Syahadat Cinta Sang Mafia

Syahadat Cinta Sang Mafia
Bab 41 : Perbandingan.


__ADS_3

Di tempat lain...


Sebuah gelas berisikan air kopi itu diaduk pelan oleh seorang wanita baya bercadar hitam. Matanya yang fokus dengan kegiatan yang sedang ia lakukan, hingga tidak menyadari banyak pelayan yang menyaksikan dirinya berada di dapur ini.


Matanya melihat kearah kopi tapi agaknya bukan gelas berisikan kopi yang sedang ia pikirkan. Pikirannya tengah melayang jauh, bahkan hatinya tidak bisa lepas dari putri yang ia lahirkan 22 tahun yang lalu.


'Bagaimana dengan keadaan putriku? Apa dia baik-baik saja, apa suaminya dapat menjaganya?' gemuruh pertanyaan dari dalam hati Umi Riverlyn.


Umi Riverlyn memikirkan kondisi Subha yang sudah lama tidak ada kabar. Ia ingin mengetahui keadaan anaknya, seorang ibu yang ingin dengar suara putrinya.


"Ryvi?"


"Eh astaghfirullah" pekik Umi Riverlyn kaget akan panggilan dari suaminya. Ia tersadar jika sudah lama suaminya itu menunggu di ruang makan sambil membaca Al-Qur'an.


"Kamu kenapa? Apa kamu sedang sakit? Jika kamu sakit, maka sebaiknya kembali ke kamar..."


Umi menoleh dan menghampiri Abi Rahman, "Aku tidak sakit Abi... Alhamdulillah Umi sehat. Tapi... Umi ingin bicara dengan Subha, bagaimana keadaan dia setelah menikah dan apa suaminya memperlakukan dia dengan baik?"


Abi menutup Al-Qur'an yang sebelumnya ia baca, lalu menaruhnya diatas meja. "Duduklah terlebih dahulu"


Umi pun duduk, "Setiap putri yang menikah, pasti Umi nya membisikan untuk menjadi istri yang baik dan disitulah... Seorang putri akan menangis, karena menyadari bahwa dirinya sudah sepenuhnya menjadi milik suaminya"


Nada suara Umi terdengar sendu serta kedua mata mengembun menahan genangan air yang hendak terjun dengan deras, lantas Umi segera mengusapnya. Lain halnya dengan Abi yang selalu menanggapi curhatan isterinya dengan tegas dan bijaksana.


"Jangan selalu melihat Subha seperti seorang bayi Ryvi. Dia sudah banyak belajar kepadamu, dan tentunya dia akan dapat melalui kehidupan rumah tangga"


Tutur Abi didengar oleh penggemar setianya, Umi Riverlyn. Umi Riverlyn terdiam memikirkan cara supaya ia dapat mengetahui kabar anaknya.


Kebetulan Alham datang memasuki dapur, masih memakai pakaian piyamanya. Ia terlihat begitu antusias mengecup pipi Uminya.


"Alham"


"Iya, Umi?" Alham menoleh melihat ke meja makan seraya mengambil air mineral yang ada didalam kulkas.


"Kau tahu rumah Subha? Umi ingin berkunjung kesana, atau mungkin Umi ingin mengundang mereka makan malam keluarga. Sepertinya kita harus mempererat silaturahmi "


Uhuk


Uhuk


Alham terbatuk memuncratkan semua air yang ada didalam mulutnya. Hal itu membuat Umi bergegas mendatangi putranya dan mengusap pelan punggung Alham.

__ADS_1


Umi mengambil alih sebotol air mineral yang sebelumnya Alham bawa, "Ada apa Alham?"


"Bagaimana?"


"Umi pengen ketemu sama Subha. Bisa tidak kita ke rumah Subha atau Subha yang datang kesini?"


Alham bingung harus menjawab bagaimana, karena ia sendiri juga tidak tahu dimana kediaman Zolanda. Namun ia bertanggung jawab atas kebohongan yang ia lakukan kepada Uminya.


"Hemm, tapi..."


"Ya sudah besok kita ke rumah Subha"


"Alham tidak tahu rumahnya" ucap Alham dengan jujur. Ia tidak mau lagi membohongi Uminya, karena itu perbuatan dosa.


Umi menghela nafas kecewa. Sudah memikirkan rencana berkunjung ke rumah putrinya, malah Alham tidak tahu rumahnya. Kini Umi kembali murung.


"Insyaallah Alham akan cari informasi mengenai tempat tinggal Subha"


"Iya Ryvi. Dengarkan ucapan putramu... Insyaallah kita akan segera bertemu dengan Subha"


Umi mengangguk tenang. Ia mau menerima ucapan dari Alham dan Abi Rahman untuk kembali bersabar.


Dan untuk Alham, ia merasa agak terkejut dengan respon Abi Rahman dalam menyetujui perkataannya, karena sejatinya pikiran keduanya tidak pernah sejalan.


Brakk


Bagian belakang mobil yang berisikan Ead dan Subha itu terserempet, nyaris mereka masuk jurang.


"Astaghfirullah..."


Rintih Subha menandakan jika wanita ini baik-baik saja, begitu juga dengan sang suami. Subha hanya merasa sakit diarea dada karena membentur kemudi, beruntung tidak keras karena ia memakai sabuk pengaman.


Disela-sela rintihan Ead, ia melihat samar-samar pria keluar dari mobil sedan. Mereka terlihat berjalan mendekati mobilnya. Rupanya pengemudi mobil sedan juga baik-baik saja.


"Keluar dari mobil segera" titah Ead segera melepas sabuk pengamannya, begitu pula dengan Subha.


Sabuk pengaman sudah terlepas, keduanya segera keluar dari mobil. Subha dapat melihat dengan jelas dua pria yang ingin menyakiti dia. Berpakaian serba hitam dengan kain menutupi setengah wajahnya.


Tidak ingin Subha celaka membuat Ead memilih menghindari perkelahian. Tandanya Ead lebih baik membawa kabur Subha melewati perbukitan yang gersang sebelum mereka berhasil mendekat.


Telapak tangan Ead menggenggam telapak tangan Subha dengan sangat erat. Ia harus ekstra hati-hati berpijak dijalan yang benar supaya saat Subha mengikuti jalurnya, maka dia tidak akan kesusahan.

__ADS_1


Dorr


Dorr


Lemparan peluru dari para pria yang masih berada dijalan itu tidak berhenti begitu saja. Mereka tahu jika satupun peluru tidak dapat menyentuh kulit Ead dan Subha. Mereka bergegas menyusul menuruni bukit seraya senjata masih mengarah kearah mereka.


Atensi Ead harus terbagi dua saat ia harus memperhatikan jalan dan juga keadaan isterinya, namun hal itu tidak membuat Ead kesusahan. Terlihat ia mencarikan jalan tanpa lubang untuk isterinya.


Dorr


"Aarrkk"


Terkejut Subha hampir tersungkur ke depan sebelum akhirnya dada bidang Ead sebagai penahan tubuh isterinya. Ead dengan sigap menangkap.


Tubuh keduanya menempel. Tangan Subha mencengkeram punggung lebar suaminya dan Ead memegangi pinggang kecil Subha.


"Dalam situasi seperti ini kau masih bisa merayuku?" ucap Ead menggoda Subha.


Subha merasa canggung dengan posisi ini, "Ma-maksudnya..."


Mereka segera melepas posisi yang terasa nyaman itu. Mereka harus tahu keadaan jika ingin bermanja, bukan ini waktunya. Dasar Ead.


Walaupun begitu Ead tetap fokus dengan keselamatan Subha. Ia menarik Subha untuk kembali berlari. Mereka melewati terasering kering, tanah gersang, tanah berlubang dan sebagainya.


Keringat dingin bercucuran membasahi pakaian Subha serta cadarnya, begitu juga dengan kemeja Ead yang basah dengan penuh keringat.


Keduanya harus bertahan hidup dari kejaran pria yang ingin membunuhnya.


Sementara ditempat lain.


Kedua pengawal yang katanya setia dan selalu ada jika Ead membutuhkan dia, mereka berucap janji selalu mendampingi Ead. Kini mereka berdua tengah bersantai di pinggir kolam renang, mengabaikan ketidakadaan atasannya yang sudah lama belum kembali.


"Nikmatnya menikmati terik matahari di siang hari, melihat awan, menikmati wine. Inilah surga yang sesungguhnya" Tutur Roy tidak ingat atasannya.


Namun sepertinya Louis merasa khawatir saat ia tidak melihat keberadaan Ead, terlihat dia mengambil ponselnya. Kemungkinan dia ingin menelpon Ead. Syukurlah, masih ada Louis yang memperhatikannya.


"Postinganku di like 20 orang!"


Tutur Louis memberitahu Roy mengenai postingan Instagram yang telah ia unggah beberapa menit lalu. Ia baru mengecek postingan nya.


...To be continued...

__ADS_1


...Lagi-lagi aku masih ngebut nulisnya. Masih UAS juga hehehehe jadi menyela dikit-dikit waktu UAS ku🙏 Semoga kalian masih mau mendukung karya ini ya😭...


__ADS_2