
Subha serta Ead masih setia mencari pakaian yang cocok untuk dikenakan Ead saat sholat serta pakaian yang cocok untuk para pekerja mereka.
"Ini bagus. Kau mau berapa?"
"Satu saja, lagian aku tidak tahu kapan akan memakainya" tutur Ead bergumam dengan kedua tangan dimasing-masing saku celana.
"Bisa bantu aku. Aku harus mengecek pakaian yang ada disana" Subha segera meletakan beberapa stel pakaian ke tangan suaminya, lalu berlalu pergi.
Tiba-tiba Ead menyadari sesuatu. Ia harus memberikan salah satu kartunya untuk dapat memborong belanjaan Isterinya. Namun Subha lebih dulu kembali sebelum ia sempat memberikan, seperti menagih nafkah saja.
"Aku belum menemukan seragam yang cocok untuk para pekerja. Nanti aku coba tanyakan sama penjualnya aja, sekalian mau bayar bajumu. Minta uang" pinta Subha menyengir dari balik niqab nya, serta kedua tangan menengadah.
"Kedua tanganku penuh. Ambil sendiri"
"Dimana?"
"Disaku bagian belakang"
Subha merabai saku bagian belakang celana Ead. Pikiran Ead malah melayang kemana-mana saat merasakan sentuhan tangan Subha dikedua pipi bawahnya.
"Jangan lama-lama, kau membangunkan sesuatu"
Subha tidak paham. Namun sesuai perintah Ead, ia segera meraih dompet yang ada disalah satu saku celana.
"Boleh aku buka?"
"Tentu saja" Ead mengangguk.
Segeralah Subha membuka dompet tersebut. Didalamnya sama sekali tidak ada uang, yang ada hanya berbagai kartu dengan jenis bank yang berbeda-beda.
Subha langsung mengambil kartu dengan asal.
"Jangan yang itu"
"Ke-kenapa?" gugup Subha saat nada suara Ead meninggi hanya karena ia asal mengambil kartu kredit. "Ini kosong ya?" lirih Subha.
'Hal kotor tidak bisa ku berikan kepadamu, Subha. Kau terlalu suci untuk memakainya' jawab Ead dalam hati.
"Iya itu kosong. Yang warna biru saja"
Alhasil Subha mengambil kartu yang sudah Ead minta. Segeralah ia menutup kembali dompet tersebut dan kembali memasukannya kedalam saku celana Ead.
"Terimakasih" ucap Subha dengan nada lembut.
"Beri aku ciuman" Ead menundukkan kepalanya dekat dengan bibir Subha. Meminta Isterinya untuk mengecup bagian pipi kanan.
"Banyak orang"
"Kecup sini saja apa salahnya sih?" bantah Ead agak menyentak.
__ADS_1
"Bukan begitu... Tapi disini banyak orang. Tidak boleh mengumbar kemesraan didepan khalayak ramai"
"Kata siapa?"
"Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam tidak pernah mengumbar kemesraan dengan Siti Aisyah, bahkan para isteri lainnya"
"Siapa Rasullullah? Siapa Siti Aisyah?" tanya Ead tidak paham sama sekali.
Dengan tenang Subha menjawab, "Rasullulah shalallahu'alaihi wassallam merupakan seorang nabi terakhir yang diutus oleh Allah untuk menyebarkan ajaran Islam sampai kepelosok negeri"
"Apa itu nabi?"
"Dirumah saja ya... Nanti aku ceritakan kisah Rasulullah dan para nabi lainnya. Kita juga bisa belajar ajaran Islam yang lain"
"Ya udah tidak usah. Terimakasih" tolak Ead tidak berminat sama sekali. Bahkan kepalanya mengangguk sekejap lalu pergi meninggalkan Isterinya.
Subha menjadi tertawa melihat perilaku menggelikan dari Ead. Ia masih merasa bersyukur atas pemberian Allah dengan menjodohkan dirinya dengan pria seperti Ead. Mungkin inilah jalan Allah dalam mendekatkan hambanya.
"Masyallah, inikah nikmat yang kau berikan untuk dapat berjalan di jalanmu? Semoga Allah segera memberimu hidayah" tutur Subha memberi doa untuk kebaikan sang suami.
_____
Sementara itu rerumunan jalan juga dapat dirasakan oleh kedua pria jangkung dengan bahu lebar. Keduanya tengah berjalan memasuki sebuah tempat umum yang ramai dan sumpek, bahkan suhu panasnya melebihi padang pasir di Almeria.
Kedua pria ini rela memasuki tempat sumpek serta panas itu hanya untuk mencari seorang gadis ber niqab yang hilang beberapa Minggu yang lalu. Alham dan Frederick.
Alham menyipitkan kedua matanya karena panas, "Apa yang Subha pakai ya? Ahh aku ingat. Subha memakai cincin perak kupu-kupu. Aku membelikannya saat hari ulangtahunnya"
"Baiklah kalau begitu. Saya akan mencarinya disebelah sana, dan anda kesana" Frederick menunjuk jalanan sebelah kanan untuknya dan lurus untuk Alham.
"Baiklah. Kalau ada informasi dari polisi, tolong hubungi saya"
"Baiklah saudara Alham" Frederick mengangguk dan berlari kecil memasuki rerumunan disebelah kanan, dan tubuhnya langsung menghilang.
Setelah itu Alham berjalan lagi melewati para manusia yang berdesak-desakan mencuri celah jalan. Namun tubuhnya kembali diam serta pandangan tertuju kearah sebuah toko yang berisikan dengan pakaian muslim.
Alham dapat dengan jelas melihat sebuah gamis syar'i yang cocok dengan selera Adiknya.
"Subhanallah cantik sekali pakaian itu. Subha akan suka jika aku membelikannya" seketika bibir Alham memuji pakaian yang baru ia lihat.
Begitu indah pakaian itu sehingga kedua kakinya tanpa sadar sedang berjalan mendekat, sampai membuka pintu toko tersebut.
Begitu sampai di dalam toko, pandangan Alham langsung tertuju kearah pria yang membawa tumpukan pakaian kedepan kasir. Hal itu membuat tubuh Alham membeku.
Ia sangat terkejut melihat pria itu berada di negaranya sendiri, hingga ingatannya membawa dirinya ke masa 2 tahun yang lalu.
Flashback on
1 tahun lalu
__ADS_1
Italia, Roma, 13:30
Alham beserta Ead duduk disatu meja yang sama. Keduanya saling menikmati hidangan makanan yang sudah dipesan dari masing-masing mereka.
"Adikku bilang dia suka denganmu. Sepertinya Adikku yang terlalu cinta kepada rakyat Kazhakstan"
"Bukan dia, tapi aku..." bantah Alham dengan wajah serius. Namun Ead nampak tenang tanpa sedikit beban.
"Kok bisa dirimu, buktinya?"
"Aku berani mencintai Adikmu walau aku tahu kita tidak bisa bersatu, terlebih karena statusku saat ini"
"Tunangan orang?" sela Ead memperjelas penuturan Alham, dengan penuh emosi serta rahang tegas yang mengeras bahkan gertakan gigi yang menguat.
"Aku janji ak----"
Bugh
Ead membogem pipi kanan Alham sampai tubuhnya tersungkur ke lantai. Mengobrak-abrik isi dari meja yang ada didekatnya.
"JANGAN TAMPAKAN WAJAH BRENGS*KMU DIDEPANKU LAGI SI*LAN"
"JANGAN DEKATI ADIKKU. JANGAN DATANGI ITALIA ATAUPUN HANYA SEKEDAR SINGGAH"
Umpat Ead dengan penuh amarah hingga membuat Alham babak belur saat itu juga. Para pelayan restoran itu bergegas berlari untuk melerai keduanya.
Flashback off
Sejenak Alham merasakan sesak didalam dada nya, namun wajah Ead terlihat jelas lagi menyeramkan dari sebelumnya.
"Masyallah. Begitu rumit jalan takdir dengan mempertemukan kami di negara seluas ini"
Bibir gemetar Alham berucap. Sungguh tidak ada keinginan Alham untuk bertemu ataupun kembali ke masa lalu. Ia sangat ingin menghindar dari Ead supaya tidak membawa amarah yang menjadikan dosa dikedua belah pihak.
Alham segera membalikan tubuhnya membelakangi Ead yang masih sibuk dengan barang belanjaannya. Namun saat salah satu kakinya melangkah maju, suara mengalun memanggil namanya.
"Kak Alham"
Deg
Tubuh Alham kembali berbalik mengikuti suara bagai alunan itu berasal. Terlihat gadis yang tengah ia cari sudah berdiri tepat didepannya.
"Subha?"
...To be continued...
...Ayeeee Ead ketemu kakak ipar nih reader's, tolong beri selamat dong hihihi...
...Jangan lupa jempol ama vote......
__ADS_1