Syahadat Cinta Sang Mafia

Syahadat Cinta Sang Mafia
Bab 53 : Sebuah Berkah!.


__ADS_3

Perasaan Subha saat melihat bentukan makanan itu hanya ada rasa jijik bercampur geli, bahkan ia dapat mencium bau amis yang membuat lambungnya bergoyang mengocok isi didalamnya.


“Ayo makan, aak” Fahima menyuapi, membuat Subha benar-benar mual.


“Hm nggak hoekkkk"


Seketika Subha menutup mulutnya dengan tangan, merasa terkejut dengan apa yang baru saja ia lakukan. Namun sayangnya rasa mual itu kembali Subha rasakan.


“Hoekk”


“Arrkk, Subha” pekik Fahima terkejut melihat sahabatnya itu berlari menuju wastafel dapur untuk melepas rasa mualnya.


Fahima segera menyusul dan memijat tengkuk Subha supaya wanita ini merasa lega. Selain Fahima, rupanya ada beberapa pekerjaa yang melihat kelakuan aneh Subha. Merekapun segera datang ingin membantu.


“Nona Subha, anda kenapa?”


Subha menggeleng lemas serta menyeka untaian saliva yang mengotori sekitar bibirnya, “Aku tidak tahu bibi… rasanya aku ingin mual, kepalaku juga terasa sangat berat hoekk”


“Masyallah… kemungkinan besar Nona hamil”


Mata Subha serta Fahima membelalak. Subha segera memegang perutnya yang datar, merasa bingung dengan respon seperti apa yang harus ia perlihatkan. Namun yakinlah, Subha sangat bahagia.


“Ha-hamil?” antusias Subha bertanya kembali. Ia juga terlihat malu dan salah tingkah dengan dirinya yang akan segera menjadi seorang ibu.


“Iya nona, biasanya seorang yang mual dan pusing pertanda dia sedang hamil” jawab pekerja itu dengan antusiasnya. “Aku akan segera mengumumkan kehamilan Nona Subha”


Pekerja itu langsung hilang dengan rasa semangatnya. Ia tidak sabar ingin menceritakan mengenai calon anggota baru keluarga Akthakarta. Begitupun juga dengan Subha.


“Sepertinya aku memang hamil… lagipula aku sudah telat datang bulan”


Subha terlihat menyeringai puas. Dirinya tiada henti mengusap perut datarnya dan membayangkan menggendong bayi dengan kedua tangannya. Begitu sangat mengharukan. Terlepas itu ada seorang sahabat yang tengah kebingungan dengan sahabatnya ini, mengingat jika dia tidaak tahu tentang pernikahan Subha.


Raut wajah Subha berganti saat melihat respon Fahima yang terlihat tidak suka, “Kenapa wajahmu seperti itu? Apa kau tidak suka jika aku hamil?”


“Astagfirullah Subha istighfar!! Itu namanya zina. Astaghfirullah” Fahima tidak habis pikir jika sahabatnya itu bahagia saat hamil tanpa adanya suami, pikirnya.


Sementara Subha menyadari jika Fahima belum tahu tentang pernikahannya itu langsung menepuk jidatnya, “Aku sudah menikah, Fahima”


“Hah”


“Iya… aku sudah menikah… “


Fahima mencengkeram kedua bahu Subha, merasa terkejut. “Beneran? Kok aku nggak diundang, apa kau sudah melupakan diriku?” tanya Fahima membuat Subha tertawa, “Ya Allah, kau itu menghilang ternyata menikah… kok diam-diam?”


“Hmm”


Subha mengingat kembali pertemuannya dengan Ead. Bertemu di tempat kotor seperti Ayel lesi, mendapatkan siksaan, hinaan. Hal itu membuat hatinya sakit, namun semua itu tidak sebanding dengan kebahagiaanya saat ini.


Fahima menepuk bahu Subha, “Subha aku tanya… kok pernikahanmu nggak di publish, kenapa kau juga putus kuliah? Jika kau menghilang karena menikah, kenapa harus backstreet?”


“Sudah-sudah… kau tidak tahu apa-apa dan sudahlah…”

__ADS_1


Subha menggelengkan kepalanya tidak mau menjawab apa-apa. Terlalu panjang dan Subha malas untuk menceritakannya. Lagipula jika ia cerita, pasti Fahima akan langsung membocorkan.


“Katanya teman…”


Subha menghela nafas kesal, “Fahima sayang… kau itu jangan terlalu kepo, itu tidak baik. Lagipula aku sudah ingin melupakan kejadian itu”


“Tapi bener kan, jika kau itu diculik?”


“Hm”


Fahima mencoba menganalisis, “Oh aku tahu… kau itu diculik, lalu ditolong oleh seorang pria dan ia memutuskan untuk menikahimu”


“Hemm lalu” Subha mengangguk membenarkan.


“Karena suamimu seorang pria yang sudah memiliki keluarga, dia memutuskan untuk menyembunyikan pernikahan ini, kan”


“Maksudmu?” kening Subha berkerut mendengar itu.


“Dia menyembunyikan pernikahan ini, karena takut istri pertamanya mengetahui hal itu”


Wajah Subha terlihat begitu murka mendengar sahabatnya mengatai Ead seorang pria yang sudah menikah. Dalam kata lain Fahima mengatainya seorang simpanan.


“Terserah kau sajalah”


“Benar?” Fahima meminta penjelasan. Namun tertahan saat melihat keberadaan seorang wanita di pintu masuk dapur. Ia lupa memberi salam, “Assalamualaikum, Umi”


Fahima bergegas menyalami telapak tangan Umi yang sudah berdiri lama disana. Wanita setengah baya ini juga mendengar ucapan Fahima yang menjelek-jelekan menantunya. Hal itu membuat Umi merasa sedih.


“Iya Umi tidak masalah”


Atensi Umi berganti kearah Subha yang menunduk menyembunyikan rasa bahagianya. Seakan tidak mau membagi rasa bahagia itu kepadanya.


“Subha… Umi dengar jika kau hamil?” tanya Umi hanya dijawab anggukan kecil dari Subha. “Sudah coba pake alat tes kehamilan?”


Subha menggeleng pelan seraya pandangan lurus kebawah. Fahima yang melihat hal itu dapat menyimpulkan jika keduanya sedang ada masalah, karena itu memang kebiasaan Subha sahabatnya.


“Ya sudah… ayo kita cek dulu”


“Umi tidak percaya?”


“Bukan tidak percaya sayang… tapi untuk memastikan lebih jelas. Jika memang benar, kita bisa langsung cek ke Dokter. Memastikan apa kandunganmu itu baik-baik saja” tutur Umi dengan nada yang lembut kepada putrinya ini.


Fahima menggigit bibir bawahnya canggung karena menjadi saksi perdebatan anak dan ibu ini. Ingin rasanya ia menghilang saja. Sungguh rasanya canggung.


Fahima mencoba membujuk Subha, “Iya Subha coba pakai alat tes kehamilan. Supaya lebih jelas”


Subha merasa bimbang, namun untuk memastikan iapun memilih mengangguk untuk menerima saran Uminya.


“Ya udah Subha, aku pulang dulu ya… soalnya ada acara pengajian di rumah. Kapan-kapan aku datang lagi”


“Kok cepet banget”

__ADS_1


Tanya Subha dijawab cengiran Fahima semata. Wanita ini pulang bukan karena ada pengajian namun sudah merasa tidak nyaman, takut jika Umi dan Subha bertengkar.


“Assalamualaikum Umi, Subha”


“Walaikumsalam”


Jawab Umi membiarkan Fahima mengecup punggung tangannya. Fahima juga menjabat tangan Subha sambil berucap rendah, “Congrats your baby!”


Subha tersenyum menjawabnya, lalu membiarkan sahabatnya itu pergi. Iapun melihat kearah Umi, memberikan isyarat untuk segera ke kamar.


Ruang kamar.


Beberapa menit kemudian Subha keluar dari kamar mandi setelah menggunakan alat cek kehamilan yang diberikan Uminya. Namun wajahnya nampak masih sama, tidak ada perubahan apa-apa.


“Bagaimana, Subha?”


Tanpa menjawabnya Subha memperlihatkan alat cek kehamilan itu yang telah bergaris dua. Hal itu membuat Umi semakin sedih.


Subha mendekat, memastikan jika Uminya baik-baik saja. “Umi menangis… Umi kenapa? Umi Subha hamil setelah menikah Umi”


“Duduklah” Umi menarik pelan tangan Subha untuk duduk di ujung ranjang bersamanya. “Apa… yang dikatakan Fahima itu benar. Sebelum menikah denganmu, Ead sudah memiliki istri?”


Mata Subha membelalak, tidak menyangka jika Uminya mendengar ucapan kosong Fahima.


“Semua yang dikatakan Fahima itu salah Umi. Fahima hanya bercanda. Ead hanya memiliki satu isteri yaitu Subha”


Seketika itu hati Umi menjadi lega mendengar jika apa yang ia dengar itu hanya kebohongan semata.


“Alhamdulillah” Umi tersenyum sambil mengusap perut datar putrinya, “Semoga cucu Umi sehat disini…”


“Aminn Umi” Subha terharu melihat Uminya menerima bayi yang ada di kandungannya. Mungkin dengan bayi ini Umi bisa menerima Ead.


“Oh iya. Umi ingin tahu selama ini kau itu dimana? Apa benar Ead menculik dirimu?”


“Bukan Umi… Justru Ead lah yang menolongku”


“Bagaimana bisa?”


Dengan ragu-ragu Subha mencoba terbuka dengan Umi Ryverlin. “Waktu itu memang benar Subha diculik. Subha juga tidak tahu mereka itu siapa, dan mereka membawa Subha ke sebuah tempat penjualan wanita gitu Umi”


“Ya Allah” Umi merasa miris.


“Pemilik tempat itu menyiksa Subha, meminta Subha untuk melayani para pria, bahkan bersetubuh dengan sesama jenis Umi. Namun karena Subha selalu menolak, mereka menyiksa Subha. Setelah itu Ead datang dan menikahi Subha di tempat itu. Saat Subha tahu jika Ead memiliki agama yang berbeda, maka Ead kembali menikahi Subha”


“Dimana tempat bernama Ayel lesi itu? Kita bisa lapor polisi supaya tempat kotor seperti itu tidak ada lagi”


Subha berpikir sejenak, “Sepertinya tempat itu dijaga seorang Mafia. Ada Mafia dibelakang mereka. Ayel lesi bukan bisnis biasa”


“Ya sudah biarkan saja. Yang penting putriku baik-baik saja, dan Allah memberikan kepercayaan ini” Umi memeluk Subha erat. Sesekali ia juga mengecup pucuk kepala Subha.


...To be continued...

__ADS_1


...Yeeee Ead punya Bebi😘 tolong dong ucapkan selamat buat Subha...


__ADS_2