
"Ead ada informasi untukmu" tutur Roy berusaha sampai didepan pria yang ia sebut tuannya. Namun Ead sama sekali tidak menggubris perkataan apapun dari mulut bawahannya.
"Ead"
"Kau tidak lihat diriku sedang sarapan? Apa perlu aku membuka kedua matamu lebar-lebar, supaya kau dapat dengan jelas melihat kami"
Roy meneguk ludahnya kasar, merasa ngeri dengan perkataan serta sorot mata mengerikan milik pria yang terduduk di meja makan tersebut.
"Louis, bawa Roy pergi"
"Ead" sentak Roy saat lengannya ditarik Louis.
"Mungkin dia membawa informasi penting" sela Subha yang sedari tadi agak canggung melihat interaksi tidak mengenakan dari ketiga pria yang ada didepannya.
"Tidak ada yang penting saat pria itu yang mengatakannya"
"Aw, kau menyakiti hatiku Ead... Teganya dirimu mengatakan ini semua?" Tutur Roy memelas serta tangan menyentuh dadanya.
Ead hanya meringis geli menampaki respon menggelikan dari Roy yang kesal karena ketidakadilan yang Ead berikan.
"Lihat saja kau..." Roy melengos serta menghentikan satu kakinya dan pergi.
Sementara Louis menundukkan kepalanya sekilas lalu mengikuti Roy dari belakang.
Ead menghela nafas frustasi serta lengan kemeja ia tekuk sampai siku, bersiap menyantap sarapannya.
"Kenapa porsi makan mu sedikit?"
"Aku... Tidak begitu lapar"
"Inilah sebabnya kau cepat lelah tadi. Ayo makan yang banyak, aku tidak ingin kau pingsan lebih dulu"
"Astaghfirullah"
Sahut Subha mendengar ucapan Ead yang kembali memalukan, bahkan itu membuat dirinya malu saat para pelayan menahan senyum dari balik wajah datar mereka.
"Kau tidak boleh mengatakan itu didepan banyak orang, apalagi itu aib keluarga"
"Memang benar kan... Kau itu kurang makan, dan lihatlah tubuhmu, kau terlihat sedikit kurus"
Subha memegang perut serta lengan kanannya, memastikan jika perkataan Ead semuanya tidak benar. Namun Subha memang memiliki tubuh kurus.
Dibanding para pelayan, tubuh Subha tidak ada apa-apanya. Para pelayan memiliki body bagus serta pakaian yang mereka kenakan seperti sedang memamerkan kepunyaannya.
Subha menelan ludahnya sedih melihat pelayan bertubuh bagus yang sedang menyajikan sarapan di piring Ead.
__ADS_1
"Aku terlalu kurus ya?"
"Iya" jawab Ead tanpa melihat keberadaan Subha. Ia hanya sibuk memotong daging di piring dengan pisau.
Tentu itu membuat Subha sadar, kepalanya pun mengangguk menerima. Ikhlas. "Bandingannya dengan siapa dulu, jika dengan pelayan di mansion mu tentu aku tidak ada apa-apanya"
Seketika itu Ead menghentikan sarapan paginya, merasa agak janggal dengan perkataan Subha yang terkesan menyindir. Hal itu juga membuat pelayan sadar dan memilih mundur perlahan.
Ead melihat Subha lalu berganti kearah pelayan yang masih berdiri dengan kepala menunduk. Pelayan ini memang terlihat lebih menggoda dibanding Subha.
"Tidak perlu menambah berat badan... Aku sudah suka, dan... pi-pipimu sudah terlalu cabi. Semua terlihat sempurna" tutur Ead terbata-bata takut salah omong yang membuat Subha semakin sedih.
Subha tidak marah. Ia hanya sedikit kecewa dengan perkataan yang berasal dari pikiran suaminya. Diam memang senjata utama saat kemarahan melanda.
"Hem... Kau mau apa? Aku akan kabulkan semua keinginanmu"
Ead mencoba merayu supaya Subha kembali seperti semula. Memang Subha tidak memperlihatkannya, tapi diamnya Subha pasti ada apa-apa.
Subha diam, memikirkan hal yang menjadi keinginannya. "Bisakah aku membeli pakaian baru untuk para pekerja disini?"
"Tentu saja boleh. Kau membutuhkan uang berapa, 100 JT, 200 JT, 300, 400?"
Katakan berapa yang dibutuhkan, Ead sudah menyiapkan berbagai kartu didalam dompetnya.
"Aku tidak tahu berapa yang ku butuhkan. Coba kau ikut denganku dan berbelanja bersama-sama. Kau akan tahu nantinya"
Ead menghentikan hitungannya terhadap kartu didalam dompet. Mempertanyakan maksud dari yang Subha katakan.
"Kenapa aku harus ikut? Lagian itu hanya belanja pakaian"
"Iya... Tapi aku juga ingin memilihkan dirimu pakaian"
Kepala Ead mengangguk bahagia. Ia jadi tahu maksud dari ajakan istrinya pergi berbelanja.
Sementara itu para pekerja yang ada diruang makan maupun tidak, mereka semua turut bahagia saat atasannya akan segera membelikan pakaian baru untuk mereka.
"Kalau begitu sekarang saja"
"Ke pasar Ferdan ya?"
"Terserah kau saja" Jawab Ead antusias menerima segala ajakan Subha hingga keduanya bersemangat keluar dari mansion. Tanpa sarapan terlebih dahulu.
Subha masih terlihat melangkahkan kedua kakinya secara pelan. Ia ingin menutupi rasa nyeri tersebut bagaimanapun caranya, karena itu dapat menciptakan pikiran buruk disetiap orang yang melihat.
_____
__ADS_1
Pasar Ferdan.
Gemuruh orang berlalu lalang memenuhi setiap penjual yang berada dipinggir jalan. Banyak sekali warga menyerbu para penjual seperti aksesoris, makanan, jajanan, dan pakaian.
Pasar Ferdan ini merupakan pasar terbesar di negara ini. Sepanjang jalan hanya akan dipenuhi dengan para penjual kaki lima, jadi para warga yang memiliki mobil diminta untuk putar balik.
Terlalu sumpek dan pengap, membuat pria yang baru berkunjung merasa frustasi hampir kehabisan nafas.
Tubuh Ead berhimpitan dengan para warga yang saling dorong-dorongan mencari jalan. Tentu Ead tidak bisa tinggal diam saat melihat Subha terhimpit seperti itu, iapun segera mengulurkan tangannya ke bahu Subha, memberikan jarak antara Subha dan para warga.
"Subha, terlalu ramai... Mana sumpek lagi... gimana kalau ada yang noel-noel?"
"Noel gimana?" Subha menoleh sekejap lalu kembali fokus dengan jalan.
"Noel gini loh..." Ead mempraktekkannya dengan menoel dagu tertutup niqab milik Subha, alih-alih sedikit menggoda.
"Kan aku bawa suami. Siapa yang berani dengan dirimu? Apalagi pria itu menakutkan" ucap Subha dengan nada lirih di kalimat terakhir, dan Ead pun tidak dengar.
"Bagaimana kau akan membeli pakaian ditempat sumpek seperti ini?"
"Kita hanya lewat" jawab Subha meninggikan nada suaranya supaya Ead mendengar, karena suara gemuruh orang semakin memenuhi pendengaran mereka.
Sampai...
Akhirnya Subha dan Ead memasuki sebuah toko yang penuh dengan pakaian dan aksesoris yang biasa rakyat Kazhakstan pakai, seperti sorban dan lain-lain.
Setiap toko pasti tidak luput dari pembeli dan penjual. Namun toko ini tidak begitu penuh pembeli sehingga Subha dan Ead dapat leluasa memilah pakaian sesuai kebutuhan.
"Pakaian seperti apa yang ingin kau cari?"
"Pakaian muslim baik pria maupun wanita. Untukmu maupun para pekerja"
Ucapan Subha membuat kepala Ead langsung menoleh melihat Subha yang sibuk mengobrak-abrik gantungan yang berisikan gamis serba putih.
"Untukku, buat apa aku memakai pakaian bentukan seperti itu?"
"Untuk sholat. Kau kan belum punya pakaian untuk menemani rutinitas mu saat sholat 5 waktu"
Ead mengerutkan keningnya. Ia sama sekali tidak berminat memakai pakaian ribet seperti itu.
"Aku tidak perlu memakai pakaian seperti itu. Pekerjaanku bukan hanya untuk sholat"
"Tapi sholat itu penting"
Whatever, Ead tidak perduli akan hal itu. Hati Ead belum terikat sepenuhnya dengan kepercayaan baru yang ia ikuti. Ia hanya membuat hubungannya dengan Subha nampak sah dimata agama.
__ADS_1
...To be continued...
...Semoga kalian sehat selalu bestie......