
Saat Subha membuka jendela, kedua netranya melihat seekor kuda sedang meringkik memutari kandang. Perilaku yang kuda itu tampilkan seperti merasa tengah meminta pertolongan.
Subha yang merupakan pecinta kuda pasti tahu apa yang kuda itu maksud. Saat matanya melihat perilaku cemas kuda itu, hatinya sudah dapat merasakan.
"Ada apa dengan kuda itu, kenapa dia terus meringkik? Biasanya jika kuda meringkik, dia sedang merasa cemas"
Ead menoleh melihat gadis yang berdiri didekat jendela sambil bergumam dengan pertanyaan-pertanyaan untuk dirinya sendiri, lalu ia memilih menghampirinya dengan kedua tangan dimasing-masing saku celana.
"Kenapa kuda itu terlihat cemas?"
"Mungkin dia rindu anaknya"
"Anak?" Tanya Subha mengerutkan keningnya. Berbagai pertanyaan akhirnya muncul dalam benak Subha tentang keberadaan anak Mia.
"Jadi dia merindukan anaknya!. Lalu dimana anak kuda itu?"
"Ada di pengembala kuda lah... Aku tidak mengizinkannya untuk ikut"
Jawab Ead percaya diri, memperlihatkan kesan seseorang yang tidak peduli dengan perasaan si kuda. Pasti hal itu membuat Subha terkejut, apalagi saat dirinya mengidolakan kuda.
"Kamu memisahkan Ibunya dengan Anaknya?"
"Dia melahirkan Anaknya namun masih bisa selamat. Aku merasa kagum, dan akhirnya aku membawanya... Aku ingin lihat sampai kapan dia akan bertahan hidup setelah melahirkan bayinya"
"Astaghfirullah itu dosa..." Pekik Subha dengan nada suara yang lantang serta jelas, membuat Ead yang mendengarnya menjadi terkejut oleh sikap pemberani Subha.
"Apa, dosa?"
"Itu namanya kau menyiksa. Kita tidak diperbolehkan untuk menyiksa makhluk hidup yang ada di dunia, baik itu hewan, manusia, tanaman dan lain sebagainya"
Tutur Subha dengan wajah yang sangat amat kecewa dengan pemikiran jahat dari suaminya, terlihat gadis ini menggeleng-gelengkan kepalanya sembari mengusap dadanya. Menenangkan.
"Itu hanya kuda loh"
"Kuda juga ciptaan Allah" sentak Subha semakin membuat Ead terkejut.
Bahkan saat ini tubuh Ead membeku serta kedua mata membelalak tidak menyangka, jika akan mendapat semprot kemarahan dari gadis yang sedari tadi bersikap rendah terhadapnya.
Sementara Subha segera melenggang pergi setelah memakai niqab yang tergeletak diatas ranjang. Ia membawa kedua kakinya turun menemui kuda betina itu.
Sesampainya di bawah Subha berlari mendekati kuda betina yang memilih duduk diatas parit serta kepalanya mendelosor diatas tanah.
Tanpa rasa jijik maupun geli Subha mengusap tubuh kuda yang sudah lemas itu. Keadaannya terlihat sangat prihatin karena merindukan anaknya.
"Nyonya Subha" Louis yang sejak lama merawat Mia juga ikut terkejut menampaki bidadari memakai niqab pink berada dikandang kudanya.
__ADS_1
"Sejak kapan kuda betina ini terpisah dari anaknya?"
"Sejak 1 Minggu yang lalu" jawab Louis menghampiri Subha dengan mengangkat satu ember berisi air.
"SUBHA"
Akhirnya suara bariton Ead terdengar memanggil Subha. Sejak tadi pria ini merasa kesal karena perilaku lancang istrinya. Dari itu dia memilih menyusul Subha ke kandang, walaupun jalanan becek menghalangi dirinya.
Ead semakin frustasi kala melihat pakaian syar'i Subha bercampur dengan genangan air yang kotor hingga mengubah warnanya.
"Subha ngapain kamu disitu? Kemari, pakaianmu terlihat menjijikan dengan warna kecoklatan"
"Kudanya sakit"
Alih-alih menuruti kemauan Ead, Subha malah sibuk dengan kondisi kuda yang sudah melemas. Yang membuat Ead kesal ialah, Subha mengadukan kesehatan Mia kepada Louis bawahannya.
Louis yang melihat respon kesal Ead hanya bisa menundukkan kepala serta menjawab lirih, "Tuan Ead memperhatikan anda"
"Tapi kudanya sedang sakit"
"Iya tapi aku bukan yang memutuskan segalanya" tekan Louis merasa semakin cemas. Takut jika kemarahan Ead membawa keluarganya dalam bahaya.
"Kudanya sakit"
Ucap Subha kepada pria yang sedari lama memperhatikan dirinya. Pria ini sudah memasang wajah menyeramkan serta siap menelan keduanya.
"Dia harus diobati" rengek Subha kepada pria yang tidak memiliki belas kasih didepannya.
"Memang itu yang aku inginkan!. Akhirnya setelah lama kuda itu sakit juga... Akhirnya"
"Kau tidak boleh begitu, dia juga makhluk Allah. Tolong panggil Dokter" rengek Subha menghampiri Ead yang hanya diam melipat kedua tangannya di dada.
"Urus saja sendiri"
"Astaghfirullah kau itu jahat sekali"
"Jahat?" Ead menoleh hingga mendekati gadis yang mengatainya jahat. Nafasnya mendengus kencang serta tatapan tertuju kearahnya.
"Jika aku jahat kuda itu sudah mati" untuk kedua kalinya Ead meninggikan nada bicaranya, membuat Subha memanyunkan bibirnya dari balik niqab tanpa Ead ketahui.
Namun kondisi Mia semakin membuat Subha bersedih, matanya mengembun merasakan apa yang Mia rasakan. Bagaimana kalau dia mati?
"Tolong... Dia kesakitan"
Ead menghela nafasnya dalam-dalam saat suara seperti gumaman itu terdengar di telinga. Hal itu membuat lubuk hatinya tersentuh.
__ADS_1
Namun tiba-tiba pikiran jail terlintas dalam otak Ead. "Aku akan memanggil Dokter, tapi ada satu syarat"
Hati Subha terlonjak gembira mendengar penuturan Ead. Tanpa memikirkan apapun ia langsung mengangguk menyetujui permintaan suaminya asal kudanya selamat.
Tentulah ead dengan senang hati memanggilkan dokter untuk mengobati kudanya. Sementara subha berlari kecil menyincing rendah roknya mendekati kuda betina itu. menunggu dokter datang mengobatinya.
Subha senang, terlebih dengan louis. Pria yang merupakan bawahan ead ini akhirnya dapat melihat kudanya mendapatkan pertolongan. Merasa bersyukur bertemu dengan subha.
30 menit kemudian
Subha bersama dengan louis dan Ead tengah menunggu pria baya yang sedang sibuk memeriksa keadaan sang kuda. Ups, sepertinya hanya Subha dan Louis saja yang menunggu… karena respon Ead hanya diam seraya menikmati cerutunya.
“Kudanya hanya sedikit lemas karena kekurangan cairan. Kalian tenang saja, cukup berikan asupan makanan dan minuman yang cukup” ujar sang Dokter hewan setelah memeriksa si kuda.
“Benarkah tidak apa-apa?” tanya subha khawatir.
“Tidak ada yang serius"
"Syukurlah"
" Saya permisi dahulu, Assalamualaikum” ucap Dokter itu meminta ijin untuk pergi.
“Walaikumsalam, terima kasih Dokter” Louis menganggukan kepalanya sebagai rasa terima kasihnya kepada sang Dokter, begitupun dengan Subha namun tidak untuk Ead.
Dokter tersebut memberikan salam sapa kepada pria mengerikan yang sedari lama memperhatikan interaksinya, namun sama sekali Ead tidak menjawabnya.
Louis mengusap lembut kepala kuda, “Nyonya Subha, apa anda tahu nama kuda ini?”
“Ada namanya?” antusias Subha.
Louis mengangguk, “Namanya, Mia”
“Ouwww hai Mia, aku Subha”
Subha melambaikan tangan kanannya untuk saling sapa kepada Mia, membuat louis yang melihatnya menjadi terpesona. Merasa pantas jika Ead langsung menikahinya, karena wajah tertutup Subha malah memancarkan aura cantiknya.
Namun hal itu jelas membuat sang dominan pemilik gadis itu menjadi murka, bahkan urat-urat dilehernya terbentuk semakin nyata. Mengapa Subha bisa tertawa dengan bawahannya!.
Ead menarik tangan Subha menjauhi Louis, “Kau harus ingat, ada satu syarat dan aku belum mengatakannya serta kau belum mengabulkannya”
“Aahh benar. Apa itu?”
“Cium aku”
...To be continued...
__ADS_1
...Tidak bermaksud menghina atau menjelekan pihak manapun, dimohon kerjasamanya....
...Jangan lupa vote......