
Teflon panas di dapur sudah ada, berisikan menu makanan dengan bau sedap menyengat di kedua hidung orang yang ada disana. Bersyukurlah, rumah ini memiliki dapur yang jauh dari kamar tidur sehingga tidak akan ada yang tahu jika ada yang mengolah makanan tengah malam begini.
Setelah memotong wortel dengan bentuk kecil-kecil barulah Ead menuangkan semuanya kedalam teflon lalu diaduknya menggunakan spatula. Ead yang memasak sementara isterinya benar-benar hanya menemani serta menyusahkan dia.
“Apelku sudah habis. Kupasin lagi, Ead” pinta Subha mengulurkan satu buah apel kearah suaminya.
“Sebentar, aku harus mengaduk ini terlebih dahulu, takutnya gosong. Kalau kau kurang sabar, kau bisa mengupasnya sendiri” Ead melempar pisau ke meja Subha, beruntung tidak mengenai dirinya.
Subha akan sabar, lagipula masih tersisa satu potong apel untuk ia makan seraya menunggu Ead mengaduk dan mengupaskan apel nya.
Makanan sudah jadi.
Ead segera mengambil dua piring untuk dirinya dan Subha. “Kau mau makan? Aku mengambil 2 piring”
“Tidak. Aku sudah kenyang makan Apel”
“Mana apelnya biar aku bantu mengupas!” ucap Ead setelah menuangkan makanan kedalam piring.
Ead mengambil apel yang ada di dekat Subha, lalu mengupasnya. Ia nampak pengertian walaupun terkadang nampak kasar.
“Ini potongan Apelnya” Ead memberi potongan apel itu kepada wanita merepotkan yang duduk menunggu dirinya.
Sesekali Ead ingin mencium bibir Subha namun wanita itu segera menghindar. Dia masih enggan bersentuhan dengannya.
“Kau masih mual jika bersentuhan denganku! Sepertinya akan membutuhkan waktu lama untuk aku bisa menembak mu”
“Menembak apa?”
Ead menjawab dengan mengedipkan salah satu matanya. Tentu hal itu Subha langsung memahaminya, terlihat Subha yang mengangguk membenarkan.
“Sepertinya memang iya. Kita akan berhenti melakukan itu selama 9 bulan”
“9 bulan?”
Pekik Ead tidak habis pikir. Ia tidak akan melakukan itu selama 9 bulan. Bisa dibayangkan betapa kering tubuhnya nanti. Setelah menikah, kegiatan itu merupakan rutinitasnya hingga hal itu susah untuk Ead hindari.
“Aku akan mencari penggantimu. Sepertinya banyak orang yang mengantri” ucap Ead nampak menakut-nakuti Subha, “Oh iya. Bukankah di mansion ada banyak sekali pelayan yang memiliki body bagus! Sepertinya cocok”
“Ya Allah. Semoga engkau memaafkan suamiku ini” ucap Subha ditertawai Ead.
Semua hanya gurauan Ead saja. Tidak ada niatan Ead ingin mendua. Menurutnya satu saja sudah cukup untuk membuatnya repot.
Plok
Plok
Suara hells terdengar menepis kesunyian di mansion ini. Mengalihkan atensi dua orang yang sedang menikmati makanan mereka.
Seorang wanita dengan dress panjang berwarna navy tanpa hijab itu baru kembali dari urusan pekerjaannya. Padahal ini sudah larut malam dan tidak baik gadis pulang selarut ini. Siapa dia?
“Kak Widia”
Wajah Widia seketika menoleh kearah dapur untuk menjawab panggilan Subha. Alhasil penampilan Widia yang berantakan dapat dilihat jelas oleh keduanya.
Subha menghampiri wanita berpakaian basah itu, “Masyallah kak. Kakak darimana saja, mengapa jam segini baru pulang? Dan kenapa dengan baju kakak?”
Widia yang tertangkap basah itu nampak ketakutan, ia sangat bingung jawaban apa yang pas untuk membuat Subha percaya.
“Hemm… aku baru dari kantor” gugup Widia nampak jelas di wajahnya.
“Oh begitu. Lalu kenapa kakak basah kuyup seperti ini?”
Sejenak Widia mengingat kasus pembunuhan yang ia lakukan di jurang sore tadi, dimana pakaiannya kotor terkena cipratan darah korban. Iapun memutuskan untuk turun mencuci pakaiannya dengan air laut sekaligus menghanyutkan mayat Diran.
“Hehehe aku…tadi waktu di kantor ketumpahan makanan dari kolega. Karena ketumpahannya banyak, jadi aku memutuskan untuk mencuci semua!”
Subha pun akhirnya mengangguk.
__ADS_1
“Kalau begitu. Aku naik dulu ya… udah ngantuk” Widia segera naik namun ia kembali lagi, “Bagaimana dengan Alham, siapa yang menjaganya di rumah sakit?”
“Umi sama Abi yang jaga kak. Kakak jangan khawatir”
“Aaaah iya. kalau begitu aku masuk dulu” Widia bergegas menaiki tangga menuju ruang kamarnya.
Sementara Subha kembali mendatangi suaminya. Mendatangi pria yang menatap tajam Widia dari sana.
“Kenapa wanita itu bisa menginap di rumah ini? Dia kan belum menikah dengan kakakmu! Otomatis mereka tidak boleh tinggal bersama”
Subha kembali ke tempat duduknya, “Benar katamu. Tapi kak Widia itu seorang yatim piatu. Dia tidak memiliki siapa-siapa di negara ini, terlebih kak Widia itu kan seorang wanita… jadi kita perbolehkan kak Widia menginap di rumah. Tapi kamar kak Alham sama kak Widia jauh kok”
“Nafsu tidak pernah kehilangan akal dalam mencari jalannya. Wanita itu seperti wanita penggoda… wajahnya juga pandai dalam memanipulasi orang sekitar”
“Ead. Kenapa kau selalu berkata seperti itu? Kak Widia nggak seperti apa yang kamu kira. Tolong ya Ead, berhenti menjelek-jelekan kak Widia”
Ead memilih membisu jika sudah bertemu dengan orang polos serta keras kepala seperti Subha. Bagai melempar bola, terpental jauh. Dia tidak akan dengar nasihat orang lain karena terlalu keras cintanya kepada Widia.
Namun Ead menjadi ingat sesuatu. Selama pernikahannya dengan Subha, tidak pernah sekalipun pria ini bertanya tentang asal mula terjebaknya Subha di tempat Diran. Ia penasaran.
“Subha, kau masih ingat Ayel Lesi? “
Wanita itu ingat namun ia nampak tidak suka. “Aku tidak mau memikirkan itu lagi. Aku anggap itu merupakan mimpi terburuk dalam hidupku dan aku sudah ikhlas serta melupakannya”
“Tempat itu sudah menjadi abu”
Ucap Ead mengejutkan Subha. Matanya membelalak tidak percaya.
“Ayel Lesi terbakar? Ya Allah… bagaimana bisa Ayel Lesi terbakar. Lalu bagaimana dengan wanita-wanita disana?”
Subha nampak khawatir. Ia memang sakit hati jika mengingat tempat kotor itu lagi, namun ada seseorang yang ia ingat kebaikannya.
“Kau bilang tidak suka jika membahas mengenai tempat itu. Lalu saat mendengar tempat itu terbakar, mengapa kau nampak panik?”
“Tempat itu memang terasa menyakitkan, namun rasanya aneh mendengar tempat itu terbakar, mengingat jika kita sendiri pernah tinggal disana. Bagaimana dengan wanita-wanita disana?”
Memang wanita-wanita disana sudah mendapat gantinya. Mereka menjadi wanita penghibur untuk para pasukan Ead.
Ead ingin bertanya lagi, “Bagaimana kau bisa sampai disana?”
Subha mengingat masa lalunya dulu.
“Waktu itu aku melakukan panggilan dengan sahabatku, namun tiba-tiba seseorang membekap mulutku hingga aku tidak sadarkan diri. Bangun-bangun aku sudah ada di tempat itu” jelas Subha mengingat kedatangan Ead disana. “Kau juga sedang apa di tempat itu? kau sedang memilih wanita?”
“Aku memang sedang mencari wanita”
Seketika hati Subha hancur mendengar kalimat yang sama sekali tidak ia inginkan.
“Astagfirullah. Ead kau benar-benar mata keranjang”
“Aku memang mencari wanita. Tapi bukan untuk menyenangkan diriku” Ead terdiam sejenak, “Keluarga”
Ead merasa jika ini sudah waktunya Subha tahu tentang keluarganya, terlebih Ead sudah merasa nyaman dengan isterinya ini.
“Keluarga, siapa?”
“Aku memiliki seorang adik yang hilang 1 tahun yang lalu dan sampai sekarang keberadaannya tidak kunjung ku temui. Aku sudah mencoba untuk mencarinya kemana-mana namun hasilnya tetap nihil. Pengawalku mendapatkan kabar jika adikku berada di kazakhtan, dari itu aku langsung terbang kemari”
“Apa dia memiliki kenalan di Kazakhstan?”
Ead nampak berpikir, “Punya”
“Siapa, bibi, paman, sahabat, pacar?”
“Sebenarnya bukan pacar. Karena sang pria telah mempermainkannya, namun berkat cinta buta adikku, membawanya terbang ke kazhaktan untuk mencarinya”
Subha terlihat sedih, “Lalu apa kau sudah mencoba untuk menghubungi mantan pacarnya?”
__ADS_1
“Aku sudah bertemu dengannya, bahkan aku sudah membuatnya babak belur. Tapi pria itu mengaku tidak tahu keberadaan adikku. Pria itu sudah memiliki tunangan”
Subha masih penasaran, “Oh dia sudah punya tunangan… kalau aku boleh tahu. Kenapa mereka mengakhiri hubungan asmaranya?”
“Sepertinya karena tunangan itu”
“Apa hubungan adikmu dan tunangan si pria baik-baik saja?”
Sejenak Ead memicingkan kedua matanya, berpikir. Ia ingat jika pernah sesekali Leiska kembali ke rumah dengan keadaan basah kuyup dan ujung bibir yang berdarah.
Flashback On
“Kau kenapa Leiska, siapa yang membuatmu seperti ini?” tanya Ead nampak marah.
“Aku tercebur ke kolam”
Ead melihat luka di ujung bibir Leiska, “Kenapa dengan ujung bibirmu?”
“Seseorang menamparku karena mengambil tunangannya” adu Leiska kepada Ead.
Flashback off
“Hubungan keduanya tidak baik-baik saja!”
“Kau sudah mencoba bertanya dengan tunangan si pria?” tanya Subha.
Ead lupa. Bagaimana bisa ia melupakan hal itu. Sejauh ini ia hanya focus dengan kesalahan si pria dan melempar semua tuduhan kepadanya.
“Kau pandai sekali memancingku untuk menjawab pertanyaanmu, supaya kau tahu lebih dalam mengenai masa laluku?” puji Ead.
Subha menggeleng, “Tidak juga. Aku hanya berusaha mendengarkan ceritamu. Jika kau sedang bercerita dan aku bilang ‘Hemm iya-iya. ok, terus…’ bukankah itu terdengar garing? Bisa jadi kau bosan dan mengakhiri ceritamu, endingnya cerita itu menggantung. Kalau gini kan kau tertarik untuk meneruskan cerita dan aku merasa menjadi istri yang diakui suaminya”
“Kenapa bisa begitu?”
“Seorang istri akan merasa dihargai jika suaminya mau berbagi cerita dengan dia. Mengusap kepalanya serta mendengar ceritanya. Itu adalah impian semua istri. Istri suka mendengar cerita suaminya, memberikan ucapan ‘Sabar, yakin bahwa Allah akan membantu kita’ kalimat itu sangat seorang istri nanti”
“Kenapa kau tidak mengusap kepalaku?”
Tangan Subha langsung mengulur hendak mengusap kepala Ead, namun tiba-tiba ia menariknya lagi. Ia kembali mual.
“Besok aja ya… ayo tidur saja aku mengantuk” tolak Subha menahan rasa mualnya.
“Iya”
_______
08:20
Pagi hari yang cerah ini, secerah wajah dari dua orang tua yang mengetahui jika putra pertamanya sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Mobil mewahnya sudah mereka siapkan didepan halaman rumah sakit untuk bersiap mengangkut putranya.
Abi nampak mendorong kursi roda Alham menuju mobil diparkiran, sementara Umi membukakan pintu untuk mereka.
“Pelan-pelan sayang” ucap Umi membantu Alham masuk.
Setelah semuanya siap. Abi segera mengendarai mobilnya memasuki jalanan kota Almaty. Abi tidak pernah menggunakan supir jika menyangkut keluarganya.
Mobil mereka nampak berjalan dengan tenang. Melewati gedung-gedung tinggi serta tempat-tempat yang terasa indah dipandang, mobilnya juga melewati seorang wanita yang Alham kenal.
Wanita itu terlihat sedang berbicara dengan seorang pria bertubuh kekar wajah menyeramkan. Seperti seorang preman.
“Widia?”
...To be continued...
...Sabar ya bebsss...
...Aku pastikan Widia dapet karma yang setimpal...
__ADS_1
...Tetep ikutin terus ya😘...