
“Le-leiska?”
Sangat tidak dibayangkan Alham akan bertemu dengan wanita itu lagi, terlebih bertemu ditempat misterius seperti ini. Rasanya agak dongkol melihat Leiska saat pikirannya telah melayang kemana-mana.
“Kenapa Leiska ada ditempat seperti ini? Pertama Widia datang kemari, ditempat mengerikan dan kotor seperti ini, lalu sesosok Zlander, dan… Leiska? Apa mereka bertiga memiliki hubungan? Sejak kapan Leiska dan Widia berbaikan?”
Alham mencoba mengaitkan kembali, namun semakin ia berpikir semakin buruk pula pikirannya tentang dua wanita yang sudah ia kenal lama.
“Disana”
Akhirnya suara para pengawal Zlander terdengar diseberang perempatan Lorong sana, membuat Alham terkesiap melarikan diri lagi. Hal itu juga membuat Leiska menyadari jika ada orang dibalik pintu kamarnya.
Ia berlari untuk memastikan. Leiska dapat melihat para pengawal berlarian melewati depan ruangannya, dan dapat juga melihat punggung Alham. Namun ia tidak mengenali itu.
Salah satu pengawal berhenti tepat didepan Leiska, “Maafkan kami telah membuat keributan, Nyonya Leiska… ada penyusup, dimohon anda menutup kamar anda. Saya melihat jika penyusup itu mengintip kamar anda. Saya permisi dahulu”
Setelah memberitahu, pengawal itu segera meninggalkan Leiska untuk mengejar pria yang dimaksud penyusup itu.
“Penyusup? Siapa yang dimaksud penyusup?” gumam Leiska bingung.
Kembali ke Alham. Alham melarikan diri sampai menuruni tangga menuju sebuah ruangan minim pencahayaan, serta ia tidak melihat siapa-siapa. Bagus, pikirnya.
Dengan nafas yang tidak beraturan dan menahan kedua kakinya yang lelah Alham baru menyadari jika ruangan itu telah buntu. Tidak ada tempat untuk ia bersembunyi.
Sementara para pasukan Zlander sudah terdengar menuruni tangga hingga menemukan Alham disana. Mereka bersiap menembaki Alham dengan persenjataan hebatnya.
Seorang pria pemimpin pasukan itu keluar dari rerumunan anak buahnya, “Apa kau salah masuk kendang? Dari cara berpakaian mu, kau terlihat seorang pengusaha!”
“Ya… aku memang seorang pengusaha. Kau mau menjadi karyawanku? Maaf!! Kami tidak membuka lowongan pekerjaan”
“Hahahah” tawa pria itu merendahkan. “Sifat percaya dirimu membawamu kedalam sifat angkuh dan juga percaya diri yang tinggi. Selain itu kau juga banyak bicara”
“Sepertinya bukan aku yang banyak bicara. Dari tadi kau terus yang bicara”
Tidak sedikitpun Alham menampakan wajah takut, justru ia terlihat berani. Itulah yang mereka lihat, mereka tidak tahu saja jika Alham merasa akan hancur jika melawan mereka seorang diri.
“Tangkap penyusup itu”
Titah pemimpin pasukan tersebut. Merekapun bergegas menangkap. Namun karena Alham tidak menerima, iapun mencoba untuk melawan.
Tangan serta kedua kaki Alham tidak henti-hentinya menangkis secara bergantian. Menahan perlawanan dari para pasukan berikan. Namun Alham tertendang hingga tersungkur dibawah miniature patung yang ada disana.
Ia mengambilnya, dan…
Pyar
__ADS_1
Pecah sudah itu miniature serta kepala yang menjadi sasarannya. Tidak mau menyerah, Alham mengambil obor bambu yang ada dibelakangnya.
Srett
Ia melayangkan obor tersebut ke wajah pria yang hendak mendekat, lalu memukulkannya ke kepala bagian belakang. Bambu itupun pecah.
“Wahhh kuat juga pukulanku” Alham kagum melihat bambu yang ia pegang pecah.
Bugh
Dengan mudahnya Alham tersungkur di latar kala pemimpin pasukan mereka menendang tubuhnya secara tiba-tiba. Alham susah untuk membalikan tubuhnya karena punggungnya terasa sangat sakit.
“Kau terlalu banyak bermain hingga untuk nyawamu saja kau permainkan” katanya menginjak kepala Alham.
Wajah Alham memiring ke kanan, dahinya mengeluarkan darah serta telinganya terasa nyeri sekaligus pengap saat telapak sepatu boat itu menyentuhnya.
Lantas pria itu menarik kerah bagian belakang Alham. Mensejajarkan tingginya serta ingin melihat wajahnya. Ia nampak menyedihkan.
“Apa kau ingin mati, hah”
Bugh
Pria itu membenturkan kepala Alham Kedinding dengan sangat keras. Tubuhnya sempoyongan serta pandangan terasa buram. Iapun langsung ambruk.
“Bawa pria sombong itu ke dalam sel. Zlander akan berterimakasih kepadaku karena sudah menahan pria itu. Luar biasa” ucap pria itu membersihkan pakaiannya.
Mulut Alham terbuka menyembulkan oksigen dari dalam sana, mencoba untuk tetap sadar. “Kau ingin membawaku kemana?... Zlander? Siapa Zlander? Tidak akan kubiarkan”
Dengan kekuatan yang menipis Alham berusaha mati-matian untuk menyelamatkan nyawanya. Ia melakukan segala tindakan yang mengakibatkan dirinya terluka.
Meja berisikan miniature itu melayang ditangan Alham hingga terlempar kea rah pasukan mereka.
Memiliki kesempatan, Alham segera melarikan diri menaiki tangga lagi.
“KEJARR”
Alham melarikan diri dengan dinding sebagai sandaran menahan rasa nyeri kepalanya. Jika dia ingin mati, sudah pasti ia menyerah dari tadi.
Telapak tangan Alham menggerayangi dinding seiring pandangannya yang mulai memudar. Semua seakan gelap gulita tiada penerang dimana-mana.
‘Aku harus segera keluar dari tempat ini…’
Alham bertekad dalam hati saat dirinya melewati hingga pintu sebuah ruangan.
Cklek
__ADS_1
Bukan Alham membuka ruangan itu, namun seseorang telah menarik tangannya untuk masuk. Bersyukurlah setidaknya para pengawal Zlander tidak melihat pria dengan jalan tertatih-tatih itu lagi.
_______
Sejenak tubuhnya merasa sangat nyaman dengan rasa sakit yang perlahan mulai menghilang. Namun netranya masih susah untuk ia perlihatkan, entah karena terlalu nyaman atau memang tidak memiliki kekuatan.
“Arkk”
Desis Alham menyentuh dahinya yang kembali berdenyut. Padahal tadi rasa nyeri itu sudah hilang, mungkin berkat perban itu.
Mata Alham mulai membuka melihat benda-benda tertata rapi nan indah untuk dipandang. Sama sekali bukan tempat sebelumnya. Ia memikirkan keberadaannya saat ini.
“Aku dimana?”
“Kau sudah bangun”
Alham langsung menoleh kearah sumber suara. Seorang wanita berambut keriting panjang seraya membawa nampan berisikan makanan.
Rupanya sang pencipta memiliki rencana dibalik terlukanya dia yaitu mempertemukan dua insan yang sudah lama tidak memiliki kabar. Sungguh takdir yang mengejutkan.
“Alham kau baik-baik saja?” Leiska duduk mendekati pria yang tidak terdengar suaranya itu. “Alham”
Pria itu menepis tangan Leiska serta beranjak dari tempatnya. Tanpa peduli dengan keadaanya saat ini. Ia segera memakai kembali jasnya.
Tentu itu membuat Leiska tidak bisa tinggal diam, “Alham kau masih belum sepenuhnya sehat. Sebaiknya kau istirahat. Lagipula para pasukan itu---”
Ucapan Leiska terhenti kala melihat Alham acuh melewati dirinya. Ia bersikeras ingin keluar.
“Alham---”
“Berhenti memanggilku” bentak Alham menepis kasar lengan Leiska.
Tubuh Leiska seketika mematung. Tentu itu membuat Leiska sangat terkejut, terlebih melihat wajah pria itu yang menyeramkan. Hal yang tidak pernah Alham perlihatkan.
“Ini salah Leiska” Alham meraup kasar wajahnya. “Demi Allah aku selalu berdoa untuk tidak bertemu denganmu lagi… bahkan aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak menginjakkan kedua kakiku di Italia. Ku tutup semua akses Italia masuk kedalam perusahaan ku, karena aku benar-benar ingin berubah. Ada tunangan yang sangat ku hargai”
Butiran kecil dari mata Leiska turun menyusuri kedua pipinya. Ia benar-benar terpukul mendengar penuturan dari pria yang masih menjadi idolanya.
Begitu tega Alham mengatakannya.
“Aku memiliki tunangan yang harus ku nikahi” tutur Alham membuat wanita yang sudah lama menguping itu berbunga-bunga.
...To be continued...
...Alham itu tipe orang setia ya bebss😭 Ya nggak sih??...
__ADS_1
...Oh iya jangan lupa vote, like, komen, subscribe supaya author yang membuat sampai begadang ini bisa semangat lagi huhuhu...
...Supaya author juga tahu kalau kalian masih mau baca lanjutannya🤗...