Syahadat Cinta Sang Mafia

Syahadat Cinta Sang Mafia
Bab 74 : Di Bebaskan!.


__ADS_3

Wajah masam Subha sudah kembali tertutup oleh kain niqab sesaat sebelum ia memutuskan untuk keluar dari mobil. Namun Ead masih bisa melihat kesedihan dimata merah isterinya.


"Berhenti menangis! Bayi kita akan memarahi ku nanti jika tahu Abinya membuat Uminya menangis! Jika dia keluar langsung menendang ku bagaimana?" gurau Ead terlihat serius kepada Subha yang tertawa dibalik kain niqab nya.


"Berarti dia memang anakmu" ingat Subha saat Ead membuatnya kesal karena malah membuat gurauan. Ia sedang serius tapi suaminya yang tega ini malah selalu bercanda dan tertawa. Suatu pemandangan yang jarang Subha lihat.


"Oh iya aku lupa. Bagaimana dengan Umi, Umi sudah pulang sampai ke rumah kan?" cemas Ead membuka kedua matanya lebar-lebar.


"Aku akan mengecek kedalam"


"Hm, aku akan langsung pergi" ucap Ead menyalakan mobilnya kembali saat Subha melenggang ingin masuk tapi tidak jadi dan memilih menemui Ead lagi.


"Kenapa tidak masuk?" tanya Ead hampir menjalankan mobilnya tapi tertahan saat melihat Subha masih di luar.


"Jangan lupa untuk selalu mengucapkan syahadat dimanapun kau berada"


"Apa---"


"Bukan karena kita resmi keluar dari agama!" sela Subha mengingatkan Ead pada kejadian sehabis pulang dari Aurona, dimana Ead berkata demikian. Ead mengingatnya dan itu membuat tawanya meledak ria.


"Iya, iya, aku ingat semuanya" kepala Ead mengangguk serta bibir menyungging.


"Dengan kalimat itu, Insyaallah Allah akan menjagamu dan menghalangi orang-orang yang akan berniat jahat padamu, assalamu'alaikum"


"Walaikumsalam " lirih Ead melihat nanar wanita yang dicintai itu memasuki rumah, meninggalkan dirinya dalam kesunyian.


Wajah Ead masih fokus melihat Subha yang sesekali menoleh kebelakang untuk melambaikan tangannya dan Ead membalas senyuman. Tidak ingin berlama-lama ia segera menjalankan mobilnya, pergi.


_______


"Siapa yang berjaga di perbatasan kota?"


Seorang pria kepercayaan Ead bertanya dengan senapan yang ia gantungkan dibelakang punggungnya yang lebar. Ia terlihat serius tanpa sedikitpun bercanda kepada para pasukan yang sudah siap berbaris di aula.


"Vero, bukankah aku meminta dirimu untuk membagi pasukan dalam beberapa kelompok?" Louis bertanya lagi saat tidak ada yang menjawab pertanyaannya.


"Tuan, saya sudah membagi pasukan kita menjadi 5 kelompok. Kelompok 1 berada di perbatasan kota Almaty, Kel 2 di pelabuhan Tornea, Kel 3 di bandara internasional Nurseta, Kel 4 di stasiun Obra, dan Kel 5 merupakan pengikut anda" jawab Vero yang berada di kel 5.

__ADS_1


"Karena ini tidak ada sangkut-pautnya dengan negara ini. Campur warga berkebangsaan Kazakhstan dengan Italia supaya tidak ada yang curiga"


"Baik tuan" jawab Vero atas permintaan Louis.


"Sudah dikerahkan?" tanya Louis dengan sorot mata yang tajam lagi mengintimidasi, membuat Vero gelagapan karena belum sepuhnya di kerahkan.


"Kalian semua yang bertugas segera melaksanakan perintah sesuai dengan tempat masing-masing"


"Baik" seru para pasukan serentak.


Louis mengangguk menerima lalu menghampiri pria yang sedang sibuk dengan layar labtop nya. Roy bergelut dengan kejelian matanya saat CCTV di berbagai tempat telah menampilkan gembar banyaknya orang, sehingga Roy hampir pusing.


"Bagaimana kelanjutannya?"


"Aku rasa aman. Namun sepertinya karena ini mendekati tahun baru maka stasiun Obra akan dipenuhi dengan penumpang, sehingga pasukan kita akan kewalahan mencari Leiska disana" ucap Roy memberitahu.


"Pasukan Zlander"


Sela seorang pria bertubuh kekar dibalut jaket denim hitam penuh kewibawaan itu baru saja sampai setelah mengantarkan istrinya.


"Sebelum itu terjadi, bukankah kita harus menemukan Zlander terlebih dahulu?" tanya Louis hanya memastikan dan Ead menggeleng menyalahkan seraya menjentikkan jarinya.


"Kehilangan Leiska tentu membuat Zlander kehilangan hal yang paling berharga. Kau ingat saat aku dan Roy berjalan di jalanan dekat majelis Nursultan. Ada dua orang yang menyerang kami! Mereka semua suruhan Zlander... Zlander menargetkan diriku dengan menjadikan Leiska sebagai senjata utama. Jika kita bisa menemukan Leiska sebelum Zlander, maka pria bertopeng itu akan merasa kehilangan aset senjatanya. Setelah itu apa yang akan terjadi? Dia akan melarikan diri melalui jalur-jalur yang sudah di jaga oleh pasukan kita" ucap Ead menjelaskan.


"Lalu bagaimana kita menemukan Nona Leiska?"


"Maka dari itu aku memerintahkan kepadamu untuk mengirim pasukan di perbatasan Almaty. Leiska yang kabur tidak mungkin menggunakan kereta, kapal ataupun pesawat" Ead kembali berucap seraya mendatangi Roy yang kembali sibuk dengan labtop nya.


"Roy, saat kau dan Louis datang berkunjung ke keluarga Akthakarta, apa kau mencurigai seseorang? Aku meminta kalian kesana, bukan semerta-merta untuk menjadi waliku tapi---"


"Mobil Audi berwarna merah yang ada disana. Mobil itu merupakan mobil yang telah membawa kabur Diran" jawab Roy sibuk dengan labtop nya.


"Itu mobil tunangan Alham"


"Berarti dia memiliki hubungan dengan Diran dan---"


"Hilangnya Leiska" sela Ead dengan kedua mata merah yang menyala.

__ADS_1


Sebenarnya Ead sudah memiliki firasat yang buruk saat bertemu dengan tunangan kakak iparnya itu, Mata Widia mengingatkan ia dengan mata pria yang menyerangnya di dekat majelis Nursultan lalu, dan saat Widia berjalan keluar ruangan Alham waktu itu, Ead dapat merasakan jika kaki Widia pincang sebelah walaupun hanya beberapa orang yang sadar, karena wanita itu memang sangat pintar bersandiwara.


Dari itu ia meminta kedua anak buahnya untuk menyelidiki dengan datang berkunjung ke keluarga Akthakarta.


Ead menjadi ingat jika di keluarga itu ada seseorang yang begitu berarti dalam hidupnya. Wanita muda yang sedang hamil anaknya.


"Louis"


"Iya, Tuan" jawab Louis melihat Ead yang menepuk bahunya penuh dengan rasa percaya.


"Apa kau sudah menemui Adikmu?"


"Belum, Tuan. Saya tidak memiliki waktu untuk bertemu dengan adik saya. Tidak usah di permasalahkan karena adik saya akan mengerti" jawab Louis memberikan senyuman kecil walau pria itu memberinya tatapan tajam.


"Kau tidak usah ikut aku mencari Leiska dan menghadapi Zlander"


"La-lalu?" gugup Louis terkejut saat pria yang ada disampingnya memberi perintah yang berbanding terbalik dengan pikirannya.


"Bukankah kau ingin bebas? Maka turuti kemauanku dengan menjaga keluarga Akthakarta tetap aman. Ini perintah terakhir ku, setelah selesai kau bisa bebas dan hidup normal seperti orang-orang Kazakhstan pada umumnya. Hutangmu juga lunas"


Deg


Dada Louis begitu sesak mendengar jika dia akan dibebaskan. Pria ini bukannya senang malah merasa sesuatu ada yang hilang jika dia keluar. Pasalnya dia sudah mengabdikan segenap raga dan juga jiwanya. Apa mudah ia melupakan itu?


"Tap----"


"LOUIS AKAN DI KELUARKAN DARI PASUKAN. DIA TIDAK AKAN IKUT DALAM PENYERANGAN"


Seru Ead melirik Louis yang hendak membantah perintah darinya. Hal itu membuat Louis ingin menangis ditempat, merasa kurang yakin dengan membiarkan Ead bersama pria bodoh seperti Roy.


Louis segera berlutut di kaki Ead, "Tuan, tolong cabut perintah anda. Saya akan mengabdikan diri saya untuk menjaga anda tetap dalam keadaan aman. Saya siap mati jika itu memang sudah takdir saya"


Ead menarik lengan Louis pelan, membuat tubuhnya sejajar dengan pria cengeng yang membuat salah satu ujung bibirnya tertarik keatas. Ead tersenyum kecil saat wajah keduanya saling tatap.


"Aku tidak percaya dengan siapapun, kecuali dirimu"


...To be continued...

__ADS_1


__ADS_2