untuk mengundang Ead sekalian.


Malam ini Ead benar-benar mengajak Subha makan malam bersama dengan sahabatnya. Subha memakai pakaian seperti biasa, syar'i merah maron dan niqab senada. Puncak kepala ada pernak-pernik putih seperti bando.


"Sempurna"


Prok Prok Prok


"Baiklah, mari kita berangkat!! Istriku" ajak Ead memberikan telapak tangannya untuk ia raih.


"Jangan membuatku malu" Subha langsung menggandeng lengan Ead menariknya pergi, membuat para pekerja tertawa senang.


"Kenapa harus malu? Wajahmu sudah tertutup, untuk apa merasa malu?" Ead hanya melihat Subha yang menyembunyikan wajahnya.


"Tetap saja" kata Subha memukul bahu Ead.


__________


Sesampainya mereka di dalam acara. Para pasang mata manusia tertuju kearah Subha dan Ead yang baru saja datang dengan kedua tangan bertaut mesra.


Kepala Subha menunduk malu dengan mata mereka yang masih tertuju kepadanya. Namun Ead menyadari hal itu.


"Tegakkan wajahmu. Nyonya Zolanda tidak pernah menundukkan kepala" kata Ead berbisik di telinga Subha.


"Baiklah"


Perlahan Subha menegakkan wajahnya, namun mata menjadikan benda lain sebagai pusat utama.


Sementara mereka, ada rasa terkejut di dalam diri. Tentu saja, mereka tidak pernah mengira jika seorang Eadwarl Zolanda yang tidak yakin dengan agama itu akan menikahi wanita muslim bercadar.

__ADS_1


"Selamat datang, Eadwarl" sambut wanita berpakaian mini dengan dada agak menonjol keluar. Wanita itu segera mendatangi Ead hingga hampir memeluk, namun pria itu segera menjauh.


"Maaf Michaela, berjabat tangan saja sudah cukup" tolak Ead tersenyum kepada istrinya.


"Ah iya-iya... berjabat tangan saja, sepertinya aku akan dihajar istrimu jika berani memelukmu" gurau Michaela menjabat tangan Ead.


"Bukan begitu, Nyonya" kata Subha nampak sungkan.


Michaela tersenyum kepada Ead, "Apa sesama wanita kita tidak diperbolehkan untuk berpelukan?"


"Tentu saja boleh" jawab Subha dan Michaela segera memeluk bahkan mengusap punggung tertutup Subha.


"Aku penasaran secantik apa dirimu sampai sahabatku bisa tertarik dengan dirimu" gurau Michaela melihat Subha dan Ead bergantian.


"Perkenalkan, dia istriku Subha Alba Zolanda" kata Ead memperkenalkan istrinya didepan sahabat dan rekan semua.


Mereka hanya tersenyum dan mengangguk saja. Sementara Subha segera memberikan bingkisan yang sudah bergelantung lama di tangan kirinya.


"Nyonya Michaela, kami tidak bisa datang membawa tangan kosong. Kebetulan kami dari Kazakhstan, maka ini ada sedikit oleh-oleh khas negara Kazakhstan"


"Oh my God" Michaela menutup mulutnya dengan kedua tangan. Hadiah spesial dari Kazakhstan untuk dirinya. "Apa ini?"


"Parfum Emilia Kazakhstan!!!! Oh My God!!! Aku selalu kehabisan stok jika memesannya" sesal Michaela tidak menduga. "Terimakasih Ead, dan Sub... Sub"


"Subha" sahut Subha tertawa.


"Iya itu... astaga bagaimana aku bisa lupa ya. Maafkan aku" Michaela memeluk Subha lagi sebagai tanda maaf.


"Tidak masalah"


"Ayo silahkan duduk" Michaela menggiring satu pasangan itu untuk duduk disatu meja yang sama dengan mereka.


"Oh iya... aku pribadi ingin memberitahu kalian semua. Istriku ini sedang hamil, tolong doanya dan tolong perhatiannya" kata Ead merangkul bahu Subha yang malu dengan kalimat suaminya.


"Oh benarkah? Oh astaga, sahabatku ini memang mengejutkan diriku. Pergi ke Kazakhstan, pulang-pulang membawa istri yang hamil. Jika aku neneknya, mungkin akan langsung pingsan" gurau Michaela yang segera di cubit suaminya, Morgan.


"Ini sebuah kejutan Ead. Tenang saja, saat bayi itu besar nanti... kau sekolahkan di yayasanku saja. Kau tidak perlu memikirkan biaya, untuk anakmu gratis!!! Itu adalah hadiah untukku kepada kalian" kata Morgan yang merupakan pemilik Universitas ternama di Italia.


"Terimakasih" jawab Ead dan Subha secara bersamaan.


"Ayo makan" kata Morgan.


Tanpa basa-basi semua orang segera meraih sendok, garpu dan alat makan lainnya. Begitu juga dengan Ead, namun tidak dengan Subha yang masih diam tanpa bergerak.


"Tunggu"


To be continued

__ADS_1


__ADS_2