Syahadat Cinta Sang Mafia

Syahadat Cinta Sang Mafia
Bab 89 : Mansion Italia


__ADS_3

“Astaga, anda tega sekali dengan saya?” Louis sudah memelas namun masih cool hingga Ead belum puas sama sekali.


“Lalu, bagaimana dengan hubunganmu dengan gadis itu saat ini?” tanya Ead hanya basa-basi.


Louis membuang nafasnya lelah, “Fahima masih memberiku kesempatan 1 minggu untuk mencari pekerjaan”


“Oh ya, kau sudah rutin menjalankan sholat?” Ead agak berbisik jika membahas tentang kewajiban sholat setiap orang muslim ini.


“Belum!. Sholat itu seperti sebuah kebiasaan. Sangat sulit untuk membuat kebiasaan yang baru” jawab Louis realistis saja.


“Cih! Kau bilang ingin menikahi Fahima? Sholat saja tidak pernah!!! mau menikahinya?… kalau aku jadi Ayahnya, aku akan langsung menolak saat itu juga… beruntung sekali dirimu diberi waktu” sindir Ead.


Namun Louis hanya diam. Ia bingung dengan cara apa dia bisa menikahi Fahima. Tiba-tiba pikiran masa lalu terlintas begitu saja.


“Tuan”


“Aku bukan Tuanmu” tolak Ead dengan nada dingin. ia sama sekali tidak mau dianggap Tuan lagi oleh Louis karena baginya Louis bukan lagi anak buahnya.


“Baiklah terserah! Aku punya ide” Louis segera berbisik saat Ead ingin menepis-nepis wajah Louis tapi lama-lama ia membiarkannya.


Tiba-tiba kedua mata Ead membola.


“Ide yang bagus” puji Ead memberikan satu jempolnya.


Plak


Wajah Louis seketika menoleh kearah samping saat Ead dengan kerasnya memukul pipinya. Ia begitu geram dengan Louis yang memiliki pikiran kotor untuk mendapatkan Fahima.


“Kau ingin menghamilinya? Dia bukan seperti wanita yang sering kau tiduri… jangan bersamanya jika kau memang tidak serius”


“Bercanda!!” Louis tertawa senang melihat perhatian atasannya. Walaupun Ead terlihat tak peduli, namun dilubuk hati paling dalam pria ini masih perhatian kepadanya dan Louis suka.


“Aku akan kembali ke Italia… good bye”


“Hati-hati, Tuan” Louis tersenyum dan melambaikan tangannya kearah Ead yang hanya memberikannya jari tengah. Entah apa maksudnya namun itu membuat Louis tertawa.


Italia, Roma


Gedung-gedung pencakar langit yang tinggi dan mewah berselimutkan awan biru yang begitu indah. Bandara yang begitu besar dan luas sebagai pendaratan para turis-turis asing yang datang berkunjung ke Italia. Para warga bermata coklat dan wajah bule yang khas dengan pakaian minim membuat satu wanita ini ingin menutup kedua matanya.


“Sayang, ada apa dengan dirimu? Bukalah matamu takutnya kau terjatuh… kau hanya boleh terjatuh diatas ranjang bersamaku” gurau Ead mendapat jubitan dari istri bercadarnya.

__ADS_1


“Seharusnya kau yang menutup matamu karena para wanita disana tidak memakai pakaian sama sekali” ujar Subha ingin menutup mata Ead namun lebih dulu ditepis.


“Disini memang seperti itu… jadi jangan khawatir”


“Sepertinya aku tidak akan betah!! Beruntung sekali hanya 1 bulan” gurau Subha dan Ead tertawa meraih pinggang Subha.


“Kita anggap ini adalah bulan madu kita, kau mau?”


“Tidak mau!. Anggap ini adalah hukuman untukmu” ujar Subha berjalan mendahului Ead yang segera mengikut.


“Hukuman apa?”


“Lihat saja nanti” Subha hanya menaikan kedua bahunya acuh dan pergi mendahului Ead lagi. Ead yang lelah hanya bisa melihat Subha yang berjalan meninggalkan ia yang membawa beberapa koper besar milik istrinya.


Sementara Leiska, wanita itu tidak ikut kembali ke Italia karena sibuk memperhatikan tumbuh kembang peliharaannya. Wanita tidak ada bosan melihat Widia dari jauh, seakan candu.


“Leiska”


Sang pemilik nama hanya menoleh santai saat seorang pria memanggil namanya dari belakang, bahkan ia tidak berminat melihat wajahnya.


“Kau tidak kasian dengannya?”


“Apa dia kasihan denganku?” tanya Leiska atas pertanyaan dari pria yang tidak paham dengan perasaannya.


“Masa depan terbentuk dari masa lalu. Seperti apa masa lalunya begitupula masa depannya!. Kehidupanmu hancur, maka kehidupanmu selanjutnya akan sama” kata Leiska dengan kedua tangan bersidekap memancarkan aura dinginnya.


“Baiklah terserah! Apa Ead dan Subha sudah sampai di Italia?” tanya Alham dan kedua bahu Leiska terangkat tak peduli.


“Apa kau tidak mendapat telpon dari mereka?” tanya Alham kembali dan Leiska membuang nafasnya dan melenggang pergi. Namun pria ini mengikuti.


“Leiska!! Kenapa kau sangat dingin sekarang?” seru Alham bagai anak yang mengekori ibunya.


“Jangan mengikutiku!! Kau mengganggu kesibukanku” gertak Leiska dengan nada dingin dan kesal. Ia sudah mencoba mendorong Alham tapi pria itu tetap mengikutinya, membuatnya bertanya-tanya maksud dari pria ini terus mengikutinya.


“Leiska!!”


Wanita itu hanya focus menghindar saja hingga tidak memperdulikan arah jalan, hingga beberapa detik saja tubuh wanita itu hampir terhuyung ke tanah saat ada segerombolan pekerja rumah sakit yang melintas. Beruntung saja Alham menahan pinggang Leiska.


Mata mereka pun saling tatap dengan tajam.


“Menjauh!!” Leiska segera melepas lilitan tangan Alham dari tubuhnya. Ia begitu muak dan iapun berlari pergi.

__ADS_1


Bukan Alham namanya jika dia diam saja. Ia pun juga mengikutinya.


“Leiska kau akan memiliki kegiatan apa?”


“Jangan ikut-ikut” gertak Leiska sekali lagi namun pria itu tetap mengekori sang wanita, bahkan mengikutinya sampai masuk ke dalam taxi.


_________


Kediaman Zolanda di Roma.


Akhirnya setelah membutuhkan waktu sekitar 20 menit keduanya sampai di kediaman Ead yang begitu besar dan megah. Aksesoris mahal dan mansion khas italia tanpa nuansa arab itu terlihat sunyi dan menakutkan. Maklum setelah hilangnya Leiska, Ead jarang sekali di mansionnya.


‘Astagfirullah pasti banyak setannya’ monolog Subha dalam hati.


Tapi tenang saja, walaupun sepi begitu tetap ada penghuni didalamnya karena Ead selalu menyewa pekerja untuk membersihkan tempat itu walau dia tidak ada di sana.


“Selamat datang, Tuan” sapa seorang pria berwajah asli Italia saat ia tidak sengaja melihat wajah familiar yang tampan milik atasannya.


“Ricard!!” Ead memeluk rindu pria itu dengan sangat erat, bahkan tanpa peduli tubuhnya kotor karena pekerja itu baru saja membersihkan halaman rumah.


“Bagaimana kabarmu, Ricard?” tanya Ead menepuk bahu kokoh pria itu.


“Saya baik, Tuan. Anda tahu para pelayan menunggu kedatangan anda… mereka sudah menyiapkan makanan, tempat istirahat untuk anda” antusias pekerja itu.


“Bagaimana kau tahu?”


“Tentu saja saya tahu… anda yang menelponnya waktu itu. anda juga bilang membawa seorang istri yang sedang hamil” Ricard melihat malu Subha yang menundukan pandangannya.


Ricard tahu kepercayaan mereka berbeda dan pria ini menghargainya. Tapi jika dibiarkan maka itu tidak sopan. Jadi Ricard harus bagaimana?


“Hem.. selamat datang, Nyonya Zolanda” Ricard akhirnya memilih menyapa dengan menundukan kepalanya sopan, tanpa sentuhan apa-apa.


“Terimakasih” jawab Subha dengan lembut.


Ricard mengagumi tutur kata halus dari istri atasannya. Dalam hatinya, ia begitu memuji Ead yang tidak salah dalam memilih wanita.


“Mari tuan… anda harus segera masuk karena mereka sudah menunggu” ajak Ricard mengambil alih koper yang dibawa tuannya.


Ead mempersilahkan istrinya untuk lewat terlebih dahulu dan Subha pun segera melakukannya. Begitu terkejut Subha saat sudah sampai di ruang tamu mereka.


Apa yang ia lihat membuat kedua bola matanya melebar, nyaris lepas.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2